← Piring Ketiga

Chapter Seven

Dinosaurus di Atas Kopi

POV — Damar Alvaro

Kirana datang ke kafe pada hari Kamis.

Aku tahu karena ketika sedang membersihkan mesin espresso, suara yang terlalu kukenal muncul dari arah kasir.

“Mas, satu latte. Bisa gambar dinosaurus?”

Tanganku berhenti.

Rian, teman shift-ku, menoleh ke arahku.

“Temen lo?”

“Nggak.”

“Dia lihat lo.”

Aku ikut menoleh.

Kirana berdiri di depan kasir dengan tote bag yang sama seperti hari pertama. Begitu mata kami bertemu, dia mengangkat tangan kecil-kecil.

Aku menghela napas.

Rian menyeringai.

“Bukan temen, katanya.”

Aku pura-pura tidak dengar.

Pesanannya masuk.

Latte panas.

Nama pelanggan: Kirana.

Catatan dari kasir: dinosaurus kalau bisa.

Aku menatap layar pesanan.

Rian sudah tertawa.

“Gambar, Mar.”

“Kerja sana.”

“Ini kerja.”

“Aku bikin latte.”

“Dinosaurus.”

Aku mengambil pitcher.

Aku memang bisa membuat beberapa pola sederhana. Hati. Tulip. Rosetta kalau susu dan tanganku sedang bekerja sama.

Dinosaurus bukan bagian dari pelatihan.

Aku mencoba juga.

Hasilnya lebih mirip bebek yang mengalami kecelakaan.

Aku meletakkan cangkir di counter.

“Kirana.”

Dia datang dengan ekspresi penuh harapan.

Lalu melihat permukaan kopi.

Hening.

“Apa ini?”

“Dinosaurus.”

“Ini kayak ayam habis ditabrak.”

“Kalau nggak suka, jangan diminum.”

Dia langsung menarik cangkir mendekat.

“Siapa bilang nggak suka? Ini karya seni.”

“Karya seni buruk.”

“Nilai seni itu subjektif.”

Aku memandangnya.

Kalimat yang sama seperti soal pulpen.

Kirana tersenyum.

“Mejaku sana.”

Dia menunjuk meja dekat jendela.

Baru sekarang aku melihat laptop dan beberapa buku di sana.

“Kamu ngapain di sini?”

“Nugas.”

“Banyak kafe lain.”

“Iya.”

“Terus?”

“Aku mau lihat dinosaurus.”

Aku tidak punya jawaban.

Rian berdeham keras dari belakang.

Aku kembali bekerja.

Kirana tinggal hampir dua jam.

Dia tidak mengganggu.

Itu justru bagian yang tidak kuduga.

Kupikir dia akan memanggil setiap kali lewat atau sengaja mencari topik. Ternyata dia benar-benar mengerjakan tugas. Sesekali membuka ponsel. Sesekali mengernyit ke layar.

Aku hampir lupa dia ada sampai waktu break datang.

Aku mengambil air dan duduk di meja pegawai belakang.

Ponselku menunjukkan tiga pesan dari Keisha.

Kak, pulang beli minyak.

Sama plastik ukuran kecil.

JANGAN LUPA.

Aku membalas.

Iya.

Kemudian pesan lain masuk.

Dari Kirana.

Lattenya enak.

Aku menoleh ke ruang depan.

Dari tempatku duduk, meja dekat jendela terlihat sedikit. Kirana sedang mengetik.

Aku membalas.

Dinosaurusnya?

Beberapa detik.

Dia mengetik.

Punya karakter.

Aku mendengus kecil.

Rian yang duduk berseberangan langsung melihat.

“Cewek dinosaurus?”

“Minum.”

“Namanya siapa?”

“Kenapa semua orang perlu tahu nama orang?”

“Karena manusia hidup bermasyarakat.”

Aku membuka botol air.

“Kirana.”

“Pacar?”

“Teman kampus.”

“Calon?”

Aku menatapnya.

Rian tertawa. “Santai.”

Aku tidak merasa tidak santai.

Cuma malas.

Setelah break selesai, aku kembali ke depan. Kafe mulai lebih ramai.

Kirana masih di sana.

Setengah jam kemudian seorang pelanggan menjatuhkan gelas. Aku membantu membersihkan. Setelah itu ada antrean panjang. Lalu mesin kasir sempat bermasalah.

Ketika akhirnya aku punya waktu melihat ke meja jendela, Kirana sudah berdiri dan memasukkan laptop ke tas.

Dia datang ke counter.

“Mar.”

“Hm?”

“Aku pulang.”

“Iya.”

“Reaksi yang sangat emosional.”

“Mau aku nangis?”

“Boleh.”

Aku hampir tersenyum.

Dia mengeluarkan ponsel. “Tugas kita udah aku upload ke folder. Tinggal cek.”

“Nanti aku cek.”

“Besok aja.”

“Aku bisa malam ini.”

Kirana menatapku sebentar.

“Besok.”

Nada suaranya tidak bercanda.

Aku mengangguk.

“Ya.”

Dia baru hendak pergi ketika melihat toples tip di dekat kasir.

Tangannya masuk ke dompet.

Aku langsung berkata, “Nggak usah.”

Dia berhenti.

“Kenapa?”

“Nggak perlu.”

“Ini tip.”

“Kopinya biasa.”

“Dinosaurusnya premium.”

“Kirana.”

Dia memasukkan uang ke toples.

“Bukan buat kamu doang. Buat semua yang kerja.”

Aku tidak bisa protes.

Dia mengangkat dagu sedikit, puas.

“Dadah.”

“Dadah.”

Setelah pintu tertutup, Rian muncul di sebelahku.

“Teman kampus.”

“Diam.”

“Dia lucu.”

Aku mengambil lap.

“Kerja.”

Ada satu hal lain yang kuingat dari kunjungannya, meski baru kusadari malam itu.

Sekitar satu jam setelah Kirana datang, seorang ibu tua duduk di meja sebelahnya. Kursinya terlalu dekat dengan meja sehingga sulit ditarik. Sebelum aku sempat keluar dari belakang counter, Kirana sudah berdiri dan membantu menggesernya.

Tidak heboh.

Tidak ada senyum besar yang meminta dilihat.

Setelah itu dia kembali duduk dan melanjutkan tugas.

Ketika selesai minum, dia membawa cangkir kosongnya sendiri ke area pengembalian tray, walau sebenarnya pelanggan tidak wajib.

Hal kecil.

Sangat kecil sampai seharusnya tidak penting.

Tapi aku mengingatnya.

Mungkin karena aku bekerja di tempat seperti itu cukup lama untuk tahu siapa yang memperlakukan pegawai seolah kami bagian dari furnitur dan siapa yang tetap bilang terima kasih meski sedang terburu-buru.

Kirana termasuk jenis kedua.

Saat dia hendak pulang tadi, bahkan sebelum bicara denganku, dia sempat mengangguk pada Mbak Sari di kasir dan berkata, “Makasih, Mbak.”

Mbak Sari kemudian bertanya, “Temen kampus kamu?”

Aku menjawab iya.

Dia cuma berkata, “Ramah.”

Entah kenapa komentar sesederhana itu ikut tinggal di kepalaku.

Aku tidak suka menilai orang terlalu cepat.

Orang bisa kelihatan baik sekali dua kali.

Tapi untuk pertama kalinya aku merasa mungkin Kirana memang seperti itu saat tidak sedang berusaha membuat siapa pun terkesan.

Malamnya aku pulang membawa minyak, plastik ukuran kecil, dan dua roti sisa.

Keisha sedang menimbang keripik.

Begitu aku masuk, dia menunjuk meja.

“Minyak?”

Aku angkat kantong.

“Plastik?”

Kantong kedua.

“Bagus.”

“Aku boleh masuk rumah sekarang?”

“Boleh.”

Aku meletakkan semuanya di dapur.

Ketika kembali, Keisha menatapku.

“Apa?”

“Baju Kakak bau kopi.”

“Aku kerja di kafe.”

“Aku cuma bilang.”

“Terus?”

“Nggak ada.”

Dia terlalu santai.

Aku duduk dan mulai membantu menyegel plastik.

Lima menit.

Keisha bertahan lima menit sebelum menyerang.

“Kirana pernah ke kafe?”

Tanganku berhenti sepersekian detik.

“Kenapa?”

“Nanya.”

“Pernah.”

“Hari ini?”

Aku menoleh tajam.

“Dari mana kamu tahu?”

Keisha tertawa.

“Jadi hari ini.”

Aku baru sadar jebakannya.

“Licik.”

“Terima kasih.”

“Dia nugas.”

“Di semua kafe se-kota, milih tempat Kakak kerja?”

“Katanya mau lihat dinosaurus.”

Keisha berhenti menyegel.

“Apa?”

Aku menjelaskan singkat.

Semakin lama aku bicara, semakin lebar senyumnya.

“Jangan.”

“Aku belum ngomong.”

“Mukamu ngomong.”

“Kak Damar bikin latte dinosaurus buat cewek.”

“Buat pelanggan.”

“Namanya Kirana.”

“Pelanggan namanya Kirana.”

Keisha tertawa sampai batuk.

Aku mengambil plastik baru.

“Kalau terus ketawa, keripiknya aku makan.”

Dia langsung melindungi wadah.

“Jangan sentuh inventaris.”

Kami kembali bekerja.

Tapi beberapa menit kemudian Keisha berkata lebih pelan, “Dia baik?”

Aku tahu pertanyaan itu berbeda.

Aku memikirkan Kirana yang datang tanpa membuat wajah kasihan. Yang tidak bertanya kenapa aku harus kerja. Yang menyuruhku mengecek tugas besok tanpa menjadikannya percakapan serius.

“Iya.”

Keisha mengangguk.

Tidak komentar lagi.

Aku juga tidak.

Setelah semua pesanan selesai, aku membuka laptop.

Tugas kami sudah rapi.

Kirana membuat folder dengan nama yang absurd.

TUGAS YANG TIDAK MEMBUNUH KITA.

Aku mengganti satu file yang salah format, lalu mengirim pesan.

Udah aku cek. Aman.

Balasan datang satu menit kemudian.

Kamu baru pulang?

Iya.

Kan aku bilang besok.

Cuma cek.

Kepala batu.

Aku menatap pesan itu.

Biasanya kalau orang terlalu banyak mencampuri jadwalku, aku terganggu.

Tapi kalimat Kirana tidak terasa seperti perintah.

Lebih seperti seseorang yang sadar aku capek.

Itu justru membuatku sedikit tidak nyaman.

Bukan karena salah.

Karena aku tidak terbiasa.

Aku mengetik.

Makasih tadi udah upload.

Balasannya:

Sama-sama, Barista Dinosaurus.

Aku menggeleng.

Lalu tanpa sadar membuka foto yang dikirimnya.

Kirana ternyata memotret latte tadi.

Gambar dinosaurus jelek itu memenuhi layar.

Di bawahnya ada caption kecil:

limited edition.

Aku menyimpan foto itu ke galeri sebelum sempat berpikir kenapa.

Aku menutup galeri.

Lima detik kemudian kubuka lagi.

Foto itu tetap jelek.

Entah kenapa aku masih tersenyum.

Dari kamar, Keisha berteriak, “Kak, kalau senyum sendiri jangan serem-serem!”

Aku langsung mengunci ponsel.

“Tidur!”

Tawanya terdengar dari balik pintu.

Aku memutuskan besok tidak akan menceritakan apa pun lagi kepada adikku.