Chapter Twenty
Dua Puluh Menit
POV — Damar Alvaro
Aku mulai mengukur hari dengan waktu-waktu kecil yang bisa kuberikan kepada Kirana.
Dua puluh menit sebelum shift.
Tiga puluh menit setelah kelas.
Tujuh menit di depan minimarket.
Dulu semua itu terlihat terlalu sedikit untuk hubungan apa pun.
Kirana memperlakukannya seolah cukup.
“Dua puluh menit?” tanyanya ketika aku bilang harus pergi jam empat.
“Iya.”
“Bisa.”
“Buat apa?”
“Makan es krim.”
“Kita harus jalan sepuluh menit.”
“Berarti sepuluh menit makan.”
Aku menatapnya.
“Kamu nggak efisien.”
“Aku bahagia.”
Kami membeli es krim murah. Kirana cokelat. Aku vanila.
Dia mencicipi punyaku tanpa izin.
“Hei.”
“Punyamu enak.”
“Beli sendiri.”
“Kalau beli sendiri nggak romantis.”
Aku hampir tersedak.
Kirana tersenyum.
“Kamu sengaja.”
“Iya.”
Aku mengambil es krimnya sebagai balasan.
Dia memprotes.
Aku baru sadar kami berbagi makanan ketika Kirana berhenti bicara.
Mata kami bertemu.
Aku mengembalikan.
“Kenapa?”
“Nggak.”
Telingaku panas.
Dia tertawa kecil, tapi tidak mengejar.
Itulah perubahan terbesar Kirana.
Dia masih menggoda, tetapi tahu kapan berhenti.
Dan justru karena dia berhenti, aku lebih sering ingin mendekat sendiri.
Sore lain kami berjalan ke halte.
Tangannya hampir menyentuh tanganku dua kali.
Aku sadar.
Kirana mungkin juga.
Tidak ada yang mengambil.
Belum.
Malam itu aku memikirkan jarak beberapa sentimeter itu lebih lama daripada masuk akal.
Keisha sedang belajar ketika aku pulang.
“Kirana gimana?”
Aku berhenti melepas sepatu.
“Kenapa nanya?”
“Biasa.”
“Kalian chat?”
“Rahasia negara.”
Aku menatapnya.
Keisha tersenyum.
“Dia baik.”
“Baru sekali ketemu.”
“Cukup buat tahu dia nggak nyebelin.”
“Itu standar rendah.”
“Untuk calon pacar Kakak, tinggi.”
“Belum.”
“Makanya calon.”
Aku melempar bantal sofa.
Keisha menangkap.
Lalu ekspresinya serius.
“Kak.”
“Hm?”
“Kalau nanti beneran, jangan bikin dia nomor dua terus.”
Aku menatap.
“Keisha.”
“Aku nggak bilang tinggalin aku.”
“Ya jangan ngomong begitu.”
“Aku cuma bilang hidup Kakak bukan daftar prioritas yang aku harus selalu nomor satu.”
Aku diam.
“Kalau dia jadi pacar Kakak, dia harus dapat bagian.”
“Bagian apa?”
“Waktu. Pikiran. Apa kek.”
“Kenapa sekarang kamu dukung?”
“Aku belum dukung.”
“Terus?”
“Aku briefing.”
Aku tertawa.
Beberapa hari kemudian Kirana menunggu di kafe sampai shift-ku selesai.
Aku keluar hampir jam sebelas.
“Kamu ngapain?”
“Nugas.”
“Dari jam berapa?”
“Jam delapan.”
“Kenapa di sini?”
“Wi-Fi.”
“Kampus juga ada.”
“Sudah tutup.”
“Banyak kafe lain.”
Kirana menatapku.
“Mar.”
“Hm?”
“Aku pengin di sini.”
Tidak ada candaan.
Aku berhenti.
“Oh.”
Dia memasukkan laptop ke tas.
Kami berjalan ke halte.
Sebuah motor melaju terlalu dekat. Refleks aku menarik pergelangan tangannya.
Kirana berpindah ke sisi dalam.
Motor lewat.
Tanganku masih memegangnya.
Aku langsung sadar.
Kirana melihat tanganku.
Aku melepaskan.
“Maaf.”
“Kenapa minta maaf?”
“Refleks.”
“Ya.”
Beberapa langkah kemudian dia berkata, “Kalau mau pegang, sebenarnya boleh.”
Aku hampir berhenti.
“Kirana.”
“Apa?”
“Kamu sengaja bikin aku susah.”
“Salah sendiri balik.”
Aku tertawa tidak percaya.
Aku tidak memegang tangannya malam itu.
Tapi untuk pertama kalinya aku tahu dia akan membiarkanku kalau aku memilih.
Besoknya aku sengaja menolak satu tambahan shift.
Uangnya tidak besar. Tetap saja rasa bersalah muncul.
Keisha tahu.
“Kakak nolak shift?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Ada urusan.”
“Kirana?”
Aku diam.
Keisha menutup daftar pengeluaran dengan tangan.
“Listrik aman. Beras ada. Aku juga ada order.”
“Kei.”
“Pergi.”
“Kalau aku pulang cepat—”
“Bantu packing.”
Aku berdiri.
Untuk pertama kalinya menerima bantuan Keisha tidak terasa seperti gagal.
Aku menemui Kirana.
Kami makan di warung kecil.
Tidak mahal.
Tidak istimewa.
Tapi aku tidak melihat jam setiap dua menit.
“Kamu santai banget hari ini,” katanya.
“Aku kosongin waktu.”
Kirana berhenti mengunyah.
“Buat?”
Aku menatapnya.
“Ini.”
“Ini apa?”
“Makan sama kamu.”
Dia diam.
Aku mulai menyesal.
Lalu Kirana tersenyum begitu lebar sampai aku ikut tersenyum.
“Kenapa?”
“Nggak.”
“Bohong.”
“Senang aja.”
Aku mengangguk.
Dua puluh menit berubah menjadi satu jam.
Dunia tidak runtuh.
Tagihan tetap bisa dibayar.
Keisha tetap belajar.
Aku tetap punya pekerjaan besok.
Satu jam yang kupilih untuk diriku sendiri ternyata tidak menghancurkan siapa pun.
Kesadaran itu sederhana, tapi terasa seperti menemukan aturan hidup yang selama ini tidak pernah kuketahui.
Saat kami berpisah, Kirana mengulurkan tangan.
Bukan untuk digenggam.
“High five.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena date kita sukses.”
“Katanya bukan date.”
“Sekarang aku revisi.”
Aku menepuk tangannya.
Kirana sengaja menahan telapak kami sepersekian detik lebih lama.
Aku tahu.
Dia tahu aku tahu.
Lalu dia melepaskan.
“Dadah, Mar.”
“Dadah.”
Aku berjalan ke halte dengan telapak tangan masih terasa hangat.
Malamnya aku tidak menghitung berapa uang yang hilang karena menolak shift.
Aku menghitung kapan aku punya waktu kosong berikutnya.
Dan ketika sadar sedang melakukannya, aku tidak menghentikan diri.
Dua hari kemudian aku benar-benar punya waktu kosong lagi.
Kali ini aku tidak menunggu Kirana bertanya.
Besok habis kelas kosong?
Balasannya datang:
Jam 2 ke atas. Kenapa?
Aku mengetik:
Mau jalan?
Aku menatap dua kata itu cukup lama sebelum mengirim.
Tiga titik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Kirana:
Damar Alvaro ngajak aku jalan?
Aku:
Kalau nggak mau juga nggak apa-apa.
Kirana:
JANGAN DITARIK LAGI.
Aku tertawa.
Mau.
Besok kami berjalan tanpa tujuan khusus di sekitar kampus. Kirana masuk toko buku. Aku mengikutinya. Dia membaca judul-judul absurd keras-keras. Aku menemukan buku biologi hewan bekas dan memotret sampulnya untuk Keisha.
Kirana melihat.
“Buat Kei?”
“Iya.”
“Kirim.”
Aku mengirim foto.
Keisha membalas:
Mahal.
Aku:
Aku cuma foto.
Keisha:
Bagus.
Kirana membaca dari samping dan tertawa.
“Mirip banget.”
“Apa?”
“Kalian berdua.”
“Nggak.”
“Sama-sama kalau lihat barang pertama yang dipikir harga.”
Aku terdiam.
Kirana tidak mengatakannya dengan kasihan.
Cuma observasi.
Dia lalu mengambil novel dari rak diskon.
“Aku juga lihat harga.”
“Semua orang lihat.”
“Nah.”
Kami keluar tanpa membeli apa pun.
Tetap menyenangkan.
Di taman kampus Kirana duduk di bangku dan menggeser tasnya.
Aku duduk.
Bahu kami hampir bersentuhan.
Kirana tidak menjauh.
Aku juga tidak.
“Mar.”
“Hm?”
“Kalau nanti kamu takut lagi, ngomong.”
Aku melihat ke depan.
“Ya.”
“Beneran.”
“Aku bakal coba.”
“Kalau aku terlalu maju, bilang.”
Aku menoleh.
Kirana tersenyum kecil.
“Aku juga bisa salah.”
Aku tidak pernah memikirkan itu.
Selama ini aku memperlakukan Kirana seolah dia selalu tahu cara menjalani hubungan dan aku satu-satunya masalah.
Padahal dia juga sedang belajar membaca diriku.
“Oke.”
Kami membuat kesepakatan tanpa nama.
Bukan pacaran.
Belum.
Tapi bukan lagi satu orang mengejar sementara yang lain kabur.
Kami berdua bergerak.
Pelan.
Saat bangun dari bangku, tangan Kirana menyentuh tanganku.
Kali ini bukan kecelakaan.
Dia menunggu.
Aku menatap jari kami.
Lalu, sebelum keberanianku hilang, aku mengaitkan satu jari.
Hanya satu.
Kirana tidak berkata apa-apa.
Dia cuma berjalan.
Beberapa langkah kemudian aku melepaskan karena harus berbelok ke halte.
Tidak ada yang menertawakan.
Tidak ada yang membuatnya besar.
Tapi sepanjang perjalanan pulang aku melihat tanganku sendiri dua kali.
Keisha mungkin benar.
Hidupku bukan daftar prioritas dengan satu orang harus selalu menang.
Mungkin hati juga bukan kamar sempit dengan satu kursi.
Mungkin ruang bisa dibuat.
Aku baru belajar caranya.
Sesampainya di rumah, Keisha melihatku memandangi tangan.
“Kak kenapa?”
“Nggak.”
“Kesetrum?”
Aku langsung menurunkan tangan.
Keisha menyipit.
“Pegangan?”
“Bukan.”
“Berarti iya.”
Aku masuk kamar sambil mendengar tawanya.
Anehnya aku tidak kesal.
Aku menutup pintu, bersandar sebentar, lalu tertawa sendiri.
Satu jari.
Cuma satu jari.
Tapi rasanya seperti aku baru melakukan sesuatu yang jauh lebih besar: memilih mendekat tanpa dipaksa, dan menemukan bahwa setelahnya aku masih tetap menjadi diriku sendiri. Mungkin selama ini yang paling kutakuti bukan cinta, melainkan kemungkinan bahwa setelah mencintai seseorang aku tidak lagi bisa mengendalikan hidupku. Hari itu Kirana membuktikan sebaliknya. Aku tetap punya pilihan. Dan kali ini, aku memilih berjalan ke arahnya. Bukan karena harus. Bukan karena kasihan. Karena aku benar-benar menginginkannya untuk diriku sendiri. Sekali.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit reading
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga