Chapter Fourteen
Pacaran Itu Mahal
POV — Damar Alvaro
Aku pulang lebih cepat malam itu.
Bukan karena shift selesai.
Aku menukar jadwal dengan Rian.
Aku butuh rumah.
Keisha sedang belajar di meja makan saat aku masuk.
Dia menoleh.
“Kok cepat?”
“Ganti shift.”
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
Keisha melihat wajahku lebih lama.
Aku membuka kulkas.
Tidak benar-benar mencari apa pun.
Hanya butuh melakukan sesuatu.
“Kak.”
“Hm?”
“Berantem sama Kirana?”
Aku menutup pintu kulkas.
“Kenapa langsung dia?”
“Karena wajah Kakak cuma begini kalau capek, uang menipis, atau urusan dia.”
“Aku biasa aja.”
“Kalau biasa, Kakak nggak buka kulkas tiga kali dalam dua menit.”
Aku menatapnya.
Keisha menunjuk kursi.
“Duduk.”
“Aku kakaknya.”
“Terus?”
Aku akhirnya duduk.
Keisha menutup buku.
“Kenapa?”
Aku tidak ingin cerita.
Tapi Keisha bukan orang luar.
Dia satu-satunya orang yang selama bertahun-tahun melihat setiap versi burukku.
Aku mengusap wajah.
“Dia nanya kenapa aku menghindar.”
Keisha mengangkat alis.
“Jadi memang menghindar.”
Aku diam.
“Kak Damar.”
“Aku cuma bikin jarak.”
“Itu bahasa sopan dari menghindar.”
Aku tidak membantah.
Keisha menyandarkan punggung ke kursi.
“Kenapa?”
Aku melihat meja.
Ada kalkulator.
Buku biologi.
Kertas catatan.
Di ujung meja ada daftar pengeluaran rumah yang ditulis Keisha.
Listrik.
Gas.
Beras.
Plastik kemasan.
Aku memandang angka-angka itu.
“Pacaran itu mahal, Kei.”
Keisha tidak langsung bercanda.
Dia mengikuti arah pandangku.
“Duit?”
“Bukan cuma.”
“Terus?”
Aku menarik napas.
“Waktu.”
Keisha diam.
“Perhatian. Pergi. Makan. Hadiah. Kalau dia butuh aku, aku harus ada.”
“Dia pernah minta?”
“Belum.”
“Terus?”
“Aku tahu diri sendiri.”
Aku menatap adikku.
“Kalau aku mulai, aku nggak bisa pura-pura setengah.”
Keisha tidak menjawab.
Aku melanjutkan karena sekali terbuka, kata-kata mulai keluar.
“Aku udah punya kuliah. Kafe. Les. Kamu masih sekolah. Uang kita pas.”
“Aku kerja juga.”
“Aku tahu.”
“Jangan ngomong seolah aku cuma makan.”
“Aku nggak bilang begitu.”
“Tapi kadang Kakak mikir begitu.”
Aku menghela napas.
Keisha benar.
Aku tahu dia benar.
Tetap saja.
“Aku nggak mau mulai sesuatu yang nanti bikin orang lain harus ikut susah.”
“Jadi Kak Kira suka Kakak?”
Aku menatap tajam.
Keisha langsung menangkap.
“Oh.”
“Jangan panggil begitu.”
“Belum.”
Aku mendengus.
Keisha tersenyum sebentar, lalu serius lagi.
“Kakak suka dia?”
Aku ingin bilang tidak.
Terlambat.
Wajahku mungkin sudah menjawab.
Keisha menghela napas.
“Parah.”
“Kenapa parah?”
“Karena kalau nggak suka gampang. Tinggal bilang.”
“Aku tahu.”
“Kalau suka terus takut...”
Dia tidak menyelesaikan.
Aku melihat meja.
Keisha mengetuk pensil ke buku.
“Aku ngerti.”
Aku menoleh.
Dia tidak tersenyum sekarang.
“Kalau Kakak memang nggak sanggup, jangan mulai.”
Aku sedikit terkejut.
Kupikir dia akan bilang aku bodoh.
“Kamu setuju?”
“Aku nggak bilang setuju.”
“Terus?”
“Aku bilang ngerti.”
Keisha menatapku lurus.
“Dan kalau Kakak nggak mau, jangan bikin dia berharap.”
Kalimat itu lebih tajam daripada yang kubayangkan.
“Aku nggak niat.”
“Niat nggak selalu penting.”
Aku diam.
Keisha kembali membuka buku.
Percakapan tampaknya selesai.
Aku masih duduk.
Beberapa menit kemudian dia berkata tanpa melihatku, “Tapi satu lagi.”
“Hm?”
“Jangan pakai aku buat alasan.”
Aku menatapnya.
“Maksudnya?”
“Aku tahu hidup kita ribet.”
“Kei—”
“Dengerin dulu.”
Dia meletakkan pensil.
“Aku nggak bilang Kakak harus pacaran. Aku juga belum kenal dia. Bisa aja dia nyebelin.”
Aku hampir tersenyum.
“Tapi jangan bilang semua karena aku.”
“Aku nggak—”
“Kakak sering begitu.”
Keisha menatapku.
“Semua yang Kakak nggak jadi lakuin, ujungnya ‘Keisha masih sekolah’, ‘Keisha butuh ini’, ‘Keisha nanti itu’.”
Aku tidak punya jawaban cepat.
Keisha menunduk lagi.
“Aku cuma nggak mau suatu hari kalau Kakak nyesel, Kakak lihat aku.”
Dadaku terasa berat.
“Kei.”
“Aku tahu Kakak nggak bakal nyalahin aku.”
Dia tersenyum kecil.
“Makanya aku bilang sekarang.”
Aku mengangguk.
Pelan.
“Oke.”
Kami tidak membahas Kirana lagi malam itu.
Tapi setelah Keisha tidur, aku membuka chat.
Pesan terakhir dari Kirana:
Besok aja. Kalau kamu mau ngomong, besok.
Aku membaca berkali-kali.
Aku tahu apa yang harus kukatakan.
Aku cuma tidak tahu bagaimana mengatakannya tanpa terdengar seperti pengecut.
Besok pagi, Kirana sudah ada di kampus.
Dia duduk bersama Sinta.
Bukan di sebelahku.
Aku berdiri di pintu kelas beberapa detik lebih lama.
Kirana melihatku.
Dia tidak tersenyum.
Tidak marah juga.
Hanya menunggu.
Aku masuk.
Duduk di kursi yang berbeda.
Sepanjang kelas aku tidak mendengar setengah materi.
Setelah selesai, Kirana memasukkan buku ke tas.
Aku menghampiri.
“Kira.”
Dia menoleh.
“Bisa sekarang?”
“Iya.”
Kami keluar kelas.
Koridor cukup sepi.
Aku menyandarkan punggung ke dinding.
Kirana berdiri dua langkah di depanku.
Aku harus bicara.
“Aku minta maaf.”
Dia menunggu.
“Aku memang bikin jarak.”
“Kenapa?”
Pertanyaan sederhana.
Jawabannya tidak.
Aku mengusap tengkuk.
“Karena aku rasa... kita mulai terlalu sering bareng.”
Wajah Kirana berubah sedikit.
“Dan itu masalah?”
Aku menelan ludah.
“Buat aku, iya.”
Hening.
Aku hampir menarik kalimat itu kembali.
Tapi kalau aku mundur lagi, aku hanya akan membuat semuanya lebih buruk.
“Aku nggak punya ruang buat hubungan yang lebih dari ini.”
Kirana memandangku lama.
“Lebih dari apa?”
Aku tidak bisa bilang teman.
Karena kami berdua tahu ada sesuatu yang sedang tumbuh.
“Aku nggak tahu.”
“Mar.”
Nada suaranya lembut.
Itu justru lebih menyakitkan.
“Kalau kamu nggak suka aku, bilang.”
Aku langsung menjawab, “Bukan itu.”
Kesalahan.
Mata Kirana berubah.
Aku tahu dia menangkapnya.
“Berarti?”
Aku diam terlalu lama.
Kirana mengembuskan napas.
“Oke.”
“Kira.”
“Nggak apa-apa.”
Tapi jelas ada apa-apa.
Dia menarik tali tas di bahu.
“Kalau kamu butuh jarak, bilang aja.”
Aku ingin mengatakan sesuatu.
Tidak ada yang cukup.
Kirana mengangguk kecil.
“Aku bisa kasih.”
Lalu dia pergi.
Aku berdiri sendiri di koridor.
Aku mendapatkan persis apa yang kupikir kubutuhkan.
Jarak.
Aneh sekali bagaimana sesuatu yang benar di kepala bisa terasa sangat salah begitu benar-benar terjadi.
Setelah percakapan dengan Keisha, aku duduk sendiri di ruang tengah lebih lama.
Keisha sudah kembali belajar.
Aku melihatnya dari samping.
Dua tahun lebih muda.
Tapi kadang dia terdengar jauh lebih dewasa dariku.
Aku bertanya, “Kalau kamu di posisiku?”
Keisha tidak langsung mengangkat kepala.
“Aku?”
“Iya.”
“Kalau ada orang aku suka?”
Aku mengangguk.
Dia berpikir.
“Pertama, aku bakal cek dia waras atau nggak.”
Aku mendengus.
“Serius.”
“Aku juga serius.”
“Kei.”
“Oke.”
Dia menutup buku sebentar.
“Kalau aku suka dan dia juga suka, aku mungkin coba.”
“Meskipun susah?”
“Mungkin.”
“Kenapa?”
Keisha mengangkat bahu.
“Karena susah itu belum tentu salah.”
Kalimat itu membuatku diam.
Dia melanjutkan, “Tapi kalau aku tahu aku bakal bikin dia nunggu terus, terus marah kalau dia butuh sesuatu, ya jangan.”
“Aku nggak akan marah.”
“Aku tahu.”
“Itu bukan masalahnya.”
“Terus?”
Aku melihat daftar pengeluaran lagi.
“Aku takut jadi beban.”
Keisha tertawa kecil tanpa humor.
“Kakak ini lucu.”
“Kenapa?”
“Kakak takut jadi beban, tapi nggak pernah tanya orang lain keberatan atau nggak.”
Aku menatapnya.
Keisha kembali membuka buku.
“Makanya aku bilang, kalau memang mau mundur, mundur yang jelas. Jangan setengah.”
Aku tahu itu nasihat yang benar.
Besok aku berniat melakukannya.
Ternyata mengatakan sesuatu dengan jelas jauh lebih sakit daripada menjauh diam-diam.
Sebelum tidur, Keisha mengetuk pintu kamarku.
Jarang sekali dia mengetuk.
Biasanya langsung masuk.
“Kak.”
“Hm?”
“Kalau besok ngomong sama dia, jangan kasih alasan palsu.”
Aku menatapnya.
“Contohnya?”
“Jangan bilang sibuk kalau masalahnya takut.”
Aku terdiam.
Keisha mengangkat bahu.
“Cewek biasanya lebih kesel dibohongin daripada ditolak.”
“Kamu tahu dari mana?”
“Internet.”
Aku mendengus.
Dia tersenyum.
“Pokoknya jujur.”
Lalu pergi.
Aku duduk sendiri.
Takut.
Kata itu memang lebih dekat ke kebenaran daripada sibuk.
Besok pagi sebelum berangkat, Keisha memberiku satu bungkus keripik.
“Buat makan.”
Aku menerima.
Dia menatapku sejenak.
“Bukan buat Kirana.”
Aku mendengus.
“Aku nggak bilang apa-apa.”
“Makanya aku ingetin.”
Aku memasukkan keripik ke tas.
Saat pintu hampir tertutup, Keisha menambahkan, “Jangan sok kuat.”
Aku menoleh.
Dia sudah kembali ke meja.
Kalimat itu kubawa sampai kampus.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal reading
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga