Chapter Thirty One
Sandal di Depan Pintu
POV — Damar Alvaro
Sandal Kirana muncul di depan rumah tanpa pernah dibicarakan.
Awalnya dia memakai sandal tamu.
Sandal karet biru yang ukurannya terlalu besar dan bunyinya keras kalau dipakai berjalan.
Suatu sore Keisha pulang membawa sandal baru dari pasar.
“Ini.”
Aku melihat.
Sandal perempuan warna hitam.
“Buat siapa?”
“Kak Kira.”
Aku menatap adikku.
“Kenapa?”
“Yang biru kebesaran.”
“Itu sandal tamu.”
“Makanya.”
Aku hampir bertanya lebih jauh.
Keisha sudah masuk kamar.
Ketika Kirana datang malamnya, dia berhenti di depan pintu.
“Ini punya siapa?”
Keisha menjawab dari dalam.
“Kakak.”
Kirana diam.
Aku berdiri di belakangnya.
Dia menoleh kepadaku.
“Aku?”
“Katanya.”
Kirana melepas sepatu dan memakai sandal itu.
Pas.
Dia berjalan dua langkah.
Lalu kembali melihat Keisha.
“Makasih.”
Keisha pura-pura fokus laptop.
“Murah.”
“Terus?”
“Jangan terharu.”
Kirana tersenyum.
Aku menahan senyum sendiri.
Benda kecil lagi.
Hair tie.
Mug.
Sekarang sandal.
Rumah kami mulai menyimpan bukti keberadaan Kirana bahkan ketika dia tidak ada.
Malam itu kami bertiga makan nasi telur.
Keisha bercerita soal sekolah.
Kirana mendengarkan sambil memotong telur menjadi bagian kecil.
Aku menyadari dia sekarang tahu banyak nama teman Keisha.
Tahu guru biologinya.
Tahu Moka suka kabur ke rumah tetangga.
Hal-hal yang tidak ada hubungannya denganku.
Itu penting.
Hubungan mereka tidak lagi hanya lewat aku.
Setelah makan, Kirana membantu mencuci.
Aku mengeringkan.
Keisha belajar.
“Kira.”
“Hm?”
“Sandalnya suka?”
Dia menatapku.
“Banget.”
“Kenapa?”
“Punya sandal sendiri di rumah pacar itu achievement.”
Aku tertawa.
“Standarmu aneh.”
“Diam.”
Dia menyenggol lenganku.
Aku menyenggol balik.
Kirana hampir menjatuhkan piring.
“Mar!”
Aku menangkap.
Keisha dari meja berkata, “Jangan flirting dekat inventaris.”
Aku dan Kirana tertawa.
Beberapa hari kemudian aku pulang lebih dulu dan melihat sandal hitam itu di depan pintu.
Refleks pertama: Kirana ada.
Aku langsung senang.
Aku membuka pintu.
Rumah sepi.
Keisha keluar kamar.
“Kak Kira?”
“Nggak ada.”
Aku melihat sandal.
“Terus?”
“Dia tadi datang sebentar. Sepatunya putus. Sandalnya ditinggal, pulang pakai yang lain.”
“Oh.”
Keisha menatapku.
“Kecewa?”
“Nggak.”
“Bohong.”
Aku masuk dapur.
Aneh.
Satu sandal cukup membuatku berharap seseorang ada di dalam.
Aku mulai memahami rumah bukan hanya tempat orang tinggal.
Rumah juga kumpulan tanda yang membuat kita tahu siapa yang biasa kembali.
Malamnya Kirana chat.
Sandalku aman?
Aku:
Aman.
Kirana:
Jangan dipakai.
Aku:
Nggak muat.
Kirana:
Bagus.
Aku memotret sandal itu.
Ada di depan pintu.
Balasannya:
Lucu.
Aku:
Apanya?
Kirana:
Kayak aku punya tempat.
Aku menatap pesan itu.
Lama.
Aku mengetik:
Memang.
Tidak ada tiga titik beberapa detik.
Lalu:
Mar.
Aku:
Hm?
Kirana:
Aku sayang kamu.
Tanganku berhenti.
Kami belum sering mengatakan itu.
Suka, iya.
Kangen, sering dari Kirana.
Sayang sebagai panggilan kadang bercanda.
Tapi kalimat langsung seperti itu masih jarang.
Aku membaca lagi.
Refleks lamaku mencari jawaban aman.
Makasih jelas salah.
Aku juga terasa besar.
Padahal aku tahu benar.
Aku mengetik:
Aku juga sayang kamu.
Aku menatap sebelum mengirim.
Lalu kirim.
Balasannya datang berupa banyak huruf kapital yang tidak perlu.
Aku tertawa.
Keisha lewat.
“Kenapa?”
“Nggak.”
“Kak Kira?”
Aku mengangguk.
Keisha mengambil air.
“Bagus.”
“Apa?”
“Nggak.”
Dia masuk kamar.
Aku melihat sandal hitam di depan pintu.
Benda murah.
Tidak ada arti bagi orang lain.
Tapi malam itu aku tahu sesuatu berubah lagi.
Aku tidak cuma terbiasa Kirana datang.
Aku mulai mengharapkan dia kembali.
Dan untuk pertama kalinya, harapan itu tidak langsung kuikuti ketakutan bahwa suatu hari dia mungkin tidak.
Aku membiarkan rasa senang berdiri sendiri.
Besok Kirana datang mengambil sandalnya.
Aku berdiri di pintu.
Dia memakai.
“Pas?”
“Pas.”
Aku melihat.
“Bagus.”
Kirana mengangkat wajah.
“Kok kayak bapak-bapak beli sandal anak?”
Aku menatap.
Dia tertawa.
Aku menarik tangannya sebelum pergi.
Kirana berhenti.
Aku mencium keningnya.
“Dadah.”
Dia membeku.
Aku menutup pintu sebelum diserang balik.
Dari luar terdengar:
“DAMAR!”
Keisha tertawa dari kamar.
Aku bersandar ke pintu sambil tersenyum.
Rumah kecil kami sekarang punya sandal yang menunggu orang ketiga.
Dan entah kenapa, aku mulai merasa itu adalah salah satu benda paling berharga yang kami punya.
Seminggu kemudian sandal itu benar-benar menjadi bagian dari rumah.
Keisha bahkan memindahkannya ketika mengepel lalu mengembalikan ke posisi yang sama.
Aku melihat.
“Kamu hafal tempatnya?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Biar rapi.”
Aku tidak menggoda.
Malam itu Kirana datang dalam keadaan kehujanan.
Celana bagian bawah basah.
Begitu masuk, dia langsung memakai sandal hitamnya.
“Rumah,” katanya.
Aku menoleh.
“Apa?”
“Nggak. Enak aja punya sandal kering.”
Keisha memberikan handuk kecil.
“Kak Kira, rambut.”
“Terima kasih.”
Aku membuat teh.
Kirana duduk di lantai sambil mengeringkan rambut. Keisha lanjut belajar.
Pemandangan biasa.
Aku berdiri di dapur dengan tiga gelas.
Tiba-tiba ada rasa takut kecil.
Bukan takut Kirana ada.
Takut karena aku sudah terlalu menyukai ini.
Aku membawa teh.
Kirana langsung mengambil miliknya.
“Mar.”
“Hm?”
“Kenapa lihat?”
“Nggak.”
Dia menepuk tempat di sebelah.
Aku duduk.
Tangannya menyentuh tanganku.
Tidak ada yang perlu dikatakan.
Beberapa menit kemudian Keisha bertanya soal tugas matematika.
Aku menjelaskan.
Kirana ikut mendengar lalu salah menjawab sengaja sampai Keisha melempar penghapus.
Rumah berisik.
Aku tertawa.
Rasa takut tadi masih ada, tapi lebih kecil.
Aku mulai belajar bahwa takut kehilangan tidak harus menjadi alasan menolak memiliki.
Kalau semua yang bisa hilang harus dijauhi, aku tidak akan punya apa-apa.
Keisha bisa tumbuh dan pindah.
Kirana bisa punya hidup sendiri.
Aku juga bisa berubah.
Tidak ada jaminan.
Tapi mungkin rumah bukan sesuatu yang dijaga dengan membekukan waktu.
Rumah dijaga dengan terus memilih kembali.
Saat Kirana hendak pulang, hujan belum berhenti.
“Aku antar.”
“Nggak usah.”
“Aku punya payung.”
“Besok kamu pagi.”
Aku menatap.
Kirana tertawa.
“Oke. Antar.”
Kami berjalan di bawah satu payung.
Kirana memakai sandal hitam karena sepatunya belum kering.
Di halte dia melihat kakinya.
“Sandalku ikut jalan-jalan.”
“Besok balikin.”
“Kalau nggak?”
“Aku ambil.”
“Kok posesif sama sandal?”
“Itu inventaris rumah.”
Kirana tersenyum.
“Rumah siapa?”
Aku tahu jebakannya.
“Rumah kita.”
Kata itu keluar sebelum sempat disaring.
Kami sama-sama diam.
Aku langsung menambahkan, “Maksudku rumah aku sama Kei.”
Kirana tertawa.
“Pengecut.”
Aku juga tertawa.
Tapi di perjalanan pulang, aku memikirkan slip kecil itu.
Rumah kita.
Terlalu cepat.
Terlalu besar.
Tetapi tidak terasa salah.
Aku tidak mengatakannya lagi.
Belum.
Beberapa kata butuh waktu sebelum tubuh berani menyusul maknanya.
Besoknya aku menemukan sandal Kirana sudah kembali di depan pintu sebelum aku pulang.
Kali ini aku tidak perlu bertanya apakah dia ada.
Dari luar sudah terdengar suara dia dan Keisha berdebat soal foto produk.
Aku membuka pintu.
Kirana menoleh.
“Pulang.”
Satu kata.
Bukan “hai”.
Bukan “akhirnya”.
Pulang.
Aku berdiri sesaat.
Keisha langsung berkata, “Kak, jangan bengong. Tolong foto.”
Aku mengambil ponsel.
Kirana tersenyum.
Aku memotret mereka berdua memegang kemasan keripik.
Hasil pertama blur.
Keisha protes.
Hasil kedua bagus.
Kirana meminta foto bertiga.
“Buat apa?”
“Dokumentasi perusahaan.”
“Bukan perusahaanmu.”
“Aku investor emosional.”
Keisha tertawa.
Kami akhirnya foto bertiga dengan timer.
Aku berdiri di tengah.
Keisha di kiri.
Kirana di kanan.
Saat hitungan hampir habis, Kirana menyandarkan kepala ke bahuku dan Keisha membuat wajah aneh.
Klik.
Foto tidak sempurna.
Aku menyimpannya.
Malam itu Kirana meminta dikirim.
Keisha juga.
Tiga ponsel menyimpan gambar yang sama.
Aku tidak tahu kenapa hal itu membuatku sangat bahagia.
Mungkin karena dulu hampir semua foto keluarga kami berhenti pada masa sebelum orang tua pergi.
Sekarang ada foto baru.
Bukan pengganti.
Bukan perbaikan masa lalu.
Cuma bukti bahwa hidup terus membentuk sesuatu setelah kehilangan.
Aku memasang foto itu sebagai favorit di galeri.
Tidak sebagai wallpaper.
Keisha akan mengejek sampai mati.
Tapi aku ingin mudah menemukannya.
Tiga orang.
Rumah kecil.
Keripik.
Sandal hitam di depan pintu.
Tidak mewah.
Cukup. Dan untuk sekarang, itu rumahku.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu reading
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga