← Piring Ketiga

Chapter Eighteen

Bukan Seperti Dulu

POV — Kirana Prameswari

Damar datang pukul delapan empat puluh tiga.

Aku sudah duduk sejak delapan empat puluh dua.

Begitu dia masuk, aku mengangkat ponsel.

“Menang.”

Damar melihat jam. “Kamu sengaja.”

“Tentu.”

Dia duduk di sebelahku.

Rasanya familiar sekaligus berbeda.

Dulu aku akan langsung mengambil minumannya atau mengganggu laptopnya. Sekarang aku membiarkan beberapa detik lewat.

Damar yang bicara duluan.

“Udah sarapan?”

“Udah.”

“Oh.”

“Kenapa? Bawa dua roti lagi?”

“Nggak.”

Aku tertawa.

Sedikit ketegangan hilang.

Mungkin kami tidak perlu kembali ke tempat lama. Kami bisa membangun sesuatu yang baru.

Setelah kelas Damar berdiri di samping mejaku.

“Kamu ada kelas lagi?”

“Jam satu.”

“Aku jam dua.”

“Terus?”

“Perpustakaan?”

Aku sengaja menatapnya.

Dia bertahan.

“Boleh.”

Di perpustakaan kami duduk di meja pojok.

Hampir satu jam benar-benar belajar.

Perubahan kecil terlihat.

Damar sekarang memberitahuku sebelum pergi.

“Aku jam dua harus kelas.”

Ketika ponselnya berbunyi dia berkata, “Keisha.”

Ketika kutanya malam ini kerja atau tidak, dia menjawab lengkap.

“Shift jam enam sampai sebelas. Besok les jam empat.”

Seolah sedang belajar bahwa informasi tidak otomatis menjadi beban.

Aku menghargainya dengan tidak meminta lebih.

Jam dua kurang sepuluh dia merapikan buku.

“Mar.”

“Hm?”

“Makasih.”

“Buat apa?”

“Udah ngomong.”

Dia mengerti.

“Aku lagi belajar.”

Kalimat itu begitu jujur sampai aku tidak ingin menggoda.

“Pelan aja.”

“Ya.”

Sore itu Sinta bertanya, “Balikan?”

Aku hampir tersedak.

“Balikan dari apa? Jadian aja belum.”

“Ya maksud gue.”

“Ngobrol lagi.”

“Terus?”

“Dia yang gerak.”

Sinta tersenyum. “Senang?”

“Iya.”

“Takut?”

Aku berpikir.

“Sedikit.”

Aku masih suka Damar. Tapi setelah sekali dia mundur, ada bagian diriku yang sekarang menjaga pintu juga.

Bukan untuk menghukum.

Untuk menjaga diri.

Damar harus mengetuk.

Dan ternyata dia mengetuk.

Besok pagi dia mengirim pesan.

Kelas pindah ke 304.

Tau dari mana?

Grup.

Aku belum buka.

Makanya aku kasih tahu.

Siang hari pesan lain datang.

Udah makan?

Aku mengirim foto nasi.

Bagus.

Kamu?

Lama.

Kemudian foto roti.

Itu bukan makan siang.

Ada isi ayam.

Kriminal.

Hidup.

Aku tertawa di kantin.

Damar mulai muncul lagi, tetapi berbeda. Dulu aku yang membangun hampir semua jalur. Sekarang dia sesekali membuat jembatan sendiri.

Sore lain kami pulang bersamaan.

Di halte busku belum datang. Arah Damar sebenarnya berlawanan.

Dia tetap berdiri.

“Kamu nggak buru-buru?”

“Masih ada waktu.”

“Mar.”

“Hm?”

“Kamu nungguin?”

“Iya.”

Jawabannya langsung.

Tidak ada “kebetulan”.

Jantungku kehilangan satu langkah.

“Oh.”

Telinganya agak merah.

“Kok senyum?”

“Nggak boleh?”

“Boleh.”

Bus datang.

Sebelum aku naik, Damar berkata, “Kabari kalau sampai.”

Aku menatapnya.

Dia terlihat ingin menarik kalimat itu kembali.

Aku tidak memberinya kesempatan.

“Iya.”

Di bus aku mengirim sebelum sampai.

Ini belum sampai.

Terus kenapa chat?

Tes. Beneran nunggu kabar nggak.

Kirana.

Aku tertawa.

Dua puluh menit kemudian:

Udah sampai.

Ya. Istirahat.

Aku menatap dua kata itu.

Dulu aku mungkin mengirim emoji hati hanya untuk melihatnya salah tingkah.

Sekarang:

Makasih udah nunggu.

Sama-sama.

Hari-hari berikutnya kami menemukan ritme baru.

Kadang Damar mengajak makan.

Kadang aku.

Kalau dia tidak bisa, dia bilang tidak bisa tanpa menciptakan alasan.

Suatu kali aku mengajak ke minimarket setelah kelas.

“Aku cuma punya lima belas menit.”

“Cukup.”

“Buat apa?”

“Beli minum.”

“Itu date paling menyedihkan.”

Aku berhenti.

Dia juga.

Kata date keluar dari mulutnya sendiri.

Aku menahan senyum.

“Siapa bilang date?”

Damar menatap rak makanan.

“Bukan.”

“Mar.”

“Ambil minummu.”

Aku tertawa sepanjang lorong.

Kami berdiri di depan minimarket minum teh botol selama tujuh menit sebelum Damar pergi les.

Anehnya itu terasa lebih dekat daripada makan lama di kantin.

Karena dia memberikan waktu yang memang sedikit tanpa berpura-pura punya lebih.

Aku mulai mengerti bahasa Damar.

Dia tidak selalu mengatakan aku ingin bertemu.

Dia berkata, “Aku punya dua puluh menit.”

Tidak mengatakan aku kepikiran kamu.

Dia membawa roti.

Tidak mengatakan aku khawatir.

Dia menunggu bus.

Dan sekarang, karena dia sendiri yang melakukan semuanya, aku bisa menerimanya tanpa merasa sedang menyeret.

Satu malam Damar mengirim:

Besok setelah kelas jangan langsung pulang.

Kenapa?

Lama sekali.

Makan.

Sama siapa?

Jangan mulai.

Aku tertawa.

Sinta mengangkat alis.

“Damar?”

Aku mengangguk.

“Kelihatan.”

Aku tidak menyangkal.

Besoknya kami makan di warung kecil di luar kampus.

Damar memilih tempat murah. Aku tidak mempermasalahkan.

Dia tampak lega ketika aku memesan tanpa melihat harga terlalu lama.

Aku baru sadar mungkin dia sedang menunggu reaksi.

“Mar.”

“Hm?”

“Enak.”

“Apa?”

“Makanannya.”

“Oh.”

“Kenapa?”

“Nggak.”

Aku tahu “nggak” itu.

Aku tidak membongkar.

Kami bicara tentang kelas, Keisha, pelanggan kafe yang pernah meminta kopi tanpa kopi, dan dosen yang suka mengirim pengumuman tengah malam.

Tidak ada deklarasi.

Tapi ketika kami selesai, Damar bertanya, “Minggu depan mau lagi?”

Aku menatapnya.

Dia tidak mengalihkan mata.

“Mau.”

“Ya.”

Aku tersenyum.

Hubungan kami belum punya nama.

Tapi untuk pertama kalinya aku tidak merasa harus mendorongnya menuju nama itu.

Damar sedang berjalan.

Pelan sekali.

Kadang menyebalkan.

Tapi dia berjalan ke arahku.

Dan setelah pernah melihatnya mundur, aku tahu persis betapa berharganya setiap langkah yang sekarang dia pilih sendiri.

Ada satu perubahan lain yang kusadari seminggu kemudian.

Damar mulai bertanya.

Bukan hanya menjawab.

“Presentasimu gimana?”

“Mama kamu udah pulang?”

“Sinta jadi ikut lomba?”

Pertanyaan kecil, tetapi sebelumnya kebanyakan percakapan bergerak karena aku yang melempar bola.

Sekarang Damar melempar balik.

Suatu malam dia mengirim foto kucing oren di depan kafe.

Aku langsung membalas:

ITU KUCING CODING.

Damar:

Dia nggak punya laptop.

Aku:

Jangan batasi mimpinya.

Beberapa menit kemudian foto kedua datang. Kucing itu tidur di atas tas laptopnya.

Damar:

Sekarang punya.

Aku tertawa sampai teman kos menatap aneh.

Aku mengetik:

Kamu sengaja foto buat aku?

Lama.

Lalu:

Iya.

Aku berhenti tertawa.

Jawaban itu sederhana dan telanjang.

Tidak ada “kebetulan lihat”.

Tidak ada alasan.

Iya.

Hari berikutnya aku sengaja menggoda.

“Fotonya lucu.”

“Kucingnya?”

“Yang ngirim.”

Damar hampir tersandung ujung tangga.

Aku tertawa.

“Nah. Sekarang baru terasa normal.”

Dia menatapku kesal, tapi tidak mundur.

Itu yang paling kusukai.

Aku boleh menggoda.

Dia boleh malu.

Dan kali ini dia tetap tinggal.

Aku juga mulai berhenti menguji setiap tindakannya.

Pada awalnya setiap pesan Damar membuatku bertanya: apakah dia benar-benar mau atau cuma merasa bersalah?

Lama-lama jawabannya terlihat dari konsistensi.

Dia datang lagi besok.

Dan besoknya.

Kalau sibuk, dia bilang.

Kalau tidak bisa, dia tidak menghilang.

Suatu siang dia membatalkan makan karena murid les meminta jadwal tambahan.

Aku cuma membalas:

Oke. Semangat.

Sepuluh menit kemudian:

Maaf.

Aku:

Kenapa minta maaf?

Damar:

Udah ngajak.

Aku tersenyum.

Aku:

Kita bisa makan lain kali. Dunia belum kiamat.

Lama.

Damar:

Ya.

Besoknya dia benar-benar mengajak lagi.

Itu yang membuatku mulai percaya.

Bukan karena dia selalu ada.

Damar memang tidak mungkin selalu ada.

Tapi sekarang kalau dia pergi, aku tahu dia akan kembali tanpa harus kutarik.

Perbedaannya kecil di permukaan.

Buatku, besar sekali.

Aku tidak membutuhkan Damar yang punya seluruh waktu di dunia.

Aku cuma ingin Damar yang tidak membuatku menebak apakah aku masih punya tempat di harinya.

Sore itu ketika kami berpisah, Damar mengangkat tangan kecil sebagai salam. Aku berjalan beberapa langkah lalu menoleh. Dia masih berdiri. Begitu tahu aku melihat, dia tidak pura-pura sibuk. Dia cuma tersenyum sedikit. Aku membalas. Tidak ada siapa pun yang mengejar. Tidak ada siapa pun yang kabur. Untuk sekarang, keseimbangan sederhana itu terasa cukup.

Aku tidak tahu ke mana semua ini akan berakhir. Tapi untuk pertama kalinya sejak kami saling menjauh, ketidakpastian itu tidak terasa seperti ancaman. Ada ruang untuk pelan-pelan, untuk salah lalu memperbaiki, untuk mengenal lagi tanpa berpura-pura masa lalu tidak pernah terjadi. Dan mungkin, untuk sekarang, itu sudah lebih dari cukup. Untuk kami berdua sekarang.