← Piring Ketiga

Chapter Twenty Five

Ciuman Pertama

POV — Kirana Prameswari

Ciuman pertama kami tidak terjadi di tempat romantis.

Tidak ada hujan.

Tidak ada lampu kota.

Tidak ada musik.

Ada suara printer perpustakaan yang macet.

Damar baru selesai membantu seseorang memperbaiki format tugas. Aku menunggu di luar sambil duduk di bangku lorong.

Dia keluar membawa dua botol air.

“Lama?”

“Lumayan.”

“Maaf.”

Aku mengambil botol.

“Bayarnya?”

Damar menatap.

“Apa?”

“Sudah menunggu.”

“Air.”

“Kurang.”

Dia langsung curiga.

“Kirana.”

Aku tertawa.

Kami berjalan menuju tangga belakang.

Tempat itu sudah jadi semacam lokasi netral kami.

Sepi.

Tidak terlalu jauh.

Tidak perlu bayar.

Sangat Damar.

Aku duduk di anak tangga.

Damar di sebelah.

Kami bicara tentang hal tidak penting.

Tugas.

Keisha.

Moka yang sekarang mulai tidur di depan pintu rumah Alvaro.

Lalu hening.

Bahu kami bersentuhan.

Tanganku berada di atas lutut.

Damar mengambilnya.

Aku menoleh.

Dia tidak melihatku.

Aku sengaja mendekat sedikit.

“Mar.”

“Hm?”

“Kamu gugup?”

“Nggak.”

“Bohong.”

“Sedikit.”

Aku tersenyum.

Aku tidak tahu kenapa hari itu terasa berbeda.

Mungkin karena Damar terus melihat bibirku lalu cepat-cepat melihat tempat lain.

Aku hampir kasihan.

Hampir.

“Kamu mau ngomong sesuatu?”

“Nggak.”

“Yakin?”

“Iya.”

Aku mendekat lagi.

Sekarang jarak kami terlalu dekat untuk disebut biasa.

Damar akhirnya menoleh.

Tatapan kami bertemu.

Aku bisa merasakan napasnya.

Dan tiba-tiba aku juga gugup.

Semua godaan yang biasanya mudah mendadak hilang.

Aku tidak ingin membuatnya merasa harus.

Jadi aku berhenti bergerak.

Damar memperhatikan.

“Kenapa?”

“Nggak.”

“Kamu tadi maju.”

“Aku boleh berubah pikiran.”

Dia diam.

Aku tertawa kecil.

“Kalau kamu belum siap juga nggak apa-apa.”

Damar tidak menjawab.

Beberapa detik.

Lalu tangannya bergerak ke pipiku.

Pelan.

Aku langsung diam.

“Kalau aku siap?”

Jantungku jatuh.

Aku tidak sempat menggoda.

“Ya... cium.”

Damar mendekat.

Lalu berhenti terlalu dekat.

“Kirana.”

“Apa?”

“Aku belum pernah.”

Aku menatapnya.

Entah kenapa pengakuan itu jauh lebih manis daripada semua flirting.

“Aku juga nggak minta kamu ujian.”

Dia tertawa pendek karena gugup.

Aku menyentuh pergelangan tangannya.

“Pelan aja.”

Damar akhirnya menutup jarak.

Ciumannya singkat.

Sangat singkat.

Hanya sentuhan bibir yang hangat dan sedikit gemetar.

Lalu dia mundur.

Aku masih diam.

Damar panik.

“Kenapa?”

Aku menatapnya.

“Sebentar.”

“Jelek?”

Aku menutup wajah.

“Bukan.”

“Kirana.”

Aku menurunkan tangan.

“Aku lagi reset.”

Damar langsung tertawa.

Aku memukul bahunya.

“Jangan ketawa.”

“Kamu yang biasanya banyak omong.”

“Ini situasi berbeda.”

Telingaku panas.

Aku, Kirana Prameswari, yang biasanya bisa menggoda tanpa malu, baru saja kehilangan fungsi bahasa karena Damar menciumku.

Tidak adil.

Damar tampak terlalu puas.

Aku menyipit.

“Sekali lagi.”

Sekarang dia yang berhenti.

“Apa?”

“Research.”

“Kirana.”

“Validasi data.”

Dia menutup mata.

Aku tertawa.

Tapi kali ini aku tidak maju.

Aku menunggu.

Damar menatapku lagi.

Lalu, lebih yakin, dia mendekat.

Ciuman kedua sedikit lebih lama.

Tidak banyak.

Tetap lembut.

Tapi tidak ragu seperti pertama.

Ketika lepas, aku tersenyum.

“Nah.”

“Nah apa?”

“Lebih bagus.”

“Dinilai juga?”

“Semua dinilai.”

Damar menggeleng.

Aku menyandarkan kepala ke bahunya.

Kami duduk lama.

Tidak ada yang bicara.

Aku ingin menyimpan momen itu tanpa terlalu banyak kata.

Sore harinya aku pulang dan langsung mendapat pesan Keisha.

Kak Damar aneh.

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

Aku:

Aneh gimana?

Keisha:

Pulang senyum-senyum terus masuk kamar.

Aku menutup wajah.

Aku:

Biarkan.

Keisha:

KALIAN NGAPAIN?

Aku:

Belajar.

Keisha:

Bohong.

Aku tertawa.

Aku tidak memberi detail.

Beberapa hal milik kami saja.

Besoknya Damar bertemu aku di depan kelas.

Biasanya kami berpelukan.

Hari itu kami sama-sama berhenti canggung.

Aku menahan senyum.

Damar berkata, “Pagi.”

“Pagi.”

Hening.

“Kok formal?”

“Nggak.”

“Kemarin berani.”

“Kirana.”

Aku tertawa.

Akhirnya aku membuka tangan.

Damar memeluk.

Saat melepas, dia menunduk dan mencium keningku cepat.

Aku membeku lagi.

Damar langsung berjalan masuk kelas.

Aku berdiri di koridor.

“DAMAR.”

Dia tidak menoleh.

Aku melihat telinganya merah.

Sial.

Dia mulai belajar.

Dan seperti biasa, begitu Damar belajar sesuatu, dia cepat sekali jadi berbahaya.

Malamnya aku mengirim:

Cium kening tadi curang.

Balasannya:

Kenapa?

Aku:

Tidak ada aba-aba.

Damar:

Katanya romantis.

Aku:

Siapa yang ngajarin?

Damar:

Pacarku.

Aku berhenti mengetik.

Lagi-lagi.

Satu tembakan.

Kena.

Aku menaruh ponsel sambil senyum.

Ciuman pertama kami bukan puncak besar.

Tidak mengubah hubungan secara ajaib.

Besok kami tetap kuliah.

Damar tetap kerja.

Aku tetap mengganggu.

Tapi ada sesuatu yang menjadi lebih lembut setelahnya.

Seolah kami sudah membuka pintu lain.

Dan kali ini, tidak ada satu pun dari kami yang ingin menutupnya.

Setelah ciuman pertama, aku kira Damar akan kembali ke mode panik selama beberapa hari.

Ternyata tidak.

Dia memang sedikit lebih pendiam.

Tapi tidak menjauh.

Itu yang penting.

Hari berikutnya kami belajar seperti biasa.

Aku sengaja duduk sangat normal.

Tidak menggoda soal ciuman.

Lima belas menit kemudian justru Damar yang gelisah.

“Kira.”

“Hm?”

“Kamu kenapa?”

Aku menatap.

“Kenapa apa?”

“Biasa aja.”

Aku tertawa.

“Harusnya gimana?”

“Nggak tahu.”

“Mar, kamu habis cium aku, bukan bikin kecelakaan.”

Telinganya merah.

Aku hampir kasihan lagi.

Hampir.

“Tenang.”

Aku menyentuh tangannya di bawah meja.

Damar menggenggam.

Selesai.

Tidak perlu dibahas.

Sore itu dia mengantarku ke halte.

Sebelum bus datang, aku bertanya, “Kamu nyesel?”

Damar langsung menoleh.

“Nggak.”

Cepat sekali.

Aku tersenyum.

“Bagus.”

“Kenapa nanya?”

“Karena kamu punya bakat overthinking.”

“Fitnah.”

“Data empiris.”

Dia mendengus.

Bus belum datang.

Kami berdiri berdekatan.

Damar melihat ke jalan, lalu kembali kepadaku.

“Aku boleh?”

Aku tahu maksudnya.

Aku mengangguk.

Kali ini ciumannya tetap singkat, tapi jauh lebih natural.

Tidak ada gemetar.

Tidak ada jeda panjang.

Saat lepas aku berkata, “Delapan setengah.”

Damar menatap tidak percaya.

“Kenapa semua dinilai?”

“Quality control.”

“Kalau jelek?”

“Remedial.”

Dia tertawa.

Aku suka membuatnya tertawa setelah dia melakukan sesuatu yang membuatnya gugup.

Seolah tubuhnya belajar bahwa intimacy tidak selalu diikuti bahaya.

Malamnya Keisha chat lagi.

Kak Damar hari ini lebih aneh.

Aku:

Definisi aneh?

Keisha:

Senyum waktu cuci piring.

Aku:

Bahaya.

Keisha:

Kalian beneran cuma belajar?

Aku:

Tentu.

Keisha:

Aku tidak percaya.

Aku tidak menjawab.

Aku tertawa sendiri.

Beberapa hari berikutnya, ciuman menjadi sesuatu yang tidak selalu perlu acara.

Kadang di kening sebelum Damar pergi kerja.

Kadang di pipi saat aku berhasil mengganggunya.

Ciuman bibir tetap jarang.

Bukan karena ada aturan.

Kami cuma sama-sama menikmati ritme pelan.

Suatu malam aku menunggu Damar selesai shift.

Dia terlihat sangat capek.

Begitu keluar, dia membuka tangan tanpa berkata.

Aku langsung memeluk.

“Capek?”

“Iya.”

Aku mengusap punggungnya.

Damar menyandarkan dagu ke kepalaku.

Untuk pertama kalinya aku merasa pelukan kami terbalik.

Biasanya aku yang datang untuk dimanja.

Kali ini Damar yang butuh tempat.

Aku tidak berkata apa-apa.

Kami berdiri cukup lama.

Ketika lepas, aku menyentuh pipinya.

“Pulang. Tidur.”

Damar mengangguk.

Lalu mencium keningku.

“Terima kasih.”

Aku melihatnya berjalan ke halte.

Dadaku terasa penuh.

Bukan karena ciumannya.

Karena Damar mulai membiarkan dirinya dirawat.

Itu jauh lebih intim.

Ciuman mungkin milestone yang mudah dilihat.

Tapi buatku, malam ketika Damar datang ke pelukanku karena capek terasa lebih besar.

Dia tidak sedang memberi.

Tidak sedang menyelesaikan masalah.

Tidak sedang menjadi kakak, tutor, pegawai, atau orang yang bisa diandalkan.

Dia hanya Damar.

Capek.

Dan untuk beberapa menit, dia mengizinkan aku menahannya.

Aku ingin menjaga ruang itu baik-baik.

Aku juga mulai mengerti kenapa Damar selalu butuh waktu untuk setiap langkah. Bukan karena dia tidak mau. Justru karena setiap kedekatan baginya terasa serius. Kalau dia mencium, memeluk, atau menggenggam, itu bukan kebiasaan kosong. Ada keputusan kecil di baliknya. Dan mungkin itu sebabnya setiap kali dia bergerak duluan, rasanya selalu lebih besar daripada seharusnya. Dan mungkin itu yang paling kusukai dari kami: tidak ada satu momen yang terasa harus sempurna. Kami bisa gugup, tertawa, mengulang, lalu tetap bertemu besok seperti biasa. Kedekatan kami tidak berdiri di atas satu ciuman. Ia tumbuh dari semua hari setelahnya.