← Piring Ketiga

Chapter Fifty

Rumah Baru

POV — Damar Alvaro

Aku membeli rumah kecil.

Bukan besar.

Dua kamar.

Dapur yang cukup.

Ruang tengah dengan jendela lebar.

Pertama kali agen bertanya akan tinggal dengan siapa, aku menjawab, “Sendiri dulu.”

Dulu kata sendiri akan terasa seperti kegagalan.

Sekarang tidak.

Keisha sudah punya apartemen kecil dekat klinik.

Kirana masih tinggal dekat kantornya.

Aku ingin rumah.

Bukan karena harus menampung siapa pun.

Karena aku ingin.

Itu alasan yang terasa baru bahkan setelah bertahun-tahun.

Keisha datang saat rumah masih kosong.

Dia berdiri di tengah ruang.

“Kak.”

“Hm?”

“Bagus.”

“Lumayan.”

“Jangan lumayan.”

Aku tertawa.

“Bagus.”

Dia masuk dapur.

Membuka lemari.

“Piring mana?”

“Belum beli.”

Keisha langsung membuka marketplace.

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Aku pilih sendiri.”

Dia menatap.

“Wah.”

“Apa?”

“Independen.”

Aku melempar kunci kardus.

Kirana datang minggu berikutnya.

Aku gugup.

Tidak tahu kenapa.

Mungkin karena rumah baru adalah simbol yang terlalu besar.

Dia masuk.

Melepas sepatu.

Tidak ada sandal khusus.

Belum.

Kirana melihat sekeliling.

“Bagus.”

“Lumayan.”

Dia menatap.

Aku tertawa.

“Bagus.”

Dia berjalan ke dapur.

Membuka lemari.

Ada satu set piring baru.

Enam.

Aku sengaja beli enam.

Tidak dua.

Tidak tiga.

Enam.

Kirana melihat.

“Banyak.”

“Kalau ada tamu.”

“Kei.”

“Iya.”

“Siapa lagi?”

Aku mengangkat bahu.

“Orang.”

Dia tersenyum.

Aku belum meminta dia pindah.

Belum.

Kami baru setahun balikan.

Aku tidak ingin rumah menjadi cara mempercepat sesuatu.

Tapi aku juga tidak mau pura-pura tidak punya harapan.

Kami duduk di lantai karena sofa belum datang.

Makan takeaway.

“Kira.”

“Hm?”

“Aku beli rumah ini bukan buat bikin kamu merasa harus tinggal di sini.”

Dia menatap.

Aku lanjut.

“Aku cuma... pengin kamu tahu kalau suatu hari kamu mau, aku pengin.”

Kirana diam.

Jantungku naik.

Aku tertawa gugup.

“Aku ngomong jelek.”

“Lumayan.”

Aku menatap.

Dia tersenyum.

“Lanjut.”

Aku menarik napas.

“Aku pengin punya rumah yang kamu bisa pulang ke sini.”

Matanya langsung merah.

Aku panik sedikit.

“Tapi bukan sekarang juga.”

Kirana tertawa sambil menangis.

“Damar.”

“Apa?”

“Kamu masih kebanyakan disclaimer.”

“Ya.”

Dia menggeser duduk lebih dekat.

“Aku juga pengin.”

Aku membeku.

“Apa?”

“Suatu hari.”

Aku mengangguk.

“Ya.”

Tidak ada proposal.

Tidak ada keputusan pindah.

Hanya kemungkinan yang dibicarakan bersama.

Itu terasa sangat besar.

Beberapa bulan kemudian Kirana mulai menyimpan barang kecil.

Sikat gigi.

Hair tie.

Satu kaus.

Aku melihat hair tie hitam di dekat wastafel.

Memori datang.

Rumah lama.

Lemari dekat pintu.

Aku tersenyum.

Suatu malam Keisha datang makan.

Dia membuka lemari.

“Piringnya enam.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku menatap.

“Kenapa semua orang nanya?”

Kirana dari ruang tengah tertawa.

Kami makan bertiga.

Meja baru.

Piring baru.

Tapi posisi hampir sama.

Keisha di depan.

Kirana di sebelah.

Aku di sisi satunya.

Di tengah makan Keisha berkata, “Aku mau buka cabang klinik tahun depan.”

Aku hampir langsung bertanya modal.

Berhenti.

“Kamu butuh apa dari aku?”

Keisha membeku.

Kirana melihat.

Aku menunggu.

Keisha tersenyum pelan.

“Bantu sistem.”

“Boleh.”

“Bukan uang.”

“Aku nggak nawarin.”

Keisha menunjuk.

“Perkembangan.”

Kirana tertawa.

Aku juga.

Setelah makan, Keisha pulang.

Kirana membantu mencuci.

Aku mengeringkan.

“Mar.”

“Hm?”

“Kamu sadar nggak?”

“Apa?”

“Tadi.”

“Kei?”

“Iya.”

Aku mengangguk.

“Sadar.”

“Bangga?”

“Sedikit.”

Kirana menyenggol.

“Banyak.”

Aku tertawa.

“Banyak.”

Malam itu Kirana menginap di kamar tamu.

Paginya aku bangun dan mencium aroma telur.

Aku keluar.

Kirana di dapur memakai kausku.

Pemandangan lama.

Tapi bukan rumah lama.

Dia menoleh.

“Pagi.”

Aku berhenti.

“Kenapa?”

“Nggak.”

“Kok bengong?”

Aku mendekat.

Memeluk dari belakang.

Kirana tertawa.

“Wah.”

“Apa?”

“Spontan.”

Aku mencium puncak kepala.

Dia bersandar.

Di meja ada dua piring.

Aku melihat.

Kirana mengikuti tatapan.

“Kei nggak ada.”

“Iya.”

Dua piring.

Aneh.

Tidak sepi.

Karena dua ini bukan sisa setelah seseorang pergi.

Dua ini adalah dua orang yang memilih membangun sesuatu bersama, sambil tetap punya tempat untuk orang lain datang.

Aku akhirnya memahami perbedaannya.

Rumah bukan jumlah piring yang selalu harus penuh.

Rumah adalah keyakinan bahwa kalau seseorang datang, kita tahu di mana mengambil piring tambahan.

Aku membeli sofa sebulan kemudian.

Kirana ikut memilih.

Bukan karena rumah itu otomatis miliknya.

Karena seleraku buruk.

“Yang abu-abu.”

“Kenapa?”

“Yang cokelat kayak ruang tunggu klinik.”

“Aku suka cokelat.”

“Aku tahu. Makanya aku ikut.”

Kami akhirnya beli abu-abu.

Keisha datang dan langsung berkata, “Bagus. Untung bukan cokelat.”

Aku dikhianati dua arah.

Rumah perlahan terisi.

Rak buku.

Tanaman yang hampir mati karena aku lupa siram.

Kirana menyelamatkan.

Foto kecil acara klinik.

Aku menaruh foto bertiga tanpa sadar.

Keisha melihat.

Tidak komentar.

Suatu malam listrik mati.

Kami bertiga kebetulan ada.

Tidak ada AC.

Tidak ada Wi-Fi.

Keisha langsung protes.

“Rumah Mas Mas IT mati listrik.”

“Apa hubungannya?”

“Harusnya Kakak bisa benerin.”

“Aku bukan PLN.”

Kirana tertawa.

Kami menyalakan lilin.

Keisha cerita tentang pasien.

Kirana cerita kantor.

Aku mendengarkan.

Lalu Keisha bertanya, “Kak, kenapa beli rumah sekarang?”

Aku tahu dia tidak bertanya finansial.

Aku berpikir.

“Karena dulu semua tempat tinggal rasanya sementara.”

Keisha diam.

Kontrakan lama.

Kos.

Apartemen kecil.

Aku melanjutkan.

“Aku pengin punya satu tempat yang nggak kupikir kapan harus pindah.”

Kirana menatap.

Keisha berkata, “Bagus.”

Tidak ada tangis.

Aku bersyukur.

Listrik kembali.

Lampu menyala.

Keisha mengeluh matanya silau.

Hidup lanjut.

Beberapa minggu berikutnya aku mulai belajar hal baru: menerima rumah kosong.

Kalau Kirana tidak datang, aku tidak panik.

Kalau Keisha sibuk, aku makan sendiri.

Satu piring.

Ternyata satu piring juga bisa sehat.

Kesepian dan kesendirian bukan hal sama.

Aku bisa sendirian tanpa merasa ditinggalkan.

Itu mungkin pencapaian paling besar yang tidak pernah masuk CV.

Suatu malam aku benar-benar makan sendiri.

Kirana dinas luar.

Keisha operasi malam.

Aku membuat mi.

Satu mangkuk.

Duduk.

Ponsel berbunyi.

Kira: Udah makan?

Aku: Lagi.

Kira: Apa?

Aku: Mi.

Kira: Sayur?

Aku memotret.

Tidak ada sayur.

Balasan:

Kira: Damar.

Aku tertawa.

Aku: Besok.

Lalu Keisha chat lima menit kemudian.

Kei: Kak, makan jangan mi terus.

Aku menatap dua chat.

Dua perempuan.

Dua kota berbeda.

Aku sendirian di rumah.

Tidak kesepian.

Aku menambahkan telur.

Foto.

Aku: Ada telur.

Kirana mengirim emoji tepuk tangan.

Keisha mengirim:

Kei: Lumayan.

Aku tertawa.

Rumah ternyata tidak dibangun supaya orang selalu ada di dalamnya.

Ia dibangun supaya kita punya tempat kembali setelah masing-masing pergi menjalani hidup.

Konsep itu dulu terasa mustahil.

Aku pernah mengira menjaga keluarga berarti memastikan semua orang tetap dalam jangkauan.

Sekarang aku justru bangga melihat mereka jauh.

Kirana bisa pergi dinas tanpa aku merasa hubungan terancam.

Keisha bisa membuka cabang tanpa aku menghitung risikonya lebih dulu.

Aku bisa makan mi sendiri tanpa merasa dunia mengecil.

Beberapa bulan setelah rumah selesai, Kirana mendapat tawaran promosi.

Posisinya lebih tinggi.

Tapi kantor baru berjarak hampir dua jam.

Dia datang dengan wajah campur aduk.

“Kamu mau?” tanyaku.

Kirana menatap.

“Pertanyaan pertama itu?”

“Iya.”

Dia tersenyum.

“Mau.”

“Nah.”

“Tapi.”

Aku menunggu.

“Kalau aku ambil, mungkin weekday susah ke sini.”

Aku mengangguk.

“Kita cari.”

Kirana diam.

“Apa?”

“Nggak.”

“Wajahmu.”

Dia tertawa.

“Bangga aja.”

Aku mengerti.

Enam tahun lalu aku akan bilang jangan pikirin aku.

Sekarang aku berkata, “Aku bakal kangen. Tapi kita cari cara.”

Kirana memeluk.

Aku memeluk balik.

Dia mengambil promosi.

Tidak ada yang harus hilang.

Beberapa hari dalam seminggu kami cuma video call.

Akhir pekan bertemu.

Kadang aku ke tempatnya.

Kadang dia ke rumah.

Kami tidak sempurna.

Tapi tidak lagi menganggap jarak sebagai bukti cinta harus dikorbankan.

Rumah baru itu mengajariku satu hal:

punya tempat bukan berarti mengikat orang di dalamnya.

Justru kalau benar-benar rumah, orang boleh keluar karena yakin pintunya masih bisa dibuka saat pulang.

Aku memandang rumah yang kupilih sendiri dan akhirnya mengerti: tempat yang aman tidak menahan orang. Ia memberi mereka alasan untuk kembali dengan sukarela.