← Piring Ketiga

Chapter Forty Seven

Kalau Kali Ini

POV — Damar Alvaro

Aku mengajak Kirana berjalan ke kampus lama.

Ide buruk.

Terlalu sentimental.

Tapi ketika kutanya tempat mana yang dia mau, dia berkata, “Kampus.”

Jadi kami datang Sabtu pagi.

Banyak berubah.

Gedung baru.

Kantin direnovasi.

Mesin minuman yang dulu sering rusak sudah hilang.

Tangga belakang masih ada.

Aku berhenti.

Kirana juga.

“Kamu ingat?” tanyanya.

“Sayangnya.”

Dia tertawa.

Kami duduk di tangga yang sama.

Enam tahun dan beberapa kehidupan kemudian.

Tidak sedekat dulu.

Ada jarak satu anak tangga.

Aku tidak mencoba menghilangkan.

“Kira.”

“Hm?”

“Aku mau nanya sesuatu.”

Dia langsung menatap curiga.

“Apa?”

Aku menahan senyum.

“Bukan lamaran.”

“Ya ampun.”

Dia memukul lenganku.

Kontak pertama yang spontan sejak reunion.

Kecil.

Tapi tubuhku langsung mengenali.

Kirana juga sadar.

Tangannya berhenti.

Kami sama-sama tertawa canggung.

Aku menarik napas.

“Aku nggak mau balikan sama kamu.”

Wajahnya kosong.

Aku langsung menambahkan, “Maksudku bukan begitu.”

Kirana tertawa keras.

“Enam tahun latihan komunikasi?”

“Aku gugup.”

“Kelihatan.”

Aku mengusap wajah.

“Ulang.”

“Silakan.”

Aku menatapnya.

“Aku nggak mau kita balik ke hubungan lama.”

Kirana tidak bercanda sekarang.

“Aku juga.”

“Aku pengin kalau... kalau kita mau coba lagi, kita mulai dari sekarang.”

Dia diam.

“Bukan karena kita pernah jadian. Bukan karena Kei. Bukan karena tiga piring.”

Aku berhenti.

“Karena aku masih suka kamu.”

Kirana menatap.

Aku tertawa kecil.

“Bodoh ya. Enam tahun.”

“Sedikit.”

“Aku juga masih takut.”

“Bagus.”

Aku tersenyum.

“Sekarang aku tahu takut bukan instruksi.”

Matanya berubah.

Aku melanjutkan sebelum keberanian hilang.

“Aku nggak mau minta kamu percaya langsung.”

“Bagus.”

“Aku nggak mau janji aku nggak bakal regress.”

Kirana menunggu.

“Aku mungkin bakal panik lagi suatu hari.”

Aku melihat tangan sendiri.

“Tapi sekarang aku tahu aku harus ngomong sebelum bikin keputusan.”

Sunyi.

“Aku sudah konseling beberapa tahun.”

Kirana terkejut sedikit.

“Serius?”

“Iya.”

“Kenapa nggak pernah cerita?”

“Baru sekarang relevan.”

Dia tertawa.

“Masih Damar.”

“Sayangnya.”

Kami diam.

Aku membiarkan.

Dulu aku akan mengisi diam dengan solusi.

Sekarang aku tahu orang perlu waktu.

Kirana akhirnya berkata, “Aku juga beda.”

“Aku tahu.”

“Aku nggak akan ngejar kayak dulu.”

“Bagus.”

“Aku capek.”

Aku tertawa.

Dia tersenyum.

“Kalau kali ini kamu mundur, aku nggak akan mengetuk terus.”

Aku mengangguk.

“Adil.”

“Kalau kamu sibuk, aku juga nggak akan langsung anggap kamu menjauh.”

“Ya.”

“Kalau aku takut, aku bilang.”

“Ya.”

“Kalau kamu takut?”

“Aku bilang.”

Kirana menyipit.

“Latihan.”

Aku menarik napas.

“Aku takut kamu bilang nggak.”

Dia diam.

Jantungku naik.

Lalu senyum kecil muncul.

“Bagus.”

“Jawabannya?”

“Belum.”

Aku membeku.

Kirana tertawa.

“Kok wajahmu?”

“Belum itu apa?”

“Belum.”

Aku menahan diri tidak memaksa.

Sulit.

“Kamu mau mikir?”

“Iya.”

“Oke.”

Dia mengangkat alis.

“Beneran oke?”

Aku mengangguk.

“Beneran.”

Kirana melihatku lama.

“Dulu kamu pasti kasih aku seribu alasan kenapa nggak apa-apa kalau nolak.”

Aku tersenyum pahit.

“Iya.”

“Sekarang?”

“Sekarang aku pengin kamu bilang iya.”

Wajahnya langsung merah sedikit.

Akhirnya.

“Curang.”

“Apa?”

“Jujur tanpa aba-aba.”

Aku tertawa.

Kami berjalan lagi.

Ke perpustakaan.

Kantin.

Halte.

Di tempat halte lama, kami berhenti.

Dulu aku menunggu busnya berkali-kali.

Sekarang tidak ada bus yang sama.

Kirana berkata, “Mar.”

“Hm?”

“Aku belum jawab karena aku takut.”

Aku menatap.

“Takut apa?”

“Kalau kita coba lagi, semua kenangan buruk ikut masuk.”

Aku mengangguk.

“Masuk.”

Dia terkejut.

“Apa?”

“Pasti masuk.”

Aku melihat jalan.

“Aku juga bawa semua itu.”

Kirana diam.

“Tapi mungkin kita nggak perlu pura-pura itu hilang.”

Aku menoleh.

“Kita cuma jangan kasih masa lalu nyetir.”

Senyumnya pelan muncul.

“Konseling banget.”

Aku tertawa.

“Bayar mahal.”

“Pacaran belum mahal?”

Kalimat itu membuat kami sama-sama berhenti.

Frasa lama.

Aku tersenyum.

“Belum tahu.”

Kirana tertawa kecil.

Aku tidak melanjutkan.

Ada jawaban yang ingin kusimpan untuk saat yang tepat.

Kami berjalan ke parkiran.

Sebelum masuk mobilnya, Kirana berkata, “Aku kasih jawaban minggu depan.”

“Kenapa minggu depan?”

“Biar kamu menderita sedikit.”

“Kirana.”

Dia tertawa.

Aku tersenyum.

“Ya udah.”

Dia membuka pintu.

Aku memanggil.

“Kira.”

“Hm?”

“Aku kangen.”

Tidak untuk memengaruhi.

Tidak sebagai senjata.

Cuma fakta.

Kirana menatapku lama.

“Aku juga.”

Lalu masuk mobil.

Aku berdiri sampai dia pergi.

Tidak mengejar.

Tidak mundur.

Hanya berdiri di tempatku dan membiarkan seseorang punya pilihan.

Mungkin inilah perbedaan terbesar.

Dulu aku pikir cinta berarti menentukan apa yang paling aman untuk orang yang kucintai.

Sekarang aku tahu cinta juga berarti berani mendengar jawaban yang mungkin tidak kita suka.

Aku pulang tanpa kepastian.

Anehnya, aku baik-baik saja.

Takut.

Berharap.

Tapi baik-baik saja.

Untuk pertama kalinya, ketidakpastian tidak terasa seperti keadaan darurat yang harus segera kupecahkan.

Ia hanya ruang.

Dan mungkin, kalau kali ini Kirana memilih masuk lagi, aku akhirnya tahu cara tidak menutup pintunya.

Minggu menunggu jawaban Kirana ternyata lebih sulit daripada deployment besar.

Aku tidak chat berlebihan.

Prestasi.

Hari pertama aku hanya mengirim pagi.

Hari kedua foto kucing.

Hari ketiga tidak mengirim apa-apa.

Kirana yang mengirim duluan.

Kira: Kamu kok diem?

Aku tertawa.

Aku: Katanya mikir.

Kira: Kamu boleh hidup selama aku mikir.

Aku: Instruksi kurang jelas.

Kira: Dasar IT.

Obrolan ringan.

Tidak ada jawaban.

Aku belajar menahan.

Keisha tahu.

Tidak membantu.

“Udah jawab?”

“Belum.”

“Kasihan.”

“Kamu adikku siapa?”

“Kak Kira juga kakakku.”

Pengkhianatan permanen.

Hari Jumat kami makan bertiga.

Ayam lagi.

Kirana datang.

Tidak membawa jawaban di awal.

Aku berusaha normal.

Gagal sedikit.

Keisha akhirnya marah.

“Kalian bikin aku capek.”

“Kok kamu?”

“Energi ruangan.”

Kirana tertawa.

Aku menatap nasi.

Setelah makan Keisha sengaja pulang? Kami di klinik. Dia sengaja masuk ruang obat dan menutup pintu.

Halus sekali.

Kirana duduk di seberang.

“Mar.”

“Hm?”

“Aku udah mikir.”

Jantung langsung naik.

Aku meletakkan sendok.

“Ya.”

“Jawabanku iya.”

Aku tidak langsung paham.

“Iya?”

Kirana tersenyum.

“Iya, aku mau coba lagi.”

Aku menatap.

Semua kata hilang.

Kirana tertawa.

“Enam tahun latihan masih begini?”

Aku mengusap wajah.

“Sebentar.”

Dia tertawa lebih besar.

Aku ikut.

Lalu serius.

“Kira.”

“Hm?”

“Beneran?”

“Beneran.”

Aku ingin meraih tangannya.

Berhenti.

Kirana melihat gerakan kecil itu.

Dia mengulurkan tangan di atas meja.

Telapak atas.

Persis seperti dulu saat kami resmi pertama kali.

Dadaku langsung sakit dengan cara manis.

Aku meletakkan tangan.

Jarinya menutup.

Tidak ada ledakan.

Cuma hangat.

“Kali ini,” kata Kirana, “aturan.”

Aku mengangguk.

“Pertama, kalau takut ngomong.”

“Ya.”

“Kalau butuh ruang bilang ruang, jangan hilang.”

“Ya.”

“Jangan bikin keputusan soal hubungan sendirian.”

“Ya.”

“Kamu juga boleh punya aturan.”

Aku berpikir.

“Kalau kamu kecewa, bilang sebelum numpuk.”

Kirana mengangguk.

“Ya.”

“Kalau ada kesempatan besar, kita bicara. Bukan saling dorong pergi.”

“Ya.”

Aku menarik napas.

“Dan Keisha nggak boleh jadi alasan.”

Dari ruang obat terdengar:

“AKU DENGER.”

Kami tertawa.

Kirana menggenggam lebih kuat.

“Setuju.”

Aku melihat tangan kami.

Enam tahun lalu aku kehilangan ini bukan karena tidak cinta.

Karena aku terlalu takut pada harga cinta.

Sekarang aku tahu tidak ada hubungan yang murah.

Ia meminta waktu.

Kejujuran.

Keberanian.

Kadang terapi.

Kadang minta maaf berkali-kali.

Tapi mahal bukan berarti tidak mampu.

Aku hampir mengatakan sesuatu.

Menahan.

Belum.

Ada satu kalimat lama yang maknanya ingin kuubah dengan benar.

Bukan sekarang.

Kirana menatap.

“Kenapa?”

“Nggak.”

“Wajahmu.”

Aku tersenyum.

“Kangen pegang tangan.”

Dia langsung merah sedikit.

“Curang.”

“Apa?”

“Masih sniper.”

Aku tertawa.

Kami belum ciuman.

Belum peluk lama.

Tidak ingin menjadikan tubuh bukti bahwa kami resmi lagi.

Kami hanya duduk bergandengan sampai Keisha keluar dengan ekspresi jijik.

“Udah?”

“Udah apa?” tanya Kirana.

“Balikan.”

Kirana melihatku.

Aku menjawab.

“Iya.”

Keisha berhenti.

Lalu matanya langsung merah.

“Kok nangis?” tanyaku.

“Debu.”

“Di klinik?”

“Diam.”

Kirana berdiri dan memeluknya.

Aku melihat.

Dulu pemandangan dua orang ini membuatku takut akan kehilangan posisi.

Sekarang tidak.

Aku berdiri dan ikut mendekat.

Keisha langsung berkata, “Jangan group hug.”

Terlambat.

Aku memeluk keduanya.

Keisha protes.

Kirana tertawa.

Aku juga.

Tiga orang lagi.

Bukan keluarga lama yang dipasang kembali.

Keluarga baru yang dibangun dari orang-orang yang sudah berubah.

Saat pulang, Kirana berdiri di samping mobil.

Aku berhenti satu langkah.

“Peluk boleh?”

Dia menatapku.

Senyum pelan.

“Boleh.”

Aku memeluk.

Enam tahun.

Tubuh masih ingat.

Tapi pelukan ini berbeda.

Tidak putus asa.

Tidak meminta masa lalu kembali.

Aku hanya memegang perempuan yang memilihku lagi setelah punya semua alasan untuk tidak.

Ketika lepas, Kirana berkata, “Berapa?”

Aku tertawa.

“Sepuluh.”

Dia tersenyum.

“Bagus.”

Aku mencium keningnya.

Pelan.

Dia membeku sepersekian detik.

Lalu tertawa.

“Masih curang.”

Aku pulang malam itu tanpa merasa harus memastikan masa depan.

Besok bisa sulit.

Kami bisa berantem.

Aku bisa regress.

Kirana bisa takut.

Tidak ada jaminan.

Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak butuh jaminan sebelum berani bahagia.

Kami sudah memilih.

Untuk hari ini, itu cukup.