← Piring Ketiga

Chapter Twenty Six

Kak Kira

POV — Keisha Alvaro

Aku keceplosan.

Bukan pertama kali.

Tapi kali ini masalahnya cukup besar.

“Kak Kira, sambalnya di mana?”

Sunyi.

Tanganku berhenti.

Kirana berhenti mengaduk mi.

Kak Damar yang sedang membuka kulkas menoleh perlahan.

Aku ingin menghilang.

Tadinya aku selalu memanggil Kak Kirana.

Aman.

Formal.

Ada jarak.

Entah kenapa barusan yang keluar Kak Kira.

Lebih dekat.

Lebih keluarga.

Kirana menatapku.

Aku menunjuk dapur.

“Sambal.”

Dia tidak tersenyum lebar.

Syukurlah.

Cuma menjawab, “Rak atas.”

Aku mengambil sambal.

Kak Damar masih melihat.

“Apa?”

“Nggak.”

“Jangan.”

“Aku nggak ngomong.”

“Wajah Kakak.”

Kirana menunduk ke mangkuk, tapi aku tahu dia menahan senyum.

Aku kesal pada dua-duanya.

Kami makan bertiga.

Ini sudah bukan hal aneh lagi.

Kirana sekarang datang seminggu sekali atau dua kali.

Kadang menunggu Kak Damar.

Kadang membantu aku.

Kadang cuma duduk sambil nugas.

Hair tie hitamnya sudah punya tempat sendiri dekat pintu.

Ada satu mug yang entah sejak kapan selalu dia pakai.

Aku tahu itu bukan barang resmi miliknya.

Tapi kalau aku melihat Kak Damar menggunakan mug itu, aku akan bilang, “Itu punya Kak Kira.”

Baru sekarang aku sadar aku juga mulai menganggap begitu.

Setelah makan, Kak Damar pergi mandi.

Kirana membantu mencuci piring.

Aku berdiri di sebelah.

Dia tidak membahas panggilan tadi.

Akhirnya aku sendiri yang tidak tahan.

“Jangan senang.”

Kirana menoleh.

“Apa?”

“Yang tadi.”

Dia tersenyum kecil.

“Aku nggak ngomong apa-apa.”

“Wajah Kakak.”

Kami saling menatap.

Lalu tertawa.

Sial.

“Kalau nggak suka aku balik panggil lengkap.”

Aku mengangkat bahu.

“Terserah.”

“Keisha Alvaro.”

Aku menatap tajam.

“Kebanyakan.”

“Kak Keisha?”

“Aneh.”

“Dokter Keisha?”

Aku hampir senyum.

“Belum.”

“Nanti.”

Nada itu sama seperti pertama kali dia bilang nanti lewat chat.

Aneh bagaimana satu kata dari orang lain bisa terasa seperti keyakinan.

Aku tidak banyak punya orang yang bicara soal masa depanku.

Kak Damar tentu.

Terlalu banyak malah.

Guru.

Beberapa teman.

Tapi Kirana bicara seolah menjadi dokter hewan bukan mimpi yang terlalu jauh untuk anak yang masih menjual keripik.

Cuma sesuatu yang belum terjadi.

Itu menyenangkan.

Sore itu Moka datang dengan luka kecil baru di kaki.

Aku langsung jongkok.

“Kena apa?”

Kirana ikut.

Kak Damar keluar dari kamar dengan rambut basah.

“Apa lagi?”

“Moka luka.”

“Bawa besok ke klinik murah yang kemarin.”

“Aku tahu.”

Kirana memegang senter ponsel.

Aku membersihkan pelan.

Moka memberontak.

“Kak, pegang kepalanya.”

Kirana langsung membantu.

Kak Damar membawa kain.

Kami bertiga mengurus satu kucing liar seolah pasien penting.

Setelah selesai, tanganku kotor.

Kirana mengambilkan sabun.

Kak Damar mengambil mangkuk air.

Aku melihat keduanya.

Untuk sesaat, rasanya natural.

Terlalu natural.

Rasa takut lama muncul.

Kalau aku membiarkan ini jadi biasa, kehilangan nanti akan sakit.

Aku berdiri terlalu cepat.

“Aku mandi.”

Kirana menatap.

“Kei?”

“Nggak apa-apa.”

Aku masuk kamar mandi.

Bodoh.

Aku bukan anak kecil.

Tapi pengalaman ditinggalkan tidak peduli umur.

Setelah selesai, Kirana masih ada.

Aku duduk di kamar.

Dia mengetuk.

Bukan langsung masuk seperti Kak Damar.

“Boleh?”

Aku mengangguk.

Kirana duduk di lantai.

Tidak dekat sekali.

“Aku bikin kamu nggak nyaman?”

“Nggak.”

“Yakin?”

Aku menatap kuku.

“Aku cuma...”

Sulit.

Kirana menunggu.

“Aku nggak suka terbiasa sama orang.”

Dia tidak pura-pura tidak mengerti.

“Oh.”

“Karena orang bisa pergi.”

“Iya.”

Aku menatapnya.

Kirana tidak berkata aku nggak akan pergi.

Bagus.

Aku mungkin akan membenci janji itu.

Dia justru berkata, “Aku nggak bisa janji hidup bakal selalu gampang.”

Aku diam.

“Tapi selama aku ada, aku nggak mau setengah-setengah.”

Aku memahami kenapa Kak Damar jatuh cinta.

Bukan karena Kirana punya jawaban sempurna.

Dia tahu kapan tidak berjanji sesuatu yang tidak bisa dijamin.

Aku mengangguk.

“Kak Damar juga takut.”

“Aku tahu.”

“Dia lebih parah.”

Kirana tertawa.

“Setuju.”

Aku ikut tersenyum.

Sebelum keluar kamar, dia berhenti.

“Kei.”

“Hm?”

“Makasih udah kasih aku tempat.”

Aku hampir bilang belum.

Tapi mataku jatuh ke hair tie di lemari dekat pintu.

Mug di dapur.

Plastik keripik yang tadi dia bantu.

Moka yang namanya dia pilih.

Mungkin tempat itu memang sudah ada.

Aku cuma baru mengakuinya.

“Kak Kira.”

Dia menoleh.

“Ya?”

“Besok kalau datang, beli cabai.”

Kirana tertawa.

“Siap.”

Setelah dia pergi, Kak Damar muncul.

“Kamu ngomong apa sama dia?”

“Rahasia.”

“Kenapa semua rahasia?”

“Karena Kakak kepo.”

Dia menghela napas.

Aku tersenyum.

Aku masih protektif.

Masih akan menjadi orang pertama yang marah kalau Kak Damar disakiti.

Tapi sekarang ada hal lain yang mulai terasa benar.

Mungkin keluarga bukan cuma orang yang terpaksa tinggal karena punya nama belakang sama.

Mungkin keluarga juga bisa orang yang berkali-kali datang, membantu mencuci piring, mengurus kucing liar, lalu suatu hari kita berhenti menyebutnya tamu tanpa sadar.

Aku belum siap mengatakannya keras-keras.

Tapi panggilan itu sudah keluar.

Kak Kira.

Dan ternyata setelah diucapkan, rasanya tidak salah sama sekali.

Setelah panggilan “Kak Kira” keluar, sesuatu berubah pelan.

Bukan Kirana.

Aku.

Aku mulai berhenti merasa harus selalu hadir kalau Kak Damar dan Kirana sedang bersama.

Dulu kalau Kirana datang, aku otomatis ikut duduk.

Bukan karena ingin mengganggu.

Aku cuma ingin memastikan.

Sekarang kadang aku masuk kamar sendiri.

Belajar.

Membiarkan mereka ngobrol.

Pertama kali kulakukan, rasanya aneh.

Seperti meninggalkan pos jaga.

Lima belas menit kemudian aku keluar mengambil air.

Mereka duduk di sofa.

Kirana menyandarkan kepala ke bahu Kak Damar.

Kak Damar membaca sesuatu di laptop.

Tidak ada yang dramatis.

Aku hampir tersenyum.

Mereka terlihat damai.

Aku kembali ke kamar.

Mungkin protektif tidak harus berarti selalu berdiri di tengah.

Mungkin bisa juga berarti tahu kapan tidak diperlukan.

Beberapa hari kemudian aku pulang dengan nilai ujian biologi tertinggi di kelas.

Aku berusaha biasa.

Kak Damar langsung tahu.

“Kenapa senyum?”

“Nggak.”

“Nilai?”

Aku menunjukkan.

Wajahnya berubah bangga.

“Bagus.”

Cuma satu kata.

Tapi aku tahu betapa senangnya dia.

Malamnya Kirana datang.

Entah dari mana dia sudah tahu.

“Kata Damar ada calon dokter hewan sombong di sini.”

Aku menatap Kak Damar.

“Cepat amat bocor.”

Kirana mengeluarkan satu puding kecil.

“Selamat.”

Aku langsung melihat harga.

Tidak mahal.

Bagus.

“Terima kasih.”

Kami makan bertiga.

Kak Damar bercerita bagaimana dulu aku pernah menangis karena burung kecil mati di halaman.

“Jangan cerita.”

Kirana tertawa.

“Aku kelas lima!”

“Masih nangis.”

“Kak!”

Kirana membela.

“Bagus dong. Empati.”

Aku menunjuknya.

“Nah.”

Kak Damar kalah dua lawan satu.

Aku menikmati.

Di tengah tawa itu aku sadar satu hal.

Kirana tahu cerita kecil tentang masa lalu kami sekarang.

Bukan cuma tragedi besar.

Bukan hanya orang tua pergi.

Dia tahu aku pernah takut gelap.

Tahu Kak Damar dulu gagal bikin telur dadar.

Tahu kami pernah menghabiskan malam menempel label keripik sampai pagi.

Sedikit demi sedikit, dia tidak hanya mengenal kami saat ini.

Dia mulai mengenal sejarah keluarga ini.

Itu lebih menakutkan daripada hair tie atau mug.

Karena cerita tinggal lebih lama daripada barang.

Tapi saat Kirana tertawa mendengar kisah burung mati tanpa mengejekku, rasa takut itu tidak menang.

Sebelum pulang dia berkata, “Kei, kalau nanti masuk kedokteran hewan, aku jadi pasien pertama.”

“Kakak hewan?”

Dia diam.

Kak Damar tertawa paling keras.

Aku puas.

“Bukan. Maksudku hewan peliharaan.”

“Terlambat.”

Kirana mengejar aku sampai kamar.

Kak Damar cuma melihat sambil tertawa.

Rumah kami kecil.

Kalau dua orang lari, semuanya berisik.

Malam itu rumah benar-benar berisik.

Dan aku menyukainya.

Aku tidak lagi menghitung berapa banyak ruang Kirana ambil.

Aku mulai memperhatikan berapa banyak kehangatan yang datang bersamanya.

Itu mungkin alasan sebenarnya panggilan “Kak Kira” terasa natural.

Dia belum jadi keluarga karena status.

Belum ada darah.

Belum ada janji.

Tapi dia sudah mulai hadir dalam hal-hal kecil yang biasanya hanya dibagi keluarga.

Aku membiarkannya tumbuh. Mungkin begitu caranya rasa aman bekerja: bukan datang sekaligus, tapi dibangun dari orang yang terus kembali dan tidak memaksa kita percaya lebih cepat dari kemampuan kita.