← Piring Ketiga

Chapter Thirty Eight

Kesempatan Kirana

POV — Kirana Prameswari

Dua hari setelah pertengkaran Keisha dan Damar, aku mendapat email.

Tawaran lanjutan dari tempat magang.

Bukan sekadar perpanjangan.

Program trainee di kota lain setelah lulus.

Kesempatan bagus.

Sangat bagus.

Aku membaca email itu di toilet kantor karena tangan gemetar.

Orang pertama yang ingin kuberi tahu adalah Damar.

Lalu aku berhenti.

Bukan karena tidak percaya.

Karena aku tahu kondisinya.

Aku benci bahwa aku mulai menghitung reaksi sebelum bicara.

Malamnya aku datang ke rumah.

Keisha sedang belajar di kamar.

Hubungannya dengan Damar masih sedikit kaku.

Damar membuat teh.

Aku duduk.

“Mar.”

“Hm?”

“Aku dapat tawaran.”

Dia langsung melihat.

Aku menjelaskan.

Semakin lama aku bicara, wajahnya semakin sulit dibaca.

“Bagus,” katanya.

Aku menunggu.

“Bagus banget.”

“Kotanya jauh.”

“Aku tahu.”

“Kalau aku ambil, setelah lulus aku pindah.”

Damar mengangguk.

Terlalu cepat.

“Ambil.”

Dadaku turun.

Bukan karena aku ingin dia melarang.

Aku ingin dia bicara.

“Kamu nggak mau pikir dulu?”

“Ini kesempatan bagus.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

Aku menatapnya.

“Terus kita.”

Damar diam.

“Apa?” tanyaku.

“Kita bisa atur.”

Kalimat yang sama lagi.

Aku tidak suka.

“Gimana?”

“Nanti lihat jadwal.”

“Mar.”

“Hm?”

“Bukan jadwal.”

Dia menatap meja.

Aku mengembuskan napas.

“Aku belum bilang aku ambil.”

“Kamu harus ambil.”

Kata harus membuat sesuatu di dadaku menegang.

“Kenapa harus?”

“Karena ini bagus buat kamu.”

“Kalau aku nggak mau?”

Damar akhirnya melihat.

“Kamu mau.”

Aku diam.

Dia benar.

Itu justru masalahnya.

“Kamu tahu aku mau?”

“Iya.”

“Terus kamu tahu apa lagi?”

“Kira.”

“Nggak. Jawab.”

Aku berusaha menjaga suara tetap tenang.

“Kamu tahu aku bakal baik-baik aja jauh dari kamu?”

Damar tidak menjawab.

“Kamu tahu kita sanggup long distance?”

“Kita bisa coba.”

“Bisa.”

Aku mengangguk.

“Tapi aku pengin kita mutusin bareng.”

“Ini masa depan kamu.”

“Iya.”

“Jangan korbankan karena aku.”

Aku hampir tertawa karena pahit.

“Siapa yang ngomong soal korbankan?”

Damar diam.

Aku melihat pola yang sama.

Dulu dia memutuskan dirinya harus mundur karena menurutnya aku pantas mendapat hidup yang lebih mudah.

Sekarang dia memutuskan aku harus pergi karena menurutnya itu terbaik.

Niatnya baik.

Tetap saja rasanya seperti pintu ditutup dari dalam.

“Mar.”

“Hm?”

“Aku mau ambil.”

Dia mengangguk cepat.

“Tapi aku mau kamu bilang apa yang kamu rasain.”

Damar menatapku.

Aku menunggu.

Lama.

“Aku senang buat kamu.”

“Itu bukan semua.”

“Kira.”

“Aku pacar kamu.”

“Aku tahu.”

“Terus izinin aku tahu bagian jeleknya juga.”

Dia menunduk.

Akhirnya berkata, “Aku takut.”

Dadaku langsung melunak.

“Takut apa?”

“Kamu pergi.”

Sederhana.

Jujur.

Aku menggenggam tangannya.

“Nah.”

Damar tertawa kecil tanpa humor.

“Kenapa nah?”

“Karena itu manusia.”

Aku mendekat.

“Aku juga takut.”

“Kamu?”

“Iya.”

Aku menyentuh jarinya.

“Aku takut kita berubah. Takut jarak bikin capek. Takut kamu makin sibuk terus bilang semua baik-baik aja padahal nggak.”

Damar diam.

“Takut aku pulang nanti sandal aku udah nggak ada.”

Dia tersenyum sedikit.

“Nggak akan.”

“Jangan janji yang nggak perlu.”

Dia mengangguk.

Aku menyandarkan kepala ke bahunya.

Untuk beberapa menit aku pikir kami berhasil.

Kami jujur.

Kami bicara.

Seperti yang selalu kami latih.

Lalu Keisha keluar kamar membawa map.

“Kak Kira.”

“Hm?”

“Aku dapat email beasiswa lain.”

Kami langsung melihat.

Keisha duduk.

Beasiswanya tidak penuh.

Tapi cukup membantu.

Damar membaca semua syarat.

Aku melihat wajahnya.

Mesin hitung di kepalanya menyala lagi.

Momen jujur tadi seperti tenggelam.

Malam makin larut.

Aku pulang.

Di halte Damar memelukku.

Lebih kencang dari biasanya.

Aku memeluk balik.

“Kira.”

“Hm?”

“Ambil programnya.”

Aku menutup mata.

“Mar.”

“Aku serius.”

“Aku tahu.”

“Jangan pikirin aku.”

Itu kalimat yang seharusnya romantis.

Tidak terasa begitu.

Aku mundur.

“Kenapa aku nggak boleh pikirin kamu?”

Damar terdiam.

“Kamu bagian hidupku.”

“Aku nggak mau jadi alasan kamu nolak.”

“Dan aku nggak mau kamu jadi orang yang menentukan aku harus menerima.”

Bus datang.

Aku menatap lampunya mendekat.

Waktu habis.

Damar berkata, “Kita ngomong lagi.”

“Ya.”

Aku naik.

Di dalam bus, ponselku berbunyi.

Mar: Sampai kabarin.

Aku menatap.

Rutinitas lama.

Manis.

Menyakitkan sedikit.

Aku: Iya.

Setelah sampai:

Aku: Udah.

Mar: Ya. Istirahat.

Aku menunggu sesuatu lagi.

Tidak ada.

Aku meletakkan ponsel.

Besok aku menerima tawaran trainee.

Aku memberi tahu Damar lebih dulu.

Aku: Aku ambil.

Balasannya datang cepat.

Mar: Bagus.

Hanya itu.

Lalu beberapa detik kemudian:

Mar: Aku bangga sama kamu.

Aku menangis sedikit di meja kerja.

Bukan karena sedih.

Bukan karena bahagia saja.

Karena aku mencintai orang yang benar-benar ingin masa depanku besar.

Tapi aku mulai takut Damar akan menggunakan kebesaran masa depanku sebagai alasan untuk mengecilkan tempatnya sendiri di dalam hidupku.

Malam itu aku membuka foto lama.

Tiga piring.

Ayam.

Keisha membuat wajah aneh.

Damar tersenyum kecil.

Aku menyimpan ponsel.

Aku akan pergi kalau program itu benar-benar dimulai.

Tapi aku belum pergi sekarang.

Aku masih di sini.

Dan aku berharap Damar mengerti perbedaan itu sebelum terlambat.

Hari-hari setelah aku menerima program trainee terasa aneh.

Secara objektif aku bahagia.

Supervisor mengucapkan selamat.

Mama menelepon.

Sinta mengirim pesan panjang penuh huruf kapital.

Damar juga mengucapkan selamat.

Dia bahkan datang membawa kopi dan satu roti favoritku.

Aku menerima.

Kami duduk di taman kampus.

“Mar.”

“Hm?”

“Senang?”

“Iya.”

“Sedih?”

Dia diam.

Aku menunggu.

“Iya.”

Jawaban itu membuatku tersenyum.

“Bagus.”

“Kenapa?”

“Karena dua-duanya boleh.”

Damar mengangguk.

Aku menggenggam tangannya.

Untuk beberapa hari dia kembali jujur.

Kalau kangen, dia bilang.

Kalau capek, dia bilang.

Aku mulai tenang.

Lalu jadwal kami semakin sulit.

Aku punya briefing trainee.

Damar punya kerja.

Keisha mulai orientasi kampus.

Jumat pertama kami bertiga gagal makan bersama.

Tidak ada tragedi.

Cuma jadwal.

Jumat kedua, Keisha bisa.

Aku bisa.

Damar tidak.

Mar: Maaf. Ada shift tambahan.

Aku menatap pesan.

Aku: Bukannya kamu bilang nggak ambil lagi?

Lama.

Mar: Orang kurang.

Aku langsung tahu itu bukan seluruh jawaban.

Aku: Kamu butuh uangnya?

Tidak ada balasan hampir dua puluh menit.

Mar: Lumayan.

Dadaku turun.

Aku: Kita ngobrol habis shift.

Mar: Ya.

Jam sebelas aku menunggu telepon.

Tidak ada.

Aku menelepon.

Damar mengangkat setelah tiga dering.

Suaranya lelah.

“Halo.”

“Kamu pulang?”

“Di jalan.”

“Mar.”

“Hm?”

“Kamu ambil shift karena biaya Kei?”

Sunyi.

Aku menutup mata.

“Sebagian.”

“Sebagian yang lain?”

“Tabungan.”

“Untuk?”

Dia tidak menjawab.

“Mar.”

“Buat jaga-jaga.”

Aku langsung teringat formulir pengurangan beban studi yang diceritakan Keisha kepadaku.

Keisha memang cerita.

Bukan untuk mengadu.

Karena dia takut.

“Kamu mau ngurangin kuliah?”

Damar berhenti berjalan.

Aku mendengar suara jalan dari telepon.

“Keisha bilang?”

“Jawab.”

“Belum diputuskan.”

“Kamu isi formulir.”

“Belum dikirim.”

Aku menarik napas.

“Aku capek selalu dapat kalimat belum setelah semuanya hampir jadi keputusan.”

“Kira.”

“Kamu tahu bagian paling bikin aku takut?”

“Apa?”

“Kamu kelihatannya terbuka.”

Aku berjalan mondar-mandir di kamar.

“Kamu cerita angka. Cerita capek. Cerita takut. Terus diam-diam kamu tetap bikin pintu keluar sendiri.”

Damar tidak menjawab.

“Jadi aku nggak pernah tahu mana yang pembicaraan beneran dan mana yang cuma supaya aku tenang.”

“Itu nggak adil.”

“Aku tahu.”

“Aku lagi berusaha.”

“Aku juga tahu.”

Suaraku pecah sedikit.

“Makanya aku masih di sini.”

Sunyi.

Aku mendengar napasnya.

“Aku nggak mau kamu berhenti kuliah karena Kei.”

“Aku nggak berhenti.”

“Ngurangin.”

“Cuma satu semester.”

“Nah.”

Aku hampir tertawa karena marah.

“Kamu udah punya angka.”

Damar diam.

“Berarti kamu udah hitung.”

“Kira—”

“Dan kamu belum bilang.”

Tidak ada yang bisa menyangkal.

Aku duduk di tepi kasur.

“Aku nggak mau marah sekarang.”

“Ya.”

“Besok kita ngomong langsung.”

“Ya.”

Sebelum telepon ditutup, aku berkata, “Mar.”

“Hm?”

“Aku masih sayang kamu.”

Dia diam lama.

“Aku juga.”

Aku menutup mata.

Itulah yang membuat semuanya sulit.

Kalau cinta hilang, mungkin masalah jadi sederhana.

Tapi kami masih saling mencintai.

Sangat.

Masalahnya bukan rasa.

Masalahnya cara Damar menggunakan rasa itu untuk membenarkan keputusan yang tidak memberi orang lain pilihan.

Besok aku akan datang ke rumah.

Aku sudah memutuskan satu hal.

Aku tidak akan meminta Damar memilih aku daripada Keisha.

Tidak pernah.

Tapi aku juga tidak akan membiarkan dia terus memilih untuk kami semua lalu menyebutnya cinta.