← Piring Ketiga

Chapter Forty Eight

Pacaran Itu Mahal

POV — Keisha Alvaro

Kak Damar dan Kak Kira resmi balikan selama tiga minggu sebelum aku sadar satu hal.

Mereka jauh lebih menyebalkan sekarang.

Bukan karena lebih mesra.

Justru karena dua-duanya sok dewasa.

Kalau ada masalah, mereka duduk.

Ngobrol.

Saling tanya.

Kadang pakai kalimat seperti “aku butuh waktu buat mikir.”

Mengerikan.

Aku lebih suka waktu mereka cuma ribut soal chat kangen.

Suatu malam mereka datang ke klinik hampir bersamaan.

Kak Kira membawa dua gelas kopi.

Kak Damar membawa makanan.

Aku melihat.

“Kenapa?”

“Nggak,” kataku.

“Kamu lihat aneh.”

“Aku dokter. Observasi.”

Kak Kira tertawa.

Kami makan di ruang belakang.

Tiga kotak nasi.

Sudah beberapa kali sejak mereka balikan.

Tapi rasanya masih sedikit ajaib.

Kak Damar sekarang tidak otomatis mengambil bagian paling kecil.

Kalau hampir, aku cukup menatap.

Dia mengerti.

Hari itu ada satu potong ayam terakhir.

Aku sengaja tidak mengambil.

Kak Kira juga.

Kak Damar melihat kami.

“Apa?”

“Ambil,” kataku.

“Kalian?”

“Udah.”

Bohong.

Kami berdua belum.

Kak Damar menyipit.

Lalu membagi ayam itu menjadi tiga.

Aku tertawa.

“Kak.”

“Apa?”

“Kemajuan.”

“Berisik.”

Kak Kira tersenyum.

Setelah makan, aku harus mengecek pasien rawat inap.

Ketika kembali, mereka sedang bicara soal akhir pekan.

Kak Kira ingin pergi ke pameran.

Kak Damar punya deployment malam sebelumnya.

“Aku mungkin bangun siang,” katanya.

“Kalau capek, kita batal.”

Kak Damar menggeleng.

“Jangan langsung batal.”

“Terus?”

“Pindah jam.”

Kak Kira tersenyum.

“Bisa.”

Aku berdiri di pintu cukup lama sampai mereka sadar.

“Apa lagi?” tanya Kak Damar.

Aku menggeleng.

“Nggak.”

Enam tahun lalu masalah kecil seperti itu bisa berakhir dengan Kak Damar memutuskan sendiri bahwa dia terlalu sibuk untuk pacaran.

Sekarang solusi mereka cuma pindah jam.

Kadang penyembuhan memang terlihat membosankan.

Aku suka.

Beberapa bulan berlalu.

Kak Damar dan Kak Kira tidak jadi pasangan sempurna.

Syukurlah.

Mereka masih berantem.

Suatu kali Kak Damar lupa memberi kabar karena incident production hampir semalaman.

Kak Kira marah.

Benar-benar marah.

Aku tahu karena Kak Damar datang ke klinik membawa wajah orang kena hukuman.

“Kak Kira marah?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Aku nggak ngabarin.”

“Terus?”

“Aku minta maaf.”

“Terus?”

“Dia bilang masih marah.”

Aku tertawa.

“Bagus.”

“Kok bagus?”

“Berarti dia nggak pura-pura.”

Kak Damar duduk.

“Aku harus ngapain?”

“Kenapa nanya aku?”

“Kamu adiknya.”

“Bukan konsultan.”

Dia menghela napas.

Aku akhirnya berkata, “Tunggu dia selesai marah. Jangan panik.”

Kak Damar menatap.

“Dulu aku panik.”

“Iya.”

“Sekarang?”

Aku memikirkan.

“Sekarang Kakak nyebelin, tapi nggak kabur.”

Dia mengangguk.

Malamnya mereka baikan.

Bukan karena hadiah.

Bukan karena aku.

Kak Damar datang, mendengarkan Kak Kira bicara, lalu mengakui salah tanpa menjelaskan sepuluh alasan.

Aku tahu dari Kak Kira dua hari kemudian.

Dia datang membeli obat kutu untuk kucing kantor.

“Gimana Kak Damar?”

“Masih hidup.”

“Syukurlah.”

Kak Kira tertawa.

“Dia berubah banyak.”

Aku mengangguk.

“Kakak juga.”

“Aku?”

“Iya.”

“Apanya?”

“Dulu kalau marah sama dia, Kakak langsung takut dia bakal mundur.”

Kak Kira diam.

“Sekarang?”

“Sekarang aku percaya dia bakal balik ngobrol.”

Aku tersenyum.

Itu mungkin inti semua ini.

Bukan tidak pernah takut.

Percaya orang lain akan kembali setelah takut datang.

Setahun setelah mereka balikan, aku membuka klinik kecil sendiri.

Tidak besar.

Dua ruang periksa.

Satu ruang tindakan.

Satu meja resepsionis yang kubeli bekas.

Namanya Klinik Moka.

Kak Damar menatap papan nama lama sekali.

“Kamu serius pakai Moka?”

“Iya.”

“Kucing itu bakal sombong kalau tahu.”

“Kucingnya udah mati.”

“Justru. Nggak bisa protes.”

Kak Kira memukul lengannya.

Hari pembukaan, mereka datang paling pagi.

Kak Damar mengecek sistem.

Kak Kira mengurus bunga yang dikirim kantornya.

Aku berdiri di depan klinik.

Tiba-tiba ingin menangis.

Dulu aku jual keripik sepulang sekolah supaya kami bisa makan.

Sekarang namaku ada di papan klinik.

Aku melihat Kak Damar.

Dia sedang jongkok memperbaiki kabel router.

Mas Mas IT sukses.

Tetap jongkok di lantai kalau router mati.

Kak Kira berdiri di atas kursi memasang pita.

Aku tertawa sambil menangis.

Mereka langsung berhenti.

“Kenapa?” tanya Kak Kira.

“Nggak.”

“Kok nangis?” tanya Kak Damar.

Aku mengusap mata.

“Alergi debu.”

Dua-duanya tertawa.

Siang hari klinik ramai.

Sore akhirnya sepi.

Kami duduk bertiga dengan makanan kotak.

Aku melihat mereka.

“Kak.”

“Hm?” jawab Kak Damar.

“Dulu Kakak pernah bilang sesuatu.”

“Apa?”

Aku sengaja menunggu.

“Pacaran itu mahal.”

Kak Kira langsung tertawa.

Kak Damar menutup mata.

“Kenapa dibahas?”

“Karena aku mau tahu.”

“Apa?”

“Masih mahal?”

Kak Damar menatap Kak Kira.

Kak Kira menahan senyum.

Dia lalu melihatku.

“Pacaran itu mahal, Kei.”

Aku tertawa.

“Nah.”

“Tapi dulu aku salah soal harganya.”

Aku berhenti.

Kak Kira juga.

Kak Damar melihat kotak makan.

“Dulu aku pikir harganya uang sama waktu yang nggak punya.”

Dia mengangkat mata.

“Sekarang aku tahu yang mahal itu jujur waktu takut, minta maaf waktu salah, dan percaya orang lain tetap punya pilihan.”

Aku diam.

Kak Kira memegang tangannya.

Kak Damar tersenyum.

“Tapi ya... worth it.”

Aku langsung melempar tisu.

“Najis.”

Kak Kira tertawa sampai hampir tersedak.

Kak Damar protes.

Aku ikut tertawa.

Mungkin ini makna terakhir kalimat itu.

Pacaran memang mahal.

Cinta juga.

Keluarga juga.

Semuanya meminta sesuatu.

Tapi cinta yang sehat tidak meminta satu orang membayar seluruh tagihan sendirian.

Kami bertiga akhirnya belajar itu.

Lama sekali.

Tapi kami sampai.

Hari pembukaan klinik ternyata juga menjadi ujian kecil buat Kak Damar.

Salah satu vendor sistem menawarkan fitur berbayar yang cukup mahal.

Kak Damar langsung berkata, “Nggak perlu.”

Aku menatap.

Vendor belum selesai menjelaskan.

Aku menyilangkan tangan.

“Kak.”

Dia berhenti.

“Apa?”

“Kenapa nggak perlu?”

“Fiturnya belum penting.”

“Menurut siapa?”

Dia terdiam.

Kak Kira yang duduk di meja depan menahan senyum.

Aku menunjuk kursi.

“Duduk.”

“Kei.”

“Ini klinik aku.”

Kak Damar duduk.

Aku minta vendor menjelaskan sampai selesai.

Ternyata memang belum perlu.

Aku memutuskan tidak ambil.

Begitu vendor pergi, Kak Damar berkata, “Kan.”

Aku menatap.

“Bukan itu poinnya.”

Dia tahu.

“Ya.”

“Kakak tadi mutusin sebelum aku denger.”

“Refleks.”

“Makanya.”

Kak Kira akhirnya tertawa.

“Kok ketawa?”

“Senang aja lihat terapi keluarga live.”

Aku melempar pulpen.

Malamnya Kak Damar minta maaf.

Bukan karena sarannya salah.

Karena caranya.

Itu detail kecil yang mungkin orang lain tidak lihat.

Aku lihat.

Dulu Kak Damar akan fokus pada hasil: keputusan akhirnya benar, berarti cara tidak penting.

Sekarang dia mulai mengerti proses juga bentuk rasa hormat.

Aku menyimpan momen itu.

Karena saat dia bilang pacaran mahal, aku tahu kata mahal di kepalanya sekarang juga termasuk sesuatu yang tidak kelihatan.

Menahan refleks.

Mendengar sampai selesai.

Menerima bahwa orang yang kita sayang boleh memilih hal berbeda.

Tidak ada struk untuk itu.

Tapi justru paling sulit dibayar.

Beberapa minggu setelah pembukaan, klinikku mulai stabil.

Aku mengadakan makan kecil sebagai syukuran.

Staf pulang lebih dulu.

Tinggal kami bertiga.

Aku membawa keripik rasa lama yang sudah bertahun-tahun tidak kubuat.

“Kak.”

Kak Damar mengambil satu.

“Level berapa?”

“Lima.”

Kak Kira langsung berkata, “Jangan.”

Aku tertawa.

“Kak Kira masih trauma?”

“Pengalaman membentuk kebijaksanaan.”

Kak Damar memakan.

Lima detik.

Wajahnya tetap tenang.

Sepuluh detik.

Dia mulai minum.

Aku dan Kak Kira tertawa.

“Pedas?” tanyaku.

“Nggak.”

Bohong.

Kak Kira menyodorkan susu.

Damar mengambil.

Aku melihat keduanya.

Dulu aku menguji Kak Kira dengan keripik level lima.

Sekarang kami bertiga menertawakan cerita itu seperti sejarah keluarga.

Aku berkata, “Aku dulu belum setuju sama Kak Kira.”

Kak Kira mengangkat alis.

“Dulu?”

Aku pura-pura pikir.

“Sekarang tujuh puluh persen.”

“Keterlaluan.”

Kak Damar tertawa.

Aku akhirnya berkata, “Seratus.”

Kak Kira diam.

Aku langsung menyesal membuat momen.

“Kok?”

Dia memelukku dari samping.

“Kak.”

“Diam.”

Aku membiarkan.

Kak Damar melihat sambil senyum.

Aku langsung menunjuk.

“Jangan ikut.”

“Aku nggak.”

“Wajah Kakak.”

Kami tertawa lagi.

Sore itu, setelah semua pulang, aku berdiri di depan papan Klinik Moka.

Dua orang itu di belakang sedang debat siapa yang membawa sampah.

Aku tersenyum.

Kalau ada satu hal yang kupelajari dari mereka, cinta tidak jadi sehat hanya karena perasaan kuat.

Ia sehat ketika semua orang di dalamnya tetap boleh punya hidup sendiri.

Aku punya klinik.

Kak Damar punya karier.

Kak Kira punya dunia sendiri.

Dan kami tetap punya meja yang bisa mempertemukan.

Mungkin itu yang dulu tidak kami mengerti.

Keluarga bukan tiga orang yang harus selalu menempel.

Keluarga adalah tiga orang yang bisa pergi ke arah masing-masing tanpa kehilangan jalan pulang.