← Piring Ketiga

Chapter Thirty Seven

Jangan Bawa Aku

POV — Keisha Alvaro

Aku tahu Kak Damar mulai aneh dari jadwalnya.

Dia pulang lebih malam.

Bangun lebih pagi.

Makan sambil membuka laptop.

Kalau ditanya capek, jawabannya selalu sama.

“Biasa.”

Aku benci kata itu.

Kak Kira juga sadar.

Suatu malam dia datang ketika Kak Damar belum pulang.

“Shift?” tanyanya.

Aku menggeleng.

“Les.”

“Bukannya hari ini nggak ada?”

Aku menatap.

Kami sama-sama tahu.

Ada yang berubah.

Kak Damar pulang hampir jam sebelas.

Begitu masuk, dia terlihat kaget melihat Kak Kira.

“Kamu masih di sini?”

Kak Kira berdiri.

“Kamu dari mana?”

“Les.”

“Murid baru?”

Kak Damar berhenti terlalu lama.

Aku langsung tahu.

“Kak.”

Dia melihatku.

“Apa?”

“Kakak nambah les?”

“Cuma satu.”

Kak Kira mengembuskan napas.

“Kenapa nggak bilang?”

“Baru.”

“Sejak kapan?”

“Minggu lalu.”

Sunyi.

Aku merasa sesuatu dingin bergerak di perut.

Minggu lalu.

Biaya praktikumku keluar minggu lalu.

Aku berdiri.

“Karena aku?”

Kak Damar langsung menjawab, “Bukan.”

Bohong.

Aku mengenal kakakku terlalu lama.

“Kak.”

“Kei, ini juga bagus buat tabungan.”

“Karena aku?”

Dia diam.

Aku mulai marah.

“Aku udah bilang jangan.”

“Jangan apa?”

“Begini.”

Aku menunjuk dia.

“Nambah semuanya diam-diam.”

“Aku nggak diam-diam.”

Kak Kira berkata pelan, “Kamu nggak bilang.”

Kak Damar menatapnya.

“Aku bisa handle.”

Kalimat itu membuatku semakin marah.

“Sampai kapan?”

“Kei.”

“Sampai Kakak sakit lagi?”

“Nggak akan.”

“Kakak bisa ramal?”

Suara kami mulai naik.

Kak Kira tidak memotong.

Aku tahu dia sengaja.

Ini antara aku dan kakakku.

“Biaya aku bukan tanggung jawab Kakak sendirian.”

“Aku tahu.”

“Nggak. Kakak nggak tahu.”

Aku masuk kamar lalu mengambil map.

Semua formulir beasiswa.

Catatan biaya.

Rencana yang kami buat bertiga.

Aku meletakkan di meja.

“Ini apa?”

Kak Damar melihat.

“Rencana.”

“Iya.”

Aku menahan air mata.

“Kenapa kita bikin kalau ujungnya Kakak mutusin sendiri?”

Wajahnya berubah.

“Aku cuma nambah satu murid.”

“Sekarang satu.”

Aku tahu pola ini.

Satu murid.

Satu shift.

Satu semester dikurangi.

Satu kesempatan dilepas.

Sedikit demi sedikit sampai hidup Kak Damar tinggal kewajiban.

“Aku bisa jualan lagi lebih banyak.”

“Kamu harus belajar.”

“Aku bisa atur.”

“Kei.”

“Kenapa cuma Kakak yang boleh bilang bisa atur?”

Dia terdiam.

Aku menangis sekarang.

Kesal sekali.

“Aku masuk kuliah karena aku mau jadi dokter hewan. Bukan supaya Kakak berhenti punya hidup.”

“Aku nggak berhenti punya hidup.”

Aku menunjuk Kak Kira.

“Terus dia apa?”

Kak Damar langsung melihat Kirana.

Kak Kira tetap diam, tapi wajahnya terluka.

Aku menyesal membawa dia.

Tapi sudah terlambat.

“Kakak mulai batalin Jumat. Nambah les. Pulang malam. Kapan ketemu dia?”

“Kami bisa atur.”

“Kapan Kakak tidur?”

Tidak ada jawaban.

Aku mengusap wajah.

“Jangan bawa aku.”

Kak Damar mengerutkan kening.

“Apa?”

“Kalau Kakak mau hancurin jadwal sendiri, jangan bilang itu buat aku.”

“Kei—”

“Jangan jadikan aku alasan lagi.”

“Aku cuma mau kamu kuliah.”

Kalimat itu seharusnya terdengar sayang.

Malam itu rasanya seperti beban.

Aku menatap kakakku.

Orang yang membesarkanku sambil tumbuh sendiri.

Orang yang selalu mengambil bagian paling kecil.

Aku mencintainya lebih dari siapa pun.

Justru itu sebabnya aku tidak tahan.

“Aku juga mau Kakak hidup!”

Suaraku pecah.

Kak Damar membeku.

Aku menarik napas yang sakit.

Lalu kalimat yang sudah lama ada di dadaku akhirnya keluar.

“Aku capek jadi alasan Kakak nggak bahagia.”

Sunyi.

Kak Damar terlihat seperti baru dipukul.

Aku langsung ingin menarik kata-katanya.

Tidak.

Dia harus dengar.

“Kei.”

“Aku tahu Kakak sayang aku.”

Aku menangis sambil bicara.

“Aku tahu. Tapi kalau semua sayang Kakak bentuknya ngorbanin diri, aku harus ngapain? Senang?”

Dia tidak menjawab.

Kak Kira akhirnya mendekat.

Bukan ke Kak Damar.

Ke aku.

Dia menggenggam tanganku.

Aku membiarkan.

Kak Damar melihat kami.

Aku tidak ingin dia merasa kami melawannya.

Aku cuma ingin dia mengerti.

“Aku mau kuliah,” kataku lebih pelan.

“Tapi aku mau sampai sana bareng Kakak. Bukan diantar Kakak sampai depan terus Kakak jatuh di jalan.”

Kak Damar menunduk.

Untuk pertama kalinya malam itu, dia tidak membela diri.

Kami tidak menyelesaikan semuanya.

Tidak ada pelukan ajaib.

Aku masuk kamar setelahnya.

Kak Kira tetap di ruang depan.

Aku mendengar suara mereka pelan.

Aku tidak menguping.

Aku menangis di bantal.

Bukan karena marah.

Karena aku tahu kakakku akan memberikan seluruh hidupnya kalau itu bisa membuatku aman.

Dan aku tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa hidupnya adalah salah satu hal yang paling ingin kujaga.

Besok pagi kami sarapan dalam diam.

Kak Damar membuat telur.

Dua.

Dia hampir memberikan satu penuh kepadaku.

Aku mengambil pisau dan membaginya.

Setengah untukku.

Setengah kutaruh di piringnya.

“Kak.”

Dia menatap.

“Makan.”

“Aku nggak—”

“Jangan.”

Kak Damar diam.

Lalu makan.

Tidak ada minta maaf.

Belum.

Aku juga belum siap.

Sebelum berangkat, dia berdiri di pintu kamarku.

“Kei.”

“Hm?”

“Aku denger.”

Aku tidak menoleh.

“Apa?”

“Yang semalam.”

Dadaku kembali sesak.

“Terus?”

“Aku... lagi pikirin.”

Aku akhirnya melihat.

Wajahnya capek.

Tapi tidak defensif.

“Ya.”

Dia mengangguk.

Pergi.

Aku duduk sendiri.

Mungkin itu langkah kecil.

Tapi aku sudah mengenal Kak Damar seumur hidup.

Kalau dia bilang sedang berpikir, biasanya dia benar-benar berpikir.

Aku hanya berharap kali ini dia berpikir tentang dirinya juga.

Bukan cara baru untuk mengorbankan diri dengan lebih rapi.

Malam berikutnya Kak Damar pulang lebih awal.

Aku sedang mengisi formulir beasiswa.

Dia duduk di seberang.

Tidak bicara lama.

Akhirnya dia berkata, “Aku bisa batalin murid baru.”

Aku mengangkat kepala.

“Karena aku marah?”

“Karena aku salah.”

Aku menatapnya.

Ini jarang.

Kak Damar bisa minta maaf.

Tapi mengakui keputusan salah lebih sulit.

“Terus?”

“Aku belum tahu.”

Aku hampir kesal lagi.

Tapi dia melanjutkan.

“Keluarganya udah bergantung jadwal. Aku nggak mau ninggalin mendadak.”

Aku mengerti.

Masalah tidak hilang hanya karena kami bertengkar.

“Oke.”

“Aku bisa selesai sampai ujian mereka, habis itu nggak lanjut.”

Aku berpikir.

“Itu keputusan Kakak?”

“Iya.”

“Bukan karena aku?”

Dia hampir tersenyum.

“Karena aku capek.”

Aku mengangguk.

“Bagus.”

Beberapa detik hening.

“Kak.”

“Hm?”

“Aku juga minta maaf soal Kak Kira.”

Dia melihat.

“Aku nggak seharusnya bawa dia buat nyerang Kakak.”

“Kamu nggak salah soal dia.”

“Aku tetap salah caranya.”

Kak Damar mengangguk.

“Ya.”

Aku melempar penghapus kecil.

“Harusnya bilang nggak apa-apa.”

Dia menangkap.

“Kamu mau jujur atau sopan?”

Aku mendengus.

Setidaknya kami bisa bercanda lagi.

Tapi hubungan kami belum pulih penuh.

Aku masih mengawasi jam.

Dia masih terlalu cepat bilang aku bisa.

Dua hari kemudian aku menerima daftar alat praktikum.

Harga lagi.

Aku hampir menyembunyikan.

Tanganku berhenti.

Kalau aku menyembunyikan karena takut dia bereaksi, aku sedang melakukan versi lain dari kebiasaan yang kubenci.

Aku meletakkan kertas di meja.

“Kak.”

Dia membaca.

Wajahnya berubah sepersekian detik.

Aku langsung berkata, “Jangan jawab sekarang.”

Kak Damar menatap.

“Apa?”

“Kita lihat nanti malam.”

Kita.

Aku sengaja.

Dia mengangguk.

Malam itu Kak Kira datang.

Kami bertiga menghitung.

Tidak menyenangkan.

Tapi tidak ada yang mengambil keputusan diam-diam.

Aku mulai lega.

Mungkin pertengkaran kemarin berguna.

Lalu seminggu kemudian aku menemukan email di laptop Kak Damar yang terbuka.

Bukan sengaja mengintip.

Subjeknya terlihat jelas.

Permohonan pengurangan beban studi.

Aku membeku.

Aku klik.

Formulir belum dikirim.

Tapi sudah diisi.

Alasannya: kebutuhan kerja.

Dadaku langsung dingin.

Kak Damar keluar dari kamar mandi.

Melihat aku.

Lalu layar.

Wajahnya berubah.

“Kei.”

“Apa ini?”

Dia tidak menjawab cepat.

Semua rasa lega minggu itu hilang.

“Katanya selesai murid baru terus nggak lanjut.”

“Iya.”

“Terus ini?”

“Cuma opsi.”

“Kak.”

“Belum dikirim.”

“Kenapa dibuat?”

“Buat jaga-jaga.”

Aku berdiri.

“Kita baru aja ngomong.”

“Aku tahu.”

“Terus Kakak tetap bikin rencana sendiri.”

“Rencana bukan keputusan.”

Aku tertawa pendek.

Pahit.

“Buat Kakak, rencana itu tinggal satu klik.”

Dia diam.

Aku menutup laptop.

“Jangan.”

“Kei.”

“Jangan kirim sebelum ngomong sama aku dan Kak Kira.”

Dia terlihat ingin protes.

Aku menatap.

Akhirnya:

“Ya.”

Aku masuk kamar.

Tanganku gemetar.

Aku tahu Kak Damar berusaha.

Itu justru yang menyakitkan.

Dia benar-benar ingin berubah.

Tapi begitu takut datang, tubuhnya kembali ke jalan lama sebelum pikirannya sempat mengejar.

Aku tidak tahu apakah cinta kami cukup untuk menghentikan kebiasaan yang sudah menyelamatkan kami bertahun-tahun.

Karena itulah masalahnya.

Kebiasaan ini dulu menyelamatkan kami.

Sekarang perlahan mulai melukai.