Chapter Thirty Three
Masa Depan yang Mulai Datang
POV — Damar Alvaro
Masa depan datang dalam bentuk brosur.
Keisha meletakkannya di meja makan.
Fakultas Kedokteran Hewan.
Aku melihat nama universitas.
Lalu biaya.
Refleks pertama bukan bangga.
Angka.
Aku membenci diriku sendiri karena itu.
“Bagus,” kataku.
Keisha duduk di depanku.
“Kak.”
“Hm?”
“Lihat aku.”
Aku mengangkat mata.
“Aku belum keterima.”
“Iya.”
“Aku cuma mau daftar.”
“Daftar.”
“Biayanya.”
“Aku urus.”
Wajah Keisha langsung berubah.
Aku tahu salah.
“Bukan gitu.”
“Terus?”
“Maksudku kita cari.”
Dia masih menatap.
Aku mengoreksi.
“Kita cari.”
Sedikit lebih baik.
Malamnya Kirana datang.
Keisha langsung menunjukkan brosur.
“Kak Kira.”
Mata Kirana hidup.
“Serius?”
“Iya.”
“Daftar.”
Keisha tersenyum.
Lalu Kirana melihatku.
Hanya sebentar.
Dia tahu aku sudah menghitung.
Setelah Keisha masuk kamar, Kirana duduk di sebelah.
“Mar.”
“Hm?”
“Jangan mulai.”
“Apa?”
“Wajahmu.”
Aku menghela napas.
“Biayanya besar.”
“Iya.”
“Aku harus tambah shift.”
“Kita belum tahu dia keterima.”
“Makanya harus siap.”
Kirana diam.
Aku tahu dia sedang memilih kata.
“Boleh siap.”
Aku menunggu.
“Tapi jangan langsung mutusin semua yang harus kamu korbankan malam ini.”
Aku menatap brosur.
“Kalau dia keterima, dia harus masuk.”
“Aku setuju.”
“Aku nggak mau uang jadi alasan.”
“Aku juga.”
“Terus?”
“Terus kita cari pilihan.”
Kita.
Kata itu seharusnya menenangkan.
Justru ada bagian dalam diriku yang menegang.
Ini urusan keluarga Alvaro.
Refleks lama.
Aku langsung sadar betapa buruk bunyinya di kepala.
Kirana sekarang juga keluarga, setidaknya dalam banyak hal.
Tapi uang berbeda.
Aku tidak ingin menyeretnya.
“Aku nggak akan minta kamu bantu bayar.”
Kirana mengerutkan kening.
“Aku nggak bilang mau bayar.”
Aku terdiam.
“Nah.”
Dia menyandarkan punggung.
“Mar, aku bisa bantu cari beasiswa. Info. Jadwal. Bukan semua bantuan bentuknya uang.”
Aku merasa bodoh.
“Ya.”
“Dan Kei juga bisa cari.”
“Iya.”
“Jangan jadikan dia penonton masa depannya sendiri.”
Kalimat itu kena.
Aku mengangguk.
Besoknya kami bertiga membuat daftar.
Beasiswa.
Jalur masuk.
Biaya.
Kemungkinan kerja sampingan yang masih masuk akal.
Keisha paling aktif.
Aku beberapa kali hampir mengambil alih.
Kirana menendang kakiku di bawah meja.
Aku menatap.
Dia mengangkat alis.
Aku diam.
Keisha menyelesaikan sendiri.
Aneh.
Membiarkan orang yang kusayangi menghadapi masalahnya sendiri terasa lebih sulit daripada mengambil beban.
Tapi Keisha terlihat hidup.
Bersemangat.
Takut, iya.
Tapi bukan anak yang harus diselamatkan.
Malam itu dia berkata, “Kalau nggak keterima tahun ini, aku coba lagi.”
Aku langsung menjawab, “Keterima.”
“Kak.”
“Apa?”
“Boleh realistis.”
Aku tertawa.
“Ya.”
Kirana melihat kami dengan senyum kecil.
Beberapa hari kemudian masa depanku sendiri ikut mengetuk.
Dosen mengirim info magang software berbayar.
Bayu menyuruhku daftar.
Aku melihat syarat.
Jam kerja cukup berat.
Tapi bayaran lumayan.
Aku langsung menghitung.
Kalau diterima, uang itu bisa membantu biaya Keisha.
Aku mengisi formulir.
Kirana tahu saat melihat layar.
“Kamu daftar?”
“Iya.”
“Bagus.”
Aku menunggu pertanyaan soal waktu.
Tidak ada.
“Kamu nggak protes?”
“Kenapa?”
“Kalau diterima aku makin sibuk.”
Kirana menatapku.
“Ini bagus buat karier kamu?”
“Iya.”
“Terus?”
“Aku kira—”
“Mar.”
Aku diam.
“Aku pacar kamu, bukan petugas yang harus dapat jatah jam tertentu.”
Aku hampir tersenyum.
“Tapi.”
Nah.
“Kalau kamu sibuk, bilang. Jangan hilang.”
“Ya.”
“Dan jangan daftar cuma karena Kei.”
Aku terdiam.
Kirana langsung tahu.
“Ini juga buat kamu?”
Aku melihat formulir.
Software.
Bidang yang memang kusukai.
Pengalaman yang kubutuhkan.
“Iya.”
“Bagus.”
Dia tersenyum.
“Berarti daftar.”
Aku mengirim formulir.
Tombol submit terasa lebih berat dari seharusnya.
Masa depan mulai bergerak.
Keisha mengejar kedokteran hewan.
Aku mengejar karier.
Kirana juga mulai membicarakan kesempatan magang dan rencana setelah kuliah.
Untuk pertama kalinya hubungan kami tidak hanya hidup di hari ini.
Ada kalender tahun depan.
Ada kemungkinan kota berbeda.
Ada biaya.
Ada keputusan.
Aku tahu itu normal.
Semua orang tumbuh.
Tetap saja, malam ketika Kirana pulang, aku berdiri di depan tiga piring yang baru dicuci dan merasakan ketakutan lama bergerak kecil.
Hal-hal berubah.
Orang tumbuh.
Jalan bercabang.
Aku menatap sandal Kirana di depan pintu.
Dia lupa membawanya lagi.
Aku hampir tersenyum.
Belum sekarang.
Masa depan boleh datang.
Untuk malam ini, rumah masih sama.
Keisha belajar di kamar.
Kirana baru mengirim pesan sudah sampai.
Aku membalas.
Dan tiga piring masih ada di rak.
Aku memilih tidak menghitung lebih jauh.
Kirana sendiri mendapat tawaran magang beberapa minggu kemudian.
Dia menceritakannya saat kami makan bertiga.
“Tempatnya bagus,” kata Keisha.
“Iya.”
“Daftar.”
Kirana melihatku.
Aku tahu kenapa.
Jadwalnya mungkin membuat kami lebih jarang bertemu.
Refleks lama muncul.
Hitung waktu.
Hitung jarak.
Aku menahannya.
“Daftar.”
Kirana masih melihat.
“Serius?”
“Iya.”
“Kalau keterima aku mungkin pulang sore terus.”
“Ya.”
“Date?”
“Kita cari waktu.”
Dia tersenyum.
Keisha menunjukku dengan sendok.
“Nah. Pintar.”
Aku menatap adikku.
“Kenapa semua orang nilai aku?”
“Karena perkembangan karakter.”
Kirana tertawa.
Aku ikut.
Malamnya setelah mengantar Kirana, dia bertanya lagi.
“Beneran nggak keberatan?”
“Aku bakal kangen.”
Dia diam.
“Tapi aku nggak mau kamu nolak kesempatan karena aku.”
Kirana menggenggam tanganku.
“Terima kasih.”
Aku baru sadar kalimat itu adalah sesuatu yang ingin kudengar dari diriku sendiri suatu hari.
Jangan nolak kesempatan karena aku.
Mudah mengatakannya kepada Kirana.
Apakah aku bisa menerapkannya ketika menyangkut Keisha?
Aku belum tahu.
Mungkin itu pertanda ada bagian dari luka lama yang belum selesai.
Saat pulang, aku melihat Keisha tertidur di meja dengan brosur fakultas di bawah lengannya.
Aku memindahkan buku.
Menyelimuti bahunya.
Angka biaya tercetak besar.
Dadaku langsung menegang.
Aku mengambil ponsel.
Membuka jadwal shift.
Ada slot tambahan minggu depan.
Jariku hampir menghubungi manajer.
Aku berhenti.
Kata Kirana teringat.
Jangan langsung mutusin semua yang harus kamu korbankan malam ini.
Aku meletakkan ponsel.
Besok.
Kami akan bicara besok.
Keputusan kecil.
Tidak heroik.
Tapi mungkin begitulah perubahan dimulai.
Bukan dengan berhenti takut.
Dengan memberi orang lain kesempatan ikut bicara sebelum ketakutan mengambil alih.
Aku mematikan lampu ruang tengah.
Keisha masih tidur.
Brosur ada di meja.
Masa depan belum selesai.
Aku juga belum.
Dan untuk pertama kalinya, aku mencoba percaya kami tidak harus menyelesaikan semuanya malam ini.
Beberapa hari setelah itu kami bertiga duduk mengisi formulir.
Keisha untuk tryout masuk.
Kirana untuk magang.
Aku untuk proses seleksi magang software.
Tiga laptop.
Tiga masa depan.
Keisha mengeluh essay.
Kirana mengeluh CV.
Aku mengeluh koneksi internet.
“Rumah produktif,” kata Kirana.
“Rumah stres,” jawab Keisha.
Aku tertawa.
Ada sesuatu yang indah melihat mereka berdua mengejar hal masing-masing.
Dan sesuatu yang menakutkan.
Kalau semuanya berhasil, jadwal kami akan berubah.
Kirana lebih sibuk.
Keisha masuk fase persiapan ujian.
Aku mungkin bekerja lebih banyak.
Piring ketiga tidak selalu terisi setiap malam.
Aku tahu itu normal.
Tetap saja ada bagian dalam diriku yang ingin menjaga semua tetap seperti sekarang.
Aku mengenali dorongan itu.
Membekukan.
Menahan.
Menyelamatkan.
Aku memandang Kirana.
Dia sedang membantu Keisha memperbaiki satu kalimat tanpa mengambil keyboard.
Membantu tanpa mengambil alih.
Aku memperhatikan.
Mungkin itu juga sesuatu yang harus kupelajari.
Mencintai masa depan seseorang berarti membiarkannya bergerak menjauh dari bentuk yang nyaman bagi kita.
Bukan menjauh dari kita.
Hanya bergerak.
Malam itu setelah formulir terkirim, Keisha mengangkat tangan.
“Kalau kita semua keterima, makan ayam.”
Kirana tertawa.
“Kenapa ayam?”
Keisha dan aku saling lihat.
“Tradisi,” kataku.
Kirana tidak tahu seluruh sejarah ayam sebagai makanan mewah kecil kami.
Keisha mulai cerita.
Tentang dulu kami cuma beli saat ada uang lebih.
Tentang ulang tahun sederhana.
Tentang satu kali aku pura-pura sudah makan agar bagian Keisha lebih besar.
Aku protes.
Kirana mendengarkan.
Lalu memegang tanganku di bawah meja.
Tidak kasihan.
Cuma ada.
“Kalau semua keterima,” katanya, “aku yang beli ayam.”
Aku langsung berkata, “Patungan.”
Keisha tertawa.
“Nah.”
Kirana tersenyum.
“Patungan.”
Aku menggenggam tangannya.
Mungkin masa depan memang akan mahal.
Tapi malam itu kami sudah punya satu aturan baru.
Tidak ada yang membayar semuanya sendiri.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang reading
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga