Chapter Seventeen
Orang yang Mulai Mencari
POV — Damar Alvaro
Aku bertahan empat hari sebelum akhirnya melakukan sesuatu.
Empat hari melihat Kirana duduk bersama Sinta. Empat hari membuka chat kami lalu menutupnya lagi. Empat hari mendengar nasihat Keisha berputar di kepala: kalau cuma kangen, jangan ganggu dia. Kalau mau balik, jangan setengah-setengah.
Hari kelima aku datang lebih pagi dan duduk di tempat lama.
Kursi sebelah kosong.
Bayu menunjuknya. “Kosong?”
Aku hampir bilang iya.
“Ada orang.”
Dia melihatku, lalu kursinya, lalu aku lagi.
“Oh.”
“Jangan.”
“Gue belum ngomong.”
Kirana datang tujuh menit kemudian. Matanya sempat jatuh ke kursi kosong itu, lalu kepadaku. Dia tidak datang. Dia duduk bersama Sinta.
Aku pantas mendapatkannya.
Kursi kosong bukan permintaan maaf.
Setelah kelas selesai aku memanggil sebelum sempat berubah pikiran.
“Kira.”
Dia menoleh. “Hm?”
“Makan siang?”
Ada keterkejutan kecil.
“Sama siapa?”
Kena.
“Sama aku.”
“Hari ini aku sama Sinta.”
“Oh. Ya udah.”
Aku tidak menahan.
Saat berbalik, dia berkata, “Besok.”
Aku menoleh.
“Besok aku bisa.”
Dadaku terasa ringan secara memalukan.
Besoknya kami duduk di kantin. Aku membawa dua roti karena rupanya kebodohan adalah kebiasaan.
“Kamu mau ngomong sesuatu?” tanyanya.
“Iya.”
Aku menarik napas. “Aku minta maaf.”
“Kamu udah pernah bilang.”
“Yang dulu belum cukup.”
Dia menunggu.
“Aku minta jarak karena takut semuanya jadi lebih dari teman.”
“Dan sekarang?”
“Aku masih takut.”
Kirana tidak memotong.
“Tapi aku juga nggak suka waktu kamu benar-benar berhenti datang.”
Tatapannya berubah.
“Mar. Aku nggak pergi.”
Aku mengangkat mata.
“Aku cuma berhenti datang ke kamu.”
Benar.
Kirana tetap ada. Aku yang menutup jalan.
“Terus sekarang kamu maunya apa?”
“Aku mau ngobrol lagi.”
“Cuma itu?”
“Untuk sekarang.”
Dia mengangguk. “Boleh.”
Aku hampir lega.
“Tapi aku nggak mau kamu besok panik lagi terus menghilang.”
“Aku tahu.”
“Nggak. Kamu belum tahu. Kalau butuh pelan, bilang pelan. Kalau sibuk, bilang sibuk. Kalau takut dan belum bisa ngomong takut, minimal jangan bohong ada les dua jam lebih cepat.”
Aku menutup wajah.
“Kamu tahu?”
“Aku nggak bodoh.”
Tawanya kecil.
Aku mengeluarkan dua roti.
Kirana melihat.
“Dua?”
“Cadangan.”
Senyumnya muncul. “Masih suka bohong.”
“Kamu mau atau nggak?”
“Mau.”
Kami makan. Percakapan tidak langsung kembali seperti dulu. Ada jeda. Ada hati-hati. Tapi tidak kosong.
Aku memberitahunya jadwalku besok tanpa ditanya. Kirana hanya mengangguk.
Saat hendak pergi dia berkata, “Besok jangan dudukin kursi.”
Aku menahan napas.
“Oh.”
“Aku datang duluan.”
“Kalau aku telat?”
“Aku kasih orang.”
Aku tertawa. “Galak.”
“Belajar dari Keisha.”
“Kamu belum kenal.”
“Dari cerita kamu.”
Malamnya Keisha melihat wajahku dan langsung menyipit.
“Ketemu Kirana?”
“Kok tahu?”
“Pengalaman kerja.”
Aku duduk membantu menempel label keripik.
“Aku ngajak makan.”
Tangannya berhenti. “Kakak yang ngajak?”
“Iya.”
“Terus?”
“Aku bilang mau ngobrol lagi.”
“Dia mau?”
“Iya.”
“Baik banget.”
“Itu sindiran?”
“Fakta.”
Beberapa menit kemudian Keisha berkata, “Serius mau balik?”
“Aku mau coba nggak kabur.”
“Beda.”
“Apa?”
“Mau coba nggak kabur sama mau mendekati dia itu beda.”
Aku diam.
“Kakak kadang pengin hasil tanpa ngomong maunya apa.”
“Aku belum tahu bisa sejauh apa.”
“Ya bilang itu.”
“Udah.”
“Bagus.”
Aku menunggu ejekan.
“Cuma satu.”
“Apa?”
“Kalau bikin dia nangis, jangan pulang.”
“Ini rumahku.”
“Namaku juga di kontrakan.”
Aku tertawa.
Setelah pesanan selesai aku membuka chat Kirana.
Besok jam 9?
Iya.
Aku datang 8.45.
Aku 8.44.
Kekanak-kanakan.
Takut kalah?
Nggak.
Sampai besok, Mar.
Dulu rasa senang seperti ini langsung kuikuti daftar alasan kenapa aku tidak boleh merasakannya.
Malam ini alasan itu masih ada. Uang tidak bertambah. Waktu tidak bertambah. Keisha masih sekolah. Aku masih bekerja.
Tidak ada masalah yang ajaib selesai.
Yang berubah cuma satu.
Aku mulai memahami Kirana tidak pernah meminta hidupku kosong agar dia bisa masuk.
Mungkin aku yang menganggap kedekatan harus mengambil ruang dari sesuatu yang lain.
Besok aku akan datang.
Kalau Kirana datang lebih dulu, aku akan duduk di sebelahnya.
Bukan karena kebetulan.
Karena aku mau.
Dan kalau suatu hari takut lagi, setidaknya kali ini aku ingin mencoba mengatakannya sebelum kakiku memilih lari.
Pagi berikutnya aku benar-benar bangun lebih awal dari alarm.
Keisha melihatku menyetrika kemeja dan berhenti di pintu.
“Kak.”
“Hm?”
“Itu kemeja kuliah biasa, kan?”
“Iya.”
“Kenapa disetrika dua kali?”
Aku melihat setrika.
“Belum rata.”
Keisha mendekat, menyentuh lengan kemeja, lalu menatapku dengan ekspresi sangat serius.
“Ini sudah lebih rata daripada masa depan kita.”
“Pergi.”
Dia tertawa sambil mengambil roti.
Aku hampir kesal, tapi tidak bisa.
Di bus aku tiba-tiba sadar aku gugup.
Bukan karena akan bertemu Kirana. Kami bertemu hampir setiap hari.
Aku gugup karena hari ini aku tidak punya alasan untuk berpura-pura semua ini kebetulan.
Aku yang mengajak.
Aku yang memilih kursi.
Aku yang membuka chat.
Tanggung jawab kecil itu ternyata terasa menakutkan sekaligus melegakan.
Ketika sampai kelas, Kirana sudah ada.
Pukul delapan empat puluh dua.
Dia mengangkat ponsel dengan senyum kemenangan.
Aku melihat jam.
Satu menit lebih cepat dariku.
Aku berjalan ke kursi sebelahnya.
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, langkah itu terasa seperti keputusan, bukan kebiasaan.
Kirana tidak langsung menyapaku ketika aku duduk.
Dia menutup bukunya dulu.
“Kamu kalah.”
“Satu menit.”
“Dalam kompetisi, satu menit tetap kalah.”
Aku membuka laptop. “Kamu bikin aturan sendiri.”
“Yang penting menang.”
Lima menit kemudian dia menyodorkan pulpen hitam yang kuberikan pada awal semester.
“Masih ada?”
“Kenapa nggak?”
“Kukira hilang.”
“Nilai sentimental, ingat?”
Aku menahan napas.
Dia mengucapkannya ringan, tapi aku ingat persis pertama kali kalimat itu muncul.
“Tintanya tinggal sedikit.”
“Nanti aku beli isi ulang.”
“Beli baru lebih murah.”
Kirana menatapku. “Bukan pulpennya yang penting.”
Aku tahu.
Untuk pertama kalinya aku tidak pura-pura tidak mengerti.
“Ya.”
Setelah kelas kami berjalan keluar.
Kirana berhenti di tangga.
“Mar.”
“Hm?”
“Aku senang kamu balik ngobrol. Tapi aku belum lupa kamu yang minta aku pergi.”
“Aku tahu.”
“Bagus.”
“Aku nggak minta kamu lupa.”
Dia menoleh.
“Aku cuma minta kesempatan buat nggak ngulang.”
Ekspresinya melunak sedikit.
“Oke.”
Satu kata.
Tapi kali ini aku tahu persis rasanya diberi ruang.
Dan aku tidak ingin menyia-nyiakannya.
Sore itu aku juga melakukan sesuatu yang biasanya kuhindari.
Aku mengirim pesan duluan tanpa alasan akademik.
Udah sampai kos?
Kirana membalas hampir langsung.
Udah. Kenapa?
Aku menatap pertanyaan itu.
Tidak ada kenapa yang rumit.
Cuma mau tahu.
Aku mengetiknya, menghapus, lalu mengetik lagi.
Nggak apa-apa. Nanya aja.
Balasannya lama.
Akhirnya:
Oh. Aku suka versi Damar yang nanya aja.
Aku tersenyum.
Jangan dibiasain.
Terlambat.
Aku meletakkan ponsel dan baru sadar tidak ada rasa panik setelahnya.
Besok aku tetap punya jadwal yang sama. Tetap harus bekerja. Tetap harus menghitung pengeluaran.
Satu pesan tidak mengubah semua itu.
Mungkin kedekatan memang tidak selalu datang sebagai kewajiban besar.
Kadang cuma pertanyaan kecil yang dikirim karena aku ingin tahu jawabannya.
Malam itu Keisha lewat dan melihatku tersenyum.
Dia tidak mengejek.
Cuma berkata, “Nah.”
“Apa?”
“Nggak ada.”
Aku tahu dia sengaja membalas semua perlakuanku kepadanya selama bertahun-tahun.
Aku membiarkannya.
Untuk sekali ini, aku tidak keberatan ketahuan bahagia.
Besok pagi aku membawa satu kopi kalengan. Hanya satu. Untuk Kirana. Saat kuberikan, dia melihatku seolah sedang menunggu alasan. Aku berkata, “Buat kamu.” Tidak ada “kebetulan beli dua”. Kirana menerima sambil tersenyum. “Kemajuan.” Aku mengangguk. Mungkin memang itu. Kemajuan kecil, tetapi sengaja. Dan untuk orang sepertiku, sengaja jauh lebih menakutkan daripada kebetulan.
Aku tidak tahu ke mana semua ini akan berakhir. Tapi untuk pertama kalinya sejak kami saling menjauh, ketidakpastian itu tidak terasa seperti ancaman. Ada ruang untuk pelan-pelan, untuk salah lalu memperbaiki, untuk mengenal lagi tanpa berpura-pura masa lalu tidak pernah terjadi. Dan mungkin, untuk sekarang, itu sudah lebih dari cukup. Untuk kami berdua sekarang.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari reading
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga