Chapter Two
Dua Shift dan Sebungkus Keripik
POV — Keisha Alvaro
Kalau ada yang bilang kakakku kuat, orang itu pasti belum pernah melihat Damar tidur sambil duduk dengan sendok masih di tangan.
Aku melihatnya untuk pertama kali tiga minggu setelah Ibu pergi.
Jam hampir sebelas malam. Aku sedang mengerjakan PR di meja makan ketika pintu terbuka dan Kak Damar masuk memakai kaus hitam dengan apron kafe masih tergulung di tasnya.
“Belum tidur?”
“Belum.”
“Besok sekolah.”
“Kakak juga.”
“Aku beda.”
“Bedanya apa?”
Dia tidak menjawab.
Sejak keadaan rumah berubah, Kak Damar mulai punya kebiasaan menjawab pertanyaan yang tidak disukainya dengan diam. Sangat menyebalkan.
Dia membuka tudung saji. Ada nasi dan telur kecap yang kubuat.
“Udah makan?” tanyaku.
“Di kafe.”
“Bohong.”
“Kenapa?”
“Kalau makan di kafe, kenapa masih lihat telur kayak ketemu cinta pertama?”
Dia melirikku. “Anak SMP tahu cinta pertama dari mana?”
“Internet.”
Kak Damar duduk dan mulai makan.
Aku pura-pura kembali menulis, padahal mataku mengikuti geraknya. Dia sekarang sekolah dari pagi sampai siang, lalu tiga hari seminggu bekerja di kafe sampai malam. Hari lain dia mengajar dua anak SD dan seorang anak SMP.
Dia bilang semuanya aman.
Menurutku definisi aman kami sudah rusak.
“Kak.”
“Hm?”
“Uang sekolah bulan depan gimana?”
Sendoknya berhenti sebentar. “Udah ada.”
“Dari mana?”
“Ada.”
“Kalau aku nanya lokasi terus dijawab ‘ada’, polisi juga pensiun.”
Dia mengunyah pelan. “Aku tambah murid les.”
Aku langsung menutup buku. “Kapan?”
“Sabtu.”
“Sabtu Kakak kerja.”
“Pagi les, siang kerja.”
“Minggu?”
“Minggu pagi les juga.”
“Terus kapan libur?”
“Nanti.”
Aku benci jawaban itu.
Nanti.
Kata yang bisa berarti minggu depan, tahun depan, atau tidak pernah.
“Aku bisa bantu.”
“Kamu sekolah.”
“Kakak juga sekolah.”
“Aku kakaknya.”
“Terus?”
Dia mengangkat alis.
“Jabatan kakak bukan izin buat jadi bodoh.”
“Bahasamu.”
“Bodoh itu bahasa Indonesia.”
Kak Damar menghela napas. Lima menit kemudian, kepalanya turun sedikit. Lalu turun lagi.
Sendoknya masih di tangan.
Dia tertidur.
Aku diam.
Wajahnya kelihatan berbeda saat tidur. Bukan kakak yang selalu punya jawaban. Bukan orang yang bilang semuanya aman.
Cuma anak SMA yang capek.
Aku mengambil sendok dari tangannya dan menaruhnya di piring.
Malam itu aku memutuskan kalau dia boleh keras kepala, aku juga boleh.
Besoknya di sekolah, aku membawa dua bungkus keripik buatan sendiri.
Ide itu sebenarnya datang dari Rani, teman sebangkuku yang selalu membeli keripik pedas dekat gerbang sekolah.
“Kalau bikin sendiri lebih enak,” kataku.
“Ya bikin.”
“Kalau enak, mau beli?”
“Kalau gratis aku mau.”
Teman memang tidak berguna.
Tapi tiga hari kemudian dia membeli dua bungkus.
Order pertamaku total tiga bungkus karena satu lagi dibeli anak kelas sebelah.
Aku pulang membawa uang yang jumlahnya tidak seberapa, tapi rasanya seperti memenangkan tender pemerintah.
Kak Damar sedang mandi. Aku menempel kertas di kulkas.
UANG LISTRIK BULAN INI GUE YANG BAYAR. JANGAN SOK JADI KEPALA KELUARGA SENDIRIAN.
Di bawahnya kugambar wajah Kak Damar jelek sekali.
Saat keluar kamar mandi, dia berdiri lama di depan kulkas.
“Kei.”
“Apa?”
“Tiga bungkus keripik nggak cukup buat listrik.”
“Ini investasi awal.”
“Investasi katanya.”
“Tunggu dua bulan lagi.”
Dia mengambil kertas itu.
“Jangan ganggu sekolah.”
“Kerja Kakak ganggu sekolah nggak?”
“Kei.”
“Kalau jawabannya iya, berhenti kerja.”
Dia diam.
“Nah.”
Untuk pertama kalinya, aku menang.
Bisnis keripikku tidak langsung laku keras. Minggu pertama hanya sebelas bungkus. Minggu kedua tujuh belas. Aku belajar bahwa foto produk di atas taplak bunga punya efek buruk terhadap penjualan. Aku juga belajar bahwa orang suka level pedas dengan nama bodoh.
Aku membuat tiga level.
Pedas Manja.
Pedas Nyesel.
Pedas Cari Warisan.
Kak Damar membaca label terakhir sambil menatapku tanpa ekspresi.
“Terlalu gelap?” tanyaku.
“Sedikit.”
“Ganti?”
“Jangan. Lucu.”
Aku tersenyum puas.
Beberapa hari kemudian, seekor kucing belang muncul di belakang rumah saat aku sedang menggoreng keripik.
Kurus sekali.
Aku memberinya potongan kecil ikan dari sisa lauk.
Kak Damar pulang dan langsung melihat.
“Kita aja hemat makan.”
“Dia lebih kurus.”
“Besok jangan lagi.”
“Iya.”
Besoknya di dekat beras ada sebungkus kecil makanan kucing murah.
Aku membawa bungkus itu ke kamar Kak Damar.
“Katanya jangan lagi.”
Dia sedang belajar matematika. Tidak menoleh.
“Biar dia nggak makan lauk kita.”
“Oh.”
“Apa?”
“Nggak ada.”
“Senyum kamu nyebelin.”
Aku semakin tersenyum.
Pelan-pelan rumah kami punya sistem baru.
Aku mencatat pesanan keripik di buku tulis bekas. Kak Damar menempelkan jadwal kerjanya di kulkas. Siapa yang pulang duluan wajib mencuci beras. Siapa yang lupa mematikan lampu kamar harus membayar denda seribu rupiah ke toples rumah.
Kak Damar paling sering kena denda.
“Kenapa aku terus?” protesnya suatu malam.
“Karena Kakak ceroboh.”
“Aku capek.”
“Listrik nggak peduli.”
Dia memasukkan dua lembar seribuan ke toples sambil mengomel.
Toples itu awalnya bekas biskuit. Aku menempel label DANA DARURAT JANGAN DICOLONG dengan spidol merah.
“Siapa yang mau nyolong?” Kak Damar bertanya.
“Kakak.”
“Aku yang masukin uang paling banyak.”
“Justru aksesnya paling besar.”
Aku mulai menitipkan keripik ke kantin sekolah. Pemilik kantin meminta sistem konsinyasi dan mengambil bagian keuntungan yang menurutku keterlaluan. Aku pulang dengan wajah muram.
Kak Damar mendengarkan keluhanku sambil menyetrika seragam.
“Kalau nggak cocok, cari tempat lain.”
“Tapi orang lewat kantin banyak.”
“Berarti hitung lagi marginnya.”
“Kakak ngerti margin?”
“Aku sekolah.”
“Kadang nggak kelihatan.”
Dia hampir menyetrika lengan bajuku dua kali karena kesal.
Malam itu kami menghitung harga minyak, singkong, bumbu, plastik, dan bagian kantin. Aku baru sadar selama ini keuntungan yang kurasa besar sebenarnya tipis.
“Kalau harga naik?” tanyaku.
“Jangan langsung naikkan harga. Kecilkan sedikit isi kalau perlu, tapi jangan bohong soal berat.”
“Kenapa?”
“Orang balik beli kalau percaya.”
Aku mencatat kalimat itu.
Bertahun-tahun kemudian aku akan lupa rumus matematika SMP, tapi tidak nasihat bisnis pertama dari kakakku.
Beberapa minggu sesudahnya, aku mendapat pesanan lima puluh bungkus untuk acara kelas kakak tingkat.
Aku panik.
Kak Damar pulang dari shift dan langsung ikut mengiris, menimbang, serta menempel label sampai hampir jam satu pagi.
“Besok sekolah,” kataku.
“Kamu juga.”
“Aku yang punya usaha.”
“Aku investor tenaga.”
“Nggak dapat saham.”
“Pelit.”
“Turunan.”
Kami tertawa terlalu keras untuk jam satu pagi.
Order lima puluh bungkus itu memberiku pelajaran lain: ternyata capek terasa berbeda kalau ada hasil yang bisa dihitung sendiri.
Keesokan harinya aku pulang membawa uang pembayaran dan meletakkannya di meja dengan gaya orang kaya.
“Berapa?” Kak Damar bertanya.
Aku menyebut angka.
Dia bersiul pendek.
“Lumayan.”
“Cuma lumayan?”
“Sangat lumayan, Bos.”
Aku menyodorkan tangan. “Bonus karyawan.”
Dia menjabat tanganku serius. “Saya terima dalam bentuk ayam.”
“Mimpi.”
Begitulah kehidupan kami kemudian.
Tidak bagus.
Tidak juga hancur.
Kami hanya terus menyusun hari berikutnya.
Kak Damar bekerja.
Aku jualan.
Kami belajar.
Kalau uang menipis, lauk diperkecil.
Kalau ada lebih, kami membeli ayam goreng satu porsi lalu membaginya dua.
Suatu malam Kak Damar pulang membawa dua potong ayam.
Aku menatap kotaknya. “Ada apa?”
“Tip.”
“Banyak?”
“Lumayan.”
“Kita kaya?”
“Untuk malam ini.”
Kami makan ayam sambil menonton acara televisi yang tidak lucu.
Aku tertawa lebih banyak daripada seharusnya.
Bukan karena acaranya.
Karena selama beberapa jam rumah ini kembali terdengar seperti rumah.
Setelah makan, aku mencatat keuntungan keripik di buku kecil.
Kak Damar melihat angka-angka itu.
“Simpan sebagian buat kamu.”
“Buat apa?”
“Apa aja.”
“Nanti.”
Dia menatapku.
Aku baru sadar aku memakai kata yang paling kubenci darinya.
“Apa?” tanyaku defensif.
“Nggak.”
“Jangan senyum.”
“Aku nggak senyum.”
“Bibir Kakak miring.”
“Bawaan lahir.”
Aku melempar bungkus keripik kosong ke kepalanya.
Dia tertawa.
Dan malam itu aku memutuskan satu hal lagi.
Aku tidak akan membiarkan Kak Damar menjadi satu-satunya orang yang menyelamatkan keluarga ini.
Kalau kami cuma punya satu sama lain, berarti pekerjaannya harus dibagi dua.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik reading
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga