Chapter Thirty Six
Angka yang Membesar
POV — Damar Alvaro
Keisha diterima.
Aku membaca pengumuman itu tiga kali sebelum benar-benar percaya.
Fakultas Kedokteran Hewan.
Nama Keisha Alvaro ada di layar.
Adikku berdiri di sebelahku dengan kedua tangan menutup mulut.
“Kak.”
Aku menoleh.
Matanya sudah merah.
“Keterima.”
Aku menariknya ke pelukan.
Keisha tertawa sekaligus menangis di bahuku.
“Keterima, Kak.”
“Iya.”
“Beneran.”
“Iya, Kei.”
Aku juga hampir menangis.
Bertahun-tahun lalu dia pernah merawat kucing liar dengan kapas seadanya dan berkata ingin bekerja dengan hewan. Sekarang pintu itu benar-benar terbuka.
Kirana datang malamnya membawa tiga potong kue kecil.
Bukan kue mahal.
Dia sudah belajar.
Keisha langsung memeluknya.
“Kak Kira!”
Kirana tertawa. “Dokter Keisha.”
“Belum!”
“Calon.”
Kami merayakan.
Tiga piring.
Tiga kue.
Terlalu banyak foto.
Keisha bahkan memaksa Moka ikut satu foto walau kucing itu terlihat ingin kabur dari keluarga ini.
Malam itu sempurna sampai semua orang tidur.
Aku duduk sendirian di meja.
Di depanku ada rincian biaya.
Uang pangkal.
UKT.
Praktikum.
Peralatan.
Kos kalau jadwal nanti terlalu sulit untuk pulang-pergi.
Aku menghitung.
Sekali.
Dua kali.
Tiga.
Tabungan kami ada.
Beasiswa Keisha membantu.
Pendapatan jualannya masih ada.
Magangku juga berbayar.
Tetap saja angka itu besar.
Ponselku berbunyi.
Kira: Belum tidur?
Aku menatap layar.
Jariku hampir mengetik semua baik.
Aku berhenti.
Aku: Belum. Lagi lihat biaya Kei.
Kira: Besar?
Aku: Lumayan.
Kira: Besok kita lihat bareng.
Kita.
Aku menarik napas.
Aku: Ya.
Kemenangan kecil.
Aku menutup kalkulator.
Besoknya kami benar-benar duduk bertiga.
Keisha membawa daftar beasiswa.
Kirana membawa spreadsheet sederhana.
Aku membawa rasa ingin mengambil semuanya dari tangan mereka.
Aku menahan.
“Kalau beasiswa ini dapat, semester pertama aman,” kata Keisha.
“Kalau nggak?”
“Cari yang lain.”
“Kalau—”
Kirana menyentuh lenganku.
“Satu-satu.”
Aku mengangguk.
Kami membuat rencana.
Rencana itu masuk akal.
Tidak mudah.
Tapi mungkin.
Aku seharusnya lega.
Lalu dua hari kemudian manajer magang memanggilku.
Ada kesempatan memperpanjang kontrak dengan jam lebih banyak.
Bayarannya naik.
Pengalaman bagus.
Tapi jadwal kuliahku akan jauh lebih berat.
Aku langsung memikirkan biaya Keisha.
Bukan karier.
Bukan pengalaman.
Keisha.
Aku bilang butuh waktu untuk menjawab.
Itu kemajuan.
Dulu mungkin langsung iya.
Malamnya aku cerita kepada Kirana.
Kami duduk di depan rumah.
“Kamu mau?” tanyanya.
Aku hampir menjawab soal uang.
Kirana mengangkat satu jari.
“Bukan butuh atau nggak. Kamu mau?”
Aku diam.
Pekerjaannya menarik.
Aku suka timnya.
Aku bisa belajar banyak.
“Mau.”
“Nah.”
“Tapi jamnya—”
“Kita pikirin.”
Aku menatapnya.
“Kamu bakal jarang ketemu aku.”
Kirana tersenyum kecil.
“Aku pernah cuma dapat dua puluh menit dan tetap pacaran sama kamu.”
Aku tertawa.
“Ya.”
Dia menggenggam tangan.
“Ambil kalau itu bagus buat Damar. Bukan cuma bagus buat semua orang selain Damar.”
Aku mengangguk.
Aku menerima kontrak.
Untuk beberapa minggu semuanya berjalan.
Padat.
Tapi berjalan.
Lalu biaya praktikum tambahan keluar.
Keisha kehilangan salah satu peluang beasiswa.
Penjualan keripik turun karena dia semakin sibuk belajar.
Angka membesar lagi.
Aku kembali duduk malam-malam.
Kalkulator.
Kertas.
Jadwal.
Kali ini aku tidak langsung menghubungi siapa pun.
Aku hanya ingin menghitung dulu.
Lima menit.
Begitu alasanku.
Lima menit berubah menjadi satu jam.
Aku menemukan kemungkinan.
Tambah les.
Ambil shift akhir pekan.
Kurangi satu mata kuliah semester depan supaya kerja lebih banyak.
Masuk akal.
Berbahaya karena masuk akal.
Ponsel berbunyi.
Kira: Mar?
Aku melihat.
Tiga titik muncul lagi.
Kira: Kamu belum tidur kan.
Aku mengetik.
Aku: Sebentar lagi.
Tidak bohong sepenuhnya.
Tapi bukan jujur.
Aku memandang tiga target di kulkas.
Belajar menikmati hidup.
Tulisan Kirana.
Aku menutup mata.
Besok aku akan cerita.
Begitu pikirku.
Besok.
Masalahnya, survival mode selalu punya satu kebohongan favorit.
Bahwa kita cuma akan menanggung semuanya sendiri untuk sementara.
Besok pagi aku benar-benar berniat bicara.
Tapi Keisha sudah berangkat lebih dulu.
Kirana mengirim pesan soal rapat magangnya.
Aku masuk kelas.
Satu hari lewat.
Lalu dua.
Di hari ketiga, murid les lama bertanya apakah aku bisa mengajar adiknya juga.
Bayarannya cukup.
Aku bilang iya.
Keputusan itu hanya butuh empat detik.
Tidak ada diskusi.
Tidak ada spreadsheet.
Tidak ada “kita”.
Aku membenarkan diri dengan satu kalimat sederhana: ini cuma tambahan kecil.
Malamnya aku pulang hampir jam sebelas.
Keisha sudah tidur.
Tiga piring tidak ada di meja.
Hanya satu piring tertutup untukku.
Di atasnya ada kertas kecil.
Kei: Makan. Jangan cuma minum kopi.
Aku duduk.
Entah kenapa catatan itu membuat dadaku berat.
Aku bekerja lebih banyak agar masa depannya aman.
Tapi hasil pertama yang terlihat justru aku tidak lagi makan bersamanya.
Aku menatap jam.
Lalu chat Kirana.
Ada dua pesan yang belum kubalas.
Kira: Hari ini capek banget.
Kira: Aku mau peluk.
Aku membaca berkali-kali.
Aku ingin pergi ke kosnya.
Tidak mungkin.
Sudah terlalu malam.
Aku mengetik.
Aku: Besok ya.
Balasan datang cepat.
Kira: Oke.
Hanya itu.
Tidak ada protes.
Tidak ada emoji sedih.
Aku justru merasa lebih buruk.
Aku membuka jadwal besok.
Kelas.
Magang.
Dua les.
Tidak ada ruang.
Aku menambah satu catatan kecil di bawah jadwal.
Kirana.
Seolah manusia bisa dimasukkan ke kotak waktu dan masalah selesai.
Aku tahu aku mulai salah.
Yang belum kutahu adalah seberapa cepat “sementara” akan berubah menjadi kebiasaan.
Beberapa hari kemudian, dampak jadwal baruku mulai terlihat di tempat lain.
Aku tertidur di kelas.
Bukan lama.
Mungkin dua menit.
Dosen memanggil namaku dan satu ruangan menoleh.
Aku langsung bangun.
Bayu menahan tawa.
“Kuat, Mar?”
“Ya.”
Dia tidak percaya.
Saat kelas selesai, Kirana sudah berdiri di pintu.
“Kamu tidur.”
“Merem.”
“Dengan kepala di meja?”
“Aku fleksibel.”
Dia tidak tertawa.
“Mar.”
Aku menghela napas.
“Cuma kurang tidur.”
“Berapa jam?”
Aku tidak menjawab.
“Kemarin?”
“Empat.”
Kirana menutup mata sebentar.
“Kenapa empat?”
“Ada kerjaan.”
“Murid baru?”
Aku berhenti.
Terlambat.
Dia langsung tahu.
“Kamu nambah?”
“Satu.”
“Kapan mau bilang?”
Aku menatap koridor.
“Belum sempat.”
“Mar.”
Nada suaranya tidak tinggi.
Itu lebih buruk.
“Aku cuma butuh tambahan sedikit.”
“Sedikit yang mana?”
“Uang.”
“Bukan itu.”
Dia menatapku.
“Sedikit waktunya? Sedikit capeknya? Sedikit bohongnya?”
Aku langsung defensif.
“Aku nggak bohong.”
“Kamu nggak bilang.”
Kalimat itu sama seperti sebelumnya.
Aku benci karena benar.
“Kira, aku cuma lagi atur.”
“Sendiri.”
Aku diam.
Dia menarik napas.
“Aku nggak mau berantem di kampus.”
“Aku juga.”
“Bagus.”
Kami berjalan ke halte.
Biasanya tangan kami otomatis bertemu.
Hari itu tidak.
Ada jarak beberapa sentimeter yang terasa jauh.
Di halte, Kirana berkata, “Aku nggak minta kamu berhenti bantu Kei.”
“Aku tahu.”
“Aku juga nggak minta kamu pilih aku.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa kamu selalu bertindak seolah itu pilihannya?”
Aku tidak punya jawaban.
Busnya datang.
Kirana naik tanpa peluk.
Malamnya aku pulang dan menemukan Keisha masih belajar.
Dia tidak bertanya soal wajahku.
Aku duduk di meja.
“Kei.”
“Hm?”
“Kalau aku nambah satu murid, kamu keberatan?”
Pertanyaannya telat.
Aku tahu.
Keisha menatap lama.
“Kalau aku bilang iya?”
Aku diam.
“Bakal batal?”
Aku ingin berkata iya.
Tapi aku sudah berjanji kepada keluarga murid.
Keisha mengangguk kecil.
“Nah.”
Aku merasa seperti gagal ujian sederhana.
“Maaf.”
Dia menatap buku.
“Yang aku butuhin bukan Kakak minta izin setelah keputusan dibuat.”
Aku tidak membela diri.
“Ya.”
Keisha kembali belajar.
Aku masuk kamar.
Untuk pertama kalinya, tambahan uang yang tadi terasa seperti solusi mulai terlihat seperti sesuatu yang kubeli dengan kepercayaan.
Aku tidak suka harga itu.
Tapi bahkan setelah menyadari, aku belum membatalkan apa pun.
Aku masih berpikir bisa menyeimbangkan semuanya.
Itulah bagian paling berbahaya dari kelelahan.
Kita tidak merasa sedang menghancurkan sesuatu.
Kita merasa sedang berusaha lebih keras.
Aku belum jatuh. Tapi untuk pertama kalinya, orang-orang yang mencintaiku bisa melihat jelas bahwa aku sedang berjalan terlalu dekat ke tepi. Dan aku masih menyangkal bahayanya sendiri.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar reading
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga