Chapter Fifty Two
Piring Ketiga
POV — Damar Alvaro
Kami menikah kecil.
Bukan karena tidak mampu pesta besar.
Karena kami tidak mau.
Keisha sempat menawarkan paket klinik.
Aku tidak tahu maksudnya.
Dia juga tidak.
Akhirnya hanya keluarga dekat, teman lama, beberapa rekan kerja, dan terlalu banyak foto.
Aku menangis waktu Kirana berjalan masuk.
Keisha melihat.
“Kak.”
“Diam.”
“Aku belum ngomong.”
“Wajahmu.”
Dia tertawa sambil ikut menangis.
Kirana berdiri di depanku.
Enam tahun terpisah.
Dua kali jatuh cinta.
Satu kali putus.
Ratusan percakapan yang akhirnya mengajari kami bahwa cinta tidak menyelamatkan siapa pun kalau tidak disertai kejujuran.
Kami mengucapkan janji.
Tidak terlalu panjang.
Aku tidak menjanjikan selamanya tanpa masalah.
Kirana juga tidak.
Kami cuma berjanji tidak membuat keputusan besar sendirian.
Terdengar tidak romantis.
Buat kami, itu mungkin janji paling romantis.
Setelah menikah, Kirana pindah ke rumah.
Sikat giginya resmi.
Hair tie ada di mana-mana.
Sandal hitam baru muncul di depan pintu karena sandal lama akhirnya kami keluarkan dari kardus.
Kirana memakainya sekali.
“Masih muat.”
Aku tertawa.
“Buang?”
Dia memeluk sandal itu.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Nilai sentimental tidak tunduk pada harga pasar.”
Aku membeku.
Kalimat lama.
Pulpen tiga ribuan.
Awal semuanya.
“Kamu masih ingat?”
Kirana menatap.
“Mar.”
“Apa?”
“Tentu.”
Kami menyimpan sandal lama di lemari.
Bukan sebagai benda keramat.
Cuma kenangan.
Hidup baru berjalan.
Aku kerja.
Kirana kerja.
Keisha sibuk dengan cabang klinik.
Kami tidak makan bertiga tiap minggu.
Kadang sebulan sekali.
Kadang lebih lama.
Dan itu tidak lagi membuatku takut.
Suatu Jumat, Keisha chat.
Kei: Kak, aku mampir. Belum makan.
Aku sedang di dapur.
Kirana membaca dari samping.
“Bikin lebih.”
Aku mengambil piring.
Satu.
Dua.
Lalu berhenti di piring ketiga.
Tanganku tersenyum? Tidak. Aku yang tersenyum.
Kirana melihat.
“Kenapa?”
“Nggak.”
“Wajahmu.”
Aku mengambil piring ketiga.
Meletakkan di meja.
Dulu piring ketiga adalah milik Kirana.
Tanda bahwa seseorang baru masuk ke rumah aku dan Keisha.
Sekarang rumah ini milikku dan Kirana.
Dan piring ketiga menunggu Keisha.
Bukan sebagai tamu.
Bukan orang luar.
Cuma keluarga yang belum sampai.
Bel pintu berbunyi.
Keisha masuk tanpa menunggu lama.
“Kak, lapar.”
“Kamu dokter, cari makan sendiri.”
“Pasien terakhir muntah ke sepatu aku.”
Kirana tertawa.
“Cuci tangan.”
“Udah.”
Keisha duduk di tempatnya.
Tempat yang tidak pernah kami tetapkan.
Tapi semua orang tahu.
Kami makan.
Keisha cerita klinik.
Kirana cerita kantor.
Aku mendengarkan.
Kadang ikut.
Di tengah makan Keisha berhenti.
“Kak.”
“Hm?”
“Kenapa lihat?”
Aku baru sadar aku menatap mereka.
“Nggak.”
Dua suara bersamaan:
“Bohong.”
Aku tertawa.
“Senang aja.”
Keisha memutar mata.
Kirana tersenyum.
Makan selesai.
Kami mencuci piring bertiga seperti dulu.
Keisha bagian paling malas.
Tradisi.
Malam makin larut.
Dia harus pulang.
Kirana membungkus makanan.
Aku mengantar ke pintu.
Keisha memakai sepatu.
“Kak.”
“Hm?”
“Dulu kita hebat ya.”
Aku menatap.
“Apa?”
“Bisa sampai sini.”
Dadaku terasa penuh.
Aku melihat adikku.
Dokter hewan.
Pemilik klinik.
Perempuan dewasa yang dulu menjual keripik pedas sepulang sekolah.
“Iya.”
Keisha tersenyum.
“Papa Mama bakal bangga.”
Aku menutup mata sebentar.
Sudah lama kami tidak membicarakan mereka dengan rasa sakit tajam.
Sekarang lebih seperti ruang kosong yang tetap punya nama.
“Iya.”
Keisha memeluk.
Aku memeluk balik.
“Terima kasih, Kak.”
“Buat apa?”
“Dulu.”
Aku tahu.
Semua malam.
Semua les.
Semua kopi.
Semua kebohongan soal sudah makan.
Aku mengusap kepalanya seperti ketika dia kecil.
“Maaf juga.”
Keisha mundur.
“Buat apa?”
“Dulu.”
Dia tahu.
Semua pengorbanan yang berubah jadi beban.
Semua keputusan yang kubuat untuknya tanpa bertanya.
Keisha tersenyum.
“Kita impas.”
“Hitungannya?”
“Dokter.”
Aku tertawa.
Dia pergi.
Aku berdiri sampai mobilnya hilang.
Kirana muncul di samping.
“Mau nangis?”
“Nggak.”
“Bohong.”
Aku tertawa.
Kami masuk.
Di meja ada tiga piring kotor yang belum sempat masuk rak.
Kirana mengambil satu.
Aku satu.
Piring ketiga tertinggal.
Aku melihat.
“Kira.”
“Hm?”
“Dulu aku takut ada piring ketiga.”
Dia menatap.
“Kenapa?”
“Karena kalau ada orang ketiga, berarti ada satu orang lagi yang bisa hilang.”
Kirana diam.
Aku menyentuh tepi piring.
“Terus?”
“Sekarang?”
Aku tersenyum.
“Sekarang aku tahu orang bisa pergi sebentar tanpa berhenti jadi keluarga.”
Matanya langsung merah.
“Kamu sengaja bikin aku nangis?”
“Nggak.”
“Bohong.”
Aku memeluk.
Kirana menyandarkan wajah ke dada.
Aku mencium kepalanya.
Kami berdiri di dapur.
Tidak muda lagi seperti dulu.
Tidak miskin seperti dulu.
Tidak takut dengan cara yang sama.
Tapi aku masih Damar.
Kirana masih perempuan yang pernah datang ke hidupku saat aku yakin cinta terlalu mahal.
Keisha masih adikku yang mengajariku bahwa melindungi seseorang tidak berarti hidup menggantikan mereka.
Aku melihat tiga piring.
Mungkin hidup memang mahal.
Makan.
Kuliah.
Rumah.
Cinta.
Semua punya harga.
Tapi harga bukan alasan untuk hidup dengan tangan kosong.
Ada hal-hal yang layak dipilih meski bisa hilang.
Ada orang-orang yang layak dicintai meski kita tidak bisa menjamin mereka tinggal selamanya.
Karena rumah bukan tempat yang tidak pernah ditinggalkan.
Rumah adalah tempat yang masih menyiapkan piring ketika seseorang berkata:
aku pulang.
Kirana menarik diri sedikit.
“Mar.”
“Hm?”
“Besok sarapan apa?”
Aku tertawa.
“Telur.”
“Berapa?”
Aku melihat rak.
“Dua.”
Dia mengangkat alis.
Aku tersenyum.
“Kalau Kei datang, tiga.”
“Kalau ada tamu?”
“Ambil lagi.”
Kirana mencium pipiku.
“Pintar.”
Aku mematikan lampu dapur.
Tiga piring mengering di rak.
Tidak ada yang istimewa.
Hanya keramik murah.
Tapi aku tahu sekarang:
keluarga tidak pernah soal berapa banyak piring yang kita punya.
Keluarga adalah keberanian untuk terus menyediakan tempat.
Dan akhirnya, aku tidak takut lagi.
Beberapa tahun setelah menikah, piring-piring baru mulai punya goresan.
Bagus.
Aku suka.
Barang yang dipakai memang begitu.
Rumah juga berubah.
Tanaman Kirana semakin banyak.
Rak bukuku berkurang karena kalah ruang.
Keisha punya kunci cadangan.
Dia bilang untuk keadaan darurat.
Keadaan darurat ternyata termasuk lapar sepulang operasi.
Kami tidak punya anak saat itu.
Bukan karena keputusan final.
Belum membahas serius.
Anehnya aku tidak cemas.
Dulu semua masa depan harus punya rencana.
Sekarang beberapa hal boleh menjadi pertanyaan.
Suatu Minggu pagi Keisha datang tanpa kabar.
Aku membuka pintu.
Dia membawa dua kantong.
“Kenapa?”
“Bahan masak.”
“Kamu sakit?”
“Kak.”
Kirana muncul.
“Kei!”
Mereka langsung masuk dapur.
Aku ditinggal.
Ternyata Keisha ingin mencoba resep ayam yang dia lihat online.
Hasilnya hampir gosong.
Kami tetap makan.
Tiga piring.
Setelah itu Keisha berkata, “Kak, aku mungkin pindah.”
Aku berhenti.
Kirana juga.
“Cabang klinik baru,” katanya.
“Kota sebelah.”
Refleks kecil muncul.
Jarak.
Risiko.
Keamanan.
Aku merasakan.
Tidak menuruti.
“Kamu mau?”
Keisha tersenyum.
“Mau.”
Aku mengangguk.
“Bagus.”
Matanya langsung merah.
“Kenapa?”
“Nggak.”
“Kok nangis?”
“Bumbu.”
“Kamu dokter hewan.”
“Apa hubungannya?”
Kirana tertawa.
Keisha akhirnya berkata, “Dulu aku kira kalau pergi jauh dari Kakak, Kakak bakal sendirian.”
Aku menatap.
“Sekarang?”
Dia melihat Kirana.
“Sekarang nggak.”
Aku tertawa kecil.
“Dan kalaupun sendiri, aku bisa.”
Keisha menatap lagi.
“Ya.”
Kalimat itu menjadi lingkaran yang selesai.
Dulu aku membesarkannya supaya dia bisa berdiri sendiri.
Tanpa sadar aku juga harus belajar berdiri sendiri supaya dia bebas pergi.
Kami membantu kepindahannya beberapa bulan kemudian.
Aku tidak mengecek kontrak apartemen sepuluh kali.
Cuma tiga.
Keisha memarahi.
Kemajuan relatif.
Kirana membantu memilih tirai.
Malam sebelum kami pulang, kami makan di apartemen Keisha.
Piringnya cuma dua.
Dia belum beli banyak.
Aku melihat.
Keisha mengikuti.
“Kenapa?”
“Nggak.”
Kirana tertawa.
“Besok beli lagi.”
Keisha mengangguk.
“Piring ketiga.”
Kami bertiga diam sesaat.
Lalu tertawa.
Motif bodoh ini benar-benar mengikuti hidup kami.
Aku pulang ke rumah bersama Kirana.
Dua piring.
Tidak sepi.
Keisha di kota lain.
Tidak hilang.
Keesokan harinya ada foto masuk ke grup.
Kei: Udah beli.
Foto tiga piring putih di rak barunya.
Kirana membalas:
Kira: Bagus.
Aku:
Aku: Kenapa tiga?
Keisha:
Kei: Kalau kalian datang.
Aku menatap lama.
Air mata datang tanpa izin.
Kirana melihat.
“Mar.”
“Hm?”
“Peluk?”
Aku mengangguk.
Dia memeluk.
Aku tertawa di bahunya.
“Kei bikin nangis.”
“Dokter jahat.”
Aku memegang Kirana.
Dulu aku sangat takut ditinggal sampai mengira cara terbaik mencintai adalah menjaga semua orang tetap dekat, tetap aman, tetap dalam jangkauan.
Sekarang adikku punya tiga piring di kota lain.
Istriku punya perjalanan dinas bulan depan.
Aku sendiri mungkin akan pergi konferensi kerja beberapa hari.
Kami bergerak.
Kami pergi.
Kami kembali.
Tidak ada yang harus membeku supaya keluarga tetap keluarga.
Itulah bagian yang paling lama kupelajari.
Beberapa minggu kemudian aku dan Kirana benar-benar mengunjungi Keisha.
Begitu sampai, dia berkata, “Lapar?”
“Tentu.”
Dia mengambil tiga piring baru.
Aku melihat.
Keisha menunjuk.
“Jangan mulai.”
Aku tertawa.
Kami makan di rumahnya.
Sekarang aku yang menjadi orang ketiga di meja orang lain.
Anehnya sangat nyaman.
Mungkin karena akhirnya aku paham piring ketiga tidak pernah berarti orang tambahan yang bisa dibuang.
Ia berarti ruang yang sengaja disediakan.
Kirana menggenggam tanganku di bawah meja.
Keisha melihat.
“Jangan flirting.”
Aku tertawa.
“Aku nggak.”
“Wajah Kakak.”
Kirana mencium pipiku cepat.
Keisha protes.
Aku tersenyum.
Hidup tidak kembali ke awal.
Syukurlah.
Kami tidak lagi dua anak yatim yang cuma punya satu sama lain.
Kami juga tidak lagi tiga mahasiswa yang takut masa depan.
Kami menjadi tiga orang dewasa dengan rumah berbeda, pekerjaan berbeda, dan hidup yang tidak selalu sejajar.
Tetap saja, kalau salah satu berkata aku pulang, dua lainnya tahu harus mengambil piring tambahan.
Mungkin itu semua yang pernah kami cari.
Bukan janji bahwa tidak ada yang pergi.
Janji bahwa pergi tidak selalu berarti meninggalkan.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga reading