← Piring Ketiga

Chapter Fifteen

Jarak yang Diminta

POV — Kirana Prameswari

Damar akhirnya jujur.

Tidak sepenuhnya.

Tapi cukup.

Dia tidak bilang tidak suka.

Justru itu masalahnya.

Kalau dia bilang tidak suka, mungkin sakitnya lebih bersih.

Aku bisa malu sebentar, menangis satu malam kalau perlu, lalu selesai.

Tapi Damar bilang dia tidak punya ruang.

Dan aku tahu hidupnya cukup rumit untuk membuat kalimat itu masuk akal.

Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang masih bisa kukontrol.

Aku mundur.

Bukan permainan.

Bukan supaya dia mengejar.

Aku benar-benar mundur.

Hari berikutnya aku duduk dengan Sinta.

Damar duduk tiga baris di depan.

Aku tidak mengirim pesan.

Tidak menawarkan susu.

Tidak mengajak makan.

Saat kelas selesai dan kami berpapasan di pintu, aku hanya berkata, “Duluan.”

Damar mengangguk.

“Ya.”

Sederhana.

Menyakitkan sedikit.

Tapi sederhana.

Sinta tidak bertanya sampai kami sudah di kantin.

“Jadi?”

Aku mengaduk es teh.

“Dia bilang nggak punya ruang.”

“Buat lo?”

“Buat hubungan.”

Sinta diam.

“Lo percaya?”

“Iya.”

“Terus?”

“Ya udah.”

“Ya udah?”

Aku menatapnya.

“Mau ngapain? Maksa?”

“Nggak.”

“Kalau orang bilang butuh jarak, ya kasih.”

Sinta mengangguk pelan.

“Lo sedih?”

Aku tertawa kecil.

“Pertanyaan bodoh.”

“Ya.”

“Sedih.”

Mengaku membuat tenggorokanku sedikit sesak.

Aku minum.

“Tapi aku nggak marah.”

“Yakin?”

“Aku kesel.”

“Itu marah.”

“Beda.”

Sinta membiarkanku.

Beberapa hari berikutnya berjalan normal.

Atau setidaknya aku membuatnya normal.

Aku kembali lebih sering dengan teman-teman lain.

Mengerjakan tugas kelompok tanpa Damar.

Makan tanpa melihat apakah dia ada.

Pulang tanpa menunggu jadwalnya.

Damar tetap muncul di peripheral.

Aku tetap tahu dia ada.

Tapi aku berhenti membuat jalur menuju dia.

Kalau dia tanya tugas, aku jawab.

Kalau dia bicara, aku balas.

Tidak lebih.

Satu sore, hujan turun lagi.

Aku berdiri di lobby dengan payung pinjaman Sinta.

Damar keluar dari kelas.

Dulu aku mungkin menunggu.

Sekarang aku langsung membuka payung.

“Kira.”

Aku berhenti.

Dia berdiri beberapa langkah di belakang.

“Hm?”

“Payung?”

“Pinjam.”

“Oh.”

Hening.

“Aku duluan.”

“Iya.”

Aku pergi.

Di halte, aku merasa bodoh karena ingin menoleh.

Aku tidak.

Malamnya ada pesan dari Damar.

Tugas besok udah?

Aku menatapnya.

Dulu aku mungkin membalas dengan foto dramatis.

Sekarang:

Udah.

Beberapa menit.

Yang nomor 4?

Udah juga.

Ya.

Selesai.

Aku menaruh ponsel.

Dadaku terasa aneh.

Bukan lega.

Bukan puas.

Cuma kosong.

Mungkin memang seperti ini proses melepaskan sesuatu yang belum sempat jadi apa-apa.

Yang paling menyebalkan adalah tidak ada kenangan besar untuk ditangisi.

Tidak ada date.

Tidak ada ciuman.

Tidak ada janji.

Cuma pulpen.

Kopi dinosaurus.

Kursi.

Roti.

Pesan-pesan kecil.

Ternyata hal kecil juga bisa meninggalkan ruang besar ketika berhenti.

Seminggu kemudian aku melihat Damar di kantin.

Dia duduk sendiri.

Biasanya aku akan langsung menghampiri.

Sekarang aku memilih meja lain.

Aku tahu dia melihatku.

Aku juga tahu aku melihatnya.

Tapi kami sama-sama pura-pura tidak.

Sinta duduk di depanku.

“Lo yakin ini sehat?”

“Apa?”

“Dua orang saling lihat kayak sinetron tapi pura-pura nggak.”

Aku hampir tertawa.

“Diam.”

“Gue cuma observasi.”

“Aku nggak ngapa-ngapain.”

“Dia juga.”

Aku tidak menjawab.

Karena itu benar.

Damar minta jarak.

Aku kasih.

Sekarang tidak ada siapa-siapa yang bergerak.

Malam Jumat, aku pergi ke kafe tempatnya kerja.

Bukan sengaja.

Teman organisasiku memilih tempat itu untuk rapat.

Aku baru sadar setelah sampai.

Terlambat untuk kabur tanpa terlihat aneh.

Damar sedang di belakang counter.

Mata kami bertemu.

Dia terlihat terkejut.

Aku tersenyum sopan.

Dia membalas.

Aku memesan iced tea.

Bukan latte.

Kasir yang dulu pernah kulihat berkata, “Nggak dinosaurus lagi?”

Aku tertawa canggung.

“Lagi nggak pengin kopi.”

Dari sudut mata, aku melihat Damar menunduk.

Rapat berjalan hampir dua jam.

Aku fokus.

Setidaknya berusaha.

Saat kami hendak pulang, aku membawa gelas kosong ke area tray seperti biasa.

Damar kebetulan ada di sana.

“Kira.”

Aku menoleh.

“Hm?”

“Kamu nggak pesan latte.”

Aku menatapnya.

Pertanyaan itu begitu kecil.

Tapi aku tahu apa yang tidak dia tanyakan.

Kenapa berbeda?

Aku tersenyum sedikit.

“Lagi nggak pengin.”

“Oh.”

Aku hampir pergi.

“Mar.”

“Hm?”

“Aku nggak marah.”

Damar menatapku.

“Aku tahu.”

“Bagus.”

“Tapi—”

Aku menunggu.

Dia berhenti.

Aku mengangguk.

“Selamat kerja.”

Aku pergi.

Di luar kafe, udara malam dingin.

Aku menarik napas.

Aku bangga karena tidak membuat semuanya lebih rumit.

Tapi ada bagian kecil dalam diriku yang berharap Damar akan menghentikanku.

Dia tidak.

Mungkin itu jawaban yang memang kubutuhkan.

Besoknya, aku tidak mencari kursi di sebelahnya.

Untuk pertama kalinya sejak awal semester, aku masuk kelas dan tidak melihat ke tempat Damar dulu.

Setidaknya selama beberapa detik.

Lalu mataku tetap menemukannya.

Refleks.

Aku tersenyum pada diri sendiri.

Butuh waktu.

Tidak apa-apa.

Aku pernah bilang aku tidak mau memaksa pintu yang ditutup.

Sekarang tugasku sederhana.

Berhenti mengetuk.

Kalau Damar benar-benar ingin aku di luar, aku akan belajar berjalan pergi.

Dan kalau suatu hari pintu itu terbuka lagi, itu harus karena dia sendiri yang membukanya.

Malam setelah dari kafe, aku membuka chat lama kami.

Aku hampir menghapus percakapan.

Bukan karena marah.

Cuma karena terlalu mudah membuka.

Aku urungkan.

Menghapus chat tidak menghapus kebiasaan.

Aku melihat foto dinosaurus di atas latte.

Buruk sekali.

Aku tertawa pelan.

Lalu sedih.

Aneh bagaimana satu gambar jelek bisa menyimpan begitu banyak suasana.

Hari-hari ketika semuanya masih ringan.

Saat aku belum harus mempertimbangkan apakah setiap pesan akan dibaca sebagai harapan.

Aku menutup chat.

Besoknya, aku membawa pulpen hitam yang dulu Damar berikan.

Benda itu masih ada.

Tinta sudah mulai berkurang.

Aku hampir menggantinya, tapi kemudian kupakai lagi untuk mencatat.

Sinta melihat.

“Itu yang dari Damar?”

Aku mengangguk.

“Mau dibuang?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

Aku memutar pulpen itu.

“Karena pulpennya nggak salah.”

Sinta tertawa kecil.

Jawaban itu terdengar lucu, tapi benar.

Aku tidak mau mengubah semua yang pernah baik menjadi buruk hanya karena akhirnya menyakitkan.

Damar pernah baik padaku.

Masih baik.

Hanya saja dia tidak siap.

Dan kalau aku benar-benar menyukainya, mungkin bentuk paling sehat dari rasa itu sekarang adalah berhenti mendorong.

Aku tidak tahu apakah perasaan ini akan hilang.

Mungkin iya.

Mungkin tidak.

Tapi aku bisa tetap berjalan.

Aku harus.

Beberapa hari kemudian aku bertemu Damar di depan perpustakaan.

Kami sama-sama berhenti.

“Pagi,” katanya.

“Pagi.”

Dulu percakapan pasti lanjut.

Sekarang tidak.

Aku masuk lebih dulu.

Di dalam, aku memilih meja lain.

Setelah duduk, aku melihat Damar mengambil meja pojok yang biasa kami pakai.

Dia menatap kursi di depannya sebentar sebelum membuka laptop.

Ada bagian kecil dalam diriku yang ingin kembali ke sana.

Aku tidak bergerak.

Bukan karena ingin menghukumnya.

Aku sedang menepati satu hal yang dia minta.

Kadang menghormati seseorang berarti tidak melakukan hal yang paling ingin kita lakukan.

Kesadaran itu tidak membuatnya lebih mudah.

Aku tidak menghapus nomor Damar.

Tidak memblokir.

Tidak melakukan apa pun dramatis.

Aku hanya berhenti menjadikan dia tujuan pertama setiap kali sesuatu terjadi.

Itu jauh lebih sulit.

Tapi sedikit demi sedikit, aku belajar bahwa hidupku tetap penuh.

Teman.

Kelas.

Keluarga.

Hal-hal lain.

Perasaan pada Damar masih ada.

Hanya tidak harus selalu diikuti tindakan.

Ada satu sore ketika aku hampir menyerah pada keputusan sendiri.

Damar tertidur di perpustakaan, kepalanya bertumpu pada lengan.

Aku kebetulan lewat.

Dulu aku pasti akan duduk, menunggu dia bangun, mungkin meletakkan minuman di sebelahnya.

Sekarang aku hanya berdiri beberapa detik.

Wajahnya terlihat lebih muda ketika tidur. Tidak tegang. Tidak seperti orang yang terus menghitung sesuatu.

Aku ingin sekali membangunkannya dan bilang jangan terlalu capek.

Aku tidak melakukannya.

Aku pergi.

Di tangga, dadaku sakit.

Tapi ada rasa tenang kecil juga.

Aku akhirnya membuktikan bahwa aku bisa menyayanginya tanpa selalu mendekat.

Mungkin itu bentuk kasih sayang yang dia butuhkan dariku sekarang.

Walaupun bukan bentuk yang kuinginkan.

Aku tetap memilih berjalan pulang sendiri malam itu.