Chapter Twenty One
Boleh Aku Serius?
POV — Damar Alvaro
Aku tahu harus mengatakan sesuatu ketika Keisha berhenti mengejek dan mulai bertanya serius.
“Kakak sama Kirana sekarang apa?”
Aku sedang membantu menimbang keripik.
“Teman.”
Keisha menatapku.
“Aku masih SMP waktu ditinggal, bukan lahir kemarin.”
Aku menghela napas.
“Lagi dekat.”
“Dekat itu apa?”
“Kenapa interogasi?”
“Karena aku harus tahu kapan boleh marahin Kakak kalau aneh-aneh.”
Aku tertawa.
Tapi pertanyaannya tinggal.
Aku dan Kirana memang sedang dekat.
Aku mengajaknya makan. Menunggu bus. Mengirim pesan tanpa alasan. Kami pernah mengaitkan jari seperti dua anak yang sama-sama takut menyebutnya pegangan tangan.
Aku tahu aku menyukainya.
Aku tahu Kirana menyukaiku.
Yang belum kulakukan cuma memberi nama.
Dulu nama itu menakutkan karena semua konsekuensi yang kubayangkan.
Sekarang ketidakjelasan justru mulai terasa tidak adil.
Besoknya aku mengajak Kirana ke warung tempat kami biasa makan.
Dia datang membawa dua teh botol.
“Ini suap?”
“Biar kamu nggak kabur.”
Aku menatapnya.
Kirana langsung berhenti tersenyum.
“Maaf.”
“Nggak apa-apa.”
“Aku bercanda.”
“Aku tahu.”
Aku mengambil teh.
Justru aku senang dia cukup nyaman untuk bercanda soal itu.
Kami makan.
Aku tidak tahu kapan waktu terbaik bicara.
Setelah pesan?
Sebelum?
Di tengah?
Akhirnya Kirana yang menyadari.
“Kamu kenapa?”
“Nggak.”
“Bohong.”
Aku meletakkan sendok.
“Kira.”
“Hm?”
“Kalau aku serius, kamu masih mau?”
Dia tidak langsung menjawab.
Jantungku mulai tidak masuk akal.
“Serius apa?”
Aku pantas mendapatkannya.
“Sama kamu.”
Kirana menatapku.
Aku memaksa diri tidak melihat meja.
“Aku nggak bisa janji bakal selalu punya banyak waktu.”
Dia diam.
“Aku masih harus kerja. Keisha masih sekolah. Kadang aku mungkin capek dan nyebelin.”
“Kadang?”
“Kirana.”
“Oke. Lanjut.”
Aku menarik napas.
“Aku juga mungkin masih takut.”
Ekspresinya melunak.
“Tapi aku nggak mau pakai takut itu buat mutusin semuanya sendiri lagi.”
Kirana masih diam.
Aku melanjutkan sebelum keberanian habis.
“Aku suka kamu.”
Akhirnya.
Kalimat sederhana.
Tidak ada petir.
Tidak ada musik.
Hanya Kirana di depanku dengan mata yang perlahan berubah.
“Aku suka waktu kamu ada.”
Aku menelan ludah.
“Dan waktu kamu nggak ada, aku nyari.”
Senyumnya mulai muncul.
“Jadi... kalau aku serius, kamu masih mau?”
Kirana menutup wajah dengan kedua tangan.
Aku panik.
“Kenapa?”
Dia tertawa dari balik tangan.
“Sebentar.”
“Kira.”
“Diam dulu.”
Aku benar-benar diam.
Dia menurunkan tangan. Matanya sedikit berair karena tertawa.
“Aku udah nunggu kamu ngomong dari kapan tahu.”
“Oh.”
“Cuma oh?”
“Aku nggak tahu harus jawab apa.”
“Ya ampun.”
Aku hampir tersenyum.
Kirana menyandarkan siku ke meja.
“Sekarang aku nanya.”
“Hm?”
“Kamu ngajak aku pacaran?”
Aku membeku.
Kalau disebut langsung, kata itu masih punya berat.
Kirana menunggu.
Aku memikirkan semua angka yang dulu muncul setiap kali membayangkan pacaran.
Uang.
Waktu.
Tanggung jawab.
Lalu aku memikirkan dua puluh menit yang ternyata cukup.
Keisha yang menutup daftar pengeluaran dan menyuruhku pergi.
Kirana yang tidak pernah meminta makan mahal.
Pulpen tiga ribuan yang masih disimpan.
“Iya.”
Kirana tersenyum.
“Iya apa?”
Aku tahu dia sengaja.
“Iya. Aku ngajak kamu pacaran.”
“Bagus.”
“Terus?”
“Terus apa?”
“Kirana.”
Dia tertawa.
“Iya, Damar. Aku mau.”
Aku mengembuskan napas yang ternyata kutahan.
Kirana mengulurkan tangan di atas meja.
Telapak menghadap atas.
Aku melihatnya.
“Ini apa?”
“Pacar baru aku lemot.”
Telingaku panas.
Aku meletakkan tangan di atas tangannya.
Jari Kirana langsung menutup.
Pegangan tangan pertama kami sebagai pasangan terjadi di atas meja warung dengan piring bekas nasi dan dua botol teh.
Tidak romantis menurut standar mana pun.
Aku tidak ingin menukarnya.
Kirana menggerakkan ibu jari di punggung tanganku.
Aku langsung sadar setiap sentimeter kulit yang bersentuhan.
“Kamu tegang?”
“Nggak.”
“Bohong.”
“Sedikit.”
“Lucu.”
“Jangan.”
Dia tertawa.
Kami berjalan pulang sambil bergandengan.
Kirana yang memulai lagi setelah keluar warung.
Kali ini aku tidak hanya mengaitkan satu jari.
Aku menggenggam.
Tangannya hangat.
Di halte dia berkata, “Mar.”
“Hm?”
“Sekarang aku boleh kangen?”
“Kemarin juga boleh.”
“Boleh bilang?”
Aku melihatnya.
“Boleh.”
“Boleh manja?”
Aku mulai curiga.
“Definisi manja?”
Kirana tersenyum sangat manis.
“Nanti.”
Aku menyesal memberi izin terlalu cepat.
Busnya datang.
Sebelum naik dia mengangkat tangan kami yang masih bergandengan.
“Lepas.”
“Oh.”
Aku melepaskan.
Kirana tertawa.
“Pacarku pintar.”
“Kirana.”
“Dadah, pacar.”
Dia naik sebelum aku bisa membalas.
Aku berdiri di halte dengan telinga panas.
Ponsel berbunyi bahkan sebelum bus pergi.
Kirana:
PACAR.
Aku:
Aku blokir.
Kirana:
Nggak berani.
Aku tersenyum.
Malamnya aku pulang.
Keisha sedang makan.
Dia melihat wajahku.
“Kak.”
“Hm?”
“Kenapa?”
“Nggak.”
“Jadian?”
Aku berhenti melepas sepatu.
Keisha meletakkan sendok.
“HAH.”
“Pelan.”
“BENERAN?”
Aku menutup pintu.
“Kenapa kamu lebih heboh?”
“Karena Kakak bisa ternyata.”
“Bisa apa?”
“Pacaran.”
Aku menatapnya.
Keisha tertawa.
Lalu ekspresinya berubah serius.
“Dia mau?”
“Iya.”
“Yakin?”
“Iya.”
Keisha mengangguk pelan.
“Bagus.”
Aku duduk di depannya.
“Kamu masih belum setuju?”
Dia mengambil minum.
“Aku belum selesai nilai.”
“Kei.”
“Tapi...” Dia menahan senyum. “Aku nggak keberatan.”
Dari Keisha, itu hampir seperti restu kerajaan.
Ponselku berbunyi.
Kirana.
Udah sampai?
Aku membalas.
Udah.
Keisha memperhatikan.
“Dia?”
“Iya.”
“Balas yang manis.”
“Aku tahu.”
“Kakak nggak tahu.”
Aku mengabaikan.
Aku mengetik:
Udah. Kamu?
Kirana:
Udah juga. Selamat malam, pacar.
Aku menatap layar.
Kemudian mengetik:
Selamat malam, Kira.
Aku hampir mengirim.
Keisha melihat dari seberang.
“Cuma gitu?”
“Apa lagi?”
“Kasih hati kek.”
“Nggak.”
“Kasihan Kak Kirana.”
Aku mengirim sebelum Keisha mengambil ponsel.
Beberapa detik kemudian balasan masuk.
Selamat malam, Mar. Hari ini aku senang banget.
Aku membaca dua kali.
Lalu menjawab sesuatu yang biasanya sulit kutulis.
Aku juga.
Kirana mengirim satu hati.
Aku tidak membalas dengan hati.
Belum.
Tapi aku tidak merasa perlu lari dari simbol kecil itu.
Aku meletakkan ponsel.
Keisha tersenyum.
“Gimana rasanya?”
“Apa?”
“Punya pacar.”
Aku berpikir.
Tidak ada beban mendadak jatuh dari langit.
Tidak ada tagihan baru.
Tidak ada hidup yang berubah total.
Yang ada cuma rasa hangat karena seseorang sekarang punya nama khusus dalam hidupku.
“Biasa.”
Keisha mencibir.
“Bohong.”
Aku tersenyum.
Mungkin.
Untuk pertama kalinya aku memiliki sesuatu yang kupilih bukan karena harus bertahan hidup, bukan karena tanggung jawab, bukan karena seseorang membutuhkan aku.
Aku memilih Kirana karena aku ingin.
Dan ternyata menginginkan sesuatu untuk diriku sendiri tidak membuatku menjadi kakak yang lebih buruk.
Aku masih Damar.
Masih kakaknya Keisha.
Masih mahasiswa yang besok harus kerja.
Hanya sekarang, ketika ponsel berbunyi dan nama Kirana muncul, aku boleh tersenyum tanpa mencari alasan untuk berhenti.
Sebelum tidur Keisha mengetuk pintu kamarku.
“Kak.”
“Hm?”
Dia berdiri di ambang.
“Serius ya.”
“Apa?”
“Sama dia.”
Aku menatap adikku.
Keisha tidak sedang bercanda.
“Iya.”
“Kalau suatu hari susah, jangan langsung mutusin sendiri dia lebih baik tanpa Kakak.”
Kalimat itu terlalu tepat.
Aku tahu dari mana datangnya.
Keisha sudah melihat pola itu jauh sebelum aku sendiri mau mengakuinya.
“Aku bakal coba.”
“Jangan coba.”
Aku hampir protes.
Keisha melanjutkan, “Kalau takut, ngomong. Dia kelihatannya bisa diajak ngomong.”
“Kelihatannya?”
“Aku belum percaya seratus persen.”
Aku tersenyum.
“Berapa?”
“Enam puluh tujuh.”
“Kenapa spesifik?”
“Biar ilmiah.”
Aku tertawa.
Keisha ikut tersenyum lalu berbalik.
Sebelum pergi dia berkata, “Aku senang, Kak.”
Aku terdiam.
“Kenapa?”
Dia mengangkat bahu.
“Jarang lihat Kakak punya sesuatu yang cuma karena Kakak mau.”
Pintu tertutup.
Aku duduk lama.
Kalimat itu membuat bahagia terasa sedikit sakit.
Mungkin karena benar.
Selama bertahun-tahun keinginanku selalu melewati satu pertanyaan: berguna untuk Keisha atau tidak?
Kirana tidak berguna dalam arti itu.
Dia bukan solusi.
Bukan penyelamat.
Bukan kebutuhan rumah.
Dia hanya seseorang yang membuatku ingin melihat besok datang sedikit lebih cepat.
Dan mungkin itu cukup menjadi alasan untuk memilihnya. Malam itu aku tidur dengan ponsel di samping bantal dan satu pikiran sederhana: besok, untuk pertama kalinya, aku akan bertemu Kirana sebagai pacarnya. Dan aku menantikannya sekali. Lagi.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius? reading
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga