Chapter Thirty Two
Kakak Mereka Berdua
POV — Keisha Alvaro
Ada fase aneh ketika aku sadar Kak Kira tidak lagi cuma pacar Kak Damar.
Aku sedang marah.
Bukan pada Kak Damar.
Pada sekolah.
Nilai praktikumku turun karena aku salah satu bagian laporan. Aku tahu itu bukan akhir dunia.
Tetap saja aku kesal.
Kak Damar belum pulang.
Biasanya aku akan menunggu lalu mengomel.
Hari itu aku malah membuka chat Kak Kira.
Kak.
Balasannya cepat.
Ya?
Aku menatap layar.
Tidak tahu mau bilang apa.
Akhirnya:
Nilai aku jelek.
Telepon masuk.
Aku hampir menolak.
Lalu angkat.
“Halo?”
“Jelek berapa?”
Aku menyebut angka.
Kak Kira diam.
“Itu nggak jelek.”
“Buat aku jelek.”
“Oh. Oke. Berarti jelek.”
Aku tertawa meski sedang kesal.
“Kenapa?”
“Ya kalau standarmu segitu, aku nggak mau bilang perasaanmu salah.”
Aku diam.
“Terus salahnya di mana?”
Aku cerita.
Lima belas menit.
Kak Kira mendengarkan.
Tidak langsung memberi solusi.
Setelah selesai dia bertanya, “Mau dibantu mikir atau cuma mau ngomel?”
Aku berhenti.
Pertanyaan bagus.
“Ngomel dulu.”
“Oke.”
Aku ngomel lagi.
Setelah puas, baru kami membahas laporan.
Malamnya Kak Damar pulang.
Dia melihat wajahku.
“Kenapa?”
“Nggak.”
“Kei.”
“Kak Kira udah tahu.”
Dia berhenti.
“Apa?”
“Nilai.”
Ekspresinya lucu.
Bukan cemburu.
Lebih seperti baru sadar ada jalur komunikasi yang tidak melewati dirinya.
“Kok cerita ke dia dulu?”
“Kenapa?”
“Nggak.”
Aku tersenyum.
“Kakak cemburu?”
“Nggak.”
“Bohong.”
Dia mengambil air.
Aku tertawa.
Beberapa hari kemudian kebalikannya terjadi.
Kak Kira kesal sama Kak Damar.
Dia datang ke rumah dan langsung duduk di sampingku.
“Kakakmu ngeselin.”
Kak Damar belum pulang.
“Ngapain?”
“Aku bilang kangen.”
“Terus?”
“Dia jawab kemarin kan ketemu.”
Aku menutup mata.
“Maaf.”
Kak Kira menoleh.
“Kok kamu yang minta maaf?”
“Perwakilan keluarga.”
Kami tertawa.
Ketika Kak Damar pulang, dia melihat kami berdua.
Ekspresi curiga lagi.
“Apa?”
Kak Kira menunjuk.
“Itu.”
Aku menggeleng kecewa.
“Kak.”
“Hm?”
“Kalau pacar bilang kangen, jawaban yang benar apa?”
Kak Damar menatap kami.
“Aku juga?”
“Nah.”
“Terus?”
“Kenapa tadi nggak?”
“Refleks.”
Kak Kira mendengus.
Kak Damar mendekat lalu berdiri di depannya.
“Aku juga kangen.”
Kak Kira langsung diam.
Aku tertawa paling keras.
“Kena.”
“Kei.”
Aku masuk kamar sambil masih tertawa.
Hubungan mereka lucu.
Tapi yang membuatku sadar bukan candaan.
Malam itu aku mendengar mereka bicara pelan di ruang depan.
Kak Damar minta maaf.
Kak Kira menjelaskan dia tidak benar-benar marah, cuma ingin sesekali mendapat respons.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada ancaman pergi.
Besok semuanya normal.
Aku menyimpan itu.
Mungkin karena sejak kecil konflik di rumah sering terasa seperti awal kehancuran.
Ayah dan ibu bertengkar.
Pintu dibanting.
Orang pergi.
Sekarang aku melihat dua orang bisa kesal lalu tetap tinggal.
Pelajaran kecil.
Beberapa minggu kemudian aku harus ikut kegiatan sekolah sampai malam.
Kak Damar kerja.
Aku sebenarnya bisa pulang sendiri.
Kak Kira chat.
Aku jemput.
Aku:
Nggak usah.
Dia:
Aku udah dekat.
Aku keluar gerbang dan benar dia ada.
“Kakak ngapain?”
“Damar minta.”
Aku langsung kesal.
“Tuh kan.”
“Apa?”
“Kak Damar selalu—”
Kak Kira memotong.
“Dia nanya aku bisa atau nggak. Aku bilang bisa.”
Aku berhenti.
“Oh.”
“Dia nggak nyuruh.”
Aku mengangguk.
Kemajuan.
Kami pulang sambil membeli gorengan.
Kak Kira membawa satu kantong.
Aku satu.
Di rumah Kak Damar belum ada.
Kami makan berdua.
Aku tiba-tiba sadar ini pertama kalinya kami melakukan sesuatu seperti keluarga tanpa Kak Damar hadir.
Tidak terasa aneh.
“Kak.”
“Ya?”
“Kalau nanti Kakak sama Kak Damar berantem, jangan ajak aku pilih.”
Kak Kira berhenti mengunyah.
Aku sendiri kaget sudah mengatakan itu.
“Kenapa kepikiran?”
“Nggak tahu.”
Dia meletakkan gorengan.
“Aku nggak akan minta kamu pilih.”
“Janji?”
Kak Kira berpikir.
“Aku janji nggak akan sengaja bikin kamu di tengah.”
Jawaban yang hati-hati.
Aku suka.
Aku mengangguk.
Kak Damar pulang satu jam kemudian.
Dia melihat bungkus gorengan.
“Nggak sisain?”
Aku dan Kak Kira saling lihat.
“Nggak,” jawab kami.
Dia menghela napas.
Aku tersenyum.
Dulu aku takut Kirana akan mengambil kakakku.
Sekarang masalahnya berubah.
Kadang aku merasa kami berdua sama-sama punya Kak Damar.
Dan kadang, tanpa sadar, aku juga mulai merasa punya kakak perempuan.
Bukan pengganti siapa pun.
Bukan ibu.
Bukan sesuatu yang harus dinamai.
Cuma Kak Kira.
Orang yang bisa kutelepon kalau nilai jelek.
Orang yang bisa kumarahi soal Kak Damar.
Orang yang punya sandal sendiri di depan pintu.
Aku masih akan membela Kak Damar kalau dia disakiti.
Tentu.
Tapi sekarang kalau Kak Damar yang salah, mungkin aku akan berdiri di sebelah Kak Kira.
Bukan karena kurang sayang kakakku.
Justru karena keluarga juga harus berani bilang kalau salah.
Malam itu Kak Damar bertanya kenapa kami berdua sering berbisik.
Aku menjawab jujur.
“Rahasia keluarga.”
Dia menatap.
Aku baru sadar pilihan kataku.
Kak Kira juga.
Tidak ada yang memperbaiki.
Dan rasanya benar.
Perubahan lain terjadi saat aku sakit perut gara-gara mencicipi sambal eksperimen sendiri.
Kak Damar sedang kerja.
Aku berbaring di sofa sambil mengeluh.
Kak Kira datang membawa catatan kuliah untuk Kak Damar.
Begitu lihat aku, dia langsung berhenti.
“Kenapa?”
“Keracunan bisnis.”
Dia tertawa lalu membuat teh hangat.
“Aku nggak sekarat.”
“Aku tahu.”
“Jangan lapor Kak Damar.”
“Kenapa?”
“Nanti dia pulang.”
Kak Kira menatapku.
Aku tahu dia memahami.
“Kita tunggu satu jam. Kalau nggak membaik, aku bilang.”
Aku setuju.
Satu jam kemudian memang membaik.
Kak Damar tidak pernah tahu sampai malam.
Aku sendiri yang cerita.
Dia langsung marah.
“Kenapa nggak bilang?”
“Udah ada Kak Kira.”
Kalimat itu keluar natural.
Kak Damar berhenti.
Aku juga baru sadar.
Kak Kira yang sedang minum melihat kami.
“Apa?”
“Nggak,” jawabku.
Kak Damar duduk di sebelah.
“Beneran udah nggak sakit?”
“Udah.”
Dia tetap menyentuh keningku seolah sakit perut bisa dicek dari sana.
Aku menepis.
“Kak.”
Kak Kira tertawa.
Aku menatap mereka.
Dulu kalau ada sesuatu terjadi, cuma satu nama yang muncul di kepala.
Kak Damar.
Sekarang kadang ada dua.
Itu tidak membuat Kak Damar kurang penting.
Justru rasanya seperti aku punya jaring yang sedikit lebih lebar.
Aku tidak akan jatuh langsung ke lantai kalau satu orang sedang tidak ada.
Mungkin itu sehat.
Mungkin selama ini kami berdua terlalu bergantung satu sama lain karena tidak punya pilihan.
Sekarang pilihan mulai muncul.
Aku masih bisa menelepon Kak Damar.
Aku juga bisa menelepon Kak Kira.
Kak Damar bisa mengandalkanku.
Dan kadang bisa mengandalkan Kirana.
Tidak ada yang kehilangan posisi.
Kami cuma berhenti memaksa satu orang menjadi semuanya.
Malam itu aku berkata pada Kak Damar saat Kirana sudah pulang.
“Kak.”
“Hm?”
“Aku suka punya Kak Kira.”
Dia menoleh.
Aku langsung menambahkan, “Jangan lebay.”
“Aku belum ngomong.”
“Wajah Kakak.”
Dia tersenyum.
Aku melihat pintu.
Sandal Kirana masih ada karena dia pulang pakai sepatu.
Aku tidak takut melihatnya lagi.
Kalau suatu hari sandal itu hilang, mungkin aku akan sedih.
Tapi sekarang aku lebih memilih menikmati bahwa hari ini sandal itu ada.
Aku mulai menyimpan hal-hal kecil tentang Kak Kira juga.
Dia tidak suka kopi pahit.
Kalau gugup, ngomong lebih cepat.
Kalau capek, jadi diam.
Informasi yang dulu cuma Kak Damar tahu sekarang aku tahu sebagian.
Suatu hari Kak Damar bertanya, “Kirana kenapa?”
Kak Kira baru saja pulang lebih cepat.
Aku menjawab, “Capek.”
“Kok tahu?”
“Dia kalau capek diem.”
Kak Damar menatapku lama.
“Apa?”
“Nggak.”
Aku tersenyum.
“Takut aku lebih kenal pacar Kakak?”
“Nggak.”
“Bohong.”
Kami tertawa.
Tapi di balik candaan, aku tahu ada sesuatu yang berubah.
Kak Damar tidak lagi menjadi satu-satunya jembatan antara aku dan Kirana.
Kalau mereka putus besok—pikiran buruk itu kadang masih muncul—aku tidak hanya kehilangan pacar kakakku.
Aku akan kehilangan Kak Kira.
Kesadaran itu menakutkan.
Aku hampir berharap tidak pernah sedekat ini.
Lalu ponsel berbunyi.
Kak Kira mengirim foto Moka tidur dengan posisi aneh.
Aku tertawa.
Rasa takut masih ada.
Tapi aku membalas foto.
Mungkin keberanian bukan tidak takut kehilangan.
Mungkin tetap memilih dekat walau tahu kehilangan mungkin terjadi.
Aku pernah melihat Kak Damar belajar hal yang sama.
Sekarang giliranku.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua reading
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga