Chapter Twenty Three
Pacar Kak Damar
POV — Keisha Alvaro
Aku belum memutuskan punya kakak yang pacaran itu bagus atau merepotkan.
Bagusnya, Kak Damar lebih sering senyum.
Merepotkannya, dia lebih sering lihat HP lalu pura-pura tidak.
Hari Minggu aku sedang menimbang keripik ketika ponselnya berbunyi. Kak Damar melihat, senyum sedikit, lalu menaruh lagi.
“Balas.”
“Nanti.”
“Kenapa nanti?”
“Lagi bantu kamu.”
“Aku bisa sendiri.”
Aku mengambil plastik dari tangannya.
“Balas pacarmu.”
“Kei.”
“Kalau Kak Kirana putus gara-gara chat nggak dibalas, jangan nangis di kamarku.”
Dia menatap tajam.
Aku sengaja memakai Kak Kirana. Belum Kak Kira. Masih tahap percobaan.
Beberapa jam kemudian Kirana datang membawa dua bungkus roti.
“Boleh masuk?”
Aku melihat Kak Damar. Dia terlihat lebih gugup daripada Kirana.
“Masuk aja.”
Rumah kami kecil. Meja makan sekaligus meja belajar. Kardus keripik menumpuk di sudut. Kulkas tua bunyinya seperti sedang mempertimbangkan pensiun.
Aku memperhatikan wajah Kirana.
Tidak ada perubahan.
Dia hanya mengangkat roti.
“Aku bawa ini.”
Kak Damar langsung berkata, “Ngapain beli?”
“Buat dimakan.”
“Maksudku—”
Aku memotong. “Terima kasih.”
Kalau dibiarkan, dua bungkus roti bisa berubah menjadi perdebatan ekonomi.
Kami duduk bertiga.
Aku mengambil piring. Kirana berdiri.
“Yang mana?”
Aku menunjuk lemari.
Dia mengambil sendiri.
Tiga piring.
Waktu itu bukan simbol apa-apa. Cuma tiga orang makan roti.
Setelah makan aku harus menyelesaikan pesanan.
Kirana duduk di lantai dekatku.
“Aku bantu?”
“Kakak tamu.”
“Terus?”
Aku memberikan plastik.
“Lima puluh gram.”
Dia mencoba. Kebanyakan. Aku keluarkan. Coba lagi. Kurang.
“Sulit juga.”
“Makanya jangan remehkan industri.”
Kirana tertawa.
Kak Damar dari meja berkata, “Jangan eksploitasi pacarku.”
Aku dan Kirana sama-sama berhenti.
Kak Damar sendiri seperti baru sadar.
Aku tertawa.
“Pacarku.”
“Diam.”
Kirana menutup wajah.
Bagus. Berarti seimbang.
Kami bekerja hampir satu jam.
Saat tangan Kirana kena bubuk cabai, Kak Damar sudah berdiri mengambil sabun sebelum aku selesai bicara.
“Terima kasih, pacar,” kata Kirana.
Aku tertawa lagi.
Sore menjelang malam.
“Kak Kirana.”
Dia menoleh.
“Besok ada rasa baru. Kalau mau coba aku titip Kak Damar.”
“Boleh.”
Setelah dia pergi, rumah terasa lebih sepi.
Kak Damar masih berdiri dekat pintu.
“Masuk. Orangnya udah pergi.”
Dia menatapku.
“Kamu suka dia?”
Aku pura-pura berpikir.
“Lumayan.”
“Lumayan?”
“Enam puluh sembilan persen.”
“Naik dua?”
“Dia mau bantu packing.”
Kak Damar tersenyum.
Aku menunjuk.
“Nah.”
“Apa?”
“Jangan senyum begitu. Seram.”
Malamnya aku menemukan hair tie hitam di dekat meja.
Aku tahu bukan punyaku.
Aku meletakkannya di lemari kecil dekat pintu.
Kak Damar melihat.
“Itu punya Kirana.”
“Aku tahu.”
“Nanti aku kasih.”
“Taruh aja. Kalau dia datang lagi bisa pakai.”
Aku masuk kamar sebelum melihat ekspresinya.
Aku belum sepenuhnya percaya.
Orang bisa baik beberapa minggu lalu berubah. Orang bisa bilang tinggal lalu pergi.
Tapi Kirana tidak masuk ke rumah kami seperti ingin mengambil sesuatu.
Dia duduk di lantai. Membantu packing. Makan dari piring yang sama murahnya.
Dan Kak Damar terlihat seperti dirinya sendiri saat bersamanya.
Beberapa hari kemudian aku pulang sekolah dan menemukan Kirana di rumah.
Kak Damar belum pulang.
“Kak?”
Kirana mengangkat kantong.
“Kak Damar bilang boleh nunggu. Aku bawa pesanan plastik juga.”
Aku melihat plastik yang memang kami butuhkan.
“Dia nyuruh beli?”
“Nggak. Aku kebetulan lewat toko. Aku chat dulu.”
Aku langsung mengambil uang.
“Berapa?”
Kirana menyebut harga dan menerima uangku.
Tidak bilang tidak usah.
Aku suka itu.
Tidak ada hadiah terselubung. Tidak ada rasa kasihan.
Kami duduk menunggu Kak Damar.
Kirana melihat buku biologi.
“Kamu serius mau dokter hewan?”
Aku mengangguk.
“Kenapa?”
Aku berpikir.
“Binatang nggak bisa bilang sakitnya di mana. Jadi harus ada orang yang mau repot cari tahu.”
Kirana tersenyum.
“Cocok.”
“Apanya?”
“Kamu suka repot.”
Aku menatap.
Dia tertawa.
Aku ikut.
Ketika Kak Damar pulang, dia berhenti melihat kami berdua.
“Apa?”
Aku dan Kirana menjawab bersamaan.
“Nggak ada.”
Wajahnya langsung curiga.
Aku tersenyum.
Malam lain, Kirana mengirim foto Moka, kucing belang yang sering datang ke belakang rumah.
Aku tidak ingat kapan tepatnya kami mulai saling chat tanpa Kak Damar.
Tidak sering.
Kadang soal keripik. Kadang soal Moka. Kadang Kirana bertanya apakah Kak Damar sudah makan karena pesannya tidak dibalas.
Aku tidak selalu menjawab.
Aku bukan mata-mata.
Tapi suatu malam Kak Damar pulang sangat capek dan langsung tidur tanpa makan.
Aku memotret kotak nasi yang belum disentuh.
Kirim ke pacarmu sendiri.
Kirana membalas:
Aku telepon.
Lima menit kemudian ponsel Kak Damar berbunyi dari kamar.
Aku mendengar suaranya serak.
“Halo.”
Lalu diam.
Beberapa menit kemudian dia keluar.
Makan.
Aku menahan senyum.
“Kok keluar?”
“Lapar.”
“Bohong.”
Dia menatapku.
“Kamu lapor?”
“Aku cuma menjalankan fungsi pengawasan.”
Kak Damar menghela napas.
Tapi dia makan.
Aku masuk kamar sambil berpikir.
Dulu cuma aku yang memastikan Kak Damar tidak habis karena menjaga semuanya.
Sekarang ada orang lain yang memperhatikan.
Aneh.
Ada bagian diriku yang merasa lega.
Ada juga bagian yang takut.
Kalau aku terbiasa dengan bantuan Kirana, lalu dia pergi, rumah ini akan kembali terasa terlalu sunyi.
Mungkin itu alasan aku masih menahan diri.
Bukan karena tidak suka.
Justru karena mulai suka.
Aku tahu rasa kehilangan hanya bisa sebesar ruang yang sebelumnya kita izinkan seseorang isi.
Tapi malam itu, ketika mendengar Kak Damar tertawa kecil di telepon dengan Kirana setelah makan, aku memutuskan satu hal.
Aku tidak akan menutup pintu hanya karena takut suatu hari pintu itu kosong lagi.
Aku akan tetap mengawasi.
Tentu.
Dia kakakku.
Tapi kalau Kirana benar-benar berniat tinggal, mungkin aku bisa belajar memberinya sedikit tempat.
Kesempatan berikutnya datang ketika aku harus mengantar pesanan cukup banyak sepulang sekolah.
Kak Damar masih kuliah.
Biasanya aku akan membawa sendiri.
Kirana kebetulan chat menanyakan rasa baru.
Aku menjawab bercanda:
Kalau mau tester, bantu angkut.
Lima belas menit kemudian:
Lokasi.
Aku menatap layar.
Serius?
Serius.
Dia datang naik ojek, membantu membawa dua kantong, lalu ikut berjalan ke tempat penitipan.
“Kakak nggak harus beneran datang.”
“Kamu yang ngajak.”
“Aku bercanda.”
“Aku juga lagi kosong.”
Tidak ada nada pahlawan.
Kami berjalan sambil ngobrol.
Kirana tidak bertanya kenapa aku harus jualan sepulang sekolah. Tidak menyuruh berhenti. Tidak bilang anak seusiaku seharusnya cuma belajar.
Aku bersyukur.
Orang dewasa kadang suka mengatakan anak harus menikmati masa muda seolah tagihan akan mendengar lalu menghilang.
Kirana cuma membantu membawa satu kantong.
Setelah selesai, dia membeli dua es teh.
Aku hendak membayar.
“Yang ini aku traktir.”
Aku menatap.
“Kenapa?”
“Karena aku haus dan nggak enak minum sendiri.”
Alasannya cukup bodoh untuk bisa kuterima.
Kami duduk di pinggir taman.
“Kak Kirana.”
“Ya?”
“Kalau Kak Damar bikin susah, bilang.”
Dia tertawa.
“Kenapa?”
“Dia suka mikir sendiri.”
“Aku tahu.”
“Jangan dibiarin.”
“Siap.”
Aku menatapnya.
“Dan jangan iyain semua yang dia bilang cuma karena kasihan.”
Senyumnya hilang sedikit.
“Aku nggak kasihan sama Damar.”
Jawabannya cepat.
Bagus.
“Kalau aku marah sama dia, aku bakal marah.”
“Bagus.”
“Kalau aku kecewa, aku bilang.”
“Bagus.”
“Kalau aku sayang?”
Aku berhenti minum.
Kirana tersenyum kecil.
“Aku juga bilang.”
Aku memalingkan wajah.
“Kenapa?”
“Nggak.”
“Kei.”
“Jangan panggil begitu.”
Dia tertawa.
Mungkin saat itulah persentasenya melewati tujuh puluh.
Aku tidak bilang.
Beberapa hal lebih aman disimpan dulu.
Tapi saat pulang, aku menyimpan nomor Kirana bukan lagi sebagai “Kirana Kampus”.
Aku menggantinya.
Kak Kirana.
Aku menatap nama itu beberapa detik.
Belum Kak Kira.
Masih ada jarak.
Tapi jarak itu sekarang bukan tembok.
Cuma waktu yang belum selesai bekerja.
Sesampainya di rumah, Kak Damar bertanya kenapa aku pulang bersama Kirana.
“Dia bantu.”
Kak Damar menatap pacarnya, lalu aku.
“Makasih.”
Kirana mengangkat bahu. “Aku dibayar es teh.”
“Itu aku yang bayar,” kataku.
“Berarti rugi.”
Aku tertawa.
Kak Damar melihat kami seperti tidak tahu harus senang atau khawatir.
Aku tahu perasaan itu. Dunia kecil kami sedang berubah. Untuk pertama kalinya, perubahan itu tidak terasa seperti seseorang sedang pergi. Rasanya seperti seseorang sedang datang.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar reading
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga