← Piring Ketiga

Chapter Twenty Eight

Pacaran Itu Mahal

POV — Kirana Prameswari

Hari itu Damar punya uang sedikit lebih banyak.

Aku tahu bukan karena dia cerita.

Dia mengajakku ke tempat makan yang sedikit lebih bagus dari warung biasa, lalu terlalu lama melihat menu.

“Mar.”

“Hm?”

“Kamu kenapa?”

“Nggak.”

“Bohong.”

Dia menutup menu.

“Aku baru gajian.”

Aku langsung mengerti.

“Terus?”

“Makan yang kamu mau.”

Aku menatapnya.

Damar benar-benar serius.

Aku memilih menu paling biasa.

Dia mengerutkan kening.

“Kenapa itu?”

“Karena aku mau.”

“Kamu nggak perlu—”

Aku menendang ujung sepatunya pelan di bawah meja.

“Jangan mulai.”

Damar diam.

Aku tersenyum.

“Kalau aku mau yang mahal, aku bilang.”

“Ya.”

“Kalau aku mau makan biasa, jangan merasa gagal.”

Dia mengangguk.

Kami makan.

Setelahnya Damar mengajakku berjalan ke toko buku. Aku tidak membeli apa pun. Dia juga.

Kami berhenti di depan toko es krim.

Aku menunjuk.

“Peluk.”

Damar menatap.

“Hubungannya apa sama es krim?”

“Nggak ada.”

“Kirana.”

“Katanya pacaran mahal.”

Itu keluar begitu saja.

Damar berhenti.

Aku langsung ingat kalimat itu pernah menjadi alasan dia menjauh.

Aku hampir minta maaf.

Lalu Damar membuka tangan.

“Bayarnya?”

Aku mendongak.

“Hah?”

“Katanya mahal.”

Aku tertawa.

“Berapa?”

“Satu es krim.”

“Pemerasan.”

“Ya.”

Aku membeli dua es krim murah.

Kami duduk di bangku.

“Jadi sekarang pacaran masih mahal?” tanyaku.

Damar melihat es krim.

“Masih.”

Aku menunggu.

“Cuma ternyata nggak semua harus dibayar pakai uang.”

Aku tersenyum.

“Pintar.”

“Jangan.”

Aku menyandarkan kepala ke bahunya.

Damar mencium puncak kepalaku.

Tidak ada aba-aba.

Aku membeku.

Dia tersenyum.

“Kok diem?”

“Curang.”

Kami tertawa.

Sore itu menjadi salah satu date favoritku.

Bukan karena tempatnya.

Karena Damar mulai bisa bercanda dengan ketakutan yang dulu membuatnya lari.

Belum sembuh.

Tapi tidak lagi menguasai seluruh ruangan.

Malamnya aku mampir ke rumah.

Keisha sedang membuat desain label baru.

“Kak Kira, lihat.”

Aku duduk di sebelahnya.

Damar membuat teh.

Keisha menunjukkan tiga desain.

Aku memilih yang kedua.

“Kenapa?”

“Lebih gampang dibaca.”

Damar dari dapur berkata, “Aku juga pilih itu.”

Keisha langsung mencibir.

“Makanya aku nanya Kak Kira.”

Aku tertawa.

Damar datang membawa tiga gelas.

Dia otomatis memberikan milikku tanpa bertanya.

Aku menerima.

Ada kenyamanan yang semakin tidak terasa seperti sesuatu yang harus diperjuangkan.

Setelah desain selesai, Keisha meregangkan punggung.

“Lapar.”

“Ada telur,” kata Damar.

“Dua.”

Aku melihat kulkas.

Benar.

Dua telur.

Damar langsung berkata, “Aku nggak lapar.”

Keisha menatap.

Aku juga.

Kami bertiga tahu dia bohong.

Keisha mengambil satu telur.

Aku mengambil satu.

Damar mengangkat alis.

Aku berkata, “Kita bikin dua telur jadi tiga porsi.”

“Nggak cukup.”

“Bisa.”

Kami membuat nasi goreng dengan dua telur, sisa sayur, dan keripik remuk sebagai topping karena Keisha bersikeras.

Rasanya aneh.

Tapi enak.

Kami makan bertiga.

Damar mengambil porsi paling sedikit.

Tanpa bicara aku memindahkan satu sendok dari piringku.

Keisha melakukan hal sama.

Damar menatap kami.

“Apaan?”

“Bagi rata,” kata Keisha.

“Aku nggak lapar.”

“Bohong,” jawab kami bersamaan.

Damar menutup mata.

Aku tertawa.

Momen itu sederhana.

Tapi aku melihat sesuatu yang sangat lama di antara kakak-adik itu.

Mereka terbiasa berbohong soal lapar agar yang lain makan.

Sekarang aku ikut masuk ke kebiasaan itu.

Aku tidak ingin mengambil alih.

Aku cuma ingin memastikan Damar juga mendapat bagian.

Setelah makan, Damar mengantarku ke pintu.

“Terima kasih.”

“Buat apa?”

“Nasi.”

“Kei yang masak banyak.”

“Bukan itu.”

Aku tahu.

Aku menyentuh pipinya.

“Mar.”

“Hm?”

“Kalau kita bertiga makan, berarti bagi tiga.”

Dia mengangguk.

“Jangan selalu paling sedikit.”

“Ya.”

“Janji?”

Damar terlihat tidak nyaman dengan kata itu.

Aku mengubah.

“Coba?”

Dia tersenyum kecil.

“Coba.”

Aku mencium pipinya.

“Bagus.”

Saat berjalan ke halte, aku memikirkan kalimat pacaran itu mahal.

Mungkin benar.

Cinta memang punya harga.

Waktu.

Keberanian.

Kompromi.

Kesediaan untuk kecewa lalu bicara lagi.

Tapi Damar dulu mengira semua harga harus dibayar sendiri.

Sekarang kami mulai belajar membagi.

Belum sempurna.

Kadang dia masih mengambil porsi paling sedikit.

Kadang aku masih harus mengingatkan.

Tapi setidaknya meja kami sekarang punya tiga orang yang bisa melihat ketika salah satu mencoba menghilang.

Dan malam itu, dua telur cukup untuk kami bertiga.

Beberapa hari kemudian Damar mengajakku makan lagi.

Kali ini aku yang membayar minum.

Dia tidak protes.

Aku langsung menunjuk.

“Lihat? Kemajuan.”

“Apa?”

“Kamu nggak bilang nanti ganti.”

Damar berhenti.

Sepertinya baru sadar.

“Harusnya?”

“Jangan.”

Aku tertawa.

Kami berjalan ke kampus sambil berbagi payung karena gerimis.

Damar memegang payung lebih condong ke arahku.

Bahu kirinya basah.

Aku menarik gagangnya ke tengah.

“Kamu kena.”

“Nggak apa-apa.”

“Aku juga nggak apa-apa kalau kena sedikit.”

Dia melihatku.

Aku menahan payung di tengah.

Kami sama-sama kena percikan.

Tidak ada yang mati.

Aku tersenyum.

“Bagi rata.”

Damar menggeleng, tapi tidak menggeser lagi.

Mungkin hubungan kami memang akan penuh latihan kecil seperti ini.

Minum dibayar bergantian.

Payung dibagi.

Makanan dibagi tiga.

Waktu dibagi antara kuliah, kerja, Keisha, aku, dan Damar sendiri.

Tidak semuanya harus sempurna.

Yang penting tidak ada satu orang terus berdiri di luar hujan sambil menganggap itu bukti cinta.

Di depan kelas aku berhenti.

“Mar.”

“Hm?”

“Peluk.”

Dia membuka tangan tanpa protes.

Aku masuk.

“Berapa?”

Aku tertawa.

“Sekarang kamu yang nanya terus.”

“Quality control.”

Aku memukul punggungnya pelan.

“Sepuluh.”

Damar berhenti.

“Serius?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku mengencangkan pelukan.

“Karena sekarang kamu nggak kaku.”

Tangannya mengusap punggungku.

“Ya.”

Aku melepaskan.

Damar terlihat sedikit bangga.

Lucu.

Malamnya aku mengirim sertifikat palsu dari aplikasi edit sederhana.

SERTIFIKAT PELUKAN 10/10 — DAMAR ALVARO.

Damar membalas:

Kurang tanda tangan.

Aku:

Besok.

Damar:

Bawa materai.

Aku tertawa.

Kalimat “pacaran itu mahal” sekarang benar-benar menjadi inside joke.

Tapi aku tidak lupa dulu kalimat itu lahir dari ketakutan nyata.

Mungkin karena itu aku tidak ingin menertawakannya terlalu keras.

Aku ingin suatu hari Damar sendiri yang bisa melihat bahwa cinta bukan tagihan yang datang hanya ke satu nama.

Kami membayar bersama.

Kadang aku yang beli minum.

Kadang dia yang menunggu bus.

Kadang Keisha yang menyuruh kami pergi dan mengambil alih packing.

Tidak ada satu orang yang harus habis.

Itulah versi cinta yang ingin kubangun bersamanya.

Ada satu kebiasaan baru setelah itu.

Kalau Damar menerima gaji, dia tidak lagi langsung mengajakku ke tempat yang menurutnya “layak”.

Dia bertanya.

“Mau makan apa?”

Kadang jawabanku ayam geprek.

Kadang bubur.

Kadang aku memang ingin tempat yang sedikit bagus dan kami membicarakan anggaran tanpa drama.

Pertama kali aku bilang ingin restoran yang agak mahal, Damar terdiam.

Aku langsung berkata, “Kita patungan.”

Refleksnya ingin menolak.

Aku mengangkat satu jari.

“Jangan.”

Dia menghela napas.

“Setengah?”

“Setengah.”

Kami pergi dua minggu kemudian setelah sama-sama menyisihkan uang.

Damar terlihat jauh lebih santai.

Tidak ada satu orang mentraktir besar.

Tidak ada rasa harus membalas.

Kami menikmati makanan lalu tertawa karena porsinya ternyata kecil.

“Warung biasa lebih kenyang,” katanya.

“Pengalaman.”

“Pengalaman mahal.”

Aku tertawa.

“Nah, ini baru pacaran mahal.”

Damar ikut tertawa.

Aku suka suara itu.

Ketakutan yang dulu dia ucapkan dengan wajah serius sekarang bisa kami sentuh tanpa membuatnya lari.

Bukan karena masalah uang hilang.

Karena sekarang kami membicarakannya bersama.

Saat pulang, Damar menggenggam tanganku.

“Lain kali warung aja.”

“Setuju.”

“Es krim?”

“Wajib.”

“Pemerasan.”

“Cinta.”

Dia menatapku.

Aku menunggu.

Damar mencium pipiku cepat.

“Ya.”

Aku membeku.

Dia berjalan duluan.

“Mar!”

Aku mengejar sambil tertawa.

Kalau begini terus, suatu hari sniper itu benar-benar akan membunuhku. Aku tidak tahu waktu itu bahwa kemampuan membicarakan harga kecil akan menjadi latihan untuk harga yang jauh lebih besar di masa depan. Untuk saat ini, kami hanya dua mahasiswa yang belajar membagi tagihan, waktu, dan ketakutan tanpa membuat salah satunya selalu menjadi korban. Kami belum tahu caranya sempurna. Tapi kami sudah mulai tahu caranya bersama.