← Piring Ketiga

Chapter Twenty Seven

Piring Ketiga

POV — Damar Alvaro

Aku tidak tahu kapan tepatnya Kirana berhenti menjadi tamu.

Tidak ada pengumuman.

Tidak ada keputusan keluarga.

Tidak ada percakapan formal.

Suatu hari dia hanya datang, melepas sandal di tempat biasa, mengambil mug dari lemari, lalu bertanya, “Kei belum pulang?”

Seolah rumah itu punya rutinitas yang sudah dia hafal.

“Sebentar lagi.”

Kirana membuka laptop di meja.

Aku memasak mi karena uang minggu itu agak ketat.

Dia tidak komentar soal menu.

Hanya berdiri dan mengambil tiga mangkuk.

Aku melihat.

“Kok tiga?”

“Kei pulang, kan?”

“Iya.”

“Ya tiga.”

Sederhana.

Keisha datang sepuluh menit kemudian sambil mengeluh tentang tugas sekolah.

“Kak Kira, aku lapar.”

“Mi.”

“Pedas?”

“Damar yang bikin.”

Keisha langsung melihatku.

“Berarti nggak.”

Aku tersinggung.

Kami makan.

Aku duduk di satu sisi meja.

Keisha di depan.

Kirana di sebelahku.

Tiga mangkuk.

Tiga gelas.

Tiga suara.

Aku baru sadar rumah ini dulu selalu terasa dibuat untuk dua orang.

Dua piring paling sering dipakai.

Dua kursi yang punya posisi tetap.

Dua jadwal yang saling menyesuaikan.

Sekarang tanpa ada yang membicarakan, meja kami belajar angka tiga.

Setelah makan Keisha mengambil piring.

Kirana berdiri.

“Aku cuci.”

“Aku aja.”

“Kemarin aku tamu?”

Keisha berhenti.

“Bukan.”

Kata itu keluar cepat.

Aku melihat adikku.

Dia langsung sibuk membawa gelas.

Kirana tersenyum kecil.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Malam itu setelah Keisha masuk kamar, Kirana duduk di sofa sambil menunggu ojek.

Aku duduk di sebelah.

“Capek?”

“Sedikit.”

Dia menyandarkan kepala ke bahu.

Aku menggenggam tangannya.

“Mar.”

“Hm?”

“Kei sekarang manggil aku Kak Kira.”

“Aku tahu.”

“Senang?”

“Lumayan.”

Kirana mencubit lenganku.

Aku tertawa.

“Senang.”

Dia diam.

Aku tahu ada sesuatu.

“Kenapa?”

“Nggak.”

“Kira.”

Dia melihat meja makan.

“Tadi Keisha bilang aku bukan tamu.”

Aku mengikuti tatapannya.

Tiga piring masih ada di rak pengering.

Dadaku terasa hangat.

“Ya.”

“Ya apa?”

“Kamu memang bukan.”

Kirana menoleh.

Aku mengatakan itu tanpa berpikir panjang.

Sekarang setelah keluar, aku tidak ingin menarik.

“Terus aku apa?”

Pertanyaan berbahaya.

Aku menatapnya.

“Pacarku.”

“Cuma?”

Aku tahu dia menggoda.

Tapi ada sesuatu yang lebih dalam.

Aku tidak pandai memberi nama.

Kirana tidak memaksa.

Dia hanya menunggu.

Aku melihat rumah kecil kami.

Kardus keripik.

Kulkas tua.

Hair tie hitam.

Mug yang selalu dipakai Kirana.

Aku berkata, “Orang rumah.”

Kirana diam.

Aku langsung merasa kalimat itu terlalu besar.

“Kira—”

Dia memelukku.

Tiba-tiba.

Kencang.

Aku hampir kehilangan keseimbangan.

“Kenapa?”

“Diam.”

Aku memeluk balik.

Wajahnya tersembunyi di bahuku.

Aku merasakan napasnya.

Beberapa detik kemudian dia mundur.

Matanya sedikit merah.

“Kok nangis?”

“Nggak.”

“Jelas.”

“Terharu.”

Aku tertawa kecil.

“Kayak keripik level lima.”

“Beda.”

Ojeknya datang.

Sebelum pergi, Kirana mencium pipiku cepat.

Aku membeku.

Dia lari ke pintu.

“Kirana.”

“Dadah, orang rumah.”

Pintu tertutup.

Aku menyentuh pipi sendiri.

Keisha tiba-tiba keluar dari kamar.

“Kenapa?”

Aku langsung menurunkan tangan.

“Nggak.”

“Dici—”

“Tidur.”

Dia tertawa dan kembali masuk.

Besoknya aku menemukan satu hal kecil.

Keisha sedang menyiapkan meja makan.

Aku pulang terlambat.

Kirana sudah ada.

Tanpa melihat, Keisha mengambil tiga piring.

Tidak berhenti.

Tidak menghitung.

Tangannya otomatis.

Aku berdiri di ambang dapur cukup lama sampai Kirana sadar.

“Kenapa?”

Aku menggeleng.

“Nggak.”

Aku tidak ingin menjelaskan.

Ada momen yang lebih baik tidak diberi nama.

Kami makan bertiga.

Kirana cerita tentang presentasi.

Keisha mengeluh guru.

Aku mendengarkan.

Di tengah semua suara itu, sesuatu di dalam diriku yang biasanya tegang terasa tenang.

Dulu aku percaya dua orang sudah cukup.

Aku dan Keisha.

Kami membuktikan itu.

Kami bertahan.

Tapi cukup ternyata bukan angka maksimal.

Cukup hanya berarti kami tidak kosong.

Kirana tidak menggantikan siapa pun.

Tidak mengambil tempat Keisha.

Dia hanya datang membawa kursi lain.

Malam itu ketika mencuci piring, aku sengaja mengambil piring ketiga lebih dulu.

Kirana melihat.

“Aku cuci.”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Biar aku.”

Dia bersandar di counter.

“Rajin.”

Aku mencuci.

Tiga piring.

Satu demi satu.

Benda biasa.

Murah.

Tidak ada yang spesial.

Tapi entah kenapa aku ingin mengingat pemandangan itu.

Mungkin karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah kami terasa lebih besar tanpa ukuran ruangan berubah.

Kirana berdiri di belakangku.

Keisha menyanyi jelek dari kamar.

Moka mengeong di pintu belakang.

Aku tertawa sendiri.

“Kok senyum?” tanya Kirana.

“Nggak.”

“Bohong.”

Aku menoleh.

“Senang aja.”

Kirana tersenyum.

Tidak bertanya lagi.

Aku kembali mencuci.

Aku belum tahu masa depan akan seperti apa.

Belum tahu berapa lama fase tenang ini bertahan.

Tapi malam itu aku tidak menghitung risiko.

Tidak menghitung biaya.

Tidak bertanya apa yang mungkin hilang.

Aku cuma melihat tiga piring di rak.

Dan berpikir:

mungkin begini rasanya rumah bertambah tanpa ada yang harus pergi.

Motif piring itu baru benar-benar kusadari beberapa minggu kemudian.

Aku pulang dari kerja membawa tiga potong ayam diskon dari kafe.

Dulu dua potong ayam sudah terasa mewah.

Satu untuk Keisha.

Satu untukku.

Kalau cuma ada satu, biasanya kami berdebat siapa yang sudah makan.

Sekarang aku membawa tiga tanpa berpikir.

Satu untuk Keisha.

Satu untukku.

Satu untuk Kirana yang katanya sedang belajar di rumah kami.

Aku berhenti di depan pintu.

Tiga.

Aku tertawa kecil.

Ketika masuk, Kirana dan Keisha sedang duduk di lantai dengan plastik keripik.

“Kak, lama,” kata Keisha.

“Ada tambahan bersih-bersih.”

Kirana melihat kantong.

“Apa itu?”

“Ayam.”

Mata Keisha langsung hidup.

“Kok tiga?”

Aku mengangkat bahu.

“Kita bertiga.”

Kirana diam.

Aku langsung tahu dia menangkap sesuatu.

Aku pura-pura tidak.

Kami makan.

Keisha mengambil bagian paling besar lalu menyangkal saat dituduh.

Kirana menyelamatkan kulit ayam untukku karena tahu aku suka.

Aku mengambil sambal untuk Keisha.

Tidak ada satu tindakan besar.

Cuma kebiasaan kecil berputar di meja.

Setelah makan, Keisha berkata, “Kak Kira, besok datang nggak?”

Kirana berpikir.

“Kalau nggak ganggu.”

“Bantu foto produk.”

“Bayarannya?”

“Keripik.”

“Eksploitasi.”

“Katanya keluarga membantu.”

Sunyi.

Keisha langsung terlihat ingin menarik kata itu.

Kirana tidak bergerak.

Aku juga.

Wajah adikku memerah.

“Aku maksud—”

Kirana tersenyum.

“Bayar dua bungkus.”

Keisha langsung mengangguk.

“Deal.”

Percakapan lanjut.

Tapi aku menyimpan satu kata itu.

Keluarga.

Keisha mungkin belum bermaksud sepenuhnya.

Atau mungkin justru mulutnya lebih cepat daripada ketakutannya.

Malamnya setelah Kirana pulang aku bertanya.

“Kei.”

“Hm?”

“Tadi.”

“Apa?”

“Keluarga.”

Dia langsung pura-pura fokus ponsel.

“Keceplosan.”

Aku tidak mengejar.

“Ya.”

Beberapa menit kemudian dia berkata pelan, “Kalau dia nggak keberatan.”

Aku menatap adikku.

“Apa?”

“Ya... ada di sini.”

Aku tersenyum.

Keisha langsung menunjuk.

“Jangan lebay.”

“Aku nggak ngomong.”

“Wajah Kakak.”

Aku tertawa.

Besok Kirana datang lagi.

Keisha benar-benar menyiapkan tiga piring tanpa sadar.

Aku menonton dari pintu dapur.

Gerakannya otomatis.

Tidak ada ragu.

Kirana mengambil sendok ketiga.

Aku mengambil tiga gelas.

Semua orang tahu tempat masing-masing.

Mungkin rumah memang dibentuk dari pengulangan.

Orang datang.

Duduk.

Makan.

Pulang.

Lalu datang lagi.

Sampai suatu hari keberadaannya tidak lagi perlu diumumkan.

Aku dulu mengira keluarga adalah orang yang tidak pergi.

Sekarang aku mulai memahami keluarga juga bisa berarti orang yang terus kembali.

Perbedaannya kecil tapi penting.

Keisha tidak memilihku.

Kami lahir sebagai saudara.

Kirana bisa memilih tempat lain.

Tapi dia terus datang.

Aku tidak ingin menjadikan pilihan itu sebagai sesuatu yang wajib.

Justru karena bebas, rasanya lebih berharga.

Malam itu aku mengantar Kirana ke halte.

Dia menggandeng tangan.

“Mar.”

“Hm?”

“Tadi Kei bilang keluarga.”

“Iya.”

“Kamu dengar?”

“Iya.”

Dia diam.

Aku menggenggam lebih erat.

“Kira.”

“Hm?”

“Jangan dibikin beban.”

“Apa?”

“Panggilan itu.”

Aku menatapnya.

“Keisha butuh waktu.”

“Aku tahu.”

“Aku juga.”

Kirana mengangguk.

“Aku nggak buru-buru.”

Aku tersenyum.

Itulah alasan dia bisa sampai sejauh ini.

Dia tidak pernah menuntut kursi.

Dia hanya terus datang sampai kami sendiri yang menyiapkannya.

Bus datang.

Sebelum naik, Kirana mencium pipiku.

“Dadah, orang rumah.”

Aku menahan tangannya sebentar.

“Kira.”

Dia menoleh.

“Besok datang?”

Kirana tersenyum.

“Datang.”

Aku melepas.

Satu kata.

Tapi rasanya seperti jawaban untuk ketakutan yang bahkan belum kutanyakan.