Chapter Fifty Two

Epilog: Kembalian yang Disimpan

(POV Abi)

Akadnya pagi, di rumah Eyang Uti.

Itu satu-satunya syarat dariku, dan semua orang setuju tanpa debat: biar Eyang cukup jalan tiga langkah dari kursinya. Rumah kecil itu disulap seminggu — dicat ulang rame-rame (Galih dan Rio ngecatnya sambil berantem soal teknik kuas, dua-duanya salah), terasnya dipasangi lampu botol edisi khusus, halamannya ditendain. Kecil. Penuh. Pas.

Aku pakai beskap sederhana. Dan di bawahnya — ini permintaan tertulis dari pengantin perempuan, nggak bisa dinego, ada di berkas — sepatu itu.

Iya. Sepatu yang itu. Yang dibeli hari Sabtu jam sembilan, tujuh tahun lalu, yang bikin perang, yang jadi pintu pertama. Udah lecek, udah dua kali ganti sol, dan tiga hari sebelum akad dia disemir Galih-Rio bergantian sampai kinclong maksimal yang bisa dicapai sepatu seumur itu. “Sepatu pertama yang kukasih,” kata Cynthia waktu ngajuin syaratnya, “harus ikut nyaksiin sampai selesai. Dia saksi sejarah. Punya kursi sendiri.”

Jadi kalau di foto-foto akad kami kalian zoom ke bawah, di antara semua yang serba baru, ada sepasang sepatu kerja tua yang disemir kayak piala. Sekarang kalian tahu jawabannya, yang kujanjiin dari bab dua puluh delapan. Sepatu itu terakhir dipakai buat jalan paling penting seumur hidupku: tujuh langkah dari pintu ke tempat ijab.

Di saku dada beskap: cincin kawin almarhum Ibu. Dikantongin lagi, kayak pas ngomong sama Mama dulu. Biar Ibu ikut. Bapak — Bapak kubawa lewat kalimatnya yang separuh kedua; kalimat itu kuucapin pelan banget subuh-subuh di depan foto beliau berdua, sebelum berangkat: “Pak. Bu. Aku mau ngerepotin orang seumur hidup mulai hari ini. Yang sayang. Sesuai pesen. Doain.”

Ijab-nya... jujur aku nggak inget detailnya. Yang kuinget: tanganku dipegang Pak Penghulu, sekali tarik napas, kalimat yang keluar lancar — LANCAR, satu tarikan, nggak pakai ngulang — dan sedetik setelah kata “sah”, tiga suara tangis pecah barengan dari tiga arah: Dimas (dateng jauh-jauh, jadi saksi, udah nangis dari kemarin pas gladi), Galih (jelas), dan Koh Aseng yang udah nyerah pura-pura kuat dari awal, HP-nya tetep ngerekam sambil beliau ngelap muka pakai lengan, TRADISI, empat dokumentasi bersejarah hidupku semuanya beliau yang megang.

Eyang Uti nggak nangis. Beliau duduk paling depan, punggungnya tegak — paling tegak setahun terakhir — dan pas mata kami ketemu habis kata sah itu, beliau cuma ngangguk sekali. Pelan. Kayak orang nyelesaiin tugas.

Nih. Tugasku kelar. Anakmu kuantar sampai ada yang jagain.

Aku yang nangis. Ya udah. Catat aja. Semua orang juga lihat.


Syukurannya sore, dan tempatnya — ya di mana lagi.

Depan workshop. Tenda dari ujung TERIMA sampai ujung pasar, dan yang dateng: semuanya. Seisi ekosistem. Bu Sari bawa pisang goreng TIGA TAMPAH (“nggak boleh nolak, hari ini haram hukumnya nolak”), Bang Jali sama bapak-bapak agen koran, Bu Kantin bawa risol (“sama tahu isinya, biar lengkap, kayak yang dulu”), Bu Ratna dan beberapa guru, anak-anak les piano Reno yang main dua lagu (Twinkle Twinkle, atas permintaan tertulis Reno, “sejarah harus dihormati”), tetangga gang, pelanggan-pelanggan tetap, pengepul barang bekas ujung pasar yang pas salaman bisik ke aku “sepedanya dulu untung nggak saya kilo, ya, Mas” — SEISI DUNIA KECIL KAMI, tumplek di depan dua rolling door yang hari itu kebuka lebar-lebar.

Reno dateng gandeng pacarnya — bener kata dia, galaknya sebelas dua belas, lima menit kenalan udah nyuruh Reno benerin cara berdirinya — dan pas salaman sama aku, dia cuma bilang: “Bapak Kembalian. Akhirnya lunas.” Terus ketawa, terus meluk, cowok ke cowok, urusan kami udah lama selesai tapi hari itu rasanya diarsipkan resmi.

Laras dateng. Bawa kado yang kubuka belakangan: kotak P3K lengkap, ada catetannya — “buat rumah baru. Data alergimu udah kuserahin ke yang berwenang sejak dulu, jadi ini tinggal isinya. — L.” Dan percakapan kami sore itu, di sela tenda — yang “kamu udah ngerti belum sih, yang dulu-dulu itu”, yang jawaban soal sayang yang nggak nunggu kembalian — kalian udah baca duluan di bab dua puluh empat. Iya. Acaranya ini. Sekarang kalian tahu dia dateng ke mana sore itu, dan kenapa habis ngomong gitu dia nyomot kue terus nyalamin Eyang sambil ketawa lepas.

Semua orang baik di hidupku, satu tenda. Ada satu momen — golden hour, lampu botol mulai nyala — aku berdiri di pinggir bentar, ngeliatin semuanya: Eyang dikelilingin ibu-ibu, Mama Cynthia jadi seksi sibuk paling bahagia, Dimas cerita heboh dikelilingin anak magang, Pak Yon sama Koh Aseng duduk berdua nunjuk-nunjuk mesin dari jauh kayak dua jenderal pensiun.

Dan Cynthia — istriku (kata itu masih baru, masih kubaca pelan-pelan tiap dipakai, kayak baca papan tiap pagi) — nyamperin, nyelipin tangannya ke tanganku, ngikutin arah mataku.

“Rame ya,” katanya.

“He-eh.”

“Sembilan tahun lalu kamu jajan es teh doang, sendirian.” Dia nyenderin kepala ke bahuku. “Sekarang liat.”

Aku ngeliat. Lama. Terus kubilang, jujur, yang dari tadi ngganjel:

“Cyn. Ini semua tuh... aku nerimanya gimana ya. Kegedean.”

“NAH.” Dia tegak, nunjuk mukaku, mata udah nyala. “Kambuh. Baru juga sah setengah hari udah— ABI. BACA PAPANNYA.”

“...Terima.”

“YANG KENCENG.”

“TERIMA.” Dan seisi tenda yang denger ikut nyaut “TERIMAAA” sambil ngangkat gelas, nggak tahu konteks, hafal aja tradisinya. Pasar kami begitu orangnya.


Malamnya, pas tenda udah dibongkar dan semua udah pulang, kami berdua nggak langsung pulang.

Ada satu urusan terakhir. Dua, deng.

Yang pertama: aku ngeluarin pigura dari mobil pinjeman — pigura yang isinya udah kupasang diam-diam seminggu lalu. Di dalamnya: struk fotokopi yang ASLI. Lima ratus perak, sembilan tahun lalu, tulisan bulat-bulat “Mau nggak jadi pacar aku?” — dan di bawah struk itu, di kertas kecil, tulisan tanganku sendiri:

“Kembalian pertama yang nggak pernah saya kembalikan. Lunasnya: seumur hidup.”

Kami masangnya berdua, di dinding workshop, di atas meja kasir. Dia yang megangin, aku yang ngebor — pembagian tugas yang nggak pernah dirapatkan — dan pas jadi, dia mundur selangkah, ngeliatin, terus ketawa sambil ngelap mata: “Pelanggan bakal nanya-nanya ini apaan.”

“Biarin. Jawabannya udah kusiapin: ’transaksi terbaik toko ini. Modal lima ratus perak.’”

Yang kedua: papan.

Dari gudang, kukeluarin papan kecil yang udah jadi dari sebulan lalu — dikerjain malem-malem, finishing-nya sama kayak papan besarnya, hurufnya Cynthia yang desain TANPA TAHU BUAT APA (“kamu minta desain satu kata doang, font-nya samain papan, kupikir buat cabang!”). Kupasang tangga lipat, naik, dan kubaut papan kecil itu tepat di bawah papan besar.

Turun. Mundur. Nyalain lampunya.

TERIMA KASIH.

Cynthia berdiri di sebelahku, ngeliat ke atas, dan lamaaa nggak ngomong apa-apa. Lampu kuning anget. Jalan pasar sepi. Jam papa di pergelangannya bunyi pelan.

“...Bi.”

“Hm?”

“Papan itu.” Suaranya udah bocor. “Sejak kapan—“

“Sebulan. Nunggu hari ini.” Kugandeng tangannya — tangan yang sekarang ada cincin tiga gir-nya — dan kubilang pelan, ke dia, ke papan, ke sembilan tahun, ke semuanya: “Biar tiap pagi, mulai besok, yang kubaca bukan cuma pelajaranku. Ada lanjutannya sekarang. Buat kamu. Buat semua yang tadi di tenda. Buat—“ tenggorokanku sempit, kuterusin aja, “—buat yang udah ngajarin bacanya.”

Dia nangis sambil ketawa sambil nyubit lenganku — tiga-tiganya barengan, standar, kualitas terjaga sembilan tahun — terus meluk. Kubales. Lancar. Udah lancar dari dulu-dulu, kalau urusannya dia.

Dan di pelukan itu, akhirnya kubisikin satu hal yang udah antre paling lama:

“Cyn. Poin empat puluh tiga. Yang dulu nggak pernah kukasih tahu.”

Dia narik muka dikit. “...Yang jaman rooftop? YANG KAMU RAHASIAIN BERTAHUN-TAHUN ITU?”

“He-eh. Kutulisnya malem itu, habis Eyang pamit.” Kutarik napas. “Bunyinya: ’43. Kalau suatu hari aku berani minta satu hal buat diriku sendiri — satu aja, seumur hidup — orangnya udah ketemu. Ini orangnya. Semoga beraninya nyusul.’

Hening.

“Sembilan tahun, Cyn. Beraninya nyusul sembilan tahun. Maaf ya lama.”

Dia nunduk, jidatnya nempel di dadaku, bahunya guncang — nangis apa ketawa nggak jelas, dua-duanya kayaknya — terus dari situ, suaranya keluar kecil, basah, dan penuh:

“Nggak papa.”

Kudengerin baik-baik.

Nadanya nggak turun. Naik. Bulat. Jujur — yang paling jujur dari semua “nggak papa” yang pernah lewat kupingku seumur hidup.


Buku sketsa yang lama, malam itu, dapet gambar terakhirnya: dua orang di depan dua papan, dari belakang, gandengan. Digambarnya berdua — dia maksa ikut megang pensil, hasilnya garis kami tabrakan di tengah, jelek, PALING JELEK se-buku, dan justru itu yang paling bener.

Halaman setelahnya sengaja dikosongin.

Bukan karena ceritanya habis. Karena mulai besok, yang mau digambar bakal terus nambah — dan buku, kayak daftar, kayak toko, kayak orang: yang penting bukan penuhnya.

Yang penting masih kebuka.

TAMAT.

(Poin 200, dicatet subuh besoknya, pakai tinta, digarisbawahi dua kali: “Dia nggak pernah nagih kembalian. Dari awal emang nggak pernah. Aku aja yang sembilan tahun baru percaya.”)