Chapter Six
Orang yang Selalu Punya Pulpen
POV — Kirana Prameswari
Aku punya teori sederhana tentang orang baru.
Kalau ingin tahu mereka seperti apa, jangan lihat cara mereka memperkenalkan diri. Lihat apa yang mereka lakukan ketika tidak ada alasan untuk terlihat baik.
Damar Alvaro gagal total dalam tes itu.
Bukan karena dia buruk.
Justru karena dia menyebalkan.
Hari kedua kuliah, aku datang tujuh menit sebelum kelas dan menemukan Damar sudah duduk di baris tengah dengan laptop terbuka.
“Katanya nggak datang tiga puluh menit sebelum kelas.”
Dia mendongak.
“Aku datang lima belas.”
“Bedanya sangat penting?”
“Empat belas menit.”
Aku menarik kursi di sebelahnya.
Dia melihat tas yang kutaruh.
“Kursi lain banyak.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
“Aku suka yang ini.”
Dia tidak menjawab.
Aku mengeluarkan buku, lalu sadar pulpenku tidak ada.
Aku mengobrak-abrik tote bag.
Dompet.
Charger.
Lip balm.
Dua struk minimarket.
Satu bungkus permen yang tinggal bungkus.
Tidak ada pulpen.
Damar mendorong sesuatu ke mejaku.
Pulpen hitam.
Aku menatapnya.
“Kamu selalu bawa cadangan?”
“Dua.”
“Kenapa?”
“Karena orang suka lupa.”
Aku mengambilnya. “Kamu ngomong kayak veteran perang alat tulis.”
Dia kembali ke layar.
“Balikin.”
“Nggak ikhlas?”
“Pulpennya cuma dua.”
Aku tersenyum.
Dosen masuk sebelum aku sempat mengganggunya lagi.
Kelas pertama Pengantar Pemrograman ternyata jauh lebih cepat daripada yang kubayangkan. Dosen menulis beberapa konsep dasar, memberi contoh sintaks, lalu melempar latihan singkat seperti kami semua sudah lahir sambil memegang keyboard.
Aku bisa mengikuti sebagian.
Sebagian lain mulai terlihat seperti kutukan.
Di sebelahku, Damar mengetik tanpa banyak berhenti.
Tidak buru-buru.
Tidak sok menunjukkan layar.
Dia cuma... mengerti.
Aku berusaha sendiri sampai satu error terus muncul.
Aku menghapus.
Menulis ulang.
Error lagi.
Damar melirik.
Aku langsung menutup sebagian layar dengan tangan.
“Jangan.”
“Apa?”
“Jangan lihat. Aku masih punya harga diri.”
Dia diam.
Dua menit kemudian error yang sama muncul.
Aku menyerah.
“Lihat.”
Damar menarik laptopku sedikit, membaca kode, lalu menunjuk satu baris.
“Kurang titik koma.”
Aku menatap layar.
Lalu menatapnya.
“Cuma itu?”
“Iya.”
“Aku tadi hampir ganti jurusan.”
“Cepat banget.”
“Aku adaptif.”
Sudut bibirnya bergerak.
Itu yang aneh dari Damar.
Dia tidak banyak tersenyum, tapi setiap kali hampir tersenyum rasanya seperti berhasil menemukan fitur tersembunyi.
Setelah kelas, dosen memberi tugas berpasangan.
Aku belum sempat melihat siapa pun ketika Damar berkata, “Kalau mau, bareng.”
Aku berkedip.
“Serius?”
“Iya.”
“Kamu ngajak duluan?”
Dia menutup laptop. “Tugasnya dikumpul minggu depan.”
“Itu bukan jawaban.”
“Kalau nggak mau juga nggak apa-apa.”
“Mau.”
Terlalu cepat.
Aku berdeham.
“Maksudku, efisien. Kita duduk sebelahan.”
“Ya.”
Aku pura-pura merapikan buku supaya tidak terlihat terlalu puas.
Kami mengerjakan kerangka tugas di perpustakaan.
Damar ternyata bukan tipe orang pintar yang membuat orang lain merasa bodoh.
Dia menjelaskan kalau ditanya.
Kalau aku salah, dia tidak mengambil alih.
Dia cuma bilang, “Coba lihat bagian ini lagi.”
Menyebalkan.
Karena setelah lima menit aku menemukan kesalahanku sendiri dan tidak bisa menyalahkannya.
“Kamu ngajar, ya?” tanyaku.
Damar berhenti mengetik.
“Kok tahu?”
“Cara jelasin.”
“Les anak SD sama SMP.”
“Pantes.”
“Pantes apa?”
“Sabar.”
Dia menatapku.
“Aku belum yakin.”
Aku tertawa.
Jam mendekati sebelas ketika ponselnya bergetar.
Damar melihat layar.
“Aku harus pergi.”
“Kerja?”
“Iya.”
Aku mengangguk.
Tidak ada drama.
Tidak ada “kasihan banget”.
Aku cuma melihat bagian tugas kami.
“Yang ini aku lanjutin. Nanti aku kirim.”
“Nggak usah semua.”
“Kenapa?”
“Bagianmu cuma sampai sini.”
“Kalau aku pengin lanjut?”
“Ya boleh.”
“Aku kira kamu mau melarang.”
“Aku bukan dosen.”
Dia memasukkan laptop ke tas.
Aku menyerahkan pulpen yang kupinjam.
Damar menerimanya, lalu berhenti.
“Simpan aja.”
Aku mengangkat alis. “Katanya cuma dua.”
“Aku masih punya satu.”
“Terus kalau ada orang lupa?”
Dia berdiri.
“Besok beli lagi.”
Aku memutar pulpen itu di jari.
“Ini hadiah pertama dari teman kampus?”
“Itu pulpen tiga ribuan.”
“Nilai sentimental tidak tunduk pada harga pasar, Damar.”
Dia menatapku seperti aku baru bicara dalam bahasa asing.
“Aku pergi.”
“Dadah.”
Dia baru berjalan dua langkah ketika aku memanggil.
“Mar.”
Damar berhenti.
Itu pertama kalinya aku memendekkan namanya.
Aku juga baru sadar setelah bunyinya keluar.
Dia menoleh.
“Makasih pulpennya.”
Tatapannya berhenti sepersekian detik lebih lama.
“Iya.”
Lalu dia pergi.
Aku melihat punggungnya sampai hilang di antara rak buku.
Tidak ada alasan khusus.
Aku hanya penasaran.
Besok paginya aku sengaja datang membawa tiga pulpen.
Bukan untuk membuktikan apa-apa.
Mungkin sedikit.
Damar sudah duduk di tempat yang sama.
Aku menjatuhkan tempat pensil di meja cukup keras supaya dia melihat.
“Tiga,” kataku.
Dia menatap isinya.
“Hebat.”
“Sekarang kalau ada orang lupa, aku yang bisa nolong.”
“Bagus.”
“Aku berkembang.”
“Cepat.”
Aku duduk.
Belum lima menit, seorang mahasiswa dari baris depan menghampiri Damar sambil membawa laptop.
“Mar, yang tugas kemarin error terus. Lihat bentar boleh?”
Damar menggeser kursi.
“Mana?”
Aku mengira dia akan langsung menunjuk kesalahannya seperti kepadaku.
Ternyata tidak.
Dia bertanya apa yang sudah dicoba, menyuruh orang itu menjalankan program, lalu memberi petunjuk sedikit demi sedikit sampai kesalahannya ditemukan sendiri.
Persis seperti kemarin.
Jadi ternyata bukan aku yang dapat perlakuan khusus.
Aneh.
Aku seharusnya tidak merasa apa-apa tentang fakta itu.
Tetap saja ada sedikit rasa kecewa yang langsung membuatku kesal pada diri sendiri.
Setelah orang itu pergi, Damar menoleh.
“Kenapa?”
“Apa?”
“Kamu tadi lihat.”
“Aku punya mata.”
“Bukan itu.”
Aku membuka laptop. “Aku cuma baru tahu kamu emang suka ngajarin orang.”
“Kan aku ngajar les.”
“Iya, tapi beda.”
Damar mengangkat bahu.
“Kalau langsung dikasih jawaban, besok nanya lagi.”
“Jadi kemarin kamu bukan sengaja nyiksa aku?”
“Sengaja sedikit.”
Aku menoleh cepat.
Dia sudah melihat layar lagi.
“Damar.”
“Hm?”
“Kamu barusan bercanda?”
“Nggak.”
“Bohong.”
Untuk pertama kalinya aku melihat dia benar-benar tersenyum, walau cuma sebentar.
Dan, sialnya, senyum itu jauh lebih mengganggu daripada yang seharusnya.
Sebelum dosen datang, dia mendorong sebungkus permen ke arahku.
“Kenapa?”
“Kemarin kamu bawa bungkus kosong.”
Aku menatap permen itu, lalu Damar.
“Kamu merhatiin isi tasku?”
“Kebetulan lihat.”
“Tentu.”
Aku mengambil satu.
Permennya rasa jeruk.
“Ini juga tiga ribuan?”
“Dua ribu.”
“Wah. Hubungan kita turun secara ekonomi.”
“Balikin.”
Aku langsung memasukkan permen ke mulut.
“Terlambat.”
Damar menggeleng, tapi aku melihat sudut bibirnya naik lagi.
Saat kelas mulai, aku mendapati diriku masih memperhatikannya.
Bukan karena wajah.
Bukan karena misterius.
Damar justru tidak terasa misterius.
Dia seperti pintu biasa yang tidak dikunci, hanya tidak pernah mengundang orang masuk.
Kalau mau tahu, mungkin harus cukup sabar untuk mengetuk.
Sore itu aku mengerjakan tugas dari kos sambil sesekali memakai pulpen hitam yang sebenarnya tidak perlu dipakai karena tugasnya di laptop.
Bodoh.
Sekitar jam enam, Damar mengirim pesan.
Udah sampai bagian mana?
Aku memotret layar.
Segini. Yang bawah masih error.
Balasannya baru datang dua puluh menit kemudian.
Aku lagi shift. Nanti habis pulang aku cek.
Aku mengetik.
Besok aja. Jangan sekarang.
Beberapa detik.
Bisa.
Aku menatap satu kata itu.
Orang aneh.
Aku membalas.
Besok.
Tidak ada jawaban.
Aku lanjut mengerjakan bagian lain.
Satu jam kemudian ponselku berbunyi.
Damar mengirim screenshot.
Coba baris 27. Variabelnya beda nama.
Aku menatap waktu.
19.14.
Jadi orang itu benar-benar mengecek kode di sela kerja.
Aku memperbaikinya.
Program jalan.
YES.
Lalu aku menambahkan:
Tapi besok kalau lagi kerja, kerja aja. Tugasnya bisa nunggu.
Kali ini jawabannya cepat.
Tadi lagi break.
Tetep.
Iya, Bu.
Aku menahan tawa.
Aku tidak tahu kenapa percakapan sesederhana itu terasa menyenangkan.
Mungkin karena semester pertama memang membuat semua hal terasa baru.
Teman baru.
Kelas baru.
Rutinitas baru.
Atau mungkin karena Damar tidak pernah berusaha membuat dirinya menarik, jadi setiap detail kecil yang kutemukan terasa seperti menemukan sesuatu yang tidak diperlihatkan kepada semua orang.
Malamnya, aku meletakkan pulpen hitam itu di tempat pensil.
Bukan karena sentimental.
Aku cuma tidak mau hilang.
Setidaknya begitu alasanku saat itu.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen reading
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga