Chapter Eight
Tidak Kasihan
POV — Kirana Prameswari
Aku baru tahu Damar mengajar les ketika melihatnya berdiri di depan minimarket sambil membawa dua buku matematika SMP.
Sore itu aku baru selesai membeli air mineral. Dia berdiri dekat parkiran, masih memakai kemeja kampus, tas ransel di satu bahu.
“Mar?”
Dia menoleh.
“Kok kamu di sini?”
“Aku yang harus nanya.”
“Kenapa?”
“Kamu kan kerja di kafe.”
“Shift malam.”
“Terus ini?”
Aku menunjuk buku di tangannya.
“Les.”
“Sekarang?”
“Iya.”
Aku berkedip.
“Kamu kuliah, kerja di kafe, terus ngajar les?”
Damar mengangguk seperti aku baru menanyakan apakah langit masih di atas.
“Jam tidurmu kapan?”
“Normal.”
Aku menatap wajahnya.
Ada lingkar tipis di bawah mata.
“Definisi normal kita beda.”
Dia hampir tersenyum.
Sebuah motor berhenti di depan kami. Pengendaranya seorang bapak yang kemudian melambaikan tangan ke Damar.
“Mas Damar, maaf nunggu.”
“Nggak apa-apa, Pak.”
Damar menoleh kepadaku.
“Aku pergi dulu.”
“Oh. Iya.”
Dia berjalan ke motor itu.
Sebelum naik, aku memanggil.
“Mar.”
Dia menoleh.
“Semangat ngajarnya.”
Tatapannya berubah sedikit.
Lebih lembut.
“Makasih.”
Aku melihat motornya pergi.
Aneh.
Aku sudah tahu dia sibuk.
Tetapi melihat sendiri jadwalnya membuat semua potongan terasa lebih nyata.
Pagi kuliah.
Siang kafe.
Sore atau malam les.
Aku tidak tahu kenapa dia melakukan sebanyak itu.
Dan untuk pertama kalinya, aku ingin tahu.
Besoknya kami bertemu lagi di kelas.
Aku tidak langsung bertanya.
Itu bukan hakku.
Kami baru kenal beberapa minggu.
Jadi aku cuma duduk di sebelahnya seperti biasa dan meletakkan satu kotak susu di mejanya.
Damar melihat kotak itu.
“Apa ini?”
“Susu.”
“Aku tahu.”
“Syukurlah. Informatika belum merusak kemampuan identifikasi objekmu.”
“Kenapa buat aku?”
“Aku beli dua.”
Aku menunjukkan kotakku sendiri.
“Minum.”
“Nggak usah.”
“Kalau nggak mau, balikin.”
Dia mendorong kotaknya ke arahku.
Aku langsung mendorong kembali.
“Bercanda.”
Damar menghela napas.
Tapi dia minum.
Aku tersenyum kecil.
Setelah kelas, aku sengaja tidak langsung pulang.
Damar sedang merapikan laptop.
“Les lagi?”
“Nanti.”
“Kafe?”
“Nggak hari ini.”
“Wah.”
Dia menatapku.
“Kenapa wah?”
“Berarti kamu punya waktu kosong.”
“Ada tugas.”
“Romantis sekali.”
“Kenapa romantis?”
“Nggak tahu. Aku cuma mau bikin kamu bingung.”
Berhasil.
Ekspresinya benar-benar bingung.
Aku tertawa.
Kami berjalan ke perpustakaan bersama.
Di tangga, aku akhirnya bertanya, “Mar.”
“Hm?”
“Boleh nanya sesuatu?”
“Tanya aja.”
“Kamu kerja sebanyak itu karena suka sibuk atau karena harus?”
Damar tidak langsung menjawab.
Aku hampir menyesal.
“Kalau nggak mau jawab juga nggak apa-apa.”
Dia memasukkan satu tangan ke saku.
“Harus.”
Aku mengangguk.
Tidak ada pertanyaan kedua.
Tidak ada “kenapa”.
Kami terus berjalan.
Beberapa langkah kemudian justru Damar yang bicara.
“Aku tinggal sama adikku.”
Aku menoleh sedikit.
“Namanya Keisha.”
Aku tahu nama itu.
Pernah dia sebut sekilas.
“Masih sekolah?”
“Iya. Dua tahun di bawahku.”
“Orang tua?”
Langkah Damar melambat.
Aku langsung berkata, “Maaf. Nggak usah jawab.”
Dia diam sebentar.
“Mereka nggak tinggal sama kami.”
Nada suaranya cukup datar untuk membuatku tahu ada cerita di bawahnya.
Aku tidak menyentuhnya.
“Oke.”
Damar menatapku.
“Hm?”
“Kamu nggak nanya lagi.”
“Katanya nggak tinggal.”
“Iya.”
“Berarti kalau suatu hari kamu mau cerita, kamu cerita.”
Dia tidak menjawab.
Kami sampai di pintu perpustakaan.
Aku mengira percakapan selesai.
Ternyata sebelum masuk Damar berkata pelan, “Mereka pergi.”
Aku berhenti.
Dia tidak melihatku.
“Waktu aku SMA.”
Aku tidak tahu jawaban sempurna untuk kalimat seperti itu.
Jadi aku tidak mencari.
“Aku ngerti.”
Dia akhirnya menoleh.
Aku menggeleng kecil.
“Maksudku, aku ngerti kenapa kamu kerja sebanyak itu sekarang. Bukan ngerti rasanya.”
Wajah Damar sedikit berubah.
Mungkin lega.
Mungkin heran.
Aku tidak tahu.
Kami masuk perpustakaan.
Aku memilih tidak membahasnya lagi.
Kami mengerjakan tugas hampir satu jam.
Ketika lapar, aku membuka bekal roti.
Damar masih mengetik.
“Mau?”
“Nggak.”
Aku mematahkan satu bagian dan meletakkannya di depan laptopnya.
“Aku nggak nanya kedua kali.”
Dia menatap roti.
Lalu aku.
“Aku bisa beli makan sendiri.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
“Ini roti. Bukan program bantuan pemerintah.”
Dia menahan sesuatu di wajahnya.
Lalu mengambil roti itu.
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Beberapa menit kemudian aku lupa soal percakapan tadi.
Atau pura-pura lupa.
Kami debat soal struktur tugas.
Damar bilang formatku berantakan.
Aku bilang kreatif.
Dia bilang folder bernama FINAL_BENERAN_FIX_3 bukan sistem.
Aku bilang itu budaya.
Dia hampir tertawa.
Dan justru di situlah aku sadar sesuatu.
Aku tidak ingin memperlakukan Damar seperti cerita sedih.
Aku tidak ingin setiap kali melihatnya, aku melihat pekerjaan, uang, atau orangtua yang pergi.
Aku ingin tetap bisa mengejek nama file-nya.
Tetap bisa minta dinosaurus di kopi.
Tetap bisa duduk di sebelahnya tanpa mengubah suara menjadi pelan hanya karena sekarang aku tahu sedikit tentang hidupnya.
Mungkin itu sebabnya ketika kami keluar dari perpustakaan dan Damar hendak pulang, aku cuma bertanya, “Besok kelas jam sembilan, kan?”
“Iya.”
“Dudukin kursi.”
Dia mengangkat alis.
“Kenapa aku?”
“Karena kamu datang duluan.”
“Kalau aku lupa?”
Aku menatapnya penuh tuduhan.
“Setelah semua yang kita lalui?”
“Kita baru kenal tiga minggu.”
“Tiga minggu yang bermakna.”
Damar akhirnya tersenyum.
“Ya.”
Aku berjalan ke arah halte.
Baru beberapa meter, ponselku berbunyi.
Pesan dari Damar.
Besok aku datang agak telat.
Aku berhenti.
Kenapa?
Ngantar Keisha dulu.
Aku membalas.
Oke. Aku yang dudukin kursi.
Tiga titik.
Buat aku?
Aku menatap layar sambil tersenyum.
Iya. Nilai sentimental tidak tunduk pada kepemilikan kursi.
Balasannya hanya satu kata.
Aneh.
Aku memasukkan ponsel ke tas.
Besoknya aku benar-benar datang lebih dulu.
Aku duduk di tempat kami biasa duduk, menaruh tote bag di kursi sebelah, lalu merasa sedikit konyol karena ternyata menjaga kursi untuk seseorang bisa membuatku lebih sering melihat pintu.
Mahasiswa masuk satu per satu.
Damar belum ada.
Lima menit sebelum kelas, aku melihatnya muncul di koridor.
Dia tidak sendirian.
Seorang gadis berseragam SMA berdiri di sampingnya, memegang helm dan dua bungkus plastik besar. Rambutnya dikuncir tinggi. Wajahnya mirip Damar di bagian mata, hanya ekspresinya jauh lebih hidup.
Keisha, tebakku.
Mereka sedang berdebat.
Aku tidak bisa mendengar semuanya dari dalam kelas, tetapi beberapa potongan masuk.
“Pokoknya pulang jangan lupa.”
“Iya.”
“Jangan iya doang.”
“Kei.”
“Kalau lupa, aku jual laptop Kakak.”
Damar menutup mata sebentar.
Aku harus menahan tawa.
Gadis itu lalu menyodorkan salah satu plastik ke Damar. Damar menolak. Keisha memaksakan. Setelah dua kali dorong, Damar akhirnya menerima.
Sebelum pergi, Keisha merapikan kerah kemeja kakaknya dengan gerakan cepat, hampir kasar.
Damar langsung menepis tangannya.
Keisha tertawa.
Kemudian dia pergi.
Damar masuk kelas.
Aku menggeser tote bag dari kursinya.
“Pagi.”
“Pagi.”
Dia duduk.
“Itu Keisha?”
Damar berhenti membuka laptop.
“Kok tahu?”
“Kamu bilang namanya.”
“Bukan. Maksudku, kok tahu itu dia?”
Aku mengangkat bahu.
“Mirip.”
Damar tampak tidak yakin.
“Di mana?”
“Matanya.”
Dia menatapku seolah sedang memeriksa apakah aku bercanda.
“Dia lebih galak.”
“Aku lihat.”
“Dia juga lebih berisik.”
“Aku dengar.”
Damar menghela napas.
Lalu dia meletakkan plastik yang tadi dipaksa Keisha ke meja.
Isinya dua bungkus keripik dengan label sederhana.
“Kamu mau?”
Aku mengambil satu.
“Ini jualannya Keisha?”
“Iya.”
Aku membaca labelnya. Ada level pedas satu sampai lima.
Yang diberikannya level dua.
“Kenapa bukan lima?”
Damar langsung menjawab, “Karena aku masih mau punya partner tugas.”
Aku tertawa.
“Takut aku mati?”
“Takut tugasnya nggak selesai.”
“Kecewa.”
Aku membuka bungkusnya.
Rasanya enak.
Pedasnya cukup untuk membuatku minum setelah beberapa gigitan, tapi tidak sampai menyiksa.
“Enak.”
“Iya.”
Jawabannya terlalu cepat.
Ada kebanggaan kecil di sana.
Aku menoleh.
Damar sudah melihat layar, tetapi aku bisa membaca satu hal sederhana dari caranya mengatakan iya.
Dia sayang sekali pada adiknya.
Aneh, tapi pengetahuan itu membuat gambaran tentang Damar terasa sedikit lebih utuh.
Bukan lebih menyedihkan.
Justru lebih hangat.
Entah kenapa kata itu terdengar hampir seperti pujian.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan reading
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga