← Piring Ketiga

Chapter Thirty Five

Orang Rumah

POV — Damar Alvaro

Kalau ada yang bertanya kapan Kirana menjadi keluarga, aku tidak punya tanggal.

Bukan hari kami jadian.

Bukan ciuman pertama.

Bukan pertama kali Keisha memanggilnya Kak Kira.

Mungkin justru hari biasa.

Hari ketika aku pulang dan melihat Kirana tidur di sofa, Keisha belajar di lantai, dan Moka tidur di bawah meja.

Tidak ada yang sadar aku masuk.

Aku berdiri di pintu cukup lama.

Kirana memakai kaus longgar dan rambut diikat asal.

Ada laptop terbuka di dada.

Keisha memakai earphone satu sisi.

Rumah kecil.

Berantakan.

Penuh.

Aku melepas sepatu pelan.

Keisha melihat.

“Kak.”

Aku mengangkat jari.

Dia melihat Kirana yang tidur.

Mengangguk.

Aku mendekat dan mengambil laptop dari dada Kirana.

Dia bergerak sedikit.

Tidak bangun.

Aku meletakkan bantal di bawah kepalanya.

Keisha berbisik, “Capek magang.”

“Iya.”

“Jangan dibangunin.”

Aku mengangguk.

Kami makan terlambat malam itu.

Kirana bangun setengah jam kemudian dengan wajah bingung.

“Jam berapa?”

“Hampir sembilan.”

Dia langsung duduk.

“Aku ketiduran?”

“Nggak. Meditasi.”

Kirana melempar bantal.

Aku tertawa.

Keisha keluar membawa tiga piring.

Kirana berdiri membantu.

Tidak ada yang menyuruh.

Setelah makan, kami bertiga melihat tiga kertas target di kulkas.

Punya Keisha sudah ditambah satu catatan kecil:

Belajar konsisten.

Punya Kirana:

Jangan lupa tidur.

Punyaku masih sama.

Jadi lebih baik.

Belajar menikmati hidup.

Kirana menepuk tulisan kedua.

“Progress?”

Aku berpikir.

“Lumayan.”

“Berapa persen?” tanya Keisha.

“Kenapa semua harus persen?”

Keisha tersenyum.

“Enam puluh sembilan.”

Aku menatap.

Kirana tertawa.

Dua perempuan itu sekarang punya terlalu banyak inside joke yang tidak melibatkanku.

Anehnya aku suka.

Setelah Keisha masuk kamar, aku mengantar Kirana ke depan.

Dia memakai sandal hitam.

“Mar.”

“Hm?”

“Besok aku mungkin nggak bisa ke sini.”

“Ya.”

“Lusa juga.”

Aku menatap.

“Magang?”

“Iya.”

“Oke.”

Kirana menunggu.

“Apa?”

“Nggak ada.”

Aku tahu yang dia tunggu.

Aku tersenyum.

“Aku bakal kangen.”

Dia langsung puas.

“Nah.”

“Manipulatif.”

“Komunikatif.”

Aku menarik tangannya.

Kirana mendekat.

Aku memeluk.

Sekarang aku tidak menunggu dia meminta.

Tangannya melingkar di pinggang.

Kami diam cukup lama.

“Kira.”

“Hm?”

“Aku sayang kamu.”

Tubuhnya langsung kaku.

Aku hampir tertawa.

Selama ini dia yang lebih sering mengatakan.

Aku jarang.

Bukan karena tidak merasa.

Karena setiap kali mau mengucapkan, kata itu terasa berat.

Malam itu tidak.

Kirana mundur sedikit.

“Ulang.”

“Nggak.”

“Mar.”

Aku mencium keningnya.

“Pulang.”

Dia memukul dada pelan.

“Jahat.”

Aku tersenyum.

Sebelum naik ojek, dia berkata, “Aku juga sayang kamu.”

Aku mengangguk.

“Ya.”

“Ya?”

Aku tertawa.

Ojeknya pergi sambil dia masih memelototiku.

Aku berdiri sampai lampunya hilang.

Ketika masuk, Keisha ada di dapur.

“Kak.”

“Hm?”

“Udah?”

“Apa?”

“Ngantar.”

“Iya.”

Dia membuka kulkas.

“Ayam tinggal satu.”

“Kamu makan.”

Keisha menoleh.

Aku langsung sadar kebiasaan lama.

“Apa?”

“Bagi dua.”

Aku tersenyum.

“Ya.”

Kami membagi.

Tidak ada lagi drama telur terakhir seperti dulu.

Masih hemat.

Masih harus menghitung.

Tapi tidak sendirian.

Besoknya aku mulai magang.

Hari-hari semakin padat.

Kadang aku dan Kirana cuma bertemu dua puluh menit.

Kadang seminggu cuma dua kali.

Anehnya hubungan kami tidak terasa lebih jauh.

Kami sudah belajar.

Kalau sibuk, bilang.

Kalau kecewa, bilang.

Kalau kangen, bilang.

Kalau capek, minta peluk.

Sederhana.

Tentu tidak selalu berhasil.

Kadang aku masih jawab terlalu pendek.

Kirana masih kadang terlalu banyak goda saat aku lelah.

Keisha kadang ikut campur.

Tapi semua itu terasa hidup.

Bukan ancaman.

Sampai suatu malam aku mendapat slip pembayaran semester berikutnya dan Keisha membawa brosur biaya pendaftaran universitas yang lebih detail.

Angka-angka kembali.

Lebih besar.

Aku duduk sendirian setelah mereka tidur.

Kertas di meja.

Kalkulator.

Ponsel.

Aku menghitung.

Pendapatan magang.

Shift kafe.

Les.

Tabungan.

Kurang.

Tidak mustahil.

Tapi kurang.

Aku membuka kalender.

Bisa tambah shift Sabtu.

Tambah murid les satu.

Kurangi pengeluaran.

Aku mulai menulis.

Tangan bergerak otomatis.

Survival mode.

Lalu mataku jatuh ke kulkas.

Tiga target masih tertempel.

Belajar menikmati hidup.

Aku berhenti.

Suara Keisha dari masa lalu terasa dekat.

Jangan pakai aku buat alasan.

Suara Kirana juga.

Jangan langsung mutusin semua yang harus kamu korbankan malam ini.

Aku meletakkan pulpen.

Belum.

Besok kami bicara.

Aku berhasil menghentikan diri malam itu.

Aku bangga sedikit.

Tapi ketakutan tidak hilang.

Ia cuma duduk di sudut.

Menunggu angka menjadi lebih besar.

Pagi berikutnya kami benar-benar bicara.

Keisha duduk di meja sambil membawa kalkulator.

Kirana ikut lewat video call karena sedang perjalanan magang.

Aku menunjukkan angkanya.

Tidak nyaman.

Tapi menunjukkan.

Keisha menghitung.

“Aku bisa tambah order.”

“Jangan sampai ganggu belajar.”

“Aku yang atur.”

Aku hampir membalas.

Kirana dari layar berkata, “Mar.”

Aku berhenti.

“Ya.”

Keisha melanjutkan.

“Aku juga cari beasiswa yang lain.”

Aku mengangguk.

Kami membuat rencana.

Tidak sempurna.

Masih kurang sedikit.

Tapi bukan hanya rencanaku.

Rencana kami.

Ketika telepon selesai, Keisha tersenyum.

“Nah.”

“Apa?”

“Bisa ternyata.”

“Apa?”

“Ngomong sebelum sok pahlawan.”

Aku melempar penghapus.

Dia tertawa.

Aku juga.

Siang itu aku merasa menang atas sesuatu yang tidak kelihatan.

Refleks lama muncul.

Tapi aku tidak mengikutinya.

Belum.

Aku tidak tahu akan selalu berhasil atau tidak.

Luka lama jarang hilang hanya karena kita sempat bahagia.

Kadang ia diam.

Menunggu saat kita paling takut kehilangan semuanya.

Malam itu rumah masih tenang.

Keisha tidur.

Sandal Kirana ada di depan pintu karena dia lupa membawanya lagi.

Tiga piring sudah kering di rak.

Aku berdiri dan mematikan lampu.

Aku pikir aku sudah berubah cukup banyak.

Mungkin memang sudah.

Tapi perubahan bukan garis lurus.

Besok bisa lebih sulit.

Bulan depan angka bisa lebih besar.

Masa depan bisa meminta lebih banyak dari yang kami punya.

Untuk malam itu, aku memilih percaya.

Pada Keisha.

Pada Kirana.

Pada diriku sendiri.

Aku memilih tidur tanpa mengambil shift tambahan diam-diam.

Kemenangan kecil.

Dan mungkin justru karena itulah, ketika aku gagal melakukan hal yang sama nanti, aku akan tahu persis apa yang sebenarnya hilang.

Bukan kemampuan untuk mencintai.

Keberanian untuk membiarkan orang lain ikut menanggung cinta itu.

Besok malam Kirana datang lagi.

Aku menceritakan percakapan pagi tadi.

Dia tidak memuji berlebihan.

Cuma mencium pipiku.

“Bagus.”

“Semua orang bilang bagus.”

“Karena memang.”

Keisha dari kamar berteriak, “Jangan besar kepala!”

Aku tertawa.

Kirana masuk dapur dan mengambil tiga piring.

Aku melihat gerakannya.

Sama naturalnya seperti Keisha.

Aku membantu menaruh gelas.

Kami makan.

Tidak ada satu pun dari kami yang tahu ini adalah salah satu malam tenang terakhir sebelum tekanan mulai menumpuk.

Mungkin kalau tahu, kami akan bicara lebih lama.

Mungkin aku akan menyimpan suara tawa mereka lebih hati-hati.

Tapi manusia tidak hidup seperti itu.

Kita tidak diberi label pada hari-hari yang nanti akan dirindukan.

Mereka datang seperti biasa.

Makan malam.

Piring.

Sandal di depan pintu.

Seseorang berkata besok ketemu.

Dan kita percaya masih banyak besok.

Beberapa hari sesudahnya, aku mulai terbiasa membicarakan angka di depan mereka.

Tidak selalu mudah.

Kadang aku masih menahan informasi beberapa jam terlalu lama.

Tapi aku mencoba.

Keisha juga mencoba berhenti menyembunyikan kebutuhan sekolah hanya karena takut membuatku khawatir.

Kirana mencoba tidak langsung membaca setiap diamku sebagai tanda aku akan menjauh.

Kami semua punya kebiasaan buruk sendiri.

Mungkin itu sebabnya hubungan ini terasa nyata.

Bukan karena kami berhasil menghapus luka.

Kami cuma mulai mengenali kapan luka itu sedang bicara.

Suatu malam aku hampir mengambil shift tambahan lagi.

Jari sudah di atas tombol kirim.

Lalu Kirana menelepon.

Bukan soal itu.

Dia cuma cerita supervisor magangnya menyebalkan.

Aku mendengarkan.

Setelah telepon selesai, aku melihat pesan shift yang belum kukirim.

Aku bertanya pada diri sendiri:

aku benar-benar butuh ini, atau aku sedang panik?

Jawabannya yang kedua.

Aku menutup aplikasi.

Besok pagi, setelah kepala lebih tenang, aku hitung lagi.

Ternyata kebutuhan bulan itu masih bisa ditutup tanpa tambahan shift.

Kalau aku mengirim semalam, aku akan kehilangan satu-satunya Jumat kosong bulan itu.

Aku hampir menertawakan diri sendiri.

Dulu aku selalu merasa keputusan tercepat adalah keputusan paling bertanggung jawab.

Sekarang aku mulai belajar keputusan yang ditunda semalam kadang justru lebih waras.

Jumat itu kami makan bertiga.

Keisha membawa sambal terlalu pedas.

Kirana memaksa Damar—diriku sendiri—mencoba paling banyak.

Aku protes.

Mereka kompak.

Aku kalah.

Dan sambil kepedasan, aku berpikir:

kalau ini yang disebut menikmati hidup, mungkin target di kulkas memang tidak terlalu bodoh.