Chapter Ten
Yang Dicari Mata
POV — Kirana Prameswari
Aku sadar aku menyukai Damar bukan saat dia melakukan sesuatu yang romantis.
Justru karena dia tidak melakukan apa-apa yang seharusnya dianggap romantis.
Hari itu aku datang ke kampus lebih pagi karena presentasi kelompok.
Damar belum ada.
Aku duduk, membuka laptop, dan mencoba fokus pada slide.
Tidak berhasil.
Setiap kali pintu kelas terbuka, mataku otomatis terangkat.
Orang lain.
Aku kembali melihat layar.
Dua menit kemudian pintu terbuka lagi.
Bukan Damar.
Aku mulai kesal.
Bukan kepada dia.
Kepada diriku sendiri.
Kenapa aku mencarinya?
Aku bisa presentasi tanpa Damar. Kelompok kami bahkan berbeda.
Tetap saja kursi sebelah terasa terlalu kosong.
Lima menit sebelum kelas, akhirnya dia muncul.
Kemejanya sedikit kusut. Rambut bagian depan masih agak basah. Di tangan kirinya ada kantong plastik kecil.
Begitu melihatnya, bahuku terasa lebih santai.
Itu masalah.
Damar duduk.
“Pagi.”
“Pagi.”
Dia meletakkan kantong plastik di mejaku.
“Apa ini?”
“Roti.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Kemarin kamu bilang presentasi bikin mual terus nggak bisa sarapan.”
Aku lupa pernah bilang itu.
Sepertinya cuma keluhan sambil lalu waktu kami belajar di perpustakaan.
“Kamu ingat?”
Damar sudah membuka laptop.
“Kebetulan.”
Aku menatap roti di dalam plastik.
Roti isi cokelat.
Yang pernah kubeli saat kami makan di kantin.
Aku tidak mengatakan itu juga, seingatku.
Atau mungkin pernah.
Masalahnya, Damar mengingat hal-hal yang bahkan aku sendiri tidak menganggap penting.
“Mar.”
“Hm?”
“Terima kasih.”
“Iya.”
Tidak ada senyum menggoda.
Tidak ada “semangat presentasinya”.
Dia hanya melanjutkan membuka file.
Aku menggigit roti.
Dan untuk pertama kalinya aku merasa perlu berhati-hati.
Karena perhatian dari orang seperti Damar tidak datang dengan pita besar.
Ia datang sebagai pulpen tiga ribuan.
Permen jeruk.
Kursi yang tidak pernah benar-benar dipesan tetapi selalu kosong di sebelahnya.
Roti sebelum presentasi.
Hal-hal kecil yang gampang diabaikan kalau tidak memperhatikan.
Sialnya, aku memperhatikan.
Presentasi berjalan lancar.
Setelah kelas, teman-temanku mengajak makan.
Aku hampir ikut.
Lalu melihat Damar sedang membereskan laptop.
“Kamu ke mana habis ini?”
“Perpustakaan.”
“Ada tugas?”
“Iya.”
Aku langsung berkata, “Aku ikut.”
Dia menatapku.
“Kamu tadi diajak makan.”
“Nanti.”
“Kamu belum makan.”
“Aku udah makan roti.”
“Itu sarapan.”
“Jam dua belas belum terlalu jauh.”
Damar menghela napas seperti aku masalah hidup yang harus diselesaikan.
“Ke kantin dulu.”
Aku tersenyum.
“Nyuruh?”
“Iya.”
“Wah.”
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
Kami ke kantin.
Aku pesan nasi.
Damar hanya teh.
“Kamu nggak makan?”
“Nanti.”
“Kenapa nanti?”
“Belum lapar.”
Aku menyipit.
“Kamu bohong?”
Dia mengangkat alis.
“Aku kelihatan?”
“Sedikit.”
Damar akhirnya membeli satu porsi kecil setelah aku terus melihatnya.
Aku tidak tahu apakah itu karena aku atau memang lapar.
Aku tidak bertanya.
Kami makan sambil membahas presentasi.
Ketika aku menirukan gaya dosen yang bertanya terlalu lama, Damar sampai tertawa.
Bukan hampir tertawa.
Benar-benar tertawa.
Aku berhenti bicara.
Dia langsung sadar.
“Kenapa?”
Aku menggeleng.
“Nggak.”
“Kamu lihat apa?”
“Jarang.”
“Apa?”
“Kamu ketawa.”
Damar mengembalikan wajah biasa.
“Biasa aja.”
“Nggak.”
“Kenapa jadi dibahas?”
“Karena ternyata bagus.”
Dia terdiam.
Aku juga.
Kalimat itu keluar sebelum sempat disaring.
Aku langsung minum.
Damar melihat meja.
Telinganya agak merah.
Aku hampir tertawa karena ternyata bukan cuma aku yang bisa kehilangan ritme.
“Yang bagus ketawanya,” aku menambahkan, seolah itu memperbaiki keadaan.
“Ya.”
Jawabannya terlalu pendek.
Kami sama-sama pura-pura fokus makan.
Aneh.
Biasanya aku tidak gampang kikuk.
Aku bisa menggoda siapa pun tanpa berpikir panjang.
Tapi dengan Damar, ada momen ketika bercanda tiba-tiba terasa terlalu dekat dengan jujur.
Dan saat itu terjadi, aku yang pertama panik.
Setelah makan, kami ke perpustakaan.
Damar mengerjakan tugas pemrograman. Aku membaca materi statistik.
Setengah jam pertama tenang.
Lalu aku bosan.
Aku menulis sesuatu di kertas kecil dan menggesernya ke Damar.
Kamu selalu serius begini?
Dia membaca.
Menulis balasan.
Nggak.
Kapan nggak?
Tidur.
Aku menahan tawa.
Aku menulis lagi.
Selain tidur.
Damar berpikir beberapa detik.
Sama Keisha.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Ada sesuatu yang lembut dalam jawaban sesederhana itu.
Aku menulis:
Kamu sayang banget sama dia ya.
Kali ini Damar tidak langsung membalas.
Dia menatap kertas.
Lalu menulis:
Iya.
Tidak ada candaan.
Tidak ada alasan.
Hanya iya.
Aku tersenyum.
Entah kenapa justru jawaban itulah yang paling kusukai hari itu.
Sekitar jam tiga, Damar harus pergi kerja.
Kami keluar perpustakaan bersama.
Di persimpangan koridor, jalur kami berbeda.
“Mar.”
“Hm?”
“Besok masuk?”
“Iya.”
“Shift?”
“Sore.”
Aku mengangguk.
“Kalau gitu sampai besok.”
“Sampai besok.”
Dia berjalan menjauh.
Aku seharusnya berbelok ke gedung lain.
Tapi aku berdiri satu-dua detik lebih lama.
Melihat punggungnya.
Kemudian seorang teman sekelasku, Sinta, muncul dari belakang.
“Kirana.”
Aku tersentak.
“Apaan?”
Sinta mengikuti arah pandangku.
“Oh.”
“Oh apa?”
“Damar?”
“Kenapa Damar?”
Sinta tersenyum.
“Nggak.”
Aku langsung berjalan.
Dia mengikuti.
“Lo suka ya?”
Aku tertawa terlalu cepat.
“Ngaco.”
“Gue cuma nanya.”
“Temen.”
“Gue nggak bilang bukan.”
Aku menatapnya.
Sinta tetap tersenyum.
“Kelihatan.”
“Apanya?”
“Mata lo.”
Aku otomatis mengerutkan kening.
“Mata gue kenapa?”
“Kalau dia masuk ruangan, lo selalu tahu.”
Aku berhenti berjalan.
Kalimat itu terlalu tepat.
Sinta meninggalkanku beberapa langkah sebelum sadar aku tidak ikut.
“Kir?”
Aku berjalan lagi.
“Nggak ada apa-apa.”
“Belum.”
“Diam.”
Dia tertawa.
Sore itu di kamar, aku mencoba membuktikan Sinta salah.
Aku membuka tugas.
Membaca dua halaman.
Lalu ponsel berbunyi.
Grup kelas.
Bukan Damar.
Aku kecewa.
Aku membenci fakta itu.
Lima menit kemudian ada pesan pribadi.
Damar.
Tadi presentasinya bagus.
Aku menatap layar.
Senyumku muncul begitu saja.
Aku membalas:
Baru bilang sekarang?
Tadi lupa.
Bohong.
Iya.
Aku tertawa.
Kemudian aku berhenti.
Sinta benar.
Aku tidak tahu sejak kapan tepatnya.
Mungkin dari pulpen.
Mungkin dinosaurus jelek di kopi.
Mungkin ketika dia mengingat aku tidak bisa sarapan sebelum presentasi.
Atau mungkin tidak ada satu momen.
Mungkin rasa itu tumbuh dari puluhan hal kecil sampai suatu hari aku baru sadar jumlahnya sudah terlalu banyak untuk disebut kebetulan.
Aku membuka chat Damar lagi.
Profilnya tidak memakai foto wajah. Hanya gambar langit sore entah dari mana.
Sangat Damar.
Aku mengetik sesuatu.
Besok dudukin kursi.
Lalu kuhapus.
Terlalu biasa.
Aku mengetik lagi.
Besok jangan telat.
Hapus.
Akhirnya aku mengirim:
Besok aku bawain susu. Jangan beli.
Balasannya datang.
Kenapa?
Aku tersenyum.
Karena aku mau.
Beberapa detik.
Ya.
Aku meletakkan ponsel di dada.
Masalahnya sekarang sederhana.
Aku suka Damar Alvaro.
Dan setelah menyadarinya, aku cukup yakin aku tidak akan bisa pura-pura tidak tahu.
Aku tidak langsung memutuskan akan melakukan sesuatu.
Itu bukan gaya yang biasanya kupakai.
Kalau aku tertarik pada seseorang, aku cukup percaya diri untuk menunjukkan.
Tapi Damar berbeda.
Bukan karena dia sulit dibaca.
Justru karena aku mulai bisa membacanya sedikit.
Aku tahu dia menghitung waktu.
Aku tahu dia bekerja lebih banyak daripada kebanyakan orang.
Aku tahu ada Keisha di pusat hampir semua keputusan hidupnya.
Dan aku tahu Damar tidak suka merasa berutang.
Kalau aku bergerak terlalu cepat, mungkin dia akan menganggapku tambahan masalah.
Pikiran itu tidak membuatku mundur.
Hanya membuatku ingin lebih hati-hati.
Besok aku tetap akan duduk di sebelahnya.
Tetap akan membawa susu.
Tetap akan mengganggunya.
Tidak perlu buru-buru memberi nama pada semuanya.
Aku bisa menikmati bagian ketika aku masih belajar tentang dia.
Apa yang membuatnya tertawa.
Makanan apa yang selalu dia pilih kalau sedang punya uang lebih.
Kenapa dia menyimpan foto latte dinosaurus jelek itu—kalau memang dia menyimpannya.
Aku berharap dia menyimpannya.
Pikiran itu membuatku tersenyum lagi.
Aku mematikan lampu.
Besok masih ada kelas pagi.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, kelas jam sembilan terasa seperti sesuatu yang kutunggu.
Bukan karena mata kuliahnya.
Aku cukup jujur untuk mengakui itu sekarang.
Karena seseorang akan duduk di kursi sebelahku.
Dan aku senang.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata reading
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga