← Piring Ketiga

Chapter Twelve

Hal-Hal yang Bukan Kebetulan

POV — Damar Alvaro

Kirana mulai lebih sering muncul.

Bukan dalam arti literal.

Dia memang sudah sering muncul sejak awal semester.

Yang berubah adalah caranya.

Pesan tanpa tugas.

Ajakan makan.

Kopi.

Meme.

Pertanyaan yang sebenarnya tidak penting.

Damar, kalau kucing bisa coding, menurutmu mereka pakai bahasa apa?

Aku membaca pesan itu saat break kerja.

Aku membalas:

Scratch.

Balasan datang kurang dari satu menit.

Aku benci karena itu lucu.

Aku tersenyum kecil.

Rian yang sedang makan langsung menatap.

“Cewek dinosaurus?”

Aku memasukkan ponsel ke saku.

“Kenapa kamu obsesif banget?”

“Karena hidup gue sepi.”

“Itu masalahmu.”

“Namanya masih Kirana?”

Aku tidak menjawab.

Rian tertawa.

Masalahnya bukan Rian.

Masalahnya aku mulai sadar sesuatu.

Aku menunggu pesan Kirana.

Tidak sengaja.

Tidak aktif.

Tapi kalau ponsel berbunyi, ada sepersekian detik ketika aku berharap namanya yang muncul.

Kalau dia belum datang ke kelas, aku lihat pintu.

Kalau dia tertawa di ujung koridor, aku bisa mengenali suaranya sebelum melihat wajahnya.

Hal-hal kecil.

Hal-hal yang seharusnya tidak berarti.

Suatu siang, Kirana tidak membawa makan.

Aku tahu karena dia membuka tas dua kali lalu mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Bekal ketinggalan.”

“Beli.”

“Malas antre.”

Aku menatap antrean kantin.

Panjang.

Aku membuka tasku dan mengeluarkan roti yang kubeli pagi.

“Ambil.”

Dia menatap.

“Buat kamu.”

“Aku bisa beli lagi.”

“Kamu nanti kerja.”

Aku berhenti.

Kirana tahu jadwalku.

Tentu saja tahu. Aku sering cerita.

Tapi mendengar dia mengingat tetap terasa aneh.

“Ambil setengah.”

Dia menerima.

Kami membagi roti.

Tidak ada yang istimewa.

Tapi ketika pulang, aku membeli dua roti untuk besok.

Bukan karena Kirana mungkin lupa lagi.

Setidaknya bukan hanya itu.

Di rumah, Keisha sedang memotret kemasan baru keripiknya.

“Kak, pegang ini.”

Dia memberikan satu bungkus.

“Buat apa?”

“Foto tangan.”

“Kenapa tanganku?”

“Tangan aku kecil.”

“Terus?”

“Biar kelihatan produknya besar.”

Aku menatapnya.

“Manipulasi.”

“Marketing.”

Aku memegang bungkus sesuai instruksi.

Setelah selesai, dia melihat dua roti di tasku.

“Banyak amat.”

“Satu buat besok.”

“Satu lagi?”

“Cadangan.”

Keisha menatapku lama.

Aku tahu tatapan itu.

“Jangan.”

“Aku belum ngomong.”

“Bagus.”

Dia mengambil ponsel lagi.

Lima menit kemudian:

“Kirana suka roti?”

Tanganku berhenti.

“Kenapa nanya dia?”

“Cuma nama pertama yang kepikiran.”

“Kenapa harus kepikiran?”

“Karena Kakak kalau bohong telinganya merah.”

Aku refleks menyentuh telinga.

Keisha tertawa keras.

“Sial.”

“Jadi buat dia.”

“Bukan.”

“Setengah buat dia?”

Aku tidak menjawab.

Keisha menyeringai.

Aku menunjuk bungkus keripik.

“Fokus jualan.”

Dia masih tertawa.

Besoknya aku membawa dua roti.

Kirana datang dengan kotak makan lengkap.

Aku melihat tasku.

Bodoh.

Aku hampir menyimpan roti itu sepanjang hari.

Tapi saat kelas selesai, Kirana berkata, “Aku lapar lagi.”

Aku langsung mengeluarkan satu.

Dia terdiam.

“Kok ada?”

“Beli dua.”

“Kenapa?”

“Lapar.”

“Dua?”

“Aku besar.”

Kirana menatapku.

Lalu tersenyum pelan.

“Aku percaya.”

Aku tahu dia tidak percaya.

Dia menerima roti.

Tidak menggoda.

Itu justru lebih buruk.

Sepanjang minggu, aku mulai menemukan pola.

Kirana suka susu cokelat.

Tidak suka kopi terlalu pahit.

Kalau gugup, dia bicara lebih cepat.

Kalau benar-benar capek, dia justru jadi lebih diam.

Kalau sedang kesal, dia memutar pulpen di antara jari.

Aku tahu semua itu tanpa pernah berniat menghafal.

Dan itu mulai menggangguku.

Bukan karena Kirana melakukan kesalahan.

Karena aku tahu bagaimana hal seperti ini bekerja.

Kedekatan punya momentum.

Orang mulai dari hal kecil.

Duduk sebelahan.

Makan.

Chat.

Lalu suatu hari ada sesuatu yang harus diberi nama.

Aku tidak punya ruang untuk nama itu.

Sore Jumat, Kirana menungguku di depan kelas.

“Mar.”

“Hm?”

“Kamu langsung kerja?”

“Nggak. Shift malam.”

“Mau makan dulu?”

Aku hampir menjawab iya.

Kata itu sudah sampai di ujung lidah.

Lalu aku ingat uang di rekening.

Tagihan listrik.

Uang praktikum Keisha bulan depan.

Jadwal les tambahan yang baru kumasukkan.

Bukan soal makan siang satu kali.

Aku bisa membayar satu makan siang.

Masalahnya adalah pola.

Waktu.

Kebiasaan.

Harapan.

“Aku ada urusan.”

Wajah Kirana berubah sedikit.

“Oh.”

“Aku harus ke tempat les.”

“Kukira shift malam.”

“Les dulu.”

“Ya udah.”

Dia tersenyum.

“Lain kali.”

Aku mengangguk.

Aku pergi.

Di halte, aku membuka jadwal.

Lesku baru dua jam lagi.

Aku memang punya urusan.

Tapi tidak mendesak.

Untuk pertama kalinya, aku sadar aku baru saja berbohong kepada Kirana agar tidak makan dengannya.

Dan aku tahu kenapa.

Aku menyukai bagaimana dia ada di sekitarku.

Terlalu menyukai.

Itu masalah.

Malamnya, Kirana mengirim foto kucing oren tidur di atas motor.

Caption:

ini kayak kamu kalau akhirnya tidur cukup.

Aku menatap layar.

Biasanya aku akan balas.

Kali ini aku meletakkan ponsel.

Lima menit.

Sepuluh.

Dua puluh.

Akhirnya aku membalas:

Mirip di mana?

Balasan datang.

Sama-sama jutek.

Aku tersenyum.

Lalu langsung merasa kesal pada diri sendiri.

Keisha keluar dari kamar membawa buku.

“Kak.”

“Hm?”

“Kenapa?”

“Nggak.”

“Wajah Kakak aneh.”

“Biasa.”

Dia berdiri lebih dekat.

Aku menutup chat.

Keisha melihat gerakanku.

Mata menyipit.

“Kirana?”

Aku menghela napas.

“Tidur sana.”

“Belum ngantuk.”

“Belajar.”

“Udah.”

“Jualan.”

“Udah.”

Aku menatapnya.

Dia tersenyum.

“Aku punya banyak waktu.”

Aku justru tidak.

Itu inti masalahnya.

Aku tidak punya banyak waktu.

Tidak punya banyak uang.

Tidak punya ruang untuk sesuatu yang bisa membuatku ingin lebih.

Kirana tidak meminta apa-apa.

Belum.

Tapi mungkin justru itu yang membuatku takut.

Karena aku mulai ingin memberi sebelum diminta.

Dan aku tahu diriku sendiri.

Kalau sudah menganggap seseorang penting, aku tidak tahu cara setengah-setengah.

Aku membuka ponsel lagi.

Kirana mengirim satu pesan baru.

Besok jangan lupa tugas jam 10.

Aku membalas:

Iya.

Hanya itu.

Tidak ada candaan.

Tidak ada pertanyaan balik.

Aku tahu jawabannya pendek.

Aku sengaja.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku mulai berpikir bahwa mungkin aku harus mundur sebelum semuanya bergerak terlalu jauh.

Masalahnya, setelah aku sadar harus mundur, tubuhku tidak otomatis mengikuti keputusan.

Besoknya Kirana datang terlambat.

Aku melihat pintu tiga kali sebelum dia muncul.

Ketika dia akhirnya masuk, rambutnya sedikit berantakan dan napasnya terburu-buru.

“Busnya rusak,” katanya begitu duduk.

Aku hanya mengangguk.

Tapi aku sudah mengambil botol air dari tasku dan mendorongnya ke mejanya sebelum sempat berpikir.

Kirana melihat botol itu.

Lalu aku.

Aku hampir menarik kembali.

“Minum.”

Dia menerimanya.

“Makasih.”

Dua menit kemudian aku kesal pada diri sendiri.

Kalau mau menjauh, ya menjauh.

Bukan menjauh sambil tetap memastikan orangnya tidak kehausan.

Sepulang kelas, aku bahkan menemukan diriku berjalan sedikit lebih lambat karena tahu Kirana ada di belakang.

Aku berhenti di tangga.

Dia menyusul.

“Kenapa?”

“Nggak.”

“Kirain nunggu.”

Aku langsung turun lagi.

“Geer.”

Kirana tertawa.

Sepanjang perjalanan ke halte aku sadar satu hal yang paling tidak kusukai.

Aku bukan sedang menghindari seseorang yang membuatku tidak nyaman.

Aku sedang menghindari seseorang yang membuatku terlalu nyaman.

Itu jauh lebih sulit.

Malamnya aku menghitung pengeluaran rumah.

Angkanya tetap sama.

Uang kuliah tetap harus dibayar.

Keisha tetap butuh biaya sekolah.

Jam kerja tetap terbatas.

Tidak ada satu pun kondisi yang berubah hanya karena aku mulai menyukai seseorang.

Justru itu yang membuat keputusan mundur terasa masuk akal.

Setidaknya di atas kertas.

Masalahnya manusia bukan kertas.

Besoknya aku mencoba membuat aturan untuk diri sendiri.

Tidak menunggu pesan Kirana.

Tidak mencari dia di pintu.

Tidak membeli apa pun dengan alasan cadangan.

Aturan pertama gagal sebelum jam sembilan.

Aturan kedua gagal ketika kelas mulai.

Aturan ketiga gagal saat aku berdiri di minimarket dan tanpa sadar mengambil dua susu cokelat.

Aku menatap dua kotak di tangan.

Mengembalikan satu.

Kasir bahkan tidak peduli.

Aku justru merasa seperti baru memenangkan perang kecil yang sangat bodoh.

Lima menit kemudian aku menyesal mengembalikannya.

Aku akhirnya membeli susu kedua setelah kelas selesai.

Bukan untuk Kirana.

Itu alasan yang kuberikan pada diri sendiri.

Besok paginya susu itu ada di tasku.

Kirana datang, duduk, lalu melihatnya.

“Buat siapa?”

Aku menatap kotak itu.

Kemudian dia.

“Kamu.”

Senyumnya muncul pelan.

Dan seluruh aturan yang kubuat kemarin terasa sia-sia.