← Piring Ketiga

Chapter Twenty Nine

Tempat untuk Capek

POV — Damar Alvaro

Aku sakit pada minggu ujian.

Bukan sakit besar.

Demam.

Tapi buat orang yang terbiasa mengatur jadwal sampai menit terakhir, demam terasa seperti sabotase.

Aku tetap mencoba bangun.

Keisha mendorong bahuku kembali ke kasur.

“Kak.”

“Aku ada les.”

“Batal.”

“Aku udah janji.”

“Kalau nularin anak orang, lebih bagus?”

Aku diam.

Ponselku berbunyi.

Kirana.

Aku tidak membuka.

Keisha mengambil ponsel.

“Jangan.”

“Aku nggak buka.”

Dia cuma melihat nama.

“Kak Kira.”

“Aku tahu.”

“Kasih tahu.”

“Nggak perlu.”

Keisha menatapku dengan ekspresi yang sudah kukenal.

“Kenapa?”

“Cuma demam.”

“Terus?”

“Nanti dia khawatir.”

“Memang.”

Aku menghela napas.

Keisha mengirim sesuatu dari ponselnya sendiri.

Dua puluh menit kemudian ponselku berbunyi lagi.

Kirana:

Aku ke sana.

Aku langsung duduk.

Keisha mendorong lagi.

“Tidur.”

“Ngapain kamu kasih tahu?”

“Karena aku harus sekolah.”

Aku berhenti.

Hari itu Keisha punya ujian.

“Kei, aku bisa sendiri.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

“Aku nggak mau.”

Kalimat itu membuatku diam.

Kirana datang sebelum Keisha berangkat.

Dia membawa bubur, obat, dan wajah galak.

“Kenapa nggak bilang?”

“Cuma demam.”

“Kalimat laki-laki paling tidak berguna.”

Keisha tertawa sambil memakai sepatu.

“Kak Kira, aku ujian sampai siang.”

“Pergi. Aku jagain.”

Keisha berhenti.

Aku melihat sesuatu lewat di wajahnya.

Ragu.

Bukan karena Kirana tidak mampu.

Karena menyerahkan aku kepada orang lain masih hal baru.

“Kakak gue—”

“Aku tahu.”

“Kalau demam naik—”

“Aku chat.”

“Kalau dia maksa kerja—”

“Aku ikat.”

Aku protes.

Mereka mengabaikan.

Keisha akhirnya mengangguk.

“Ya.”

Pintu tertutup.

Aku dan Kirana sendirian.

“Kamu nggak harus di sini.”

“Aku tahu.”

“Ada kelas?”

“Nanti sore.”

“Kira.”

Dia duduk di tepi kasur.

“Mar.”

“Hm?”

“Sekali-sekali boleh nggak kamu berhenti menentukan apa yang harus orang lain lakukan buat kamu?”

Aku diam.

Kalimat itu masuk terlalu dekat.

Kirana membuka bubur.

“Makan.”

Aku menurut.

Setelah obat, tubuhku makin berat.

Kirana duduk di lantai dekat kasur sambil membuka laptop.

“Kamu bisa pulang.”

“Nggak.”

“Kenapa di lantai?”

“Biar kamu tidur.”

Aku tidak punya energi berdebat.

Aku tertidur.

Ketika bangun, ruangan sudah lebih gelap.

Kirana masih di sana.

Laptop tertutup.

Dia tertidur bersandar ke sisi kasur, kepala di lengannya.

Aku menatap lama.

Tidak ada orang yang pernah menungguku sakit selain Keisha.

Dulu ibu tentu pernah.

Tapi ingatan itu terasa jauh.

Aku menggerakkan tangan pelan dan menyentuh rambut Kirana.

Dia bangun.

“Mar?”

“Hm.”

Dia langsung menyentuh keningku.

“Turun.”

“Jam berapa?”

“Hampir dua.”

“Kelas kamu?”

“Aku izin satu.”

Aku langsung merasa bersalah.

“Kira.”

“Jangan.”

“Kamu bolos gara-gara aku.”

“Aku memilih.”

Aku berhenti.

Dia menatap.

“Aku memilih tinggal.”

Kalimat sederhana.

Dadaku terasa aneh.

Aku ingin mengatakan tidak perlu.

Refleks lama.

Aku menahan.

“Terima kasih.”

Kirana tersenyum.

“Nah.”

Keisha pulang setengah jam kemudian.

Begitu masuk kamar, dia melihat Kirana.

“Kak Kira belum pulang?”

“Belum.”

“Demamnya?”

“Turun.”

Keisha mengembuskan napas.

Lalu dia melihatku.

“Kakak nyusahin?”

“Lumayan,” jawab Kirana.

Aku protes.

Keisha tertawa.

Mereka bicara soal ujiannya.

Aku mendengarkan dari kasur.

Untuk pertama kalinya, saat tidak bisa melakukan apa pun, rumah tidak runtuh.

Keisha tetap ujian.

Kirana tetap bisa menjaga.

Aku tidak dibutuhkan untuk membuat semuanya berjalan.

Aneh bagaimana itu terasa menakutkan dan melegakan.

Sore menjelang malam Kirana hendak pulang.

Aku memanggil.

“Kira.”

Dia menoleh.

Aku membuka tangan.

Kirana datang.

Aku memeluk dari posisi duduk.

Wajahku di perutnya.

Tangannya mengusap rambut.

Aku tidak peduli terlihat lemah.

“Capek?” tanyanya.

“Iya.”

“Tidur lagi.”

Aku mengangguk.

Sebelum lepas, aku berkata pelan, “Makasih udah tinggal.”

Kirana diam sebentar.

Lalu mencium kepalaku.

“Sama-sama.”

Setelah dia pergi, Keisha berdiri di pintu.

“Kak.”

“Hm?”

“Sekarang percaya aku bisa sekolah walau Kakak sakit?”

Aku menatap.

“Iya.”

“Percaya Kak Kira bisa bantu?”

Aku diam sebentar.

“Iya.”

Keisha tersenyum.

“Bagus.”

Aku kembali berbaring.

Demam membuat kepala berat.

Tapi ada sesuatu yang terasa lebih ringan.

Selama bertahun-tahun aku mengira menjadi keluarga berarti menjadi orang yang selalu bisa diandalkan.

Hari itu aku belajar sisi lain.

Keluarga juga tempat kita boleh tidak berguna untuk sementara.

Boleh sakit.

Boleh capek.

Boleh tidur.

Dan ketika bangun, orang-orang yang kita sayang masih ada.

Tidak menuntut pembayaran.

Tidak pergi karena kita gagal berdiri.

Aku memejamkan mata.

Di ruang depan Keisha sedang video call dengan Kirana membahas resep bubur yang ternyata terlalu asin.

Aku tersenyum.

Mungkin aku memang sedang belajar menerima cinta dalam bentuk yang selama ini paling sulit kuterima.

Bukan saat aku memberi.

Saat aku tidak bisa memberi apa-apa.

Besoknya demamku hampir hilang.

Aku bangun dan menemukan bubur di meja.

Keisha sudah sekolah.

Ada catatan kecil.

MAKAN. JANGAN SOK SEHAT.

Tulisan Keisha.

Di bawahnya ada tambahan dengan tinta berbeda.

Obat setelah makan. Aku cek nanti. — K

Aku menyentuh kertas itu.

Dua orang.

Dua cara berbeda memerintah.

Aku tertawa kecil.

Pukul sepuluh Kirana video call.

Wajahnya muncul.

“Cek suhu.”

“Udah turun.”

“Angka.”

Aku mengambil termometer.

“Kamu sama Keisha kompak banget.”

“Bagus.”

Aku menunjukkan.

“Normal.”

“Nah. Makan.”

“Udah.”

“Foto.”

“Kira.”

“Bukti.”

Aku memotret mangkuk kosong.

Dia puas.

Setelah telepon selesai, aku duduk di meja makan.

Rumah sepi.

Tapi bukan sepi yang dulu.

Dulu kalau Keisha sekolah dan aku sakit, rumah terasa seperti tempat yang harus kujaga sendiri.

Sekarang ada pesan yang akan masuk.

Ada orang yang akan mengecek.

Aku tidak tahu kapan tepatnya ketergantungan berhenti terasa seperti kelemahan.

Mungkin belum sepenuhnya.

Tapi setidaknya aku mulai bisa membedakan bergantung dan membebani.

Kirana memilih.

Keisha memilih.

Aku tidak memaksa.

Kalau begitu, mungkin menerima bukan dosa.

Sore Kirana datang sebentar sebelum kelas tambahan.

Dia tidak membawa apa-apa.

Aku suka.

Tidak ada bubur lagi.

Tidak ada hadiah.

Dia cuma duduk sepuluh menit.

“Masih pusing?”

“Nggak.”

“Bagus.”

Aku menggenggam tangannya.

“Kira.”

“Hm?”

“Kemarin kamu izin kelas.”

“Iya.”

“Jangan sering.”

Dia menatapku.

“Aku tahu.”

“Aku nggak mau—”

“Mar.”

Aku berhenti.

“Aku tahu prioritas aku.”

Aku mengangguk.

“Dan kemarin aku pilih satu kelas karena kamu demam. Bukan berhenti kuliah.”

“Ya.”

“Percaya?”

Sulit.

Tapi aku menjawab.

“Percaya.”

Kirana tersenyum.

Dia mencium keningku.

“Pintar.”

Aku tertawa.

Setelah dia pergi, aku tidak merasa berutang.

Hanya bersyukur.

Perbedaannya tipis, tapi penting.

Utang menuntut pembayaran.

Syukur hanya meminta kita menghargai.

Aku ingin belajar yang kedua.

Saat sudah sehat aku kembali bekerja.

Kirana datang menjelang akhir shift.

Aku memberinya latte.

Di permukaan aku mencoba membuat dinosaurus lagi.

Hasilnya masih buruk.

Kirana menatap lama.

“Ini apa?”

“Dinosaurus.”

“Lima tahun evolusi nggak membantu?”

“Baru beberapa bulan.”

Dia tertawa.

Aku baru sadar sudah lama sejak permintaan dinosaurus pertama.

Waktu itu Kirana hanya teman kampus yang terlalu banyak bicara.

Sekarang dia duduk di meja yang sama sebagai pacarku dan tahu letak rumahku, nomor Keisha, nama kucing liar kami, bahkan obat apa yang biasa kuminum kalau demam.

Kedekatan tumbuh diam-diam.

Aku duduk saat break.

Kirana mendorong cangkir ke tengah.

“Mau?”

“Itu punyamu.”

“Berbagi.”

Aku minum satu teguk.

Dia tersenyum.

“Mar.”

“Hm?”

“Waktu kamu sakit kemarin, Kei takut.”

Aku menatap.

“Dia kelihatan galak, tapi takut.”

“Aku tahu.”

“Dia percaya aku jagain kamu.”

Aku diam.

Itu penting.

Mungkin lebih penting daripada yang Kirana tahu.

Keisha tidak mudah menyerahkan sesuatu yang dia cintai.

Aku juga.

“Kira.”

“Hm?”

“Makasih udah bikin dia percaya.”

Kirana menggeleng.

“Aku belum selesai.”

“Apa?”

“Bikin kalian berdua percaya.”

Aku hampir berkata aku sudah.

Tapi tidak.

Kepercayaan bukan sakelar.

Ia kumpulan hari.

Aku mengangguk.

“Pelan aja.”

Kirana tersenyum.

Kalimatku sendiri kembali kepadaku.

Mungkin memang begitu. Saat kembali bekerja, aku merasa hidupku tidak menjadi lebih ringan secara objektif. Jadwal tetap padat. Uang tetap harus dihitung. Tapi sekarang ada tempat untuk capek. Dan mengetahui tempat itu ada membuat banyak hal terasa sedikit lebih mungkin dijalani. Untukku, itu perubahan yang besar sekali.