← Piring Ketiga

Chapter Forty Three

Enam Tahun

POV — Keisha Alvaro

Enam tahun ternyata cukup untuk mengubah banyak hal.

Aku sekarang punya jas dokter dengan namaku sendiri.

drh. Keisha Alvaro.

Pertama kali melihat bordiran itu, aku menangis di toilet klinik.

Tidak elegan.

Aku foto lalu kirim ke dua orang.

Satu ke Kak Damar.

Satu ke Kak Kira.

Ya.

Aku masih chat Kak Kira.

Tidak setiap hari.

Kadang sebulan tidak ada kabar.

Tapi ulang tahun selalu.

Kelulusan.

Hari buruk tertentu.

Moka meninggal dua tahun lalu karena usia dan penyakit ginjal, Kak Kira menelepon hampir satu jam.

Dia menangis lebih keras dariku.

Kak Damar tahu kami masih kontak.

Tidak pernah minta baca.

Tidak pernah tanya berlebihan.

Itu salah satu perubahan paling besar.

Kak Damar juga berubah.

Sekarang dia kerja sebagai software engineer.

Orang kantor memanggilnya Mas Damar.

Aku pernah datang ke kantornya membawa makan dan hampir tertawa.

Kakakku pakai ID card, kemeja rapi, laptop bagus.

Tidak lagi shift kafe malam.

Tidak lagi les tiga tempat.

Masih hemat.

Tentu.

Tapi sekarang kalau makan ayam, dia tidak otomatis mengambil bagian terkecil.

Kadang masih.

Aku langsung tendang kakinya.

Dia mengerti.

Kami pindah dari rumah kontrakan lama dua tahun lalu.

Sedih juga.

Sandal hitam Kak Kira ditemukan saat beres-beres.

Masih disimpan.

Aku tidak komentar.

Kak Damar juga tidak.

Dia memasukkannya ke satu kardus kenangan bersama foto orang tua, label keripik pertama, dan tiga kertas target dari kulkas lama.

Aku melihat.

Tidak mengejek.

Ada hal-hal yang tidak perlu disentuh.

Aku sendiri sekarang bekerja di klinik hewan sambil menabung untuk membuka tempat kecil suatu hari nanti.

Jualan keripik berhenti saat koas.

Tapi resepnya masih ada.

Kadang aku buat untuk teman.

Mereka selalu bilang level lima kriminal.

Tradisi.

Hari aku resmi dilantik, Kak Damar datang paling awal.

Dia berdiri di belakang ruangan dengan wajah yang berusaha biasa.

Begitu acara selesai, dia memelukku lama.

“Dokter.”

“Jangan nangis.”

“Kamu yang nangis.”

“Aku alergi toga.”

Dia tertawa.

Lalu memberikan kotak kecil.

Aku langsung curiga.

“Kak.”

“Buka.”

Di dalamnya stetoskop hewan yang sudah lama kuincar.

Aku melihat harga dari modelnya.

“Kak.”

“Bukan mahal.”

“Bohong.”

“Aku nabung.”

Aku hampir protes.

Lalu berhenti.

Dulu aku akan marah karena takut dia mengorbankan sesuatu.

Sekarang aku tahu bedanya.

Kak Damar tidak mengambil shift tambahan.

Tidak menunda kebutuhan.

Dia menabung berbulan-bulan.

Hadiah bukan selalu pengorbanan.

Kadang memang hadiah.

Aku memeluk lagi.

“Makasih.”

“Sama-sama.”

Kami foto.

Setelah itu aku membuka ponsel.

Ada pesan dari Kak Kira.

Kak Kira: DOKTER KEISHA!!!

Aku tertawa.

Aku: Akhirnya.

Kak Kira: Bangga banget.

Lalu foto buket bunga yang katanya dikirim ke klinik.

Aku menatap layar.

Kak Damar berdiri di samping.

Aku tidak sengaja memiringkan ponsel.

Dia melihat nama.

Wajahnya berubah kecil.

Bukan luka mentah seperti dulu.

Lebih seperti bekas luka disentuh.

“Kirana?”

Aku mengangguk.

“Ya.”

“Kabar?”

“Baik.”

Aku menunggu.

Biasanya selesai di sana.

Hari itu Kak Damar bertanya, “Masih di Jakarta?”

Aku menatap.

Kak Kira sudah kembali ke kota kami beberapa bulan lalu karena kantornya membuka cabang lokal.

Aku belum bilang.

Bukan karena sengaja menyembunyikan.

Tidak tahu apakah itu urusanku.

“Udah balik.”

Kak Damar berhenti.

“Kapan?”

“Tiga bulan.”

“Oh.”

Hanya oh.

Tapi aku tahu kakakku.

Telinganya sedikit merah bahkan setelah enam tahun.

Aku menahan senyum.

“Kenapa?”

“Nggak.”

“Bohong.”

Dia menghela napas.

Aku tidak mendorong.

Beberapa hari kemudian klinikku mengadakan acara adopsi.

Aku meminta Kak Damar bantu website pendaftaran.

Dia setuju.

Aku juga meminta Kak Kira datang karena kantornya punya program CSR dan mungkin bisa membantu sponsor.

Dia setuju.

Aku baru sadar kesalahan logistik tiga hari sebelum acara.

Dua orang itu akan datang ke tempat yang sama.

Aku panik.

Bukan karena takut mereka berantem.

Enam tahun terlalu panjang untuk drama seperti itu.

Aku takut aku sedang ikut campur.

Aku menelepon Kak Kira.

Aku: Kak.

Kak Kira: Kenapa?

Aku: Sabtu Kak Damar bantu acara juga.

Lama.

Kak Kira: Oh.

Oh.

Ternyata dua orang ini masih sama.

Aku: Kalau nggak nyaman, aku ngerti.

Balasan datang.

Kak Kira: Aku tetap datang.

Aku menelepon Kak Damar setelahnya.

“Kak.”

“Hm?”

“Sabtu Kak Kira datang.”

Sunyi.

Aku bisa mendengar keyboard berhenti.

“Kirana?”

“Iya.”

“Kamu undang?”

“CSR.”

“Oh.”

Lagi.

“Aku bisa cari orang lain buat web kalau—”

“Nggak.”

Cepat sekali.

Aku diam.

Kak Damar menarik napas.

“Nggak apa-apa.”

“Yakin?”

“Enam tahun, Kei.”

Aku tahu.

Enam tahun.

Cukup untuk seseorang menjadi dokter.

Cukup untuk anak SMA miskin menjadi Mas Mas IT.

Cukup untuk cinta pertama berubah dari luka menjadi bagian sejarah.

Atau mungkin tidak.

Aku menatap kalender.

Sabtu.

Aku tidak berharap apa-apa.

Serius.

Aku cuma ingin acara adopsi berjalan lancar.

Tapi ada satu bagian kecil dalam diriku yang masih ingat tiga piring.

Dan bagian itu bertanya-tanya apakah beberapa hal benar-benar selesai.

Atau cuma menunggu waktu yang lebih baik untuk kembali.

Aku tidak pernah cerita banyak tentang Kak Damar ke Kak Kira.

Awalnya karena takut menyakiti.

Lama-lama karena sadar mereka berdua berhak punya hidup yang tidak terus dihubungkan lewat aku.

Kalau Kak Kira tanya, aku jawab seperlunya.

Kak Kira: Kakakmu sehat?

Aku: Sehat. Masih sok kuat tapi membaik.

Kadang dia mengirim emoji tertawa.

Tidak pernah bertanya, “Dia punya pacar?”

Setidaknya tidak langsung.

Aku juga tidak menawarkan.

Tapi ada momen-momen kecil yang membuatku tahu perasaan itu belum sepenuhnya netral.

Saat aku wisuda profesi, Kak Kira mengirim buket dengan kartu:

Untuk dokter pertama di keluarga Alvaro.

Aku menangis.

Kak Damar membaca kartu ketika membantu membawa bunga.

Tangannya berhenti sepersekian detik.

Aku melihat.

Dia pura-pura fokus pita.

Aku tidak bilang apa-apa.

Dua tahun sebelumnya, saat Kak Kira mendapat promosi, dia mengirim foto kartu pegawai baru.

Aku membalas:

Keren.

Lalu tanpa berpikir:

Kak Damar juga baru naik posisi.

Tiga titik muncul lama.

Kak Kira: Bagus.

Hanya itu.

Aku langsung menyesal.

Setelahnya kami tetap ngobrol normal.

Hubungan kami tidak dibangun untuk jadi saluran informasi dua mantan.

Aku menjaga itu.

Mungkin justru karena itulah hubungan ini bertahan.

Aku punya Kak Kira untuk diriku sendiri.

Dia tahu pasien pertamaku.

Tahu aku pernah salah pasang infus saat koas lalu menangis di toilet.

Tahu pacar pertamaku waktu kuliah ternyata brengsek dan aku putus setelah tiga bulan.

Waktu itu dia datang ke kota hanya untuk kerja dan menyempatkan makan denganku.

“Kok Kakak bisa tahu aku putus?” tanyaku.

“Kamu tiga hari nggak kirim meme.”

Aku tertawa.

Kak Damar juga tahu aku putus.

Reaksinya berbeda.

“Dia ngapain?”

“Nggak penting.”

“Nama.”

“Kak.”

“Nama.”

Aku akhirnya mengancam akan blokir nomor kalau dia cari orang itu.

Dia menyerah.

Mereka berdua punya cara berbeda menjagaku.

Satu mendengar.

Satu siap perang.

Aku sayang dua-duanya.

Itulah kenapa reunion mereka bukan fantasi sederhana buatku.

Kalau gagal, aku mungkin berada di tengah lagi.

Bedanya sekarang aku tahu batas.

Aku bukan alasan mereka harus bersama.

Bukan mediator.

Bukan anak kecil yang perlu rumah bertiga tetap utuh.

Aku bisa tetap punya keduanya dalam bentuk berbeda.

Kesadaran itu membuatku berani mengundang Kak Kira ke acara klinik tanpa memikirkan Kak Damar.

Acara itu memang butuh sponsor.

Kak Kira memang relevan.

Kak Damar memang orang terbaik untuk website gratis karena aku bisa memaksa.

Dua keputusan independen.

Semesta yang mempertemukan mereka.

Bukan aku.

Setidaknya itu pembelaanku.

Malam sebelum acara, aku hampir membatalkan salah satu.

Aku duduk dengan ponsel.

Kak Damar keluar membawa teh.

“Kenapa?”

“Nggak.”

“Wajahmu.”

Sial.

Aku akhirnya jujur.

“Aku takut besok awkward.”

Dia diam.

Lalu duduk.

“Pasti.”

“Terus?”

“Kita jalanin.”

Aku melihat.

Dia tenang.

Tidak ada wajah panik lama.

“Kakak beneran nggak masalah?”

“Nggak tahu.”

Jawaban itu justru meyakinkan.

“Aku bakal tahu besok.”

Aku tersenyum.

Kak Damar menyesap teh.

“Kalau aku aneh, tendang.”

“Siap.”

Aku tertawa.

Enam tahun lalu dia akan membuat keputusan malam itu.

Mungkin bilang tidak datang.

Mungkin menyuruh aku pilih.

Sekarang dia membiarkan besok datang sebelum menyelesaikannya di kepala.

Perubahan kecil.

Tapi aku melihat semua tahunnya.

Jadi ketika Sabtu pagi tiba, aku tidak hanya gugup melihat dua mantan bertemu.

Aku juga bangga.

Karena apa pun hasilnya, Kak Damar akhirnya datang ke sesuatu yang tidak bisa dia kontrol.

Dan Kak Kira juga datang.

Mungkin itu sendiri sudah cukup sebagai kemenangan.