← Chapters Ch. 48 / 52

Chapter Forty Eight

“Kamu Masih Gitu.”

(POV Abi)

Aku bangun karena dingin di jidat.

Kompres. Jidatku dikompres. Aku di... kuedarkan mata pelan: langit-langit workshop, tapi aku nggak di kursi — di kasur lipat yang biasa dipakai magang kalau jaga malam, ada bantal, ada selimut, dan lampu area kerja udah dimatiin, tinggal lampu botol satu yang nyala anget di pojok.

Dan di sebelah kasur, di kursi biru yang digeser dari depan, ada orang duduk.

Masih pakai baju kantor. Rambutnya berantakan kena hujan. Matanya bengkak — bukan ngantuk. Di lantai dekat kakinya: termos, kotak obat (yang tablet, bukan kapsul), dan HP yang layarnya masih nyala di percakapan grup entah apa.

“...Cyn.”

“Jangan bangun dulu.” Suaranya pelan. Terlalu pelan. “Demammu 38.9 pas kutemuin. Sekarang udah turun dikit. Udah kukabarin Eyang — kubilang kamu nginep di workshop, lembur, biar beliau nggak panik. Bohong. Kamu ngajarin aku bohong ke Eyang sekarang.”

“Kamu... kok bisa—“

“Galih.” Dia natap lurus ke depan, ke arah rak, bukan ke aku. “Tadi malem dia chat aku. Isinya panjang, banyak huruf kapital, intinya: ’MBAK TOLONG MAS ABI DARI KEMARIN ANEH, SAYA NGGAK BOLEH CERITA TAPI SAYA CERITA AJA MBAK SOALNYA TANGAN SAYA GINI SAYA NGGAK BISA BANTUIN.’” Dia jeda. “Anak magangmu, yang tangannya tujuh jahitan, jam sebelas malem mikirin kamu. Kubaca pas mau tidur. Setengah jam kemudian aku udah di sini. Nemuin pacarku pingsan di atas meja las, hujan-hujan, sendirian, di toko yang namanya—“

Suaranya berhenti sendiri. Nggak diterusin. Nggak perlu.

Hening lama. Hujan udah reda di luar, tinggal tetes-tetes dari talang.

Aku nunggu marahnya. Sungguh, aku nunggu — versi penuh yang dijanjiin dulu, yang “nggak ada ampunnya”, gebrakan meja, volume, pasal-pasal. Aku udah siap. Bagian diriku yang paling jujur malah pengin dimarahin; marah itu setidaknya bunyi yang kukenal.

Yang dateng bukan itu.

“Bi.” Dia akhirnya noleh. Dan mukanya — mukanya bukan muka sidang ruko, bukan muka hujan-hujan fotokopian. Mukanya capek. Capek yang tua. “Aku nggak akan marah. Udah kucoba dari tadi, sejam aku duduk di sini nyusun marahnya — kayak kamu dulu nyusun kalimat, lucu ya, ketularan — dan nggak jadi-jadi. Soalnya tiap mau marah, yang keluar malah ini.”

Dan matanya tumpah. Nggak pakai suara. Dia nggak ngelap, nggak nutupin, dibiarin aja jalan sambil dia ngomong, pelan, rata:

“Tujuh tahun, Abi. Tujuh tahun. Aku udah lihat kamu belajar semuanya. Nerima bekal. Nerima sepatu. Nerima pelukan. Nerima sepeda balik. Kamu udah bisa bilang ’dikasih’ tanpa sakit, udah bisa bilang ’aku capek’, udah bisa terima duit Reno pakai kontrak. Aku bangga — sumpah, tiap satu-satu itu aku bangganya kayak orang gila.” Napasnya goyah, dikejar: “Terus malem ini aku nemuin kamu pingsan sendirian, dan aku ngecek HP-mu buat matiin alarm subuh — chat terakhirmu ke aku, jam sembilan: ’udah mau tidur nih. met malem. jangan lupa makan.’ Jam sembilan kamu lagi ngelas, Bi. Sambil demam. Sambil nyuruh AKU jangan lupa makan.”

“...Cyn—“

“Belum selesai.” Dia narik napas panjang. “Aku cuma mau bilang satu hal, terus kita tidur, urusan lain besok. Satu aja.” Dia natap aku — dan kalimatnya keluar bukan kayak vonis, kayak orang naruh barang berat yang udah digendong kelamaan:

“Kamu masih gitu.”

Tiga kata.

“Nerima, kamu udah lulus. Tapi minta tolong — MINTA, yang mulai dari kamu, yang kamu yang buka mulut duluan bilang ’aku nggak sanggup sendirian’ — tujuh tahun, Bi, dan skornya masih nol. Bahkan malem ini bukan kamu yang manggil aku. Galih. Anak SMK. Tangannya dijahit tujuh.” Dia ketawa kecil — ketawa yang basah, yang jatuh: “Aku nggak marah. Aku cuma... sedih, Bi. Sedihnya bukan yang gimana-gimana. Sedih yang — kamu tahu nggak sih rasanya sayang sama orang tujuh tahun, tinggal SATU pintu doang yang belum pernah dia buka buat kamu, SATU, dan tiap kali pintu itu kesenggol, yang dia lakuin: senyum rapi, terus mikul sendirian, terus tumbang, terus AKU yang nemuin — dan besoknya minta maaf, dan aku maafin, dan kita ulang lagi tahun depan?”

Nggak ada yang bisa kujawab. Semua kalimat pembelaan yang biasanya antre — demi kamu, biar kamu nggak repot, bentar lagi jadi — malam itu nggak ada satu pun yang berani maju. Kostum-kostumnya udah ketahuan semua.

“Aku pernah janji versi penuh ya, dulu. Yang nggak ada ampunnya.” Dia ngelap muka akhirnya, pelan, pakai lengan — kayak anak kecil, kayak dulu, kayak selalu. “Ternyata versi penuhnya gini. Bukan teriak. Aku nggak kuat teriak lagi soal yang satu ini. Udah pernah teriak, udah pernah nangis hujan-hujan, udah pernah sidang. Sekarang tinggal ini.” Dia berdiri, ngerapiin selimutku, matiin lampu botol pojok, terus rebahan di kasur lipat satunya — yang udah dia gelar dari tadi, dia udah nyiapin, dia selalu udah nyiapin — dan dari gelap, suaranya, kecil:

“Aku nggak ke mana-mana, Bi. Besok juga masih di sini. Kursi birunya juga. Kita juga. Aku cuma pengin — sekali aja seumur hidup — kamu yang manggil duluan.” Jeda panjang. “Udah. Tidur. Obatnya jam dua diminum lagi, udah kualarm.”

Talang netes di luar. Napasnya lama-lama teratur — ketiduran; capek beneran, bukan akting, aku bisa bedain, tujuh tahun.

Dan aku rebahan di sebelahnya, demam 38 koma sekian, natap langit-langit workshop yang kubangun pakai seluruh badanku — dan pikiran yang terakhir lewat sebelum obat narik aku tidur, kali ini, bukan untung nggak ada yang lihat.

Kali ini:

Cincinnya salah.

Bukan barangnya. Barangnya bagus.

Rencananya yang salah. Dari akarnya.

Besok. Bongkar ulang. Dari nol.