Chapter Forty
Keputusan yang Sudah Dibuat
POV — Kirana Prameswari
Aku tidak langsung pulang setelah Damar mengatakan kalimat itu.
Aku berdiri di depan rumah sambil memegang tas.
Sandal hitamku masih di kaki.
Lucu.
Aku punya sandal sendiri di rumah yang barusan membuatku merasa seperti tamu lagi.
Damar keluar.
“Kira.”
Aku tidak menoleh.
“Jangan pulang dulu.”
Kalimat itu seharusnya membuatku lega.
Tidak.
Karena aku tahu dia mengatakannya karena panik.
Bukan karena sudah mengerti.
Aku akhirnya melihat.
“Kenapa?”
Damar diam.
Aku tertawa kecil.
“Lihat?”
“Aku salah ngomong.”
“Iya.”
“Maksudku bukan kamu nggak cukup.”
“Aku tahu.”
“Bukan kamu bukan keluarga.”
“Aku tahu.”
Damar semakin frustrasi.
“Terus?”
“Aku tahu semua niat baik kamu.”
Aku menatapnya.
“Itu masalahnya.”
Dia membeku.
“Kalau kamu jahat, gampang.”
“Kira.”
“Kalau kamu egois, gampang. Kalau kamu selingkuh, gampang. Kalau kamu nggak sayang, gampang.”
Suaraku mulai bergetar.
“Tapi kamu sayang. Kamu sayang banget sampai semua keputusan kamu bungkus pakai alasan melindungi.”
Damar melihat tanah.
Aku menarik napas.
“Mar, aku dapat program trainee itu.”
“Aku tahu.”
“Aku ambil.”
“Aku tahu.”
“Dan kamu senang buat aku.”
“Iya.”
“Tapi kamu juga udah mutusin apa artinya buat kita.”
Dia mengangkat mata.
“Aku belum—”
“Sudah.”
Aku mengeluarkan ponsel.
Membuka chat beberapa hari terakhir.
Semua kalimat Damar.
Ambil.
Jangan pikirin aku.
Ini bagus buat kamu.
Kita bisa atur.
“Semua ini keputusan.”
“Itu dukungan.”
“Dukungan nanya aku mau apa.”
“Aku nanya.”
“Setelah kamu menyimpulkan aku harus pergi.”
Dia diam.
Aku melanjutkan.
“Aku juga mau ambil program itu.”
Damar terlihat bingung.
“Terus masalahnya apa?”
“Masalahnya aku mau pergi karena aku memilih. Bukan karena kamu mendorong sambil mundur.”
Aku menahan air mata.
“Aku mau punya pacar yang bilang dia takut. Yang bilang dia kangen. Yang bilang kita cari cara.”
“Aku udah bilang.”
“Sekali.”
Aku langsung menyesal menghitung.
Tapi benar.
“Terus setiap tekanan naik, kamu kembali jadi orang yang sama.”
Damar menatap rumah.
“Aku lagi berusaha.”
“Aku tahu.”
Aku mengangguk.
“Aku tahu banget.”
Itulah alasan aku masih berdiri di sini.
Aku masih ingin dia berhasil.
Aku masih ingin kami berhasil.
Damar menyentuh tanganku.
Aku membiarkan beberapa detik.
“Kira.”
“Hm?”
“Aku batalin formulir.”
Aku menatap.
“Apa?”
“Pengurangan studi. Aku nggak kirim.”
Ada rasa lega kecil.
Lalu aku melihat wajahnya.
“Apa gantinya?”
Damar diam.
Dadaku jatuh.
“Mar.”
“Aku bisa ambil shift—”
Aku menarik tangan.
“Nah.”
“Cuma sampai semester pertama Kei aman.”
“Lalu apa?”
“Lihat nanti.”
Aku tertawa sambil menangis.
“Selalu nanti.”
“Kira, aku nggak bisa duduk diam.”
“Aku nggak minta kamu duduk diam.”
“Terus aku harus apa?”
“Bicara!”
Suara akhirnya naik.
“Bicara sebelum iya. Bicara sebelum tambah shift. Bicara sebelum mutusin kuliahmu. Bicara sebelum menentukan hubungan kita sanggup apa nggak.”
“Aku bicara sekarang.”
“Setelah semuanya hampir selesai.”
Damar diam.
Aku mengusap air mata kasar.
Pintu rumah terbuka.
Keisha berdiri.
Dia tidak mendekat.
Hanya berkata, “Kak Damar.”
Damar menoleh.
“Jangan shift tambahan.”
“Kei.”
“Aku dapat pinjaman pendidikan kampus.”
Kami berdua membeku.
Keisha memegang ponsel.
“Baru masuk.”
Dia menjelaskan cepat.
Skemanya cukup ringan.
Tidak ideal.
Tapi menutup sebagian besar kekurangan.
“Aku bisa ambil,” katanya.
Damar langsung menjawab, “Nggak.”
Keisha menutup mata.
Aku merasa sesuatu di dalam diriku patah kecil.
“Kak.”
“Nggak. Utang atas nama kamu—”
“Ini keputusan aku.”
“Kei.”
“Lihat.”
Keisha menunjuk Damar.
“Ini.”
Damar diam.
“Bahkan sekarang.”
Keisha menangis lagi.
“Aku belum minta izin. Aku kasih tahu opsi.”
Damar mengusap wajah.
“Aku cuma nggak mau kamu mulai hidup dengan utang.”
“Aku juga nggak mau Kakak mulai hidup dewasa tanpa hidup.”
Sunyi.
Aku melihat mereka.
Dua orang yang sangat saling mencintai sampai cinta itu kadang berubah menjadi tarik-menarik.
Aku tahu aku tidak bisa memperbaiki mereka.
Aku juga tidak seharusnya.
Keisha berkata, “Kita bahas besok.”
Kita.
Damar tidak menjawab.
Keisha kembali masuk.
Aku berdiri dengan dia lagi.
Damar terlihat habis.
Aku ingin memeluk.
Sangat ingin.
Tapi kalau aku melakukan itu sekarang, kami mungkin akan menambal luka tanpa membersihkan.
“Mar.”
“Hm?”
“Aku pulang.”
Dia langsung panik.
“Kita belum selesai.”
“Makanya.”
Aku menggenggam tali tas.
“Aku nggak mau ngobrol waktu kita sama-sama begini.”
“Besok?”
Aku melihatnya.
“Besok.”
Dia mengangguk.
Aku berjalan ke halte.
Damar ikut.
Tidak memegang tangan.
Tidak memaksa.
Di halte kami berdiri dengan jarak kecil.
Bus belum datang.
Damar berkata, “Aku takut kehilangan kamu.”
Aku menutup mata.
Kalimat itu datang terlambat, tapi aku tetap senang mendengarnya.
“Aku juga.”
“Terus jangan pergi.”
Aku menoleh.
“Mar.”
“Apa?”
“Besok aku tetap datang.”
Dia terlihat lega.
Aku menyentuh lengannya.
“Tapi jangan anggap datang berarti semuanya oke.”
“Ya.”
Bus datang.
Sebelum naik, aku melihat rumah dari jauh.
Tidak terlihat dari halte, tapi aku bisa membayangkan sandal cadangan, mug, tiga piring.
Aku belum siap melepaskan semua itu.
Aku masih percaya Damar bisa belajar.
Masalahnya, besok ketika aku datang, aku menemukan satu keputusan lain yang sudah dibuat.
Damar sudah menghubungi manajernya.
Dia mengambil shift tambahan untuk tiga bulan ke depan.
Katanya bisa dibatalkan.
Katanya belum permanen.
Katanya hanya jaga-jaga.
Aku berdiri di ruang depan sambil mendengar penjelasannya.
Setiap kata seperti mengulang percakapan kemarin dengan baju baru.
Aku bertanya satu hal.
“Kapan kamu telepon?”
Damar diam.
“Aku pulang jam berapa semalam?”
“Sekitar sebelas.”
“Kapan kamu telepon?”
“Setengah dua belas.”
Aku tertawa kecil.
Tidak ada humor.
Jadi setelah mengatakan takut kehilangan aku, dia pulang lalu membuat keputusan sendiri lagi.
Aku mengangguk.
“Oke.”
“Kira.”
“Oke.”
Untuk pertama kalinya aku tidak marah.
Aku lelah.
Dan kelelahan itu jauh lebih menakutkan daripada marah.
Aku pulang malam itu dan tidak langsung melepas sandal.
Aku duduk di tepi kasur dengan sandal hitam masih terpakai.
Bodoh.
Tapi aku merasa kalau melepasnya, aku sedang mengakui sesuatu berubah.
Ponselku berbunyi.
Keisha.
Kei: Kak Kira.
Aku langsung membalas.
Aku: Ya?
Lama.
Kei: Maaf.
Aku menutup mata.
Aku: Kamu nggak salah.
Kei: Kak Damar juga nggak jahat.
Tanganku berhenti.
Aku: Aku tahu.
Kei: Itu yang bikin kesel.
Aku tertawa kecil sambil menangis.
Aku: Iya.
Beberapa detik kemudian:
Kei: Jangan pergi gara-gara aku.
Dadaku langsung sakit.
Aku mengetik cepat.
Aku: Dengar. Apa pun yang terjadi sama aku dan Damar bukan salah kamu.
Kei: Tapi semua mulai dari biaya aku.
Aku: Nggak. Semua mulai dari cara Kakakmu takut.
Aku menatap kalimat itu.
Lalu menambah:
Aku: Dan dia lagi berusaha. Cuma sekarang aku juga capek.
Keisha membalas satu hati.
Aku tidak tahu apakah itu membuatku lebih kuat atau lebih sedih.
Besok ketika datang ke rumah, sandal cadanganku masih di depan pintu.
Aku hampir memakai.
Lalu tidak jadi.
Aku tetap dengan sepatu.
Damar memperhatikan.
Aku tahu dia melihat.
Tidak ada yang membahas.
Kami duduk.
Dia bilang membatalkan formulir.
Lalu mengaku mengambil shift tambahan.
Saat itulah sesuatu dalam diriku turun.
Bukan cinta.
Harapan bahwa percakapan kemarin benar-benar masuk cukup dalam.
Aku tidak ingin menghukum Damar karena gagal sekali.
Tapi ini bukan sekali.
Ini pola.
Dan untuk pertama kalinya aku bertanya bukan apakah dia bisa berubah.
Aku tahu dia bisa.
Pertanyaannya: berapa kali aku harus terluka sambil menunggu perubahan itu bertahan?
Itu pertanyaan yang lebih kejam.
Karena tidak punya jawaban yang membuat semua orang bahagia.
Aku melihat sandal hitam dekat pintu.
Keisha pernah membelinya supaya aku punya tempat.
Hari itu aku sadar punya tempat di rumah seseorang tidak selalu berarti punya tempat di keputusan mereka.
Dan aku tidak bisa terus mencintai dari ambang pintu.Aku menarik napas sebelum mengetuk pintu sekali lagi.
Bukan untuk mencari pertengkaran baru.
Aku datang karena masih sayang.
Tapi kali ini aku juga datang membawa satu batas: cinta tidak boleh terus meminta satu orang menunggu di luar keputusan yang menentukan hidup mereka berdua. Sekali.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat reading
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga