← Chapters Ch. 51 / 52

Chapter Fifty One

Lamaran Terbalik

(POV Abi)

Sabtu. Jam empat kurang sepuluh. Sinar Jaya.

Toko sengaja disepikan — Koh Aseng masang tulisan “TUTUP SEBENTAR, ADA URUSAN 40 TAHUN” di pintu (tulisannya beliau yang bikin, nggak bisa diprotes) — tapi lampunya nyala semua, mesin-mesin nyala, wangi toner, bunyi kipas tua: semuanya persis. Sengaja dipersis-persisin. Sembilan tahun lalu tempat ini bunyinya begini pas hidupku dibeliin seharga lima ratus perak.

Aku berdiri di belakang kasir. Posisi lama. Seragam kerja — bukan kemeja bagus; kupikir panjang soal ini dan keputusannya: dia jatuhnya ke anak fotokopian, ya anak fotokopian yang harus berdiri di sini. Di saku dada: cincin ibu. Di laci kasir: kaleng biskuit.

Koh Aseng di kursi komandonya, pura-pura baca koran. Korannya kebalik. Empat puluh tahun pengalaman, korannya kebalik.

Jam empat kurang dua menit, bel pintu bunyi.

Dan hasil dua bulan standby-baju-tiap-weekend itu masuk: dia pakai... dia pakai baju yang biasa aja. Bagus, tapi biasa — belakangan ngakunya: “SINAR JAYA soalnya! Aku mikirnya kamu beneran ada perlu! Baju perangnya nganggur di lemari!” — kunciran miring, jam papa di pergelangan, dan muka yang berusaha SANGAT KERAS kelihatan santai sambil matanya menyapu seisi toko nyari petunjuk.

“...Kok sepi? Koh Aseng, tokonya—“

“Urusan empat puluh tahun,” jawab Koh Aseng dari balik koran kebaliknya, misterius, TIDAK MEMBANTU.

“Cyn.” Kupanggil dari kasir. “Sini. Minta tolong.”

Dia jalan ke kasir, alis naik. “Tolong apa?”

Kusodorin selembar kertas. Terbalik. “Fotokopi. Satu lembar. Jadi satu.”

Dia natap kertas terbalik itu.

Natap aku.

Natap kertas lagi.

Dan aku bisa NONTON prosesnya di mukanya — sembilan tahun bikin kami transparan dua arah — kepingan-kepingan jatuh ke tempatnya satu-satu: kertas terbalik. satu lembar. jadi satu. toko ini. kasir ini. mesin ini—

“Abi.” Suaranya udah goyah di nama doang. “Ini... kamu nyuruh AKU yang fotokopi?”

“Iya. Mesinnya kamu yang pegang kali ini.” Kutarik napas. “Sembilan tahun lalu, di mesin itu, kamu yang masukin kertas, aku yang baca hasilnya. Gantian. Adil. Kita kan sistemnya barter dari dulu.”

Tangannya gemeteran pas nerima kertas. Dia jalan ke mesin kecil — mesin generasi kedua, penerus tahta almarhum — naruh kertas telungkup di kaca, kayak yang dulu, persis yang dulu, nutup, dan sebelum mencet tombol dia noleh sekali: “Aku... aku boleh nangis dari sekarang atau harus nunggu?”

“Baca dulu.”

Tombol dipencet. Cahaya hijau lewat.

Lembar hasil keluar pelan-pelan di penampung. Menghadap ke atas.

Tulisan tanganku. Yang jelek. Yang disusun berminggu-minggu bukan biar rapi tapi biar jujur, dicoret-ulang sampai tinggal tulangnya:

“Aku nggak bisa janji selalu kuat.

Boleh nggak... kali ini aku yang minta ditemenin terus?”

Dan di bawahnya, kecil:

“(Bayarnya seumur hidup. Kembalian nggak usah.)”

Dia berdiri di depan mesin itu lamaaa. Bahunya mulai naik-turun. Kertas hasil dipegang dua tangan kayak megang barang pecah-belah. Terus dia noleh —

— dan aku udah nggak di belakang kasir.

Aku udah di depannya. Dan berlutut.

“Cynthia.” Suaraku sendiri kedengeran jauh, tapi jalan terus, hafal jalannya, udah dilatih di semua cermin yang kupunya: “Aku nggak bawa acara. Nggak ada lampu-lampu, nggak ada yang sembunyi bawa kamera—“ (“ADA SATU,” ralat Koh Aseng dari kursinya, HP-nya udah nyala dari tadi, TRADISI, biarin — ) “—soalnya tiap aku nyiapin yang megah-megah, ujungnya aku sembunyi di belakang barangnya. Kali ini nggak. Kali ini yang berdiri— yang berlutut di sini cuma aku. Tangan kosong. Sama satu permintaan yang sembilan tahun baru berani keluar.”

Kubuka kaleng biskuit. Di dalam, di atas kain: cincin kuningan tua yang dipoles sampai hangat warnanya — dan di sisi dalamnya, kalau diteliti, tiga gir terkecil dari mesin fotokopi pertama tertanam melingkar, utuh, masih bisa muter kalau disentuh. Tiga gir. Tiga: yang ngeluarin struk pertama, yang ngopi kertas terakhir sebelum mesinnya wafat, dan satu lagi yang kupilih tanpa alasan teknis apa pun selain: harus tiga. Kami bertiga — aku, dia, dan semua barang bekas yang nyalanya bisa lebih lama dari barang baru.

“Aku nggak nawarin hidup yang gampang. Datanya sembilan tahun, kamu udah pegang semua: aku bakal kambuh, bakal ada malem-malem aku lupa cara minta tolong lagi, bakal ada ’nggak papa’ yang nadanya turun. Aku nggak bisa janji sembuh total.” Napas. Tanganku dingin, cincin ibu di saku dada kerasa beratnya, dan kalimat terakhir keluar telanjang, persis draft-nya, nggak dikasih baju apa-apa: “Jadi aku nggak ngasih apa-apa hari ini, Cyn. Aku minta. Temenin aku terus. Nikah sama aku. Mau nggak?”

Sinar Jaya hening total.

Dan dua bulan latihan muka kaget di kaca — tiga versi, elegan, nangis, tutup-mulut-dua-tangan — hasilnya:

GAGAL SEMUA.

Yang keluar versi keempat, yang nggak ada di katalog: dia jongkok. JONGKOK, di depanku yang berlutut, biar sejajar, kertas fotokopi diremes nggak sengaja di satu tangan, nangis udah bocor dari tadi ke mana-mana, dan sambil begitu dia MARAH:

“KAMU TUH— hik— CURANG— aku latihan DUA BULAN— aku udah nyiapin KUKU— terus kamu— pake toko ini— pake MESIN— pake kata MINTA— kamu tahu nggak sih SUSAHNYA kata itu keluar dari kamu, sembilan tahun aku nungguin kata itu, SEMBILAN TAHUN, terus keluarnya di sini, pake fotokopian, LIMA RATUS PERAK—“

“Cyn.”

“APA.”

“...Jawabannya?”

Dia natap aku. Muka berantakan total, hidung merah, kunciran miring udah nggak karuan — dan di tengah semua itu, senyumnya keluar, yang paling lebar, yang nggak pernah bisa dia lipat rapi kalau soal aku:

“YA IYALAH MAU. DARI SEMBILAN TAHUN LALU MAU. Sini—“ dia nyodorin tangan kirinya, nggak sabaran, gemeteran, “—pasang. Sebelum kamu itung-itung lagi.”

Kupasang. Pas. (YA JELAS PAS. Ukurannya udah diintel Eyang lewat operasi “arisan”.) Cincin kuningan dengan tiga gir kecil itu duduk di jarinya, sebelahan sama jam bapaknya di pergelangan yang sama — dan pas dia ngangkat tangan buat ngeliat, buat muterin gir kecilnya pakai jempol sambil ketawa-nangis, mataku nggak sengaja jatuh ke jam itu.

Jarum jam papa nunjuk jam empat lewat tiga belas.

Struk pertama kami, sembilan tahun lalu, tercetak jam — Koh Aseng nyimpen datanya, jangan tanya kenapa toko itu nyimpen semua — jam empat lewat tiga belas.

Aku nggak bilang ke dia saat itu. Kusimpen buat nanti, buat poin entah ke berapa ratus di daftar. Ada hal-hal yang lebih enak dibayar nyicil.

“WOI.” Koh Aseng akhirnya nggak tahan, berdiri dari kursi komando, HP masih ngerekam, matanya sendiri basah sambil ketawa: “EMPAT PULUH TAHUN! Kasir toko ini akhirnya nggak cuma laku — LUNAS! Yang mau nangis silakan, saya duluan dari tadi!”

Kami berdua ketawa, masih jongkok-berlutut kayak orang nggak waras, terus dia nubruk — kayak dulu, kayak selalu — dan pelukan di lantai toko fotokopi itu, di antara kaki-kaki mesin, wangi toner, jam empat lewat tiga belas menit dan beberapa detik yang berjalan terus:

Rasanya kayak transaksi yang akhirnya, setelah sembilan tahun, dua-duanya sepakat nggak usah pakai kembalian.

Sama-sama lunas.

Sama-sama nggak mau uangnya balik.