Chapter Five
Semester Pertama
POV — Damar Alvaro
Hari pertama kuliah membuatku sadar dua hal.
Pertama, gedung kampus jauh lebih besar daripada yang terlihat di brosur.
Kedua, manusia bisa berkumpul sebanyak ini hanya untuk sama-sama pura-pura tahu harus berdiri di mana.
Aku termasuk golongan kedua.
Di tangan kiriku ada map berisi fotokopi dokumen yang sudah diperiksa tiga kali. Di tangan kanan ada ponsel dengan pesan Keisha yang masuk sejak tujuh menit lalu.
Udah nyampe?
Aku membalas singkat.
Udah.
Tiga titik muncul hampir seketika.
Jangan ilang.
Aku menatap layar.
Aku kuliah, bukan study tour.
Balasannya datang.
Sama aja. Kakak kalau bingung mukanya kayak anak hilang.
Aku memasukkan ponsel ke saku sebelum dia mengirim penghinaan berikutnya.
Di sekitar lapangan, mahasiswa baru bergerombol berdasarkan jurusan. Panitia meneriakkan arahan lewat pengeras suara yang sesekali mendengung. Aku mencari papan bertuliskan Informatika, menemukannya di dekat pohon flamboyan, lalu berdiri di barisan belakang.
Aku tidak datang untuk mencari teman sebanyak-banyaknya.
Targetku sederhana.
Kuliah. Nilai aman. Tetap kerja. Pulang.
Kalau semuanya berjalan sesuai rencana, empat tahun ke depan akan sulit, tapi setidaknya sulit yang punya arah.
“Ini Informatika, kan?”
Suara perempuan terdengar dari sebelah.
Aku menoleh.
Seorang perempuan membawa tote bag krem dan map transparan yang terlalu penuh. Rambutnya diikat seadanya, beberapa helai lepas karena panas. Dia melihat papan di depan kami, lalu kembali melihatku seperti aku petugas informasi.
“Iya.”
“Syukurlah.” Dia mengembuskan napas. “Aku tadi hampir ikut barisan Teknik Industri.”
Aku mengangguk.
Dia belum pergi.
“Kalau aku ikut sampai selesai baru sadar salah jurusan, itu masih bisa dibilang adaptasi?”
“Bisa.”
“Serius?”
“Adaptasi ke jurusan yang salah.”
Dia menatapku dua detik.
Lalu tertawa.
Aku tidak sedang bercanda, sebenarnya.
Atau mungkin sedikit.
“Nama kamu siapa?”
“Damar.”
“Damar...” Dia mengulang seperti sedang memastikan bunyinya. “Aku Kirana.”
Aku mengangguk lagi.
“Aku tahu sekarang.”
Dia menyipitkan mata. “Kamu emang irit ngomong atau lagi hemat baterai?”
Aku hampir tersenyum.
“Hari pertama.”
“Oh. Berarti besok lebih boros?”
“Belum tentu.”
Panitia menyuruh kami maju. Percakapan selesai begitu saja.
Kupikir begitu.
Ternyata satu jam kemudian Kirana duduk dua kursi dariku di aula.
Bukan karena kami sengaja mencari satu sama lain. Setidaknya aku tidak.
Aku sedang membuka jadwal ketika sebuah map transparan diletakkan di kursi kosong sebelahku.
“Kebetulan.”
Aku mendongak.
Kirana.
“Kursi lain penuh,” katanya.
Aku melihat tiga baris depan yang masih punya beberapa kursi kosong.
Dia mengikuti arah pandangku.
“Yang ini lebih strategis.”
“Strategis buat apa?”
“Dekat pintu kalau acaranya membosankan.”
Aku menggeser tasku dari kursi.
“Silakan.”
Dia duduk sambil tersenyum puas seolah baru memenangkan negosiasi besar.
Acara memang membosankan.
Kami mendengarkan penjelasan tentang sistem akademik, organisasi mahasiswa, portal kampus, dan aturan yang kemungkinan akan kami cari ulang di internet saat benar-benar dibutuhkan.
Kirana mencatat.
Bukan semuanya.
Hanya hal-hal tertentu.
Aku sempat melihat sisi atas bukunya.
Password Wi-Fi?
Lokasi kantin murah.
Nama dosen killer???
Aku berpaling sebelum ketahuan membaca.
Sepuluh menit kemudian dia menyodorkan ujung pulpen ke lenganku.
“Damar.”
“Hm?”
“Katanya portal akademik harus ganti password hari ini. Tadi alamatnya apa?”
Aku menunjuk catatanku.
Dia mendekat untuk membaca.
“Tulisanmu rapi banget.”
“Biasa.”
“Ini tulisan orang yang nggak pernah nyontek jawaban lima menit sebelum dikumpul.”
“Aku pernah.”
“Nah. Ada sisi manusiawinya.”
Aku menghela napas.
Dia kembali ke bukunya.
Aneh.
Aku biasanya lelah kalau harus terus menanggapi orang yang baru dikenal. Dengan Kirana, rasanya lebih seperti mendengar radio kecil di sebelah. Tidak harus selalu dijawab, tapi kehadirannya mengisi ruang.
Saat istirahat, aku melihat jam.
Sebelas lewat dua puluh.
Shift kafe mulai jam satu.
Perjalanan sekitar empat puluh menit kalau bus tidak telat.
Aku memasukkan buku ke tas.
“Kamu mau ke mana?” tanya Kirana.
“Kerja.”
Dia berhenti membuka kotak makan.
“Sekarang?”
“Iya.”
“Acara belum selesai.”
“Bagian wajibnya udah.”
“Kamu udah kerja?”
Aku mengangguk.
“Di mana?”
“Kafe.”
“Keren.”
Aku menatapnya.
Biasanya respons orang terbagi dua.
“Oh, sambil kuliah?”
Atau yang lebih buruk, ekspresi kasihan yang mereka pikir tidak kelihatan.
Kirana cuma bertanya, “Bisa bikin latte art?”
“Bisa.”
Matanya langsung lebih hidup. “Bentuk angsa?”
“Kadang.”
“Hati?”
“Lebih gampang.”
“Dinosaurus?”
Aku memasang tas di bahu. “Aku kerja di kafe, bukan museum purbakala.”
Kirana tertawa lagi.
“Kalau suatu hari aku datang, bikinin dinosaurus.”
“Jangan datang.”
“Kenapa?”
“Malu kalau gagal.”
“Berarti kamu bisa malu juga.”
Aku menatapnya sebentar.
Kirana memegang kotak makan sambil menahan senyum.
“Dadah, Damar.”
Aku mengangguk.
“Dadah.”
Aku pergi.
Hari itu shift ramai.
Aku tidak punya waktu memikirkan kampus sampai hampir jam tujuh malam ketika seorang pelanggan meninggalkan meja penuh tisu bekas dan gelas setengah kosong.
Aku membersihkannya sambil mengingat daftar tugas orientasi.
Lalu, tanpa alasan penting, aku teringat perempuan yang meminta latte art dinosaurus.
Aku menggeleng kecil.
Selesai shift, aku pulang membawa dua roti sisa yang boleh dibawa pegawai.
Keisha sedang duduk bersila di lantai ruang tengah, mengisi keripik ke plastik kecil.
“Gimana kuliahnya?”
“Belum kuliah.”
“Ya kampus.”
“Ramai.”
“Teman?”
“Ada.”
Tangannya berhenti.
Aku langsung menyesal menjawab terlalu cepat.
“Siapa?”
“Orang.”
“Wah, bagus. Aku kira monyet.”
Aku meletakkan roti di meja. “Makan.”
Keisha mengambil satu.
“Cowok apa cewek?”
“Kenapa harus tahu?”
“Biar statistik.”
“Cewek.”
Alisnya naik.
Aku menunjuk keripik. “Kerjain.”
“Namanya?”
“Keisha.”
“Itu aku.”
“Bagus. Berarti kenal.”
Dia melempar plastik kosong ke arahku.
Aku menangkapnya.
“Pelit banget.”
“Baru kenal sehari.”
“Namanya aja.”
Aku tidak tahu kenapa aku menjawab.
“Kirana.”
Keisha mengunyah roti, lalu mengangguk pelan seolah sedang menyimpan informasi penting.
“Cantik?”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Pertanyaan biasa.”
“Aku nggak tahu.”
Keisha langsung tertawa.
“Bohong banget.”
“Aku memang nggak mikirin.”
“Kalau nggak mikirin kenapa defensif?”
“Aku nggak defensif.”
“Sekarang defensif.”
Aku mengambil segenggam plastik kemasan dan mulai membantu tanpa diminta.
Keisha masih tersenyum sendiri.
Aku membiarkannya.
Malam semakin larut. Setelah pesanan selesai, aku membuka laptop untuk melihat jadwal kuliah minggu depan.
Ada pesan baru di grup angkatan.
Ratusan.
Aku hampir menutupnya ketika sebuah chat pribadi muncul.
Kirana.
Damar, portalnya yang tadi apa ya? Aku salah screenshot.
Aku menatap pesan itu beberapa detik.
Lalu kukirim alamatnya.
Makasih!
Beberapa detik kemudian pesan kedua.
Besok kamu ke kampus lagi?
Aku mengetik iya, menghapusnya, lalu mengetik ulang.
Iya.
Balasannya langsung datang.
Oke. Kalau aku nyasar lagi, berarti udah ada petugas informasi langganan.
Aku tidak membalas.
Tapi entah kenapa, sebelum menutup laptop, aku tersenyum sedikit.
Keisha yang sedang membawa tumpukan plastik ke dapur berhenti di ambang pintu.
Aku langsung memasang wajah biasa.
Dia menyipitkan mata.
“Apa?”
“Nggak ada.”
“Bagus.”
Dia pergi.
Aku kembali melihat layar.
Pesan terakhir Kirana masih terbuka.
Hari pertama kuliah ternyata tidak terlalu buruk.
Aku baru hendak menutup laptop ketika notifikasi lain muncul.
Sebuah foto.
Kirana mengirim gambar jadwal kuliah yang sudah dicoret-coret warna berbeda.
Yang jam tujuh pagi ini kejahatan struktural nggak sih?
Aku menatap jadwal yang sama di layarku.
Aku sudah biasa bangun sebelum jam enam. Jam tujuh tidak terasa seperti kejahatan apa pun.
Aku membalas.
Tergantung. Kalau telat, iya.
Tiga titik.
Kamu tipe yang datang tiga puluh menit sebelum kelas ya?
Nggak.
Lima belas?
Aku tidak menjawab.
Dia mengirim stiker orang menunjuk dengan ekspresi menuduh.
Aku tertawa kecil.
“Kak.”
Aku menoleh.
Keisha muncul lagi dari dapur sambil membawa gelas air.
“Aku belum nanya apa-apa.”
“Terus?”
“Kenapa Kakak senyum lagi?”
“Ada meme.”
“Kirim.”
“Nggak lucu.”
“Kalau nggak lucu kenapa senyum?”
Aku menutup laptop.
“Tidur sana.”
Keisha berdiri di depanku beberapa detik.
“Namanya Kirana tadi, kan?”
Aku menatapnya.
Dia tersenyum licik, lalu berbalik sebelum aku sempat membalas.
“Selamat malam, Kak Damar.”
“Kei.”
“Besok jangan nyasar!”
Pintu kamarnya tertutup.
Aku menghela napas.
Rumah kembali sepi.
Dulu kesunyian seperti ini terasa besar sekali. Sekarang sudah biasa. Ada suara kipas, dengung kulkas tua, dan sesekali motor lewat di depan rumah.
Aku memandang laptop yang sudah tertutup.
Besok tetap sama.
Kampus. Kuliah. Kafe. Pulang. Membantu Keisha. Belajar.
Tidak ada ruang untuk hal lain.
Itulah rencananya.
Dan sejauh yang kutahu, rencana itu masih utuh.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama reading
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga