← Piring Ketiga

Chapter Nine

Kursi yang Disisakan

POV — Damar Alvaro

Aku mulai tahu kapan Kirana belum datang.

Bukan karena aku menunggu.

Setidaknya itu yang kukatakan pada diri sendiri.

Kelas jam sembilan biasanya punya pola yang sama. Aku datang sekitar lima belas menit sebelumnya. Beberapa orang sudah ada. Kursi di sebelahku kosong sampai sekitar lima atau tujuh menit sebelum dosen masuk.

Lalu Kirana muncul.

Kadang membawa susu.

Kadang roti.

Kadang hanya napas terburu-buru dan alasan yang tidak kutanya.

Hari itu jam sudah menunjukkan delapan lima puluh tujuh.

Kursi sebelah masih kosong.

Aku membuka materi kuliah.

Membaca dua baris.

Melihat pintu.

Tidak ada Kirana.

Aku membaca lagi.

Pintu terbuka.

Bukan dia.

Aku kesal pada diri sendiri.

Tiga menit kemudian dosen masuk.

Kelas dimulai.

Kursi tetap kosong.

Aku tidak mengirim pesan.

Tidak ada alasan.

Kami bukan pasangan. Bukan teman yang harus memberi laporan keberadaan. Bahkan kalau dia tidak masuk, itu bukan urusanku.

Setengah jam kemudian ponselku bergetar di saku.

Aku tidak mengecek sampai dosen memberi waktu latihan.

Pesan dari Kirana.

Mar, kalau dosennya nanya aku, bilang aku diculik alien.

Aku menatap pesan itu.

Lalu membalas.

Nggak ada yang nanya.

Balasan datang cepat.

Jahat.

Aku menahan senyum.

Kenapa nggak masuk?

Aku baru sadar sudah mengirimnya setelah pesan terkirim.

Tiga titik muncul.

Mama datang mendadak. Lagi nemenin beliau urus sesuatu.

Aku membaca sekali.

Lalu menaruh ponsel.

Lima detik kemudian aku mengambil lagi.

Oke.

Aku hampir menulis hati-hati, lalu menghapusnya.

Tidak perlu.

Sore nanti kami tetap bisa bertemu di kelas berikutnya.

Ternyata tidak.

Kirana tidak datang seharian.

Dan untuk pertama kalinya aku sadar kampus terasa sedikit berbeda kalau dia tidak ada.

Lebih tenang.

Seharusnya lebih baik.

Anehnya tidak.

Saat makan siang, Bayu—teman sekelas yang belakangan sering duduk di baris depan—bergabung di mejaku.

“Kirana nggak masuk?”

Aku mengangkat bahu.

“Katanya urusan keluarga.”

Bayu menatapku.

“Kok lo tahu?”

Aku berhenti mengunyah.

“Dia chat.”

“Oh.”

Satu suku kata itu membuatku tidak nyaman.

“Kenapa?”

“Nggak.”

“Ngomong.”

“Sering chat-an?”

“Urusan tugas.”

Bayu mengangguk terlalu lambat.

Aku menunjuk nasinya.

“Makan.”

Dia tertawa.

Aku menyesal membuka mulut.

Setelah kelas selesai, aku pergi ke kafe.

Shift sore cukup ramai. Tidak ada waktu memikirkan siapa yang tidak masuk kuliah.

Sampai break.

Aku melihat ponsel.

Tidak ada pesan.

Aku memasukkannya kembali.

Dua menit kemudian keluar lagi.

Masih tidak ada.

Rian yang duduk di pojok ruang pegawai memperhatikan.

“Lo nunggu chat?”

“Nggak.”

“Wajah lo iya.”

“Aku punya tugas.”

“Kalau tugas, buka laptop.”

Aku menatapnya.

Dia mengangkat kedua tangan.

“Oke, Mas Misterius.”

Aku tidak suka bahwa dua orang berbeda dalam satu hari membaca sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak mau sebut.

Jadi aku melakukan hal yang masuk akal.

Aku bekerja lebih banyak.

Menerima meja tambahan.

Membersihkan stok.

Menghitung persediaan susu.

Sampai akhirnya jam hampir sembilan dan ponselku bergetar.

Kirana.

Besok masuk. Tenang, aku belum keluar dari kampus secara permanen.

Aku menatap layar.

Aku tidak pernah bilang khawatir.

Aku membalas.

Siapa yang khawatir?

Balasannya:

Kamu.

Aku mendengus.

Percaya diri.

Sangat.

Kemudian dia mengirim foto.

Seorang perempuan paruh baya tersenyum ke kamera sambil memegang map. Di belakangnya Kirana membuat ekspresi lelah.

Mama selesai urus dokumen. Aku korban administrasi hari ini.

Aku membalas tanpa berpikir.

Mirip.

Dengan siapa?

Mama kamu.

Tiga titik.

Jadi kamu merhatiin aku cukup detail buat tahu aku mirip siapa?

Aku berhenti.

Aku menatap pesan itu cukup lama sampai layar redup.

Salah langkah.

Aku mengetik.

Maksudku wajahnya.

Itu justru lebih buruk.

Balasannya datang.

Santai, Mar. Aku nggak tagih biaya observasi.

Aku menyimpan ponsel.

Panas di telinga tidak punya hubungan dengan suhu dapur.

Besok pagi, Kirana datang seperti biasa.

Empat menit sebelum kelas.

Begitu masuk, dia melihat ke arahku.

Kursi sebelah masih kosong.

Aku memang tidak menaruh tas di sana.

Tapi ketika Bayu tadi sempat bertanya boleh duduk sebelahku, aku menyuruhnya duduk di depan dengan alasan colokan dekat dinding lebih bagus.

Aku tidak memikirkan alasan sebenarnya.

Kirana duduk.

“Pagi.”

“Pagi.”

Dia menaruh kotak susu di meja.

Satu untuk dirinya.

Satu untukku.

Aku memandangnya.

“Kenapa?”

“Syukuran aku kembali dari penculikan alien.”

Aku mengambil susu.

“Kamu aneh.”

“Kangen?”

Aku hampir tersedak bahkan sebelum minum.

Kirana tertawa.

“Bercanda.”

Aku membuka sedotan.

“Jangan geer.”

“Berarti nggak?”

Aku memilih tidak menjawab.

Dia terus tersenyum.

Kelas dimulai.

Sepuluh menit kemudian pulpen Kirana jatuh.

Aku mengambilnya sebelum dia membungkuk.

Tangannya menyentuh jariku saat menerima.

Tidak sampai satu detik.

Biasa.

Tapi aku sadar.

Dan fakta bahwa aku sadar membuatku semakin kesal.

Setelah kelas, kami berjalan ke kantin.

Kirana bertemu beberapa teman dari kelas lain. Dalam waktu kurang dari satu menit, dia sudah terlibat percakapan dengan tiga orang sekaligus.

Aku berdiri sedikit jauh sambil menunggu.

Aku baru menyadari sesuatu yang selama ini tidak kupikirkan.

Kirana memang ramah kepada banyak orang.

Dia tertawa dengan mudah. Mengingat nama. Menanyakan kabar. Menanggapi cerita orang seolah tidak sedang buru-buru.

Jadi mungkin semua perhatiannya kepadaku memang biasa.

Pikiran itu seharusnya melegakan.

Entah kenapa malah terasa sedikit mengecewakan.

“Kamu kenapa bengong?”

Kirana sudah berdiri di depanku.

“Nggak.”

“Laper?”

“Iya.”

“Kantin?”

Aku mengangguk.

Kami berjalan berdampingan.

Di tengah jalan seseorang memanggil Kirana lagi.

Dia membalas lambaian.

Aku bertanya, “Kamu kenal semua orang?”

“Nggak.”

“Kelihatannya iya.”

“Kalau ketemu dua kali terus saling senyum, menurutku udah masuk kenalan.”

“Standarmu rendah.”

“Standarmu terlalu tinggi.”

“Mungkin.”

Kirana melirikku.

“Kalau kamu?”

“Apa?”

“Kapan seseorang resmi jadi temanmu?”

Aku memikirkan jawabannya.

“Nggak tahu.”

“Berarti aku belum?”

Aku menoleh.

Nada suaranya ringan, tapi pertanyaannya tidak terasa sepenuhnya bercanda.

Aku menjawab, “Udah.”

Kirana diam satu langkah.

Lalu senyumnya muncul.

“Oh.”

“Kenapa?”

“Nggak.”

“Kamu yang nanya.”

“Cuma seneng dapat promosi.”

Aku menggeleng.

Di kantin, dia memilih meja pojok.

Aku duduk di depannya.

Kirana membuka menu, lalu berkata, “Kalau gitu sebagai teman resmi, nanti ajarin aku materi tadi.”

“Kamu nggak ngerti?”

“Sedikit.”

“Bagian mana?”

“Sebagian besar.”

Aku menghela napas.

Dia tertawa.

Hari itu aku baru memahami satu hal yang cukup merepotkan.

Bukan hanya Kirana yang sering muncul dalam rutinitasku.

Tanpa sadar, aku mulai menyisakan tempat untuknya.

Malamnya, Keisha menemukan kotak susu kosong di tasku ketika mencari charger.

“Ini apa?”

Aku melihat dari meja makan.

“Sampah.”

“Aku tahu sampah.”

“Terus kenapa nanya?”

“Biasanya Kakak beli kopi sachet, bukan susu rasa cokelat.”

Aku kembali ke laptop.

“Dikasih teman.”

Hening.

Kesalahan.

Keisha muncul di samping meja.

“Teman?”

Aku mengetik lebih keras.

“Teman kampus.”

“Nama?”

Aku tidak menjawab.

Dia menepuk meja dua kali.

“Kirana?”

“Kenapa kalau dengar kata teman langsung dia?”

“Karena yang lain Kakak sebut ‘anak kelas’, ‘teman tugas’, atau ‘orang’. Ini pertama kali Kakak bilang teman.”

Aku berhenti mengetik.

Sial.

Keisha tersenyum seperti detektif yang baru menemukan sidik jari.

“Jadi resmi teman sekarang?”

Aku menatapnya.

“Siapa yang cerita?”

“Nggak ada. Muka Kakak.”

“Jangan ngarang.”

“Kalau dia baik, ya bagus.”

Nada Keisha berubah sedikit. Tidak lagi mengejek.

Aku menatap layar.

“Iya.”

“Cuma jangan aneh-aneh.”

Sekarang giliranku menoleh.

“Maksudnya?”

Keisha mengangkat bahu.

“Kakak suka bikin semua hal jadi tanggung jawab. Teman nggak harus begitu.”

Aku ingin membalas, tapi dia sudah mengambil charger dan pergi.

Aku duduk beberapa saat lebih lama.

Teman tidak harus jadi tanggung jawab.

Aku tahu.

Tentu saja aku tahu.

Tapi entah kenapa kalimat itu menetap cukup lama di kepalaku malam itu.

Sebelum tidur, ponselku berbunyi.

Kirana mengirim foto catatan kuliahnya.

Bagian ini bener?

Aku melihatnya.

Salah satu rumus dicoret tiga kali.

Aku membalas koreksi singkat.

Makasih, teman resmi.

Aku menatap dua kata terakhir.

Lalu mematikan layar.

Keisha benar.

Mungkin aku memang terlalu sering membuat sesuatu sederhana menjadi rumit.

Masalahnya, aku belum tahu.