← Piring Ketiga

Chapter Thirty Nine

Kita Berdua Aja Cukup

POV — Damar Alvaro

Besoknya Kirana datang.

Keisha sudah menunggu.

Aku tahu ini bukan makan malam biasa dari cara dua perempuan itu duduk.

Kirana di sebelah kiri meja.

Keisha di kanan.

Aku di depan mereka.

Posisi interogasi.

“Jangan mulai dengan bercanda,” kata Keisha.

Aku menutup mulut.

Kirana hampir tersenyum, lalu tidak jadi.

Di meja ada laptopku.

Formulir pengurangan beban studi masih terbuka.

Aku menatap.

“Kamu isi sampai selesai,” kata Kirana.

“Belum kirim.”

“Aku tahu.”

Keisha menyilangkan tangan.

“Kenapa?”

Aku menarik napas.

“Kalau aku ambil satu mata kuliah lebih sedikit, aku bisa kerja tambahan tanpa bentrok.”

“Untuk bayar kuliah aku,” kata Keisha.

“Untuk bantu semuanya.”

“Jangan ganti kata.”

Aku menatap adikku.

“Kei.”

“Karena aku?”

Aku ingin menjawab tidak.

Tapi kami sudah terlalu jauh untuk bohong.

“Sebagian.”

Keisha menunduk.

Kirana berkata pelan, “Dan sebagian lagi?”

“Tabungan.”

“Buat apa?”

“Jaga-jaga.”

“Mar.”

Aku mulai kesal.

Bukan pada mereka.

Pada keadaan.

Pada angka.

Pada fakta bahwa solusi yang jelas terlihat di kepalaku dianggap luka oleh orang lain.

“Aku cuma ngurangin satu semester.”

Keisha langsung menatap.

“Cuma?”

“Bukan berhenti.”

“Terus kalau kurang lagi?”

Aku diam.

“Semester berikutnya ngurangin lagi?”

“Belum tentu.”

“Kakak selalu bilang belum tentu sampai akhirnya jadi.”

Kirana menyentuh meja.

“Mar, lihat aku.”

Aku melihat.

“Aku nggak mau nyerang kamu.”

“Aku tahu.”

“Aku mau ngerti.”

Aku mengangguk.

“Kalau formulir ini dikirim, apa yang kamu dapat?”

“Waktu.”

“Untuk kerja.”

“Iya.”

“Kalau nggak dikirim?”

“Aku harus cari cara lain.”

“Cara lain ada?”

Aku menghela napas.

“Ada, tapi lebih berat.”

“Contoh?”

“Tambah shift.”

Keisha tertawa pendek tanpa humor.

“Nah.”

Aku menutup laptop.

“Terus aku harus apa?”

Pertanyaan itu keluar lebih keras dari yang kuinginkan.

Keisha terdiam.

Kirana tetap melihat.

“Aku serius. Bilang.”

Tidak ada jawaban.

“Aku nggak bisa bikin biaya turun.”

“Aku tahu,” kata Kirana.

“Aku nggak bisa bikin beasiswa muncul.”

“Aku tahu.”

“Aku punya kemampuan buat kerja lebih banyak.”

“Dan tubuhmu punya batas,” kata Keisha.

“Aku bisa atur.”

Dua-duanya mengembuskan napas bersamaan.

Aku langsung tahu salah.

Tapi terlambat.

Kirana berkata, “Kalimat itu lagi.”

Aku berdiri.

“Aku cuma mau semuanya aman.”

“Siapa semuanya?” tanya Keisha.

Aku menatap.

“Kamu.”

Keisha menutup mata.

“Kirana.”

Kirana diam.

“Rumah.”

Aku mengusap wajah.

“Semua.”

Kirana berdiri juga.

“Terus kamu masuk mana?”

Aku tidak menjawab.

“Nah.”

Dia tidak marah.

Justru suaranya lembut.

Itu membuatku lebih defensif.

“Aku nggak butuh masuk.”

Kirana membeku.

Keisha langsung menatapku.

Aku tahu kalimat itu buruk.

Tapi sekarang sesuatu di dalam diriku sudah terbuka.

“Aku cuma mau kalian jalan.”

“Tanpa kamu?” tanya Kirana.

“Aku ada.”

“Sebagai apa?”

Aku terdiam.

“Mar.”

“Aku tetap kuliah.”

“Lebih lambat.”

“Aku tetap kerja.”

“Lebih banyak.”

“Aku tetap di sini.”

“Tubuhmu doang.”

Aku menatap tajam.

Kirana menahan.

Dia tidak mundur.

“Aku tahu kamu sayang kami.”

“Aku memang sayang.”

“Terus jangan pakai sayang itu buat hilang pelan-pelan.”

Aku tertawa pendek.

“Dramatis.”

Wajah Kirana berubah.

Aku langsung menyesal.

“Maaf.”

“Tidak. Bagus.”

Dia mengangguk.

“Kalau menurutmu ini dramatis, berarti kamu masih belum lihat masalahnya.”

Keisha berdiri.

“Aku lihat.”

Aku menoleh.

Matanya merah lagi.

“Aku lihat Kakak yang dulu.”

Aku diam.

“Kakak kelas dua SMA.”

Ruangan terasa lebih kecil.

“Kakak yang bilang semuanya aman padahal nggak ada uang.”

“Kei.”

“Kakak yang makan paling sedikit.”

“Kei.”

“Kakak yang bilang nggak capek.”

“Cukup.”

“Belum.”

Suaranya pecah.

“Bedanya sekarang ada Kak Kira. Ada aku yang udah gede. Tapi Kakak masih ngelakuin hal yang sama.”

Aku ingin bilang keadaan memang sama.

Tagihan tetap tagihan.

Tanggung jawab tetap tanggung jawab.

Tapi kata-kata itu tersangkut.

Karena mereka benar.

Aku tidak tahu cara lain.

Aku duduk kembali.

Semua energi marah hilang.

“Aku nggak tahu harus gimana.”

Akhirnya.

Keisha terdiam.

Kirana duduk pelan.

Aku melihat tangan sendiri.

“Aku benar-benar nggak tahu.”

Tidak ada yang langsung menjawab.

“Aku lihat angka, ya aku cari cara nutup.”

Keisha menggigit bibir.

“Aku takut kalau aku berhenti satu detik, semuanya jatuh.”

Kirana menyentuh tanganku.

“Makanya jangan pegang semuanya sendiri.”

“Aku udah coba.”

“Coba lagi.”

Aku tertawa pahit.

“Kalau gagal?”

“Kita gagal bareng,” kata Keisha.

Aku menatap adikku.

Dia menangis lagi.

“Tapi jangan sukses sendirian dengan cara bikin diri Kakak habis.”

Dadaku sakit.

Kirana menggenggam tanganku.

“Mar, aku nggak minta kamu berhenti jadi orang yang peduli.”

Aku memandangnya.

“Aku cuma minta kamu percaya kami juga bisa peduli sama kamu.”

Sunyi.

Aku hampir menyerah.

Hampir.

Lalu ponsel Keisha berbunyi.

Email dari kampus.

Biaya orientasi tambahan.

Tidak besar dibanding yang lain.

Tapi cukup.

Aku melihat angkanya.

Sesuatu di kepalaku kembali menghitung sebelum hati sempat bicara.

Keisha langsung berkata, “Jangan.”

“Aku nggak ngomong.”

“Wajah Kakak.”

Aku berdiri.

Berjalan ke dapur.

Membuka kulkas.

Tidak mencari apa-apa.

Kebiasaan lama.

Di dalam cuma ada beberapa telur, sayur, dan botol air.

Aku mendengar suara mereka di belakang.

Kirana berkata, “Kita bisa atur.”

Aku menutup mata.

Kita.

Kita.

Kita.

Kata itu indah ketika masalah kecil.

Sekarang rasanya berat.

Aku berbalik.

Keisha dan Kirana duduk berdampingan.

Dua orang yang paling kucintai.

Dua orang yang sekarang memintaku tidak melakukan satu hal yang selama ini membuat mereka aman.

Aku takut.

Sangat.

Dan ketika takut, manusia kembali ke bahasa pertamanya.

Aku berkata pelan, hampir pada diri sendiri:

“Kita berdua aja cukup.”

Keisha membeku.

Kirana menatapku.

Aku baru sadar apa yang baru kukatakan.

Kalimat lama.

Kalimat yang dulu menjadi pelukan.

Dulu artinya aku dan Keisha akan selamat meski semua orang pergi.

Sekarang, di ruangan dengan Kirana duduk di meja kami, kalimat itu terdengar seperti pintu ditutup.

“Kak,” bisik Keisha.

Aku langsung ingin memperbaiki.

“Maksudku—”

Kirana berdiri.

Tidak marah.

Itu lebih buruk.

“Aku ngerti.”

“Kira.”

“Aku ngerti sekarang.”

Dia mengambil tas.

Aku mengikuti.

“Bukan gitu.”

“Terus gimana?”

Aku membuka mulut.

Tidak ada jawaban yang tidak terdengar seperti kebohongan.

Kirana mengangguk kecil.

“Ya.”

Keisha menangis diam-diam di belakang.

Aku berdiri di antara mereka.

Dan untuk pertama kalinya sejak Kirana masuk ke rumah ini, piring ketiga di meja terasa seperti sesuatu yang baru saja kutolak dengan tanganku sendiri.

Setelah Kirana pergi dari meja, Keisha tidak langsung masuk kamar.

Dia berdiri di depan rak piring.

“Kak.”

Aku tidak menjawab.

“Kakak sadar nggak barusan ngomong apa?”

Aku tahu.

Tentu tahu.

“Aku salah.”

“Bukan cuma salah ngomong.”

Aku menatap adikku.

Keisha mengusap air mata.

“Dulu kalimat itu bikin aku tenang.”

Dadaku turun.

“Aku tahu.”

“Waktu kita cuma berdua, aku percaya kita bisa.”

Dia melihat kursi Kirana yang kosong.

“Sekarang kalimat yang sama bikin Kak Kira kayak orang luar.”

Aku tidak punya pembelaan.

Keisha duduk.

“Kenapa Kakak selalu balik ke sana?”

“Ke mana?”

“Ke kita berdua.”

Aku menatap meja.

Karena dua orang adalah jumlah yang pernah berhasil kuselamatkan.

Karena tiga terasa seperti lebih banyak yang bisa hilang.

Karena begitu Kirana masuk, aku punya sesuatu lain yang sangat ingin kujaga dan itu membuat rasa takut berlipat.

Aku tidak sanggup mengatakan semua.

“Aku nggak tahu.”

Keisha mengangguk.

“Coba cari tahu.”

Nada suaranya tidak marah lagi.

Cuma capek.

Itu lebih menyakitkan.

Malam itu aku membuka grup PIRING KETIGA.

Tidak ada pesan baru.

Foto terakhir adalah makan ayam beberapa minggu lalu.

Aku melihat wajah kami.

Kirana di kanan.

Keisha di kiri.

Aku di tengah.

Aku dulu pikir posisi tengah berarti aku harus menjaga keduanya.

Sekarang aku baru sadar mungkin aku justru berdiri seperti dinding.

Aku mengetik pesan.

Aku: Maaf soal tadi.

Aku tidak kirim.

Menghapus.

Mengetik lagi.

Aku: Aku takut.

Hapus lagi.

Aku benci betapa sulitnya dua kata itu ketika tidak sedang dipaksa keluar.

Akhirnya aku tidak mengirim apa pun.

Besok, pikirku.

Selalu besok.

Padahal setiap penundaan kecil memberi ketakutan waktu untuk membuat keputusan lain atas namaku.