← Piring Ketiga

Chapter Forty One

Membiarkan Pergi

POV — Damar Alvaro

Aku tahu Kirana akan pergi sebelum dia mengatakannya.

Bukan pergi ke kota trainee.

Belum.

Pergi dari hubungan kami.

Cara dia duduk berbeda.

Tidak ada tas diletakkan sembarangan.

Tidak ada sandal hitam dipakai.

Dia datang dengan sepatu tetap di kaki sampai Keisha menyuruh masuk.

“Kak Kira.”

Kirana tersenyum pada Keisha.

“Kei.”

Keisha langsung tahu.

Aku melihat wajah adikku berubah.

“Kalian ngomong aja.”

Dia masuk kamar.

Pintu tidak ditutup penuh.

Aku dan Kirana duduk.

Tiga piring tidak ada.

Belum waktu makan.

Syukurlah.

Aku tidak sanggup melihatnya sekarang.

“Kira.”

“Hm?”

“Aku batalin shift.”

Dia menatap.

“Yang tambahan.”

“Kenapa?”

“Karena kamu benar.”

Tidak ada lega di wajahnya.

Aku panik.

“Aku juga bakal bahas pinjaman sama Kei. Bukan larang.”

Kirana mengangguk.

“Bagus.”

“Terus?”

Dia menatapku lama.

Aku tahu jawaban dari diamnya.

Dadaku mulai sakit.

“Kita bisa perbaiki.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

Kirana mengusap tangannya sendiri.

“Aku capek, Mar.”

Aku diam.

“Aku bukan capek sayang.”

Kalimat itu justru membuat lebih sakit.

“Aku capek harus nunggu sampai kamu hampir kehilangan sesuatu dulu baru kamu percaya.”

“Aku bisa berubah.”

“Kamu sudah berubah.”

Aku membeku.

“Banyak.”

Kirana tersenyum sedih.

“Damar yang dulu nggak akan batalin shift.”

Aku menelan ludah.

“Terus kenapa?”

“Karena aku nggak mau hubungan kita jadi alarm kebakaran.”

Aku tidak mengerti.

“Kita selalu harus hampir terbakar dulu baru kamu berhenti.”

Aku menunduk.

“Aku bisa lebih baik.”

“Aku percaya.”

“Kalau percaya, tinggal.”

Keluar begitu saja.

Memalukan.

Putus asa.

Kirana menutup mata.

“Aku pengin.”

Aku langsung melihat.

Dia menangis.

“Aku pengin banget.”

Aku ingin memeluk.

Tidak berani.

“Tapi aku dapat program itu.”

“Aku tahu.”

“Aku akan pergi beberapa bulan lagi.”

“Kita long distance.”

“Bisa.”

“Ya.”

“Kita bisa.”

Aku meraih tangannya.

Kirana membiarkan.

Harapan menyala terlalu cepat.

Lalu dia berkata, “Tapi aku nggak bisa pergi sambil terus takut kamu akan menghancurkan hidupmu sendiri setiap ada masalah di sini.”

Aku menggenggam lebih kuat.

“Aku nggak akan.”

Kirana melihat tanganku.

“Mar.”

Aku tahu.

Janji itu terlalu besar.

Aku melepas sedikit.

“Aku akan coba.”

“Aku tahu.”

“Terus kasih aku kesempatan.”

Dia menangis diam.

Aku juga mulai.

Konyol.

Aku jarang menangis.

Sekarang tidak bisa berhenti.

“Kira.”

“Hm?”

“Aku sayang kamu.”

“Aku tahu.”

“Aku bisa belajar.”

“Aku tahu.”

“Kei juga butuh kamu.”

Begitu kalimat itu keluar, aku langsung menyesal.

Kirana membeku.

Aku menggunakan Keisha.

Lagi.

“Kira, maaf.”

Dia mengangguk sambil menangis.

“Nah.”

“Aku panik.”

“Aku tahu.”

Aku menutup wajah.

Aku benci diriku sendiri.

Kirana pindah duduk lebih dekat.

Untuk sesaat kupikir dia akan memeluk.

Dia hanya duduk.

“Mar.”

“Hm?”

“Aku nggak pergi karena aku berhenti sayang sama kamu.”

Aku menurunkan tangan.

Wajahnya kabur karena air mata.

“Aku pergi karena kamu nggak pernah benar-benar membiarkan aku tinggal.”

Kalimat itu masuk pelan.

Lebih sakit karena aku langsung mengerti.

Semua sandal.

Mug.

Tiga piring.

Orang rumah.

Semua kata yang kuberikan.

Tapi ketika takut datang, pintu pertama yang kututup selalu pintu menuju diriku sendiri.

Kirana boleh tinggal di rumah.

Tidak di keputusan.

Tidak di beban.

Tidak di bagian paling gelap.

Aku mengusap wajah.

“Maaf.”

Dia menangis lebih keras.

Aku akhirnya memeluk.

Kirana langsung membalas.

Pelukan itu tidak seperti biasanya.

Tidak ada nilai.

Tidak ada godaan.

Tidak ada janji besok.

Aku memeluk seolah tubuh bisa mengingat untuk nanti.

“Kira.”

“Hm?”

“Jangan.”

Suaraku pecah.

Dia mengencangkan tangan.

“Aku harus.”

“Kenapa harus sekarang?”

“Karena kalau nggak, aku akan terus tinggal sampai marah berubah jadi benci.”

Aku langsung diam.

Aku tidak ingin itu.

Aku lebih takut Kirana membenciku daripada kehilangan dia.

Ironis.

Mungkin itulah alasan aku selalu melepaskan duluan.

“Kapan?”

“Apa?”

“Program.”

“Tiga bulan lagi.”

“Berarti kita masih bisa—”

Aku berhenti sendiri.

Jangan tawar waktu.

Kirana tahu.

Dia mengusap punggungku.

“Aku masih di kota ini.”

“Ya.”

“Aku nggak akan hilang.”

Aku tertawa pahit.

“Kayak teman?”

Dia menangis lagi.

“Aku belum tahu.”

Aku mengangguk.

Kami melepaskan.

Tanganku dingin.

Kirana mengambil tas.

Keisha keluar kamar.

Matanya merah.

“Kak Kira.”

Kirana langsung memeluknya.

Keisha menangis di bahunya.

Aku berdiri beberapa langkah.

Tidak ikut.

Mereka punya perpisahan sendiri.

“Jangan ilang,” bisik Keisha.

Kirana mengusap rambutnya.

“Aku nggak ilang.”

“Chat aku.”

“Iya.”

“Beneran.”

“Iya.”

Keisha semakin menangis.

Aku menatap lantai.

Inilah harga yang tidak pernah kuhitung.

Bukan cuma aku kehilangan pacar.

Keisha kehilangan kakak yang dipilihnya sendiri.

Ketika Kirana akhirnya berdiri di pintu, dia melihat sandal hitam.

Lama.

Lalu melepas sepatu dan memakai sandal itu.

Aku bingung.

“Kira?”

“Sepatuku lecet.”

Kalimat biasa.

Aku hampir tertawa karena sakit.

Tentu.

Bahkan perpisahan kami masih punya urusan sandal.

Dia membawa sepatu dengan tangan.

Sebelum keluar, dia melihatku.

“Mar.”

“Hm?”

“Jangan berhenti kuliah.”

Aku mengangguk.

“Jangan bikin Kei merasa bersalah.”

Aku mengangguk lagi.

“Dan jangan kerja sampai sakit.”

Aku tertawa kecil sambil menangis.

“Kamu masih ngatur.”

“Terakhir.”

Aku ingin bilang jangan terakhir.

Tidak keluar.

Aku cuma berkata, “Ya.”

Kirana berjalan.

Aku tidak mengejar.

Inilah bagian terburuk.

Aku bisa mengejar.

Bisa memeluk dari belakang.

Bisa memohon.

Tapi ada sesuatu dalam diriku yang masih berkata kalau aku benar-benar mencintainya, biarkan dia mengambil kesempatan hidup yang lebih luas tanpa membawa beban seorang laki-laki yang belum selesai dengan dirinya sendiri.

Kirana menoleh sekali di ujung jalan.

Aku mengangkat tangan.

Dia membalas.

Lalu pergi.

Keisha berdiri di sampingku.

Kami diam lama.

“Kak.”

“Hm?”

“Kenapa nggak kejar?”

Aku menatap jalan kosong.

“Karena dia harus pergi.”

Keisha langsung menangis lagi.

“Bukan itu yang dia bilang.”

Aku tahu.

Tapi saat itu aku belum sanggup mengakui satu kebenaran sederhana.

Membiarkan seseorang pergi bukan selalu bentuk cinta.

Kadang cuma cara paling elegan untuk tetap takut meminta mereka tinggal.

Malamnya aku duduk di meja.

Keisha tidak makan.

Aku juga.

Di rak ada tiga piring bersih.

Aku mengambil dua.

Tanganku berhenti di piring ketiga.

Tidak.

Belum.

Aku mengembalikannya.

Bukan Keisha yang melakukan itu.

Aku.

Dan bunyi keramik menyentuh rak terdengar lebih keras daripada seharusnya.

Ponselku berbunyi.

Nama Kirana.

Jantungku langsung naik.

Kira: Aku udah sampai.

Rutinitas lama.

Aku menatap layar sampai buram.

Lalu membalas.

Aku: Ya. Istirahat.

Aku hampir mengetik aku sayang kamu.

Hampir mengetik jangan pergi.

Hampir mengetik balik.

Tidak ada yang kukirim.

Tiga titik tidak muncul lagi.

Rumah sunyi.

Untuk pertama kalinya sejak lama, dua piring terasa terlalu sedikit.

Setelah Kirana pergi, Keisha tidak bicara kepadaku hampir satu jam.

Dia duduk di lantai ruang tengah.

Aku di meja.

Ponsel kami sama-sama diam.

Akhirnya Keisha berkata, “Kak.”

“Hm?”

“Aku marah.”

“Ya.”

“Tapi aku juga tahu Kakak sakit.”

Aku menatapnya.

“Aku nggak sakit.”

“Maksudku bukan demam.”

Aku tertawa kecil.

Tidak lucu.

Keisha memeluk lutut.

“Kak Kira pergi bukan karena aku, kan?”

Pertanyaan itu menghancurkanku.

Aku langsung berdiri dan duduk di depannya.

“Bukan.”

“Yakin?”

“Bukan, Kei.”

Aku memegang bahunya.

“Jangan pernah pikir itu.”

Dia menangis lagi.

“Terus kenapa rasanya semua gara-gara kuliah aku?”

“Karena aku yang salah cara.”

Aku mengucapkannya.

Penuh.

Tanpa alasan.

“Aku.”

Keisha menatap.

Aku melanjutkan.

“Aku takut. Terus aku bikin semua keputusan sendiri.”

Air mata akhirnya jatuh lagi.

“Aku pikir kalau aku bisa nutup semua angka, semua orang aman.”

“Terus Kak Kira?”

Aku menutup mata.

“Aku lupa aman bukan berarti dicintai dengan benar.”

Keisha langsung memeluk.

Aku memeluk balik.

Kami menangis berdua seperti bertahun-tahun lalu.

Bedanya dulu kami menangis karena ditinggalkan.

Sekarang karena aku sendiri yang membuat seseorang pergi.

Malam makin larut.

Keisha akhirnya makan sedikit.

Aku tidak.

Sebelum tidur dia berhenti di pintu kamarku.

“Kak.”

“Hm?”

“Besok jangan bolos kuliah.”

Aku hampir tersenyum.

“Ya.”

“Dan shift tambahan batalin.”

“Udah.”

“Beneran?”

Aku menunjukkan pesan pembatalan.

Keisha membaca.

Mengangguk.

“Bagus.”

Dia pergi.

Aku berbaring tanpa tidur.

Ponsel di tangan.

Chat Kirana terbuka.

Begitu banyak pesan lama.

Dinosaurus.

Susu.

Peluk.

Kucing coding.

Selamat malam, pacar.

Aku menggulir sampai awal.

Pulpen tiga ribuan.

Nilai sentimental tidak tunduk pada harga pasar.

Aku menutup mata.

Aku selalu pandai menghitung hal yang punya angka.

Uang.

Jam.

Biaya.

Shift.

Aku buruk sekali menghitung harga benda yang tidak punya angka.

Kepercayaan.

Kesempatan.

Rasa tinggal.

Malam itu aku akhirnya memahami biaya keputusan-keputusanku.

Tidak ada di spreadsheet.

Tapi aku membayarnya dengan kursi kosong di meja.

Dan untuk pertama kalinya, aku tahu uang bukan hal paling mahal yang pernah hilang dariku.