Chapter Three
Telur Terakhir
POV — Damar Alvaro
Setahun setelah orangtuaku pergi, aku sudah bisa menebak kondisi keuangan rumah hanya dari cara Keisha membuka kulkas.
Kalau pintunya dibuka cepat lalu langsung ditutup, aman.
Kalau dia berdiri lima detik sambil menatap isi kulkas, berarti persediaan menipis.
Kalau dia menghela napas, aku harus memeriksa dompet.
Malam itu Keisha menghela napas.
“Kenapa?” tanyaku dari meja makan.
“Nggak kenapa-kenapa.”
“Kei.”
“Besok belanja.”
“Masih ada apa?”
“Tempe dikit. Sawi. Telur satu.”
Aku membuka dompet.
Uang yang tersisa harus bertahan sampai akhir minggu.
“Besok aku dapat bayaran les.”
Keisha menutup kulkas. “Berarti aman.”
Dia bilang aman dengan nada yang sama persis seperti caraku bilang aman setahun lalu.
Aku tidak suka mendengarnya.
“Malam ini telurnya buat kamu.”
“Nggak mau.”
“Kenapa?”
“Aku tadi makan bakso sama Rani.”
Aku menatapnya.
Keisha menatap balik.
“Bohong,” kataku.
“Kok tahu?”
“Kalau habis makan bakso kamu selalu haus terus.”
Dia menunjukku. “Stalker.”
“Adik sendiri.”
“Tetap creepy.”
“Telurnya buat kamu.”
“Kakak tadi makan apa?”
“Di kafe.”
“Menu?”
“Nasi.”
“Sama?”
Aku terlambat menjawab.
Keisha langsung mendengus. “Pembohong amatir.”
Pada akhirnya kami membuat nasi goreng dengan satu telur, dibagi ke dua piring.
Keisha mengatur bagiannya supaya potongan telur lebih banyak masuk ke piringku.
Aku diam-diam memindahkan dua potong kembali saat dia mengambil air.
Dia melihat.
“Kak.”
“Apa?”
“Aku bukan lima tahun.”
“Aku juga nggak bilang.”
Dia mengambil satu potong dan menaruhnya ke piringku lagi.
Aku memindahkannya kembali.
Keisha menyipit.
Aku menyipit balik.
“Kalau diterusin dingin,” katanya.
“Makan.”
Dia akhirnya menyerah.
Atau kupikir menyerah.
Ketika aku melihat piring lagi, potongan telur itu sudah kembali ke nasi milikku.
Aku tidak memindahkannya lagi.
Beberapa hal dalam hidup memang tidak perlu dimenangkan.
Setelah makan, Keisha mengeluarkan buku biologi.
Di sampul depannya ada stiker kucing.
“Besok ujian?”
“Kuis.”
“Bab?”
“Sistem pernapasan.”
“Mau dites?”
“Kakak ngerti?”
“Baca dulu lima menit.”
“Sombong.”
Aku mengambil bukunya.
Setengah jam kemudian, Keisha bisa menjawab hampir semua pertanyaan.
“Aku mau IPA nanti,” katanya sambil menutup buku.
“Bagus.”
“Terus kuliah yang ada hewan-hewan gitu.”
“Kedokteran hewan?”
“Kayaknya.”
“Kayaknya?”
Dia mengangkat bahu. “Masih lama.”
Aku mengangguk, seolah kata kedokteran tidak langsung membuat otakku menghitung biaya.
Keisha melihat wajahku.
“Jangan mulai.”
“Mulai apa?”
“Ngitung.”
“Aku nggak ngitung.”
“Alis Kakak kalau ngitung beda.”
Aku mengusap alis tanpa sadar.
Keisha tertawa.
“Kalau aku mau jadi dokter hewan, boleh?”
Pertanyaannya ringan.
Aku menjawab lebih cepat daripada pikiranku.
“Boleh.”
“Mahal.”
“Belum tentu.”
“Pasti.”
“Nanti dipikirin.”
Dia memiringkan kepala. “Kakak nggak boleh jual ginjal.”
“Siapa yang mau beli ginjalku?”
“Nah, itu juga masalah.”
Aku tertawa sampai batuk.
Humor Keisha semakin rusak sejak kami hidup berdua.
Mungkin itu mekanisme bertahan hidupnya.
Aku punya mekanisme sendiri.
Angka.
Jadwal.
Daftar.
Kalau semuanya bisa dihitung, semuanya terasa bisa dikendalikan.
Masalahnya, hidup suka mengubah angka tanpa izin.
Beberapa bulan sebelumnya, aku sempat menemukan brosur SMA unggulan di meja Keisha. Dia menyembunyikannya begitu melihatku.
“Apa itu?”
“Nggak ada.”
“Kelihatan.”
“Cuma lihat-lihat.”
Aku mengambil brosurnya. Sekolahnya bagus. Biayanya juga cukup untuk membuat kepalaku otomatis menghitung.
Keisha menghela napas. “Jangan pasang muka begitu.”
“Muka apa?”
“Muka Excel.”
“Apa hubungannya?”
“Kayak ada tabel jalan di kepala Kakak.”
Aku hampir membantah, tapi dia benar.
“Kamu mau masuk sini?”
“Nggak harus.”
“Aku nanya mau atau nggak.”
Keisha menunduk. “Mau.”
“Ya udah. Coba.”
“Biayanya?”
“Belum diterima udah mikirin biaya.”
“Yang biasanya begitu siapa?”
Aku pura-pura tidak dengar.
Dia akhirnya mendaftar. Diterima dengan potongan biaya karena nilainya bagus.
Pada hari pertama masuk SMA, aku bangun lebih pagi untuk mengantar. Keisha berdiri di depan cermin dengan seragam putih abu-abu yang masih terlalu kaku.
“Aneh nggak?” tanyanya.
“Aneh.”
“Seragamnya?”
“Orangnya.”
Dia memukul lenganku.
Di depan gerbang sekolah dia tidak langsung turun dari motor.
“Kak.”
“Apa?”
“Makasih.”
“Buat?”
“Ya… semuanya.”
Aku tidak suka percakapan sentimental sebelum jam tujuh pagi.
“Belajar yang bener.”
“Itu doang?”
“Jangan berantem.”
“Aku nggak pernah berantem.”
“Sama guru juga.”
“Kakak fitnah.”
Dia turun sambil mengomel.
Aku menunggu sampai dia masuk gerbang.
Baru setelah itu aku sadar aku tersenyum sendiri.
Momen-momen seperti itu yang membuat semua shift tambahan terasa masuk akal.
Dan mungkin justru itu masalahku.
Kalau sesuatu untuk Keisha, aku selalu bisa menemukan alasan untuk membayar harganya.
Kalau sesuatu untuk diriku sendiri, aku selalu merasa bisa ditunda.
Aku juga mulai menabung diam-diam untuk biaya pendaftaran kuliahku sendiri. Nominalnya kecil dan sering terpakai lagi ketika ada kebutuhan rumah. Setiap kali saldo itu kembali nol, aku berkata pada diri sendiri bahwa masih ada waktu.
Keisha tidak tahu.
Atau mungkin aku hanya mengira dia tidak tahu.
Dia selalu lebih peka daripada yang kuinginkan.
Suatu malam dia menemukan lembar latihan soal masuk universitas di bawah buku lesku.
“Kakak mau daftar mana?”
“Belum tahu.”
“Informatika?”
“Mungkin.”
“Kenapa mungkin terus?”
“Karena hidup kita banyak mungkin.”
Keisha memutar mata. “Jawaban orang takut berharap.”
“Aku realistis.”
“Realistis itu kalau ngitung kemungkinan. Kakak mah nyoret kemungkinan sebelum dihitung.”
Aku hendak membalas, tapi dia sudah pergi membawa gelasnya. Menyebalkan sekali kalau adik sendiri mulai terlalu pandai membaca kita.
Aku terdiam.
Dia tidak mengejar.
Hanya mengembalikan kertas itu ke meja dan berkata, “Kalau mau, ya daftar.”
Kalimat sederhana. Entah kenapa terasa berat sekali.
Dua minggu setelah percakapan itu, salah satu murid lesku berhenti karena pindah rumah.
Pemasukan berkurang.
Di minggu yang sama, kompor rusak.
Lalu sekolah memberi formulir kegiatan yang harus dibayar Keisha.
Aku mengambil satu shift tambahan di kafe.
Keisha tahu.
Tentu saja dia tahu.
“Kakak pulang jam dua belas lagi?”
“Cuma Jumat.”
“Sabtu juga.”
“Sabtu beda.”
“Bedanya?”
“Hari.”
Dia menatapku datar. “Lucu banget.”
“Terima kasih.”
“Nggak muji.”
Jumat malam aku pulang hampir setengah satu.
Lampu ruang makan masih menyala.
Keisha tertidur di meja dengan kepala di atas kedua lengan.
Di dekatnya ada tiga puluh bungkus keripik yang belum selesai ditempeli label.
Aku melepas tas pelan-pelan.
Ada catatan kecil di samping tangannya.
JANGAN DISENTUH. BESOK AKU LANJUT.
Aku membaca sekali.
Lalu duduk.
Satu per satu kutempelkan label ke bungkus keripik.
Pedas Manja.
Pedas Nyesel.
Pedas Cari Warisan.
Nama terakhir tetap tidak lucu, tapi paling laku.
Ketika tinggal tujuh bungkus, Keisha bergerak.
Matanya membuka sedikit.
“Katanya jangan disentuh,” gumamnya.
“Tidur.”
“Aku bisa.”
“Aku juga.”
“Kakak capek.”
“Kamu juga.”
Dia mengangkat kepala, rambut menempel di pipi. “Kita dua-duanya bego ya?”
“Sedikit.”
“Kenapa nggak ada yang normal di keluarga ini?”
Aku melihat tujuh bungkus yang tersisa.
“Karena yang normal pergi.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Aku langsung menyesal.
Keisha diam.
Namun dia tidak menangis.
Dia mengambil satu label dan menempelkannya miring.
“Ya udah,” katanya. “Berarti kita bikin normal sendiri.”
Aku menatapnya.
“Bisa?”
“Harus bisa.”
Dia membetulkan labelnya.
“Besok beli telur dua.”
“Kenapa dua?”
“Biar nggak rebutan satu.”
Aku tersenyum.
Besoknya, setelah menerima bayaran les, aku membeli satu rak kecil telur.
Keisha melihatnya di dapur dan langsung protes.
“Banyak amat.”
“Lagi diskon.”
“Bohong.”
“Kamu punya bukti?”
Dia memegang satu telur seperti barang mewah.
“Kak.”
“Hm?”
“Kalau nanti kita kaya, kulkas kita harus penuh.”
“Boleh.”
“Ayam juga.”
“Boleh.”
“Es krim.”
“Jangan kebanyakan.”
“Belum kaya aja udah pelit.”
Aku tertawa.
Keisha memasukkan telur kembali ke kulkas dengan hati-hati.
Aku tidak tahu kapan kami akan sampai pada kehidupan yang dia bayangkan.
Tapi untuk pertama kalinya, aku bisa melihat bentuknya.
Kulkas penuh.
Keisha kuliah.
Aku punya pekerjaan tetap.
Rumah yang tidak terlalu sunyi.
Aku belum tahu siapa saja yang akan duduk di meja makan itu nanti.
Aku juga belum tahu bahwa beberapa tahun kemudian, seseorang akan datang dan mengubah hitunganku tentang berapa banyak orang yang bisa disebut rumah.
Saat itu, dalam kepalaku, jumlah piringnya masih dua.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir reading
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga