Chapter Forty Nine
Ciuman yang Kedua Kali
POV — Kirana Prameswari
Ciuman pertama kami setelah balikan terjadi empat bulan kemudian.
Lama.
Sengaja.
Bukan karena kami takut menyentuh.
Kami sudah peluk.
Pegangan tangan.
Aku bahkan pernah tidur di bahunya saat perjalanan pulang.
Tapi ciuman terasa seperti pintu yang punya sejarah terlalu banyak.
Jadi kami tidak buru-buru.
Sampai satu Sabtu sore.
Kami baru pulang dari pameran yang sudah tiga kali tertunda karena jadwal.
Damar membawa tote bag berisi buku.
Aku membawa es kopi.
Hujan turun.
Tentu.
Semesta suka simbolisme murahan.
Kami berteduh di teras toko tutup.
Damar memegang payung terlipat.
Bahu kami sedikit basah.
Aku tertawa sendiri.
“Kenapa?”
“Payung.”
“Apa?”
“Dulu kita berantem soal kamu bikin bahu basah.”
Damar melihat bajunya.
“Sekarang dua-duanya basah.”
“Nah.”
“Berarti gagal.”
“Bagi rata.”
Dia tersenyum.
Aku menyandarkan kepala ke lengannya.
Hujan cukup deras.
Tidak ada ojek mau ambil.
Kami terjebak.
Aneh bagaimana dulu aku akan menganggap situasi ini romantis dan langsung menggoda.
Sekarang aku menikmati diam.
Damar menggenggam tanganku.
“Kira.”
“Hm?”
“Aku mau nanya.”
Aku langsung tertawa.
“Kenapa semua harus nanya?”
“Consent.”
Aku menatap.
Dia serius.
Dadaku menghangat.
“Apa?”
“Boleh cium?”
Tidak ada permainan.
Tidak ada jebakan.
Pertanyaan sederhana.
Aku sengaja berpikir lama.
Damar mulai salah tingkah.
Aku menikmati lima detik.
“Boleh.”
Dia mendekat.
Pelan.
Aku juga.
Ciuman itu lembut.
Tidak seperti ciuman pertama kami waktu mahasiswa yang penuh gugup.
Tidak seperti perpisahan yang tidak pernah punya ciuman terakhir.
Ini tenang.
Damar menciumku seperti tidak sedang mengambil apa pun.
Aku membalas seperti tidak perlu membuktikan apa pun.
Ketika lepas, kami tetap dekat.
Damar berkata, “Gimana?”
Aku langsung tertawa.
“Masih minta nilai?”
“Kebiasaan.”
Aku menatap wajahnya.
“Sepuluh.”
Dia tersenyum.
“Langsung?”
“Enam tahun remedial.”
Damar tertawa.
Aku mencium dia lagi.
Kali ini aku yang mulai.
Lebih singkat.
“Bonus,” kataku.
“Harganya?”
Aku memukul dada pelan.
“Jangan rusak.”
Kami berdiri sampai hujan turun pelan.
Di perjalanan pulang, aku memikirkan betapa berbeda rasanya physical affection ketika trust tidak dipakai sebagai latar belakang, tapi benar-benar ada di depan.
Dulu aku sering menjadi orang yang memulai karena Damar takut.
Sekarang Damar bisa bertanya.
Bisa mendekat.
Bisa berhenti.
Aku juga bisa bilang belum.
Itu membuat setiap sentuhan terasa lebih ringan.
Beberapa minggu kemudian kami menginap di luar kota karena pernikahan teman kampus.
Kamar terpisah.
Tidak ada drama.
Malam setelah acara kami duduk di lobby hotel.
Damar terlihat lelah.
Aku membuka tangan.
“Peluk?”
Dia datang.
Masih.
Enam tahun, pekerjaan, terapi, usia, semua tidak mengubah fakta bahwa Damar kalau benar-benar capek suka diam di pelukanku.
Aku mengusap punggung.
“Capek?”
“Iya.”
“Senang?”
“Iya.”
“Kok kayak wawancara?”
Dia tertawa di bahuku.
Beberapa menit kemudian dia berkata, “Kira.”
“Hm?”
“Aku takut satu hal.”
Tubuhku langsung tegang sedikit.
Damar merasakan.
Tangannya mengusap punggung.
“Bukan mau kabur.”
Aku tertawa kecil.
“Bagus.”
“Aku takut kita terlalu hati-hati.”
Aku mundur sedikit.
“Maksudnya?”
“Kita takut bikin salah sampai kadang nggak spontan.”
Aku berpikir.
Benar.
Second chance membuat kami sangat sadar setiap langkah.
Sehat.
Tapi kadang melelahkan.
“Kamu mau lebih spontan?”
Damar mengangguk.
“Asal tetap ngomong kalau nggak nyaman.”
Aku tersenyum.
“Deal.”
Aku langsung mencium pipinya.
Damar membeku.
“Nah.”
“Apa?”
“Spontan.”
Dia menatap.
Lalu mencium keningku.
“Balik.”
Aku tertawa.
Pelan-pelan, hubungan kami berhenti terasa seperti proyek reparasi.
Kami tidak lagi setiap hari membandingkan dengan dulu.
Kami cuma pacaran.
Pergi makan.
Berantem kecil.
Bercanda.
Kangen.
Sibuk.
Peluk.
Cium.
Ada satu malam aku marah karena Damar terlalu lama di kantor.
Bukan karena takut dia kembali jadi workaholic.
Aku cuma memang ingin ketemu.
Aku bilang.
Dia menjawab:
Mar: Aku bisa pulang 30 menit lagi.
Aku: Jangan kalau kerjaan belum selesai.
Mar: Bisa selesai besok.
Aku: Yakin?
Mar: Iya. Aku juga kangen.
Aku membaca pesan itu sambil tersenyum.
Tidak ada simbol besar.
Damar pulang.
Kami makan mi.
Dia mencium keningku.
Aku mengeluh karena cuma kening.
Dia tertawa lalu mencium bibir.
Normal.
Itulah hal yang paling kurindukan tanpa sadar.
Bukan romance besar.
Normal.
Hubungan yang tidak selalu menjadi arena penyembuhan luka.
Kadang cuma dua orang dewasa yang saling sayang dan ingin makan malam bersama.
Malam setelah klinik Keisha dibuka, Damar mengantarku pulang.
Di depan rumah aku berkata, “Mar.”
“Hm?”
“Bangga?”
“Banget.”
“Kei hebat.”
“Iya.”
Aku menatap dia.
“Kamu juga.”
Damar langsung ingin menyangkal.
Aku mengangkat jari.
“Jangan.”
Dia tertawa.
“Aku serius.”
Aku menyentuh wajahnya.
“Anak kelas dua SMA yang kerja kafe dan ngajar les itu sampai sini.”
Mata Damar mulai merah.
Aku juga.
Dia mencium tanganku.
Pelan.
“Aku nggak sendirian.”
“Ya.”
Aku tersenyum.
“Akhirnya ngerti.”
Damar tertawa sambil menangis sedikit.
Aku memeluk.
Mungkin ciuman kedua kali bukan milestone terbesar hubungan kami.
Yang terbesar adalah ini.
Damar akhirnya bisa melihat hidup yang dia bangun tanpa menganggap semua keberhasilan orang lain sebagai tugasnya dan semua keberhasilannya sendiri sebagai kebetulan.
Aku bangga.
Dan kali ini, ketika aku mengatakannya, dia tidak mundur dari pujian.
Dia cuma memeluk lebih erat.
Hubungan kami juga mulai punya hal-hal baru yang tidak punya versi lama.
Contohnya liburan pertama.
Bukan jauh.
Kami cuma pergi dua hari ke kota pantai dekat.
Damar yang mengusulkan.
Aku hampir curiga.
“Kamu?”
“Iya.”
“Cuti?”
“Iya.”
“Dengan sengaja?”
“Kirana.”
Aku tertawa.
Kami menginap di hotel kecil.
Satu kamar.
Itu juga langkah baru.
Kami sudah dewasa.
Sudah bersama lagi cukup lama.
Tetap saja, malam pertama aku gugup.
Bukan soal sex.
Ceiling hubungan kami tidak perlu dibuktikan dengan itu.
Aku gugup karena intimacy domestik punya bentuk lain.
Sikat gigi berdampingan.
Damar keluar kamar mandi dengan rambut basah.
Aku memilih sisi kasur.
Hal-hal kecil yang membuat masa depan terasa terlalu dekat.
Damar melihat.
“Kamu tegang?”
“Sedikit.”
“Aku juga.”
Aku tertawa lega.
“Bagus.”
Kami tidur sambil berpegangan tangan.
Tidak lebih.
Pagi aku bangun lebih dulu.
Damar tidur menghadapku.
Wajahnya jauh lebih damai dibanding masa kuliah.
Aku menyentuh rambut yang jatuh ke dahi.
Dia membuka mata.
“Pagi.”
“Pagi.”
Tidak ada drama.
Damar menarik tanganku dan mencium telapak sebentar.
Aku langsung merah.
“Curang.”
“Apa?”
“Baru bangun udah sniper.”
Dia tertawa.
Hari itu kami berjalan di pantai.
Tidak ada itinerary ketat.
Damar biasanya suka jadwal.
Sekarang dia bisa berhenti cuma karena aku ingin membeli jagung.
Kami duduk di pasir.
Aku bertanya, “Mar.”
“Hm?”
“Kamu bahagia?”
Pertanyaan besar.
Damar tidak menjawab cepat.
Aku suka.
Dulu dia akan bilang iya supaya aku tenang.
Sekarang dia benar-benar pikir.
“Iya.”
“Karena aku?”
Dia tersenyum.
“Sebagian.”
Aku pura-pura tersinggung.
“Sebagian?”
“Aku juga suka kerjaan aku. Bangga sama Kei. Suka rumah.”
Aku diam.
Jawaban itu indah.
Dulu aku pernah ingin menjadi alasan Damar bahagia.
Sekarang aku tahu itu terlalu berat.
Aku tidak mau jadi seluruh dunia seseorang.
Aku mau jadi bagian penting dari dunia yang juga punya banyak hal lain.
“Bagus,” kataku.
“Kamu?”
Aku juga berpikir.
“Iya.”
“Karena aku?”
“Sebagian.”
Damar menatap.
Aku tertawa.
“Rasain.”
Kami duduk sampai matahari turun.
Damar mencium kening.
Aku membalas bibir.
Tidak ada nilai kali ini.
Tidak perlu.
Malam kedua kami ngobrol tentang masa depan.
Bukan proposal.
Belum.
Tentang kota tempat tinggal.
Karier.
Apakah aku mau pindah lagi kalau ada promosi.
Apakah Damar mau kerja remote.
Pertama kalinya pembicaraan masa depan tidak terdengar seperti ancaman.
Kami tidak mencari satu jawaban final.
Kami membuat beberapa kemungkinan.
“Kalau aku harus pindah dua tahun?” tanyaku.
Damar berpikir.
“Kita bahas kalau ada tawaran.”
Aku tersenyum.
“Jawaban dewasa.”
“Konseling.”
“Bayar mahal.”
Kami tertawa.
Aku menyadari sesuatu malam itu.
Second chance bukan hadiah karena kami menderita cukup lama.
Ia pekerjaan baru.
Tapi bukan pekerjaan yang berat terus-menerus.
Ada hari seperti ini.
Pantai.
Jagung.
Tidur sambil pegangan tangan.
Ciuman pagi.
Hal-hal manis yang tidak perlu dianalisis.
Kami berhak mendapat itu juga.
Dan mungkin justru karena kami sudah belajar bicara soal bagian sulit, bagian ringan akhirnya bisa benar-benar ringan.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali reading
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga