← Piring Ketiga

Chapter Fifty One

Bukan Pengorbanan

POV — Kirana Prameswari

Damar melamarku tanpa restoran.

Tentu.

Kalau dia melamar di restoran mahal, aku mungkin curiga tubuhnya ditukar alien.

Hari itu hari Minggu.

Aku datang ke rumahnya—rumah kami mungkin sebentar lagi—membawa laundry yang tertinggal.

Keisha sudah ada.

Itu harusnya petunjuk.

Tapi Keisha datang sering.

Aku tidak curiga.

Di meja ada ayam goreng.

Petunjuk kedua.

Aku tetap tidak curiga.

“Kenapa ayam?” tanyaku.

Keisha mengangkat bahu.

“Lapar.”

Damar terlihat terlalu tenang.

Itu justru petunjuk terbesar.

Kami makan.

Keisha bicara tentang cabang klinik.

Damar cerita kerja.

Aku cerita kantor.

Normal.

Setelah makan, Damar mengambil tiga kertas lama dari satu map plastik.

Aku langsung kenal.

Target di kulkas.

Tulisan tanganku.

Tulisan Keisha.

Tulisan Damar.

Kertas sudah menguning sedikit.

“Ya ampun,” kataku.

Keisha tertawa.

“Masih disimpan.”

Aku mengambil punya Damar.

Jadi lebih baik.

Belajar menikmati hidup.

Aku melihatnya.

“Progress?”

Damar tersenyum.

“Lumayan.”

Aku menunjuk.

“Jangan.”

“Banyak.”

“Bagus.”

Keisha berdiri.

“Aku ambil minum.”

Dia pergi ke dapur dengan gerakan paling tidak natural di dunia.

Aku mulai curiga.

Damar menarik napas.

“Kira.”

“Hm?”

Tangannya masuk saku.

Oh.

Aku langsung menutup wajah.

“Jangan.”

Damar membeku.

“Apa?”

“Bukan jangan lamar.”

Keisha dari dapur tertawa keras.

Aku menurunkan tangan.

“Maksudku aku belum siap nangis.”

Damar menutup mata.

“Ya ampun.”

Aku tertawa sambil sudah menangis.

Dia berlutut.

Benar-benar.

Damar Alvaro yang dulu percaya pacaran barang mewah sekarang berlutut di depan meja makan dengan tiga piring kotor belum dicuci.

Tangannya gemetar.

Aku berhenti tertawa.

“Kira.”

“Hm?”

“Aku latihan kalimat panjang.”

Aku langsung tertawa lagi.

“Jangan rusak.”

“Ya.”

Dia melihatku.

“Aku dulu selalu pikir cinta itu sesuatu yang harus aku mampu dulu.”

Mataku panas.

“Punya uang cukup. Waktu cukup. Hidup cukup rapi.”

Dia menggeleng.

“Ternyata nggak pernah ada titik semuanya cukup.”

Aku menangis diam.

“Yang ada cuma pilihan buat jujur, bagi beban, dan tetap datang.”

Keisha juga sudah menangis di dapur.

Aku bisa dengar dia mengendus.

Damar melanjutkan.

“Aku nggak janji hidup kita gampang.”

“Bagus.”

“Aku nggak janji aku nggak bakal takut.”

Aku mengangguk.

“Tapi aku janji kalau takut, aku nggak akan bikin keputusan buat kita sendirian.”

Dadaku patah manis.

Damar membuka kotak cincin.

Sederhana.

Cantik.

“Dan aku nggak minta kamu jadi rumahku.”

Aku menatap.

“Aku mau kita bikin rumah bareng.”

Aku menangis lebih keras.

“Kirana Prameswari, mau nikah sama aku?”

Aku tidak menjawab langsung.

Bukan karena ragu.

Karena aku ingin melihat wajahnya beberapa detik.

Damar mulai panik.

“Kira.”

Aku tertawa.

“Iya.”

Dia membeku.

“Iya?”

“Iya, Mar.”

Keisha berteriak dari dapur.

“AKHIRNYA.”

Kami tertawa sambil menangis.

Damar memasang cincin.

Tangannya masih gemetar.

Aku menariknya berdiri.

Memeluk.

Lama.

“Sepuluh?” bisiknya.

Aku tertawa di bahu.

“Seratus.”

“Skalanya berubah?”

“Spesial.”

Aku mencium dia.

Keisha protes.

“Jangan di depan aku.”

Aku tidak peduli.

Setelah kami tenang, Keisha membawa minum.

Matanya merah.

Dia duduk.

“Kak Damar.”

“Hm?”

“Bagus.”

“Apanya?”

“Lamarannya.”

Damar terlihat lega.

“Kirain mau kritik.”

“Ada.”

“Tuh kan.”

“Kenapa piring belum dicuci?”

Aku melempar tisu.

Kami tertawa lagi.

Malam itu setelah Keisha pulang, aku duduk dengan Damar.

Cincin di tangan.

Aku masih sulit percaya.

“Mar.”

“Hm?”

“Kamu yakin?”

Damar menatap.

Aku langsung mengangkat tangan.

“Bukan aku ragu.”

“Terus?”

“Aku cuma mau dengar.”

Dia mengerti.

“Iya.”

“Kenapa?”

Damar berpikir.

“Karena aku mau hidup sama kamu.”

Sederhana.

Tidak ada karena kamu butuh aku.

Tidak ada karena Kei suka kamu.

Tidak ada karena enam tahun.

Aku mau.

Aku tersenyum.

“Bagus.”

Dia menggenggam tangan.

“Kamu?”

“Karena aku mau.”

Damar tersenyum.

Begitu saja.

Dua orang dewasa memilih.

Bukan menyelamatkan.

Bukan mengorbankan.

Memilih.

Aku melihat tiga piring yang masih belum dicuci.

“Mar.”

“Hm?”

“Pacaran mahal.”

Dia tertawa.

“Sekarang nikah lebih mahal.”

Aku memukul lengannya.

“Rusak momen.”

“Kamu mulai.”

Aku tertawa.

Kami mencuci piring bersama.

Cincin kulepas sementara dan taruh aman.

Damar mencuci.

Aku mengeringkan.

Tiga piring.

Satu milikku.

Satu Damar.

Satu Keisha.

Aku menyentuh piring ketiga sebelum masuk rak.

Dulu aku adalah orang ketiga di rumah mereka.

Sekarang aku akan menikahi kakaknya.

Anehnya aku tidak merasa mengambil tempat siapa pun.

Kami sudah belajar.

Keluarga tidak bekerja seperti kursi musik.

Tidak harus ada orang berdiri supaya orang lain bisa duduk.

Besok kami akan bicara soal tanggal, biaya, keluarga, acara.

Pasti akan ada stres.

Tapi malam itu aku hanya melihat cincin dan lelaki di sebelahku.

Untuk pertama kalinya dalam perjalanan kami, masa depan tidak terasa seperti sesuatu yang harus dibayar dengan kehilangan.

Persiapan menikah ternyata lebih menakutkan daripada proposal.

Bukan secara emosi.

Secara spreadsheet.

Damar membuat file.

Tentu.

Ada tab venue.

Makanan.

Dokumentasi.

Undangan.

Aku melihat.

“Mar.”

“Hm?”

“Ini ada skenario A, B, C.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Budget.”

Aku tertawa.

“Mas Mas IT.”

“Efisien.”

Kami hampir berantem soal jumlah tamu.

Aku ingin kecil.

Damar juga.

Keisha ingin mengundang setengah fakultas kedokteran hewan karena katanya “mereka saksi penderitaan.”

Kami menolak.

Untuk pertama kalinya konflik persiapan nikah tidak memicu trauma.

Kami cuma berdebat.

Lalu makan.

Lalu lanjut.

Ada satu malam Damar mulai terlihat terlalu tegang soal biaya.

Aku mengenali.

“Mar.”

“Hm?”

“Stop.”

“Apa?”

“Spreadsheet tutup.”

“Kenapa?”

“Wajah kamu.”

Dia menghela napas.

“Budget foto naik.”

“Bisa dikurangi.”

“Vendor bagus.”

“Terus?”

Damar menatap layar.

Aku duduk di sebelah.

“Ini bukan ujian apakah kamu mampu kasih aku pernikahan sempurna.”

“Aku tahu.”

“Beneran?”

Dia diam.

“Nah.”

Damar menutup laptop.

“Aku pengin bagus.”

“Aku juga.”

“Tapi.”

“Tapi kalau harus pilih bunga mahal atau kamu tidur cukup seminggu sebelum nikah, aku pilih kamu tidur.”

Dia tertawa.

“Romantis.”

“Banget.”

Kami akhirnya mengurangi dekorasi.

Tidak ada yang mati.

Damar tidur.

Hubungan selamat.

Keisha memberi komentar:

“Perkembangan karakter season finale.”

Aku melempar cushion.

Menjelang hari H, aku menemukan Damar duduk sendiri di dapur.

Tiga kertas target lama di depan.

Aku duduk.

“Takut?”

“Iya.”

Aku tersenyum.

“Bagus.”

“Semua orang pakai kalimat itu sekarang.”

“Warisan.”

Damar mengusap kertas.

“Aku takut jadi suami yang jelek.”

Aku menatap.

“Definisi?”

“Balik ke pola lama.”

“Kamu bisa.”

Dia melihat.

Aku mengangguk.

“Bisa regress.”

Damar menghela napas.

“Aku tahu.”

“Terus kalau kejadian?”

“Kita ngomong.”

“Kalau kamu nggak sadar?”

“Kamu bilang.”

“Kalau aku yang salah?”

“Aku bilang.”

Aku menyentuh tangannya.

“Nah.”

Tidak ada cara memastikan pernikahan aman selamanya.

Kami tidak perlu.

Kami cuma perlu punya mekanisme kembali.

Damar tiba-tiba berkata, “Kira.”

“Hm?”

“Kalau nanti aku jadi terlalu ngatur, jangan diam.”

“Siap.”

“Kalau aku kerja berlebihan—”

“Aku tarik kabel laptop.”

“Jangan.”

Aku tertawa.

Dia tersenyum.

“Aku serius.”

“Aku juga.”

Aku menyandarkan kepala.

“Aku juga takut.”

Damar langsung menoleh.

“Apa?”

“Jadi istri yang kehilangan diri.”

Dia diam.

“Aku suka kerja. Aku mungkin nanti mau pindah posisi lagi. Aku nggak mau semua identitasku jadi istri Damar.”

Damar menggenggam tanganku.

“Jangan.”

Aku melihat.

“Kamu Kirana.”

Sederhana.

Air mataku langsung naik.

“Jangan bikin aku nangis lagi.”

“Maaf.”

“Bohong. Sengaja.”

Dia tertawa.

Malam sebelum pernikahan, Keisha mengirim pesan di grup PIRING KETIGA yang masih hidup sejak masa kuliah.

Kei: Besok jangan ada yang kabur.

Aku:

Aku: Target utama Kak Damar.

Damar:

Mar: Aku lapor pencemaran nama baik.

Keisha:

Kei: Bukti sejarah lengkap.

Aku tertawa di kamar.

Lalu satu pesan lain masuk.

Kei: Serius. Makasih kalian balik dengan benar.

Aku berhenti.

Damar tidak langsung membalas.

Akhirnya:

Mar: Makasih kamu nggak maksa kami balik.

Mataku panas.

Aku mengetik:

Aku: Besok tiga piring lagi sebelum acara?

Keisha:

Kei: Ayam?

Damar:

Mar: Ayam.

Kami benar-benar sarapan bertiga keesokan hari sebelum sibuk masing-masing.

Ayam pagi hari terasa aneh.

Tapi kami tertawa.

Tidak ada pidato.

Hanya makan.

Mungkin itu ritual kami.

Sebelum perubahan besar, kembali dulu ke meja.

Mengingat bahwa cinta kami bertiga tidak bergantung pada bentuk hubungan apa pun.

Aku akan menikahi Damar.

Keisha tetap Keisha.

Tidak kehilangan kakak.

Tidak kehilangan tempat.

Dan aku tidak menjadi pengganti siapa pun.

Aku hanya akhirnya memilih tinggal dalam keluarga yang dulu memberiku piring ketiga.