← Piring Ketiga

Chapter Thirty

Hari yang Biasa

POV — Kirana Prameswari

Aku menyukai date yang biasa.

Bukan berarti aku menolak tempat bagus.

Kalau suatu hari Damar punya uang dan mau mengajakku makan mahal, aku akan datang dengan bahagia.

Tapi hari favoritku justru yang tidak punya nama.

Menemani Damar membeli sabun.

Membantu Keisha foto keripik.

Duduk di kafe sampai shift selesai.

Belajar sambil kaki kami bersentuhan di bawah meja.

Hari Sabtu itu kami tidak punya rencana.

Damar libur shift sore.

Keisha punya banyak pesanan.

Jadi date kami berubah menjadi produksi keripik.

Romantis.

Aku duduk di lantai dengan masker dan sarung tangan.

“Kei, ini lima puluh?”

“Empat puluh tujuh.”

“Kok tahu?”

“Timbangan ada di depan Kakak.”

“Oh.”

Damar tertawa.

Aku melempar plastik kosong.

“Jangan ketawa. Bantu.”

“Aku bagian seal.”

“Pacar tidak suportif.”

“Pacar bekerja.”

Keisha mengangkat tangan.

“Jangan flirting dekat makanan.”

Aku dan Damar sama-sama menoleh.

“Siapa flirting?” tanya Damar.

Keisha menunjuk wajah kakaknya.

“Itu.”

Aku tertawa.

Siang kami makan mi instan.

Tiga mangkuk.

Sudah biasa.

Aku bahkan tidak lagi memperhatikan piring ketiga setiap kali datang.

Mungkin justru itu tanda motifnya bekerja.

Keberadaanku tidak lagi terasa sebagai tambahan.

Aku cuma mengambil tempat yang sudah tahu di mana.

Setelah makan, Keisha masuk kamar untuk belajar.

Aku dan Damar duduk di sofa.

Dia terlihat lelah.

“Tidur.”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Nanti kebablasan.”

“Aku bangunin.”

Damar menatapku.

Lalu, tanpa banyak drama, dia berbaring dan meletakkan kepala di pahaku.

Aku membeku.

“Mar.”

“Hm?”

“Kamu ngapain?”

“Tidur.”

Aku menatap wajahnya.

Mata sudah tertutup.

Orang ini benar-benar berkembang terlalu cepat.

Aku menyentuh rambutnya pelan.

Damar mengembuskan napas.

Beberapa menit kemudian dia benar-benar tidur.

Aku duduk hampir empat puluh menit tanpa bergerak banyak.

Kakiku kesemutan.

Aku tidak peduli.

Keisha keluar kamar, melihat kami, lalu berhenti.

Aku mengangkat jari ke bibir.

Dia mengangguk.

Kemudian mengambil foto.

Aku membelalakkan mata.

Keisha tersenyum jahat.

Aku berbisik, “Hapus.”

Dia menggeleng.

Aku tidak bisa mengejar karena kepala Damar di pahaku.

Pengkhianatan.

Ketika Damar bangun, Keisha sudah kembali ke kamar.

“Jam berapa?”

“Hampir empat.”

Dia langsung bangun.

“Kok nggak bangunin?”

“Kamu capek.”

“Kakimu?”

“Mati rasa.”

Damar menatap.

“Kira.”

Aku tertawa.

“Bercanda. Sedikit.”

Dia langsung memijat betisku.

Aku kaget.

“Mar.”

“Apa?”

“Nggak usah.”

“Kamu bilang kesemutan.”

Tangannya tetap memijat pelan.

Sekarang aku yang salah tingkah.

“Kenapa?”

“Nggak.”

Damar menatapku.

Aku memalingkan wajah.

Dia tertawa kecil.

“Sekarang siapa yang diem?”

“Diam.”

Dia tersenyum.

Aku suka ini.

Hubungan kami mulai punya keseimbangan.

Aku masih lebih manja.

Damar masih lebih banyak acts of service.

Tapi garisnya mulai bercampur.

Dia bisa datang untuk dipeluk.

Aku bisa menerima saat dia merawat.

Tidak ada satu orang selalu memberi.

Sore kami pergi membeli bahan pesanan.

Damar membawa kantong berat.

Aku mengambil yang ringan.

“Bagi.”

“Ini berat.”

“Aku bisa.”

“Aku tahu.”

Dia tetap memberikan satu kantong.

Dulu mungkin dia akan menolak.

Kemajuan lagi.

Di jalan kami berhenti di depan toko hewan.

Keisha meminta lihat harga carrier kucing.

Damar memotret.

Aku melihat label harga.

“Lumayan.”

“Iya.”

“Buat Moka?”

“Keisha pengin nabung.”

Aku tersenyum.

“Jangan dibeliin diam-diam.”

Damar menatapku.

Aku tahu pikiran itu sudah ada.

“Kenapa?”

“Biar Kei beli kalau dia mau.”

“Aku bisa bantu.”

“Bisa. Tanya dulu.”

Damar menghela napas.

“Kalian kompak.”

“Karena kamu bandel.”

Dia mengambil ponsel dan mengirim foto harga ke Keisha.

Beberapa detik kemudian:

Mahal. Nanti dulu.

Damar mengetik.

Aku mengintip.

Aku tambahin setengah?

Dia belum mengirim.

Aku menatap.

“Bagus.”

“Kenapa?”

“Nanya.”

Dia mengirim.

Keisha membalas:

Boleh. Tapi setengah aja.

Damar tersenyum.

Aku ikut.

Hal kecil.

Tapi aku tahu betapa sulit bagi Damar menawarkan bantuan tanpa langsung mengambil alih.

Malamnya setelah mengantar barang, kami duduk di halte.

Aku menyandarkan kepala.

Damar menggenggam tangan.

“Mar.”

“Hm?”

“Aku suka hari ini.”

“Packing keripik?”

“Iya.”

“Aneh.”

“Kenapa?”

“Harusnya date.”

“Ini date.”

Dia menatap.

Aku tersenyum.

“Kalau aku perginya sama pacar, ya date.”

Damar menggeleng.

“Standarmu rendah.”

“Standarku spesifik.”

“Apa?”

“Kamu ada.”

Dia diam.

Aku menunggu serangan balik.

Damar mencium keningku.

“Kalau gitu gampang.”

Aku membeku.

Dia tersenyum kecil.

Critical hit.

Lagi.

Bus datang.

Aku naik sambil masih salah tingkah.

Hari yang biasa.

Tidak ada milestone besar.

Tidak ada hadiah.

Tidak ada konflik.

Tapi justru hari-hari seperti ini yang diam-diam membuat seseorang terasa permanen.

Aku tidak tahu waktu itu betapa mahalnya kenangan biasa akan menjadi nanti.

Yang kutahu cuma satu.

Aku bahagia.

Dan untuk saat itu, kebahagiaan terasa seperti sesuatu yang tidak perlu kutakuti.

Malam itu Keisha mengirim foto yang diambil saat aku tidur di paha Kirana.

Aku langsung keluar kamar.

“Keisha.”

Dia sedang menyikat gigi.

“Hm?”

“Hapus.”

Dia melihat ponselku.

“Oh.”

“Kei.”

“Bagus fotonya.”

“Aku tidur.”

“Makanya natural.”

Aku menatap.

Keisha tertawa dengan mulut penuh busa.

Aku kembali ke kamar sambil kesal.

Lima menit kemudian Kirana mengirim pesan.

Kei kirim foto.

Aku menutup mata.

Hapus.

Tidak.

Kira.

Lucu.

Aku:

Aku blokir kalian berdua.

Kirana:

Kamu kelihatan tenang.

Aku berhenti.

Aku membuka foto lagi.

Memang.

Kepalaku di paha Kirana.

Tangannya ada di rambutku.

Wajahku tidak tegang.

Aku terlihat seperti orang yang percaya tempat itu aman.

Aku tidak jadi meminta hapus lagi.

Besoknya Kirana mencetak foto kecil itu dengan printer murah.

Aku menatap.

“Kamu serius?”

“Buat aku.”

“Jangan dipajang.”

“Tenang.”

Dia memasukkannya ke dompet.

Aku langsung salah tingkah.

“Kenapa dibawa?”

“Karena aku suka.”

“Kira.”

“Apa?”

Aku tidak punya argumen.

Beberapa hari kemudian aku melihat foto itu ketika dia membuka dompet membayar minum.

Masih ada.

Aku pura-pura tidak melihat.

Tapi sepanjang perjalanan pulang, ada rasa hangat aneh.

Selama ini aku menyimpan banyak bukti perjuangan.

Struk pembayaran sekolah.

Catatan pemasukan.

Laptop tua.

Foto produk pertama Keisha.

Benda-benda yang mengingatkan bahwa kami bertahan.

Kirana menyimpan foto ketika aku tidur.

Bukti bahwa aku juga pernah beristirahat.

Mungkin hidup tidak seharusnya hanya diarsipkan lewat hal-hal yang berhasil kami lewati.

Mungkin perlu ada bukti bahwa di tengah semua itu kami juga pernah nyaman.

Pernah tertawa.

Pernah tidur tanpa berjaga.

Malamnya aku tidak meminta Keisha menghapus foto asli.

Aku cuma berkata, “Jangan kirim ke siapa-siapa.”

Dia tersenyum.

“Siap.”

Aku tahu dia akan menyimpannya.

Anehnya aku tidak keberatan.

Ada satu malam ketika kami bertiga menonton film dari laptop karena hujan terlalu deras untuk Kirana pulang.

Keisha duduk di lantai.

Aku dan Kirana di sofa.

Setengah film, Keisha sudah tertidur bersandar ke sofa.

Kirana melihat.

“Pindahin?”

Aku mengangguk.

Aku mengangkat Keisha ke kamar.

Walau sudah besar, bagiku dia masih terasa seperti anak SMP yang dulu tidur sambil menunggu aku pulang kerja.

Saat kembali, Kirana sedang membereskan gelas.

“Dia capek,” katanya.

“Iya.”

“Kamu juga.”

“Nggak.”

Kirana menatap.

Aku tertawa kecil.

“Sedikit.”

Kami duduk lagi.

Hujan belum reda.

“Kamu nginep?” tanyaku.

Kirana langsung menatap.

Aku baru sadar bagaimana bunyinya.

“Di kamar Keisha.”

Dia tertawa.

“Aku tahu.”

Telingaku panas.

Kirana menghubungi rumahnya lalu mendapat izin karena hujan.

Malam itu aku tidur di kamar sendiri.

Kirana dengan Keisha.

Tidak ada yang romantis secara fisik.

Tapi anehnya justru terasa sangat intimate.

Pagi aku bangun dan menemukan dua perempuan itu di dapur.

Keisha rambut berantakan.

Kirana memakai kaus pinjaman Keisha yang sedikit kekecilan.

Mereka sedang membuat telur.

“Pagi,” kata Kirana.

Aku berhenti.

Pemandangan itu terlalu domestik.

Keisha langsung menyipit.

“Kenapa Kakak bengong?”

“Nggak.”

Kirana tersenyum.

Aku mengambil tiga piring.

Tidak ada yang berkomentar.

Kami sarapan.

Hujan sudah berhenti.

Matahari masuk lewat jendela kecil.

Hari itu aku berangkat kerja dengan satu gambaran yang terus muncul di kepala.

Bukan ciuman.

Bukan date.

Kirana berdiri di dapur rumah kami pada pagi hari, tertawa bersama Keisha.

Aku tidak berani memberi nama pada keinginan yang muncul.

Belum.

Tapi aku tahu aku ingin melihat pemandangan itu lagi.