← Piring Ketiga

Chapter Sixteen

Sepi yang Dipilih

POV — Damar Alvaro

Kirana benar-benar berhenti.

Aku seharusnya lega.

Tidak ada lagi pesan tengah malam soal kucing coding.

Tidak ada kopi di meja.

Tidak ada pertanyaan makan siang.

Tidak ada suara memanggil “Mar” dari ujung koridor hanya untuk hal yang sebenarnya tidak penting.

Aku mendapatkan jarak yang kuminta.

Ternyata jarak punya suara.

Sepi.

Hari pertama masih mudah.

Hari kedua mulai terasa.

Hari ketiga aku sadar aku membuka chat kami tanpa alasan.

Tidak ada pesan baru.

Aku menutup.

Lima menit kemudian membuka lagi.

Tetap tidak ada.

Bodoh.

Aku yang meminta.

Di kelas, Kirana duduk dengan Sinta.

Dia tertawa seperti biasa.

Ngobrol seperti biasa.

Tidak terlihat hancur.

Bagus.

Itu yang kuinginkan.

Seharusnya.

Aku duduk tiga baris di belakang dan menyadari aku tahu cara dia tertawa ketika benar-benar lucu dan ketika cuma sopan.

Hari itu tawanya asli.

Aneh bagaimana itu membuatku lega sekaligus tidak nyaman.

Bayu duduk di sebelah.

“Lo sama Kirana kenapa?”

Aku menatapnya.

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Biasanya sebelahan.”

“Sekarang nggak.”

“Gue bisa lihat.”

Aku kembali ke layar.

Bayu tidak melanjutkan.

Syukurlah.

Setelah kelas, aku pergi ke perpustakaan.

Meja pojok kosong.

Biasanya Kirana duduk di seberang.

Aku meletakkan tas.

Membuka laptop.

Sepuluh menit.

Aku belum menyelesaikan satu baris kode.

Aku berdiri dan pindah meja.

Tidak membantu.

Sore itu aku kerja.

Kirana datang bersama teman organisasi.

Aku melihatnya masuk.

Refleks pertama: senang.

Refleks kedua: ingat.

Dia tidak datang untukku.

Kirana memesan iced tea.

Bukan latte.

Hal kecil.

Sangat kecil.

Tetap terasa seperti ada sesuatu yang dicabut dari rutinitas.

Mbak Sari sempat bertanya soal dinosaurus.

Aku pura-pura sibuk.

Saat Kirana pulang, aku tidak tahan.

Aku bertanya kenapa tidak pesan latte.

Pertanyaan bodoh.

Dia menjawab lagi tidak ingin.

Lalu bilang dia tidak marah.

Aku hampir mengatakan bahwa aku juga tidak ingin semuanya jadi seperti ini.

Tapi itu akan egois.

Aku tidak bisa meminta jarak lalu protes ketika dia benar-benar memberi.

Jadi aku diam.

Kirana pergi.

Rian berdiri di sebelahku setelah pintu tertutup.

“Lo berantem?”

“Nggak.”

“Keliatan kayak berantem.”

“Bukan urusanmu.”

“Benar.”

Ajaibnya dia berhenti.

Malamnya aku pulang.

Keisha sedang menonton video tutorial sambil membungkus pesanan.

Aku langsung duduk membantu.

Dia menatap sekali.

Tidak komentar.

Kami bekerja hampir dua puluh menit.

Akhirnya:

“Sepi?”

Aku menoleh.

“Apa?”

“HP.”

Aku baru sadar ponselku ada di meja dan sejak tadi tidak berbunyi.

“Biasa.”

Keisha mengangguk.

“Bagus.”

Aku menatapnya.

“Kenapa bagus?”

“Katanya mau jarak.”

Aku diam.

Keisha menempel label ke bungkus.

“Dapat, kan?”

“Dapat.”

“Terus?”

“Nggak ada.”

Dia menyeringai tipis.

“Muka Kakak bilang ada.”

Aku menghela napas.

“Dia sekarang nggak chat.”

“Ya bagus.”

“Kenapa kamu terus bilang bagus?”

“Karena itu yang Kakak mau.”

Aku tidak menjawab.

Keisha melirik.

“Kak.”

“Hm?”

“Jangan bikin orang bingung.”

“Aku nggak.”

“Kalau minta pergi, jangan berharap dia berdiri di depan pintu.”

Tanganku berhenti menyegel plastik.

Keisha tetap bekerja.

“Dia nggak salah.”

“Aku tahu.”

“Kakak juga nggak jahat.”

“Terima kasih.”

“Itu bukan pujian.”

Aku hampir tersenyum.

Keisha menghela napas.

“Aku belum kenal dia. Jadi aku nggak tahu dia cocok atau enggak.”

Aku menatap adikku.

“Tapi?”

“Tapi dari cerita Kakak, dia nurut waktu Kakak minta jarak.”

“Ya.”

“Berarti dia lebih dewasa dari Kakak.”

Aku melempar satu label ke arahnya.

Keisha tertawa.

Untuk beberapa menit suasana lebih ringan.

Tapi setelah pesanan selesai, aku kembali ke kamar dan melihat ponsel.

Chat Kirana turun semakin jauh karena pesan lain.

Grup kelas.

Kafe.

Murid les.

Keisha.

Aku membuka chat-nya.

Pesan terakhir:

Udah juga.

Sederhana.

Aku menggulir ke atas.

Ada foto latte dinosaurus.

Pulpen.

Meme.

Catatan.

Foto kucing oren.

Hal-hal kecil.

Aku baru sadar seberapa banyak Kirana mengisi hari tanpa pernah meminta ruang resmi.

Dan sekarang ketika semua itu hilang, ruangnya terlihat jelas.

Aku mengetik:

Besok kelas jam 9, kan?

Aku menatap.

Hapus.

Aku mengetik lagi:

Tugas statistik udah?

Hapus.

Konyol.

Kalau aku menghubungi hanya karena kangen suara notifikasi, aku sedang melakukan persis hal yang Keisha larang: membuat orang berharap.

Aku mengunci ponsel.

Besoknya aku datang lebih pagi.

Aku duduk di tempat biasa.

Kursi sebelah kosong.

Seseorang bertanya boleh duduk.

Aku hampir bilang tidak.

Lalu berhenti.

“Boleh.”

Dia duduk.

Ketika Kirana masuk, dia tidak melihat ke arahku.

Atau mungkin melihat dan aku tidak sempat menangkap.

Dia duduk dengan Sinta.

Aku membuka laptop.

Sepanjang kelas, kursi di sebelah terasa salah.

Bukan karena orang yang duduk salah.

Karena aku sudah terbiasa dengan seseorang yang lain.

Setelah kelas, Kirana lewat di dekat mejaku.

“Duluan.”

Aku menoleh.

“Iya.”

Dia pergi.

Aku melihat pintu.

Bayu sudah mengemas tas.

“Mar.”

“Hm?”

“Lo mau nyusul?”

Aku menatapnya.

“Nggak.”

“Yakin?”

Aku tidak menjawab.

Bayu mengangkat bahu dan pergi.

Aku tinggal sendirian beberapa menit.

Di meja ada pulpen hitam cadangan.

Dulu aku punya dua.

Satu kuberikan kepada Kirana.

Entah kenapa aku teringat itu sekarang.

Satu benda murah.

Tiga ribuan.

Nilai sentimental tidak tunduk pada harga pasar, katanya.

Aku tertawa kecil tanpa humor.

Mungkin Kirana benar.

Beberapa hal kecil bisa jadi mahal karena kita telanjur memberi arti.

Dan mungkin aku baru sadar setelah menjauh bahwa masalahnya bukan aku tidak mampu membayar makan, kopi, atau waktu.

Masalahnya aku takut pada harga yang tidak bisa dihitung.

Terbiasa.

Butuh.

Kehilangan.

Aku memasukkan pulpen ke tas.

Ponselku tetap diam.

Untuk pertama kalinya, aku bertanya apakah aku benar-benar sedang melindungi diri.

Atau cuma lari sebelum seseorang sempat punya kesempatan memilih tinggal.

Malam itu Keisha menemukan aku masih duduk di ruang tengah hampir jam satu.

Laptop terbuka.

Tidak ada kode di layar.

Hanya halaman kosong.

“Kak belum tidur?”

“Sebentar.”

Dia mengambil air lalu duduk di kursi seberang.

Tidak ngomong.

Kami diam cukup lama.

Akhirnya aku berkata, “Kei.”

“Hm?”

“Kalau aku berubah pikiran, itu munafik nggak?”

Keisha menatapku.

“Soal apa?”

Aku tidak perlu menjelaskan.

Dia tahu.

“Nggak.”

“Terus?”

“Tergantung.”

“Tergantung apa?”

“Berubah karena takut sepi atau karena memang siap?”

Aku tidak punya jawaban.

Keisha berdiri.

Sebelum masuk kamar, dia berkata, “Kalau cuma kangen, jangan ganggu dia.”

Aku mengangguk.

“Kalau memang mau balik, jangan balik setengah-setengah.”

Pintu kamarnya tertutup.

Aku duduk sendirian.

Kalimat itu terasa sederhana.

Tapi tepat.

Aku memang kangen.

Aku kangen Kirana duduk di sebelahku.

Kangen suara dia mengeluh.

Kangen pesan aneh.

Kangen hal-hal kecil.

Tapi kangen saja tidak cukup untuk membenarkan aku datang lagi.

Kalau aku membuka pintu, aku harus siap benar-benar membukanya.

Bukan membiarkan dia masuk satu langkah lalu panik dan menutup lagi.

Aku melihat ponsel.

Tidak menyentuh.

Untuk pertama kalinya, aku tidak bertanya apakah aku ingin Kirana kembali.

Jawabannya sudah jelas.

Pertanyaan sebenarnya jauh lebih sulit.

Apakah aku berani menjadi orang yang memintanya kembali?

Besoknya aku melihat Kirana tertawa bersama Sinta di depan kelas.

Aku hampir menghampiri.

Benar-benar hampir.

Satu langkah.

Lalu aku berhenti.

Kirana tidak melihat.

Mungkin bagus.

Aku duduk di tempat lain.

Sepanjang kelas, aku memikirkan kalimat Keisha.

Kalau cuma kangen, jangan ganggu dia.

Kangen ternyata bukan izin.

Rasa kehilangan juga bukan alasan untuk menarik seseorang kembali ke situasi yang sama.

Kalau aku ingin bergerak, aku harus membawa sesuatu yang berbeda.

Keberanian mungkin.

Atau setidaknya keputusan.

Untuk pertama kalinya aku sadar fase ini tidak bisa selesai hanya dengan menunggu rasa tidak nyaman hilang.

Aku yang membuat jarak.

Kalau suatu hari jarak itu ingin kuakhiri, aku juga yang harus berjalan lebih dulu.

Sore itu aku akhirnya mengirim satu pesan kepada Keisha.

Pulang agak malam. Ada tambahan shift.

Balasannya cepat.

Oke. Jangan lupa makan.

Aku menatap kalimat itu.

Keisha selalu tinggal.

Mungkin karena itu aku terlalu takut pada kemungkinan orang lain tidak.

Dan mungkin ketakutan itu sudah mulai menentukan terlalu banyak hal dalam hidupku.