Chapter Thirty Three
Kalimat yang Terpotong
(POV Abi)
Aku dateng.
Itu dulu yang penting dicatat: aku dateng. Minggu sore, sepatu dari dia, kemeja satu-satunya yang paling bener (disetrika Eyang Uti dua kali, “lipetan lengan itu wajah keluarga, Le”), bawa kado yang kubikin seminggu — pigura kayu ukir buat Mama Cynthia, di dalamnya kupasangin foto Cynthia kecil sama papanya yang kudapet dari... ya, dari konspirasi sama anaknya, minta diam-diam. Eyang nggak ikut, “acara anak muda dan besan— eh, orang tua. Eyang di rumah aja, sinetronnya lagi seru.”
BELIAU BILANG APA BARUSAN. Nggak sempat kukejar, udah didorong berangkat.
Dan pas Cynthia buka pagar terus lihat aku berdiri di situ — kemeja, kado, sepatu itu — mukanya... ya ampun. Senyumnya yang keluar bukan yang rapi, bukan yang biasa. Yang berantakan. Yang asli. Dia sampai noleh ke dalam rumah dulu, teriak “MA! ABI DATENG!” dengan volume yang bikin tamu-tamu noleh, terus baru sadar, terus malu sendiri.
Kalau cerita ini berhenti di situ, bagus banget ya.
Ceritanya nggak berhenti di situ.
Rumah Cynthia itu... gede. Udah kuduga sih, tapi beda antara nduga sama berdiri di dalamnya: langit-langit tinggi, piano di pojok ruang tengah (piano. di ruang tengah. sebagai perabot.), halaman belakang yang muat tenda prasmanan, dan tamu-tamu yang datangnya bergelombang — keluarga besar, tetangga kompleks, kolega almarhum papa, temen-temen arisan Mama.
Mama Cynthia sendiri, pas pertama kali salaman, natap aku persis kayak Eyang natap Cynthia dulu: lamaaa, meriksa, nggak bisa disenyum-senyumin. Terus pas buka kado — dia bukanya langsung, di depanku — beliau diem natap foto di pigura itu lama banget, ngusap ukirannya pelan, dan pas ngangkat muka, matanya udah beda.
“Ini kamu yang bikin?”
“Iya, Tante. Ukirannya masih kasar di pojok, maaf—“
“Cynthia.” Beliau noleh ke anaknya. “Ajarin pacarmu cara nerima pujian. Belum sempet dipuji udah minta maaf duluan.”
DIBACA. SEKALI KETEMU LANGSUNG DIBACA. Ibu dan anak itu... ya sudahlah. Sekolahnya sama kayaknya.
Satu jam pertama aman. Cynthia gandeng aku keliling, kenalin ke tante-tante (“ini Abi” — titik, nggak pakai embel-embel, dan justru cara ngenalinnya yang tanpa penjelasan itu bikin tante-tantenya senyum-senyum penuh arti), aku bantu-bantu dikit pas tenda prasmanan miring satu kakinya (refleks; Cynthia narik aku sambil bisik “SEKALI INI JADI TAMU DULU BISA NGGAK”), dan Reno—
Reno dateng sekeluarga. Ya iyalah. Tetangga kompleks, orang tua saling kenal. Papanya Reno langsung diserbu bapak-bapak, mamanya gabung ke rombongan arisan, dan Reno sendiri nyalamin aku hangat, nemenin aku pas Cynthia lagi direbut tante-tante, nyelametin aku dari obrolan om-om soal saham (“om, Abi ini jagonya mesin, bukan bursa — Bi, sini, gue tunjukin sesuatu”) dan malah ngajak aku ke pojok ruang tengah, ke piano itu.
“Piano almarhum om,” katanya, buka penutup tuts pelan. “Dulu om yang ngajarin gue pertama kali, sebelum les. Cynthia nggak mau main lagi habis om nggak ada. Sayang sih, ini piano bagus.” Dia mencet beberapa tuts, pelan, sopan sama rumah orang. “Nah kan. Denger? Yang ini telat balik juga. Sama kayak punya aula.”
“Kelembaban,” kataku, otomatis. “Deket jendela, kena sore. Harusnya digeser dikit terus—“
“Terus kata lo waktu itu part-nya bisa diakalin. Gue inget.” Dia nutup penutup tuts, senyum. “Kapan-kapan lo mau nggak sih ngajarin gue bagian teknisnya? Gue bisa mainnya doang, nggak ngerti dalemannya. Padahal penasaran dari dulu.”
Dan kami ngobrol lagi — enak, nyambung, kayak biasa — dan lagi-lagi kucatat dengan tulus: orang ini baik. Sampai detik itu pun masih kucatat gitu.
Masalahnya bukan Reno.
Masalahnya kejadian sepuluh menit kemudian, pas aku nyari toilet.
Toiletnya lewat lorong samping, deket dapur. Dan dari dapur — pintu setengah kebuka, suara-suara ibu-ibu, denting piring — kedengeran obrolan yang harusnya kulewatin aja. Kulewatin. Udah tiga langkah lewat.
Terus namaku— bukan. Nama dia yang kedengeran.
“...Reno itu ya, Bu, makin gede makin kayak papanya. Cakep, pinter, sopan...”
“Iya loh. Eh, jadi gimana, jadi nggak yang kemarin itu dibahas? Sama Reno?”
Langkahku berhenti sendiri. Nggak kusuruh.
Dan suara berikutnya suara Mama Cynthia — jelas, kenal, baru sejam lalu muji piguraku:
“Iya, jadi. Minggu depan mulai. Ya gimana ya, Bu... Reno itu memang cocok—“
prang. Piring beradu. Suara ibu-ibu lain nimpal, ketawa, topik kegeser, kalimatnya nggak pernah selesai. Nggak akan pernah selesai — versi lengkapnya baru kudenger lama setelahnya, dan kalian juga; sabar, tiga bab lagi.
Yang kudenger sore itu cuma sampai situ: jadi. Minggu depan mulai. Reno itu memang cocok—
Dan otakku — otak yang kata semua orang jenius kalau soal nyambungin hal — nyambungin semuanya dalam dua detik, pakai semua bahan yang sebulan ini kutimbun sendiri: searah rumah kita. Satu les. Satu dunia. Kolom kiri panjang, kolom kanan pendek. Jadi. Minggu depan mulai. Cocok.
Klik. Rangkaian nyambung. Lampunya nyala.
Lampunya nyala ke arah yang salah — tapi mana kutahu waktu itu. Teknisi terbaik pun, kalau diagnosanya berangkat dari keyakinan bahwa dirinya pasti sparepart gagal, bakal baca semua gejala sebagai bukti.
Aku balik ke acara. Senyum. Rapi. Pamit ke Mama Cynthia dengan sopan — “Eyang di rumah sendirian, Tante, saya nggak enak lama-lama” (bohong yang jahat, pakai Eyang sebagai alasan; beliau kalau tahu bisa nyubit) — dipeluk-cium tante-tante yang baru kenal, disalamin Reno, “gue anterin?” “nggak usah, bawa sepeda, makasih ya.”
Cynthia nganter sampai pagar. Dia gandeng tanganku sampai detik terakhir.
“Bi. Makasih ya udah dateng. Beneran.” Matanya terang banget sore itu. “Mama suka banget piguranya. Aku liat, udah dipajang. Belum sejam udah dipajang.”
“Syukur deh.” Senyum. Rapi. “Met malem ya. Salam buat Mama.”
Dia ngelepas tanganku pelan — jari-jarinya narik diri satu-satu, kebiasaan kami — dan pas sepedaku udah jalan, dari belakang dia teriak, nggak peduli tetangga:
“HATI-HATI! CHAT KALO UDAH NYAMPE!”
Kuangkat tangan tanpa noleh.
Nggak berani noleh. Orang yang lagi retak jangan noleh ke arah cahaya; kelihatan garis-garisnya.
Sepanjang jalan pulang, sore jadi maghrib, maghrib jadi gelap, dan di kepalaku cuma satu kalimat yang diputar-potong-putar-potong kayak kaset rusak:
Reno itu memang cocok.
Iya.
Itu masalahnya dari awal, kan. Emang cocok.
Yang nggak cocok, dari awal, dari sebelum semua bab ini dimulai, cuma satu.
Dan malam itu, di kamar, ditemani buku sketsa yang nggak berani kubuka, sparepart yang nggak cocok itu mulai nyusun rencana untuk hal yang paling dia kuasai seumur hidupnya:
Memberi.
Satu kali lagi. Yang terakhir. Yang paling gede.
Kalian udah tahu bentuknya apa. Aku yang waktu itu belum tahu — bahwa yang lagi kususun malam itu bukan pemberian.
Itu namanya lari. Dibungkus kado.