Chapter Twenty Five
Rooftop Bintang Lima
(POV Abi)
Semuanya berawal dari satu kalimat Sinta yang nggak sengaja kudengar di kelas:
“...iya, katanya sih resto baru di mall itu bagus banget, ada lampu-lampu gantungnya, mejanya di rooftop, view kota. Anak-anak pada ke sana. Lo kapan diajak Abi, Cyn?”
Aku lagi benerin engsel jendela kelas waktu itu. Tanganku tetap muter obeng, tapi kupingku udah pindah kerja.
Dan jawaban Cynthia: “Ngapain. Mahal. Mending fotokopian, gratis, ada yang jaga.”
Ketawa. Dua-duanya ketawa. Bercandaan biasa. Sinta udah pindah topik tiga detik kemudian.
Tapi aku — aku ini kalau denger sesuatu suka nggak bisa naruh. Malamnya sambil ngelap rantai sepeda, kalimat itu muter terus: mending fotokopian, gratis. Dia ngomongnya tulus, aku tahu, dia beneran betah di situ. Justru itu masalahnya. Pacarku, yang dulu dijemput mobil ber-AC, yang rumahnya bisa beli seratus resto rooftop, tulus-tulus aja nurunin standar hidupnya demi nyesuaiin dompetku — dan nggak pernah sekali pun nyebut itu pengorbanan.
Aku nggak bisa beliin dia rooftop mall.
Tapi bentar.
Rooftop, aku punya.
Persiapannya sepuluh hari, dan melibatkan konspirasi tiga pihak.
Pihak pertama: Koh Aseng. Atap fotokopian itu dak beton, luasnya lumayan, selama ini cuma dipakai jemur terpal sama naruh tandon. “Koh, boleh pinjem atap? Sabtu malem. Sekalian saya rapiin, tandonnya saya serviskan, pipanya yang bocor saya ganti.”
Koh Aseng natap aku lama. “Buat dia?”
“...Iya.”
“Pinjem gratis. Servis tandon tetep dibayar— eh, nggak deng.” Beliau ngibas tangan, senyum lebar. “Empat puluh tahun toko ini nggak pernah dipakai yang romantis-romantis. Sekali-sekali. Anggap tokonya ikut pacaran.”
Pihak kedua: Pak Yon. Buat lampu. Aku pengin lampu gantung kayak yang dibilang Sinta — dan di gudang bengkel ada gulungan kabel sisa, fitting bekas, sama botol-botol kaca bening bekas oli baru yang belum kepakai. Sepuluh malam kupotongin botolnya, kuamplas, kupasangin fitting, kurangkai serial: dua belas lampu botol, cahayanya kuning anget, digantung zigzag pakai kawat.
Pas dites nyala pertama di bengkel, Pak Yon sampai berhenti ngelas. “Le. Kalau bengkel ini bangkrut, kita jualan lampu aja.”
Pihak ketiga — dan ini yang paling berbahaya: Eyang Uti.
“Yang. Sabtu ini... Abi mau masak buat Cynthia. Yang enak. Eyang ajarin ya?”
Beliau matiin TV. MATIIN. Sinetronnya lagi tayang. “Akhirnya kamu ngajak eyang ikutan.” Beliau bangkit dengan kecepatan yang nggak sesuai umur, buka lemari bumbu. “Nggak usah diajarin. Kelamaan. Gini aja: eyang yang masak, kamu yang ngaku-ngaku. Ayam bakar madu, sambel korek, sayur asem. Nggak ada yang nolak tiga itu.”
“Yang, masa aku bohong—“
“Ya udah. Masak bareng. Kamu bagian ngipasin ayam.” Beliau nyodorin kipas anyaman. “Tapi eyang minta bayaran.”
“...Apa, Yang?”
“Kenalin orangnya. Sabtu itu. Eyang pengin lihat mata orangnya langsung. Mata itu nggak bisa bohong, Le. Masakan bisa.”
Sabtu malam. Jam tujuh.
Aku jemput dia pakai sepeda — dia udah curiga dari tadi karena kubilang “pakai baju yang nyaman, kita ke tempat biasa tapi nggak biasa” (kalimat yang kususun tiga hari dan tetap jelek). Sampai depan fotokopian yang gelap, dia makin bingung.
“Tokonya tutup, Bi.”
“Iya. Kita bukan ke toko.” Kubuka pintu samping, yang ke tangga. “Ke atasnya.”
Naik tangga sempit, buka pintu dak—
Dan kudengar dia narik napas.
Dua belas lampu botol nyala zigzag di atas, kuningnya anget, motong langit yang kebetulan — rezeki anak sholeh — lagi cerah berbintang. Di tengah: meja dari peti kayu yang kuamplas-pernis, dua kursi toko yang kubersihin, taplak kotak-kotak (punya Eyang, dipinjemin sambil senyum-senyum). Di atas meja: ayam bakar madu yang masih ngebul, sambel korek, sayur asem, nasi di bakul kecil, dua es teh — manisnya satu dikurangin. Dari atas sini kelihatan lampu-lampu jalan, atap-atap rumah, menara masjid, kerlip kota kecil kami yang nggak pernah kelihatan sebagus ini dari bawah.
Cynthia berdiri di ambang pintu dak. Lama. Nggak gerak.
“...Cyn? Kalau nggak suka, di bawah juga bisa sih, kupindahin—“
“Diem dulu.” Suaranya aneh. Dia jalan pelan ke tengah, muter, ngeliatin lampu-lampu botol satu-satu — terus nyentuh salah satunya hati-hati, kayak nyentuh barang museum. “Ini... botol?”
“Bekas. Dipotong, diamplas. Sepuluh malem bikinnya, dua pecah, tanganku kena dikit tapi udah sembuh— eh itu nggak penting—“
“Sepuluh malem.” Dia noleh. Matanya kena cahaya kuning, dan basahnya kelihatan. “Kamu tuh. KAMU TUH. Aku cuma bilang ’mending fotokopian’ SEKALI. Becanda. Sama Sinta. Kamu denger?”
“Aku denger semuanya. Kerjaanku emang gitu.”
Dia nutup muka, ketawa-nangis khasnya keluar, terus duduk di kursi yang kutarikin sambil ngomel pelan: “Nggak bisa dipercaya. Pacarku nggak bisa dipercaya. Masa aku kalah sama toko fotokopi.”
Kami makan. Ayam bakar madu Eyang — maaf, ayam bakar madu kolaborasi (aku ngipasin dua jam, tanganku pegel, itu kontribusi sah) — sukses besar. Dia nambah. NAMBAH. Sambel koreknya dipuji tujuh kali. Di tengah makan dia berhenti, ngeliatin semuanya sekali lagi — lampu, langit, kota — terus bilang, pelan, setengah ke aku setengah ke angin:
“Bi. Aku pernah diajak makan di tempat yang sekali makannya bisa buat beli sepedamu. Serius. Sama keluarga, sama... ya pernah lah.” Dia muter gelas es tehnya. “Nggak ada yang rasanya kayak gini. Ini tuh—“ dia nyari kata, nyerah, ketawa kecil, “—ini kencan termahal yang pernah aku dapet. Bayarnya sepuluh malem sama dua botol pecah. Nggak ada resto yang sanggup.”
Aku lagi nyusun jawaban — sistem lagi hang, biasa — pas pintu dak kebuka.
“PERMISI. Room service.”
EYANG UTI. Bawa nampan isi pisang goreng sama teh anget. NAIK TANGGA SENDIRI. Di belakangnya Koh Aseng nongol sambil nyengir tanpa dosa (“eyangmu nelpon toko, minta dianter, ya masa kutolak”).
Cynthia langsung berdiri, panik rapiin rambut. “E-eyang— eh— selamat malam— saya Cynthia—“
“Nak Cynthia.” Eyang Uti naruh nampan, terus megang dua tangan Cynthia, natap matanya. Lama. LAMA BANGET. Sesuai ancaman: mata itu nggak bisa bohong. Satu rooftop hening. Aku udah siap pasang badan.
Terus Eyang noleh ke aku dan bilang, datar:
“Le. Ambilkan piring satu lagi. Eyang ikut makan. Sama calon— eh.” Beliau batuk kecil, benerin omongan dengan kecepatan yang mencurigakan. “Sama temanmu ini.”
Dan sisa malam itu jadi tiga orang: Eyang Uti nyeritain aibku dari umur lima tahun (LENGKAP, BERURUTAN, ADA VERSI PANJANGNYA), Cynthia ketawa sampai megangin perut sambil nyatet — NYATET, DI HP, kulihat judulnya “materi” — dan aku bolak-balik nambahin teh sambil protes yang nggak digubris siapa-siapa.
Pas Eyang pamit turun duluan (dianter Koh Aseng), beliau nyempetin bisik ke aku di tangga, pelan, puas:
“Matanya bagus, Le. Kalau lihat kamu, nggak minta apa-apa.” Beliau nepuk pipiku sekali. “Persis almarhum ibumu kalau lihat bapakmu.”
Aku berdiri di tangga itu bentar. Agak lama.
Terus naik lagi ke atas, ke lampu-lampu botol, ke sisa pisang goreng, ke orang yang lagi ngelamun natap kota sambil senyum — dan malam itu, di rooftop toko fotokopi, aku nyatet satu poin baru di kertas dompet. Nomor empat puluh tiga. Nggak kukasih tahu dia isinya apa.
Sampai sekarang belum. Nanti aja. Ada waktunya.