← Piring Ketiga

Chapter Thirteen

Satu Langkah Mundur

POV — Kirana Prameswari

Awalnya aku mengira Damar cuma capek.

Balasannya lebih pendek.

Dia tidak lagi selalu duduk di tempat biasa.

Dua kali aku datang dan kursi sebelahnya sudah diisi orang.

Tidak ada yang salah dengan itu.

Kursi kampus bukan milikku.

Damar juga bukan milikku.

Aku tahu.

Tetap saja aku merasa ada sesuatu yang berubah.

“Mar.”

“Hm?”

“Kamu makan siang?”

“Nanti.”

“Mau bareng?”

“Nggak bisa. Ada les.”

“Oke.”

Hari berikutnya:

“Mar, nanti perpustakaan?”

“Aku langsung kerja.”

Besoknya lagi:

“Besok masuk pagi?”

“Iya.”

“Duduk—”

“Aku mungkin telat.”

Kalimatku berhenti.

Damar tetap ramah.

Itulah bagian yang membuatku bingung.

Dia tidak kasar.

Tidak dingin.

Kalau aku tanya tugas, dia jawab.

Kalau aku pinjam pulpen, dia kasih.

Kalau kami kebetulan jalan searah, dia tetap bicara.

Tapi semua yang dulu terasa sedikit lebih panjang sekarang dipotong tepat sebelum menjadi dekat.

Aku mulai bertanya apakah aku terlalu maju.

Mungkin dia sadar aku suka.

Mungkin dia tidak nyaman.

Kemungkinan itu membuat perutku terasa tidak enak.

Sinta melihatku menatap chat.

“Kenapa?”

“Nggak.”

“Damar?”

Aku mengunci layar.

“Dia kayak menghindar.”

Sinta mengerutkan kening.

“Berantem?”

“Nggak.”

“Lo ngomong sesuatu?”

“Nggak juga.”

“Terus?”

Aku mengangkat bahu.

“Entah.”

Sinta menatapku beberapa detik.

“Lo mau nanya?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Kalau dia memang butuh jarak, aku nggak mau bikin dia makin sesak.”

Sinta mengangguk.

Aku bersyukur dia tidak memberikan nasihat panjang.

Malamnya Damar mengirim file tugas kelompok.

Sudah aku rapihin.

Aku membalas:

Makasih.

Biasanya aku akan menambahkan meme.

Atau pertanyaan.

Kali ini tidak.

Kalau dia sedang mundur, aku bisa menghormati.

Tapi ternyata menghormati seseorang juga bisa menyebalkan.

Besoknya di kelas, aku duduk dua kursi dari Damar.

Sinta duduk di sebelahku.

Aku pura-pura fokus.

Damar datang sebelum dosen.

Dia melihat ke arahku.

Mata kami bertemu.

Aku tersenyum kecil.

Dia membalas anggukan.

Hanya itu.

Dulu dia mungkin akan duduk dekat.

Sekarang dia memilih kursi depan.

Dadaku terasa sedikit turun.

Sinta tidak komentar.

Syukurlah.

Setelah kelas, hujan turun deras.

Aku berdiri di lobby sambil menunggu reda.

Damar muncul dari koridor, membawa payung lipat hitam.

Aku melihatnya.

Dia melihatku.

Aku hampir berkata sesuatu.

Dia lebih dulu bicara.

“Kamu nggak bawa payung?”

“Nggak.”

“Halte?”

“Iya.”

Hening.

Aku tahu dulu dia mungkin akan bilang bareng.

Atau setidaknya menunggu.

Sekarang dia hanya membuka payung.

“Aku duluan.”

Aku tersenyum.

“Iya. Hati-hati.”

Damar berhenti sepersekian detik.

Lalu pergi.

Aku melihat punggungnya menembus hujan.

Sakitnya kecil.

Tapi nyata.

Aku mulai marah.

Bukan karena dia tidak mengantarku.

Karena aku tidak tahu aturan baru permainan ini.

Kalau dia tidak suka aku dekat, bilang.

Kalau aku salah baca, bilang.

Kalau ada masalah, bilang.

Jangan membuatku menebak.

Malam itu aku tidak mengirim pesan.

Damar juga tidak.

Hari berikutnya sama.

Lalu hari berikutnya lagi.

Aku mulai membiasakan diri duduk dengan Sinta.

Makan dengan teman lain.

Tidak mencari Damar setiap masuk ruangan.

Setidaknya berusaha.

Masalahnya mata punya kebiasaan sendiri.

Aku tetap tahu dia ada.

Tetap sadar ketika dia datang.

Tetap menangkap suaranya.

Tapi aku berhenti menghampiri.

Kalau Damar ingin jarak, aku bisa memberikan jarak.

Seminggu setelah perubahan itu, dia akhirnya datang kepadaku.

Aku sedang berdiri di depan mesin minuman ketika suara familiar muncul.

“Kirana.”

Aku menoleh.

Damar.

“Hm?”

“Kamu punya catatan kelas kemarin?”

“Ada.”

“Boleh pinjam?”

“Boleh.”

Aku membuka tas.

Tanganku menemukan notebook.

Aku menyerahkannya.

Damar menerima.

“Besok aku balikin.”

“Iya.”

Dia masih berdiri.

Aku menunggu.

Damar seperti ingin mengatakan sesuatu.

“Apa?”

“Nggak.”

“Oke.”

Aku hendak pergi.

“Kira.”

Aku berhenti.

Itu pertama kalinya dia memanggilku begitu.

Bukan Kirana.

Kira.

Jantungku langsung bodoh.

Aku menoleh.

Damar sendiri terlihat seperti baru sadar apa yang keluar dari mulutnya.

“Apa?”

Dia diam sebentar.

“Makasih.”

Aku hampir tertawa karena kecewa.

“Ya.”

Aku pergi.

Sepanjang jalan, satu panggilan itu terus berulang di kepala.

Menyebalkan.

Orang ini benar-benar tidak adil.

Dia menjauh, lalu satu kata cukup membuatku berharap lagi.

Aku marah pada diri sendiri karena gampang.

Malamnya Damar mengirim foto catatanku.

Bagian halaman 17 ini kamu dapet dari dosen atau buku?

Aku menjawab seperlunya.

Buku.

Judul?

Aku kirim foto sampul.

Makasih.

Selesai.

Aku menaruh ponsel.

Tidak ada tambahan.

Tidak ada meme.

Aku yang memilih itu.

Tapi tetap terasa kosong.

Dua hari kemudian aku akhirnya capek.

Bukan karena jarak.

Karena ketidakjelasan.

Setelah kelas, aku menunggu sampai mahasiswa lain keluar.

Damar sedang memasukkan charger ke tas.

“Mar.”

Dia menoleh.

“Kita bisa ngomong?”

Tangannya berhenti.

Wajahnya berubah sedikit.

“Iya.”

Aku menarik napas.

Bukan sekarang, pikirku.

Jangan marah.

Jangan menuduh.

Tanya.

“Aku bikin kamu nggak nyaman?”

Damar langsung berkata, “Nggak.”

“Tapi kamu menghindar.”

Dia diam.

Aku menatapnya.

“Kalau aku salah, bilang.”

Damar menurunkan pandangan sebentar.

“Kirana—”

“Aku nggak minta kamu jelasin semuanya sekarang.”

Suaraku tetap tenang, walau tangan dingin.

“Aku cuma nggak mau terus nebak.”

Damar tidak menjawab.

Dan dari diamnya, aku tahu.

Aku tidak salah.

Dia memang mundur.

Alasannya saja yang belum kuketahui.

Aku mengangguk kecil.

“Oke.”

“Kira.”

“Besok aja.”

Aku mengambil tas.

“Kalau kamu mau ngomong, besok.”

Aku pergi sebelum wajahku berubah terlalu banyak.

Di koridor, aku menarik napas panjang.

Sakit, ya sakit.

Tapi aku lebih memilih jawaban yang menyakitkan daripada terus dibikin bingung.

Kalau Damar ingin aku berhenti mendekat, aku akan berhenti.

Aku cuma ingin dia cukup berani untuk mengatakannya.

Hari berikutnya, aku sengaja menguji diriku sendiri.

Aku datang lebih awal.

Ada dua kursi kosong dekat Damar.

Aku memilih duduk bersama Sinta.

Damar sempat melihat.

Aku pura-pura tidak sadar.

Sinta berbisik, “Lo yakin?”

“Yakin.”

“Padahal kursinya kosong.”

“Biar.”

Aku membuka buku.

Lima menit kemudian seseorang duduk di sebelah Damar.

Dadaku langsung tidak enak.

Aku hampir kesal pada orang asing yang tidak melakukan salah apa pun.

Bodoh.

Aku menulis judul materi terlalu besar.

Sinta melihat kertas.

“Kir.”

“Jangan.”

Dia menahan tawa.

Aku akhirnya ikut tersenyum.

Mungkin jarak memang harus dilatih.

Bukan sekali keputusan lalu selesai.

Setiap hari ada kebiasaan kecil yang harus dihentikan.

Tidak mengecek apakah dia sudah datang.

Tidak menyimpan kursi.

Tidak mengirim foto absurd.

Tidak bertanya apakah dia sudah makan.

Hal paling sulit justru yang paling sederhana.

Saat makan siang, Damar lewat di belakang meja kami.

Aku tahu tanpa melihat.

Langkahnya sudah terlalu familiar.

Dia tidak berhenti.

Aku juga tidak menoleh.

Sinta menatapku.

Aku menusuk ayam di piring.

“Jangan bilang apa-apa.”

“Aku belum ngomong.”

“Wajahmu ngomong.”

Dia tersenyum.

Aku baru sadar selama ini aku sering mengatakan itu pada Damar.

Pikiran itu hampir membuatku tertawa.

Hampir.

Ada bagian dari diriku yang masih berharap dia akan berbalik.

Dia tidak.

Dan mungkin memang begitu seharusnya.

Sepulang kuliah aku membuka ponsel dan hampir mengirim foto poster lucu yang biasanya akan kukirim ke Damar.

Jariku berhenti di tombol kirim.

Aku simpan fotonya.

Tidak jadi.

Ternyata menahan diri jauh lebih melelahkan daripada mendekat.

Saat suka seseorang, banyak hal sehari-hari tiba-tiba ingin dibagi.

Makanan enak.

Meme bodoh.

Kucing di parkiran.

Keluhan dosen.

Dan ketika memutuskan berhenti, kita baru sadar berapa banyak bagian hari yang diam-diam sudah punya tujuan.

Aku mengunci ponsel.

Hari ini tidak.

Besok mungkin lebih mudah.

Aku mulai belajar satu hal lain.

Mundur bukan berarti perasaan ikut mundur.

Kadang justru jarak membuat semuanya lebih jelas.

Aku jadi tahu seberapa sering aku mencari Damar tanpa sadar.

Seberapa banyak ruang kecil dalam hariku yang sudah ditempatinya.

Dan semakin jelas itu semua, semakin aku tahu aku harus benar-benar berhenti kalau dia memang tidak siap.

Aku tidak tahu apakah keputusan ini akan membuat Damar lega.

Mungkin iya.

Kalau begitu, setidaknya aku memberinya yang dia minta.

Kalau ternyata dia tidak lega, itu bukan sesuatu yang bisa kuperbaiki dari tempatku sekarang.