Chapter One
Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
POV — Damar Alvaro
Aku pulang dari sekolah dengan dua bungkus mi instan di tangan dan menemukan pintu rumah tidak terkunci.
Hal pertama yang kupikirkan bukan maling. Aku justru berpikir Ibu pasti lupa lagi mengunci pintu karena terburu-buru menjemput Keisha dari tempat les. Pikiran itu terasa masuk akal selama kira-kira tiga detik, sampai aku melihat rak sepatu di dekat pintu.
Sandal Ibu tidak ada.
Sepatu kerja Ayah juga tidak ada.
Aku berdiri di ruang tamu sambil masih memegang plastik mi instan. Televisi mati. Kipas angin berputar pelan. Ada bekas gelas di atas meja, tapi tidak ada suara dari dapur, kamar, atau halaman belakang.
Rumah kami biasanya tidak pernah benar-benar sunyi. Kalau bukan Ibu yang mengomel soal handuk basah, ada Ayah yang memindah-mindahkan saluran televisi. Kalau keduanya sedang tidak bicara, hampir pasti mereka sedang bertengkar dengan suara pelan yang lebih melelahkan daripada teriakan.
Hari itu, semuanya hilang.
Di meja makan ada amplop cokelat. Namaku ditulis di depannya.
Damar.
Hanya itu.
Aku tidak langsung membukanya. Aku menaruh mi di meja, melepas tas, lalu memeriksa kamar orangtuaku. Lemari setengah kosong. Beberapa pakaian Ibu masih tergantung. Baju Ayah lebih banyak yang hilang.
Baru setelah itu aku membuka amplop.
Isinya dua lembar kertas dan uang tunai yang kalau dihitung tidak akan cukup untuk melewati bulan berikutnya.
Kalimat-kalimat di surat itu panjang, tetapi maknanya pendek.
Ayah pergi.
Ibu juga pergi.
Mereka tidak pergi bersama.
Mereka hanya kebetulan memilih waktu yang hampir sama untuk berhenti menjadi orangtua kami.
Aku membaca surat itu dua kali. Tidak menangis. Tidak marah. Yang muncul di kepalaku justru angka.
Listrik jatuh tempo sembilan hari lagi.
Uang sekolah Keisha minggu depan.
Beras tinggal sedikit.
Aku masih kelas dua SMA.
Keisha kelas tiga SMP.
Aku sedang menghitung uang di meja ketika suara pagar berbunyi.
“Kak?”
Aku cepat-cepat melipat surat dan memasukkannya kembali ke amplop.
Keisha masuk dengan seragam putih biru, rambut dikuncir asal, dan wajah kesal karena matahari. “Panas banget. Ibu mana? Aku chat nggak dibales.”
Aku menatapnya.
Dua tahun lebih muda dariku. Cerewet. Keras kepala. Selalu yakin barang-barang milikku juga otomatis menjadi miliknya. Minggu lalu dia mengambil kaus hitam favoritku untuk dijadikan baju tidur dan masih belum mengembalikannya.
Tiba-tiba aku merasa mual.
“Kak?”
“Duduk dulu.”
“Kenapa ngomongnya kayak wali kelas?”
“Kei.”
Dia berhenti bercanda.
Aku mendorong amplop itu ke arahnya.
Keisha membaca lebih cepat dariku. Wajahnya tidak langsung berubah. Baru di akhir halaman kedua, jarinya mulai meremas ujung kertas.
“Ini bercanda?”
Aku menggeleng.
“Ibu ke mana?”
“Nggak tahu.”
“Ayah?”
“Nggak tahu.”
“Telepon.”
“Udah.”
Padahal belum. Aku hanya tahu kalau Keisha menelepon dan tidak diangkat, sesuatu di dalam dirinya akan pecah lebih cepat.
Dia tetap mengeluarkan ponselnya.
Aku tidak menghentikan.
Panggilan pertama ke Ibu tidak dijawab.
Panggilan kedua juga.
Ayah langsung tidak aktif.
Keisha menurunkan ponselnya pelan-pelan. “Mereka bakal pulang, kan?”
Aku ingin mengatakan iya.
Itulah yang seharusnya dilakukan kakak.
Tapi sejak membaca surat tadi, aku mendadak benci kebohongan yang terlalu besar.
“Aku nggak tahu.”
Keisha menatap meja. Lama.
Lalu dia bertanya, “Kita makan apa?”
Aku hampir tertawa karena absurdnya pertanyaan itu.
“Mi.”
“Dua bungkus?”
“Iya.”
“Pakai telur?”
Aku membuka kulkas.
Ada satu telur.
“Satu.”
Keisha berdiri. “Buat Kakak aja.”
“Buat kamu.”
“Aku tadi jajan.”
“Aku juga makan di sekolah.”
Kami saling menatap.
Dua-duanya bohong.
Akhirnya telur itu dibelah dua setelah matang, meskipun hasilnya jelek dan kuning telurnya hancur ke kuah mi.
Kami makan tanpa bicara banyak.
Setelahnya Keisha mencuci mangkuk sementara aku kembali menghitung uang. Aku membuat daftar di belakang kertas bekas ulangan matematika: listrik, air, beras, uang sekolah, ongkos, pulsa.
Jumlah di bawahnya membuat dadaku sesak.
Keisha berdiri di sebelahku sambil mengeringkan tangan di seragamnya.
“Kalau aku nggak ikut les lagi, hemat berapa?”
“Kamu tetap les.”
“Aku bisa belajar sendiri.”
“Kei.”
“Serius.”
Aku menutup pulpen. “Sekolah kamu jangan berubah.”
“Terus uangnya dari mana?”
“Aku cari.”
Dia langsung mengernyit. “Cari di mana?”
“Kerja.”
“Kakak sekolah.”
“Bisa dua-duanya.”
“Siapa yang bilang?”
“Aku.”
“Sumber tidak terpercaya.”
Aku akhirnya tertawa pendek.
Keisha ikut tertawa, tapi matanya merah.
Dua hari sesudahnya, Ibu akhirnya mengirim pesan singkat. Bukan alamat. Bukan permintaan maaf. Hanya kalimat bahwa dia butuh waktu dan kami harus menjaga diri baik-baik.
Keisha membaca pesan itu dari ponselku.
“Jaga diri baik-baik,” ulangnya datar.
Aku tidak tahu harus membela Ibu atau ikut marah. Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang terasa berguna.
“Kamu besok ada olahraga, kan? Sepatumu udah kering?”
Keisha menatapku lama, lalu mendengus. “Pengalihan topik jelek banget.”
“Tapi berhasil?”
Dia berdiri untuk memeriksa sepatu.
“Sedikit.”
Keesokan paginya aku bangun sebelum alarm. Keisha masih tidur menyamping dengan selimut menutupi separuh wajah. Untuk beberapa detik aku lupa apa yang terjadi dan hampir meneriakinya supaya kembali ke kamar sendiri.
Lalu aku melihat pintu kamar orangtuaku yang terbuka.
Ingatan itu kembali sekaligus.
Aku membuat teh terlalu manis karena salah menuang gula. Keisha masuk dapur dengan rambut berantakan dan mata bengkak.
“Ibu belum pulang?”
“Belum.”
Dia membuka ponselnya. Tidak ada pesan.
Aku menaruh roti tawar di depannya.
“Makan.”
“Nggak lapar.”
“Tetap makan.”
“Kakak?”
“Nanti.”
Dia menatapku, lalu membelah roti itu dua dan mendorong separuh kembali.
Aku tidak membantah.
Di sekolah, aku tidak mendengar setengah dari pelajaran. Bu Sinta memanggil namaku dua kali sebelum aku sadar kelas sedang menunggu jawaban. Seusai pelajaran, beliau bertanya apakah ada masalah di rumah. Aku hampir mengatakan tidak.
Lalu kupikir, kalau aku terus mengatakan tidak pada semua orang, mungkin sebentar lagi aku benar-benar akan sendirian mengurus semuanya.
“Sedikit, Bu.”
Itu satu-satunya kejujuran yang sanggup keluar.
Sepulang sekolah aku berhenti di kafe kecil dekat jalan raya. Ada kertas bertuliskan lowongan part-time di kaca depan. Aku berdiri hampir lima menit sebelum masuk.
Manajernya melihat seragamku dan langsung bertanya umur.
“Tujuh belas.”
“Orangtua tahu?”
Pertanyaan itu membuat tenggorokanku kering.
“Tahu.”
Kebohongan pertama hari itu.
Aku pulang membawa formulir lamaran di tas.
Keisha sedang duduk di lantai ruang tamu, memegang ponsel Ibu yang nomor terakhirnya masih tidak aktif. Dia buru-buru mengusap mata ketika melihatku.
“Dari mana?”
“Cari kerja.”
“Dapat?”
“Belum.”
Dia mengangguk seolah itu percakapan biasa.
Lalu dia berdiri dan mengambil tas sekolahku.
“Aku bikin nasi.”
“Kamu bisa?”
“Rice cooker yang masak, bukan aku.”
“Masuk akal.”
Itulah hari pertama kami berhenti menunggu suara pagar berbunyi karena orangtua pulang.
Bukan karena kami sudah menerima.
Kami hanya terlalu sibuk mencari cara supaya besok tetap terjadi.
Malam itu kami tidur dengan pintu kamar masing-masing terbuka.
Aku tidak tahu Keisha terjaga atau tidak. Aku sendiri tidak bisa tidur. Dari kamar, aku mendengar kulkas menyala lalu mati, motor lewat di jalan depan, dan anjing tetangga menggonggong dua kali.
Aku menghitung semuanya.
Berapa uang yang tersisa.
Berapa hari sampai tagihan datang.
Berapa jam dalam sehari yang bisa kupakai bekerja tanpa harus berhenti sekolah.
Aku tidak menghitung kemungkinan Ibu atau Ayah pulang.
Pukul satu lewat sedikit, langkah kaki terdengar dari lorong.
Keisha muncul di pintuku membawa bantal.
“Kenapa?” tanyaku.
“Kamar aku panas.”
“Kipasnya nyala.”
“Berisik.”
“Biasanya juga berisik.”
“Kak.”
Aku mengangkat selimut.
Dia langsung masuk dan berbaring membelakangiku.
Beberapa menit kami diam.
Lalu suaranya muncul kecil sekali.
“Kakak jangan pergi juga.”
Aku menatap langit-langit.
Itu pertama kalinya sepanjang hari aku benar-benar ingin menangis.
Aku menelan semuanya.
“Nggak.”
Keisha memegang ujung kausku seperti anak kecil.
Aku menutup tangannya dengan tanganku.
“Aku di sini.”
Untuk pertama kalinya sejak pulang sekolah, aku berhenti menghitung uang.
Besok tetap menakutkan. Tapi malam itu setidaknya aku tahu satu hal: apa pun yang datang, aku tidak akan membiarkan Keisha menghadapinya sendirian.
Aku hanya menghitung napas adikku sampai akhirnya dia tertidur.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi reading
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga