Chapter Forty Four
Nama yang Masih Sama
POV — Damar Alvaro
Enam tahun.
Aku pikir itu cukup untuk membuat nama seseorang terdengar biasa.
Ternyata tidak.
Kirana.
Begitu Keisha menyebutnya lewat telepon, aku lupa satu baris kode yang sedang kutulis.
Memalukan.
Aku tiga puluh? Belum.
Tapi cukup dewasa untuk tidak seharusnya begini.
Sabtu aku datang ke klinik lebih pagi.
Alasanku masuk akal.
Harus cek sistem pendaftaran.
Bukan karena Kirana akan datang.
Tentu.
Keisha melihatku.
“Kak datang jam tujuh.”
“Acara jam sembilan.”
“Aku tahu.”
“Server harus dicek.”
“Server lokal.”
Aku menatap.
Dia tertawa.
“Tenang. Aku nggak bilang apa-apa.”
Klinik ramai menjelang acara.
Kucing.
Anjing.
Relawan.
Sponsor.
Aku sibuk.
Bagus.
Pukul delapan empat puluh tujuh, pintu terbuka.
Aku tidak melihat langsung.
Aku tahu dari suara Keisha.
“KAK KIRA!”
Tubuhku mengenali sebelum otak.
Aku menoleh.
Kirana berdiri dekat pintu membawa tote bag dan map.
Rambut sedikit lebih pendek.
Cara berdiri sama.
Senyumnya ketika memeluk Keisha sama.
Aku lupa napas.
Tidak karena dia lebih cantik.
Karena dia nyata.
Selama enam tahun Kirana hanya nama di bagian tertentu hidupku.
Foto lama.
Pesan yang tidak dibuka lagi.
Cerita Keisha yang kadang lolos.
Sekarang orangnya ada sepuluh meter dariku.
Keisha mengatakan sesuatu.
Kirana tertawa.
Lalu matanya bergerak.
Menemukanku.
Tawanya berhenti.
Kami saling lihat.
Tidak ada musik.
Ada anjing menggonggong.
Seseorang menjatuhkan botol.
Sangat sesuai hidup kami.
Kirana berjalan mendekat.
Aku juga.
Berhenti dengan jarak sopan.
“Hai, Mar.”
Panggilan itu.
Masih sama.
“Hai.”
Aku tidak tahu harus bilang apa.
“Kabar?”
“Baik.”
“Kamu?”
“Baik.”
Dua pembohong profesional yang sekarang mungkin benar.
Keisha muncul di antara kami.
“Bagus. Udah kenalan.”
Aku menatap adikku.
Kirana tertawa.
Tegang sedikit pecah.
Kami langsung diseret kerja.
Kirana mengurus sponsor.
Aku sistem.
Selama dua jam kami hampir tidak bicara.
Tapi aku sadar terus di mana dia berada.
Seperti dulu.
Tubuh punya memori menyebalkan.
Saat makan siang, Keisha meletakkan tiga kotak nasi di meja staf.
Aku melihat.
Dia tidak sadar.
Atau pura-pura tidak.
Kirana duduk.
Aku duduk di seberang.
Bukan di sebelah.
Kami makan.
Keisha bicara banyak.
Syukurlah.
“Kak Damar sekarang sok sibuk,” katanya.
Aku menatap.
“Kamu yang minta website.”
“Kak Kira sekarang juga sibuk. Kantornya besar.”
Kirana tersenyum.
“Biasa.”
Keisha menunjuk kami.
“Kalian sama-sama kalau sukses jawabnya biasa.”
Aku dan Kirana saling lihat.
Lalu sama-sama tertawa.
Kecil.
Tapi natural.
Itu justru yang membuat dada sakit sedikit.
Setelah acara selesai, sponsor lain pulang.
Relawan beres-beres.
Aku sedang mengangkat kardus ketika Kirana datang.
“Bantu?”
“Boleh.”
Kami membawa bersama.
Tidak banyak bicara.
Di gudang kecil, tangan kami hampir menyentuh pegangan kardus.
Kami sama-sama menarik.
Aku tertawa canggung.
“Kamu dulu.”
“Kamu.”
Akhirnya kami letakkan.
Kirana bersandar sebentar.
“Kei hebat.”
“Iya.”
“Beneran jadi dokter.”
“Iya.”
Matanya sedikit merah.
“Aku bangga.”
“Aku tahu.”
Kirana menatap.
“Aku selalu tahu kalau kamu chat dia?”
“Kadang.”
Dia terlihat khawatir.
“Aku nggak—”
“Aku nggak masalah.”
Cepat.
Aku ingin memastikan.
“Dia keluarga kamu juga.”
Kirana diam.
Aku baru sadar kalimat itu.
Enam tahun lalu mungkin aku tidak bisa mengucapkannya.
Sekarang mudah.
Matanya berubah.
“Makasih.”
Aku mengangguk.
Hening.
“Kamu gimana?” tanyanya.
“Apa?”
“Beneran.”
Aku mengerti.
“Baik.”
Kirana mengangkat alis.
Aku tersenyum.
“Beneran.”
“Aku dengar kerja IT.”
“Iya.”
“Mas Mas IT.”
Aku tertawa.
“Keisha?”
“Siapa lagi.”
Aku melihatnya.
“Kamu?”
“Baik.”
“Beneran?”
Dia meniru intonasiku.
Aku tersenyum.
“Beneran.”
Kami keluar gudang.
Di depan klinik hujan mulai turun.
Kirana berdiri menunggu ojek.
Aku punya mobil kantor pinjaman? Tidak. Aku sekarang punya motor sendiri.
Aku hampir menawarkan antar.
Berhenti.
Bukan karena takut.
Karena aku tidak tahu batas.
“Kira.”
“Hm?”
“Senang ketemu kamu.”
Dia menatap.
Senyumnya kecil.
“Aku juga.”
Cukup.
Aku tidak meminta nomor.
Masih sama.
Aku punya nomor lama.
Tidak tahu masih aktif.
Malamnya, ponselku berbunyi.
Nomor yang kusimpan selama enam tahun tanpa pernah kuhapus.
Kira: Web acaranya bagus.
Aku menatap layar.
Aku: Makasih.
Aku hampir berhenti.
Lalu mengetik lagi.
Aku: Sponsor juga bantu banget.
Balasan datang.
Kira: Profesional sekali.
Aku tertawa.
Aku: Harusnya gimana?
Kira: Nggak tahu. Aku lupa cara chat sama kamu.
Dadaku hangat dan sakit sekaligus.
Aku: Aku juga.
Tiga titik muncul.
Kira: Mulai dari hai lagi aja.
Aku melihat kata itu.
Enam tahun.
Satu hubungan.
Satu perpisahan.
Ribuan hari.
Dan entah bagaimana kami kembali ke kata pertama.
Aku mengetik.
Aku: Hai, Kira.
Balasannya:
Kira: Hai, Mar.
Aku tidak tidur cepat malam itu.
Bukan karena panik.
Bukan karena menghitung masa depan.
Aku cuma tersenyum seperti orang bodoh dan membiarkan satu nama menjadi tidak biasa lagi.
Setelah chat “hai” itu, aku meletakkan ponsel lalu mengambil lagi.
Dua kali.
Aku ingin tertawa pada diri sendiri.
Di umur sekarang aku mengelola deployment production tanpa tangan gemetar.
Satu chat dari mantan membuatku seperti mahasiswa lagi.
Aku akhirnya tidur pukul satu.
Besok pagi ada pesan.
Kira: Pagi.
Aku menatap.
Lalu membalas.
Aku: Pagi.
Sangat canggih.
Hari-hari berikutnya kami chat sedikit.
Tidak terus-menerus.
Tidak seperti dulu.
Ada jeda berjam-jam tanpa kepanikan.
Kira: Rapat selesai. Otakku mati.
Aku: Makan.
Kira: Masih sama.
Aku: Efektif.
Kadang aku memulai.
Foto kucing depan kantor.
Aku: Kucing coding generasi baru.
Kira: Mana laptopnya?
Aku tertawa di lift.
Rekan kerja menatap.
Aku memasukkan ponsel.
Tidak ada yang tahu satu meme bodoh punya sejarah enam tahun.
Keisha tidak menanyakan.
Syukurlah.
Aku tahu dia tahu.
Dia selalu tahu.
Aku juga mulai memperhatikan hal lain.
Aku tidak merasa harus segera mendefinisikan hubungan ini.
Dulu kedekatan punya momentum yang membuatku panik karena kupikir setiap langkah menuntut langkah berikutnya.
Sekarang tidak.
Kami bisa chat tanpa harus balikan.
Bisa ketemu tanpa janji.
Bisa mengakui senang tanpa menyusun masa depan.
Kebebasan itu terasa baru.
Seminggu setelah acara, aku harus pergi ke klinik lagi memperbaiki satu bug sistem.
Kirana kebetulan tidak ada.
Aku kecewa sedikit.
Lalu tertawa sendiri.
Keisha melihat.
“Nyari siapa?”
“Bug.”
“Namanya Kirana?”
Aku menatap.
Dia kabur.
Sore setelah bug selesai, aku duduk di ruang belakang klinik.
Di dinding ada foto Keisha wisuda.
Ada foto Moka.
Ada foto acara adopsi minggu lalu.
Tiga orang kami tertangkap di latar satu foto.
Tidak berpose bersama.
Aku dekat laptop.
Keisha pegang anjing.
Kirana bicara dengan sponsor.
Tiga jalur yang kebetulan masuk satu frame.
Aku menyimpan foto dari grup klinik.
Bukan karena ingin romantis.
Aku cuma suka.
Malamnya Kirana chat.
Kira: Kei bilang kamu datang.
Aku: Iya. Bug.
Kira: Aku kira nyari aku.
Aku berhenti.
Godaan lama.
Tapi ada perbedaan.
Dulu aku akan defensif.
Sekarang aku mengetik:
Aku: Sedikit.
Lama.
Sangat lama.
Aku hampir menyesal.
Balasan akhirnya datang.
Kira: Oh.
Aku tersenyum.
Critical hit ternyata bisa dibalik.
Aku: Kok diem?
Kira: Lagi kerja.
Aku: Bohong.
Kira: Kamu sekarang nyebelin.
Aku: Belajar.
Aku bisa membayangkan wajahnya.
Aneh betapa mudah beberapa ritme kembali.
Yang berbeda, aku tidak mengambilnya sebagai tanda takdir.
Aku tahu chemistry tidak sama dengan kesiapan.
Kenangan tidak sama dengan masa depan.
Dan rasa hangat bukan izin melewati batas.
Jadi aku berhenti di sana.
Tidak mengajak bertemu malam itu.
Tidak mengubah obrolan jadi deklarasi.
Besoknya Kirana yang mengirim.
Kira: Kopi minggu ini?
Aku membaca.
Jantung naik.
Aku menarik napas.
Tidak perlu berpura-pura santai.
Aku: Mau.
Dia mengirim lokasi.
Aku melihat nama kafe.
Bukan tempat lama.
Bagus.
Mungkin kami memang tidak perlu menghidupkan masa lalu.
Kami bisa mencari meja baru.
Besok pagi aku membuka chat sekali lagi dan tidak merasa perlu menghapus apa pun. Itu mungkin perubahan paling sederhana yang bisa kuukur: aku masih gugup, masih berharap, tapi tidak lagi menganggap perasaan sebagai masalah yang harus segera diselesaikan. Untuk sekali ini, aku bisa menunggu hari berikutnya datang dengan sendirinya. Hari ini cukup.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama reading
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga