Chapter Forty Two
Dua Piring Lagi
POV — Damar Alvaro
Hari pertama setelah putus, aku tetap bangun pukul lima.
Tubuh tidak peduli hati sedang rusak.
Alarm bunyi.
Aku mandi.
Membuat sarapan.
Mengetuk pintu Keisha.
“Kuliah jam berapa?”
Dia membuka pintu dengan mata bengkak.
“Delapan.”
Aku mengangguk.
“Telur?”
“Nggak lapar.”
Aku tahu bohong.
Biasanya aku akan memaksa.
Hari itu aku tidak punya tenaga.
Aku membuat dua telur.
Dua piring.
Tanganku berhenti ketika mengambil piring kedua.
Dulu dua adalah angka aman.
Aku dan Keisha.
Sekarang rasanya seperti bukti seseorang hilang.
Keisha keluar.
Dia melihat meja.
Tidak berkata apa-apa.
Kami makan.
Sunyi.
Di rak pengering ada satu mug yang biasa dipakai Kirana.
Di depan pintu sandal hitamnya masih ada.
Dia pulang kemarin dengan sepatu di tangan lalu lupa sandal itu lagi.
Aku tidak menyentuh.
Keisha juga tidak.
Setelah sarapan, aku bersiap kerja.
“Kak.”
“Hm?”
“Chat Kak Kira?”
Aku menatap tas.
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Dia butuh ruang.”
Keisha menahan sesuatu.
Mungkin marah.
Mungkin tangis.
“Ya.”
Aku pergi.
Tiga hari pertama terasa seperti amputasi kebiasaan.
Pukul sembilan aku ingin mengirim foto kucing.
Jam makan siang aku ingin menanyakan apakah dia sudah makan.
Setelah shift aku otomatis membuka chat.
Setiap kali, aku berhenti.
Aku tidak ingin menggunakan rasa kehilangan sebagai alasan menarik Kirana kembali ke masalah yang belum selesai.
Jadi aku diam.
Hari keempat, pesan datang dari dia.
Kira: Kei gimana?
Aku membaca lama.
Aku: Baik. Orientasi capek.
Kira: Kamu?
Pertanyaan lebih pendek.
Lebih sulit.
Aku hampir menulis baik.
Aku menghapus.
Aku: Nggak terlalu baik.
Tiga titik muncul.
Kira: Aku juga.
Dadaku sesak.
Aku tidak tahu harus membalas apa.
Akhirnya:
Aku: Maaf.
Balasan tidak datang lama.
Kira: Aku tahu.
Aku menatap dua kata itu.
Tidak ada pengampunan besar.
Tidak ada ajakan kembali.
Tapi ada pengakuan bahwa dia melihat penyesalanku.
Untuk sekarang, cukup.
Minggu berikutnya Keisha mulai kuliah.
Hari pertamanya aku mengantar sampai halte.
Dia mengenakan kemeja putih dan membawa tas terlalu berat.
“Kak.”
“Hm?”
“Jangan tunggu.”
“Aku nggak tunggu.”
“Kakak dari tadi lihat bus.”
“Ya memang.”
Keisha tersenyum sedikit.
Kemudian wajahnya serius.
“Kak Kira kirim semangat.”
Aku menoleh.
“Kalian chat?”
“Iya.”
Ada rasa aneh.
Cemburu bukan.
Sedih.
Bagian hidup Kirana masih menyentuh rumah kami, hanya jalurnya tidak lagi melewatiku.
“Bagus.”
Keisha menatap.
“Kakak nggak masalah?”
“Kenapa harus?”
Dia mengangkat bahu.
Bus datang.
Sebelum naik, Keisha berkata, “Aku nggak akan berhenti chat dia.”
Aku mengangguk.
“Aku nggak minta.”
“Bagus.”
Keisha naik.
Aku berdiri sampai bus hilang.
Dulu aku mungkin merasa perlu mengontrol hubungan mereka supaya aku tidak sakit.
Sekarang aku tahu itu bukan hakku.
Kalau Kirana dan Keisha sudah menjadi keluarga satu sama lain, putus denganku tidak otomatis membatalkan itu.
Menerima fakta tersebut sakit.
Tapi juga terasa benar.
Malamnya aku pulang.
Sandal hitam masih di depan pintu.
Aku mengambil.
Membersihkan debu.
Keisha melihat.
“Mau diapain?”
Aku menatap sandal itu.
“Disimpan.”
“Kenapa nggak balikin?”
Aku berpikir.
“Kalau dia mau, nanti aku kasih.”
Keisha mengangguk.
Aku meletakkan sandal di lemari bawah.
Tidak dibuang.
Tidak dipajang.
Disimpan.
Seperti banyak hal lain yang belum sanggup kuberi nama.
Bulan-bulan berikutnya bergerak.
Aku membatalkan tambahan shift.
Tidak mengurangi kuliah.
Masih kerja.
Masih les, tapi secukupnya.
Keisha mengambil pinjaman pendidikan kecil setelah kami benar-benar membahas.
Aku benci.
Tapi aku tanda tangan sebagai penjamin tanpa mengambil alih.
Itu mungkin salah satu hal tersulit yang pernah kulakukan.
Membiarkan adikku punya risiko sendiri.
Aku mulai konseling murah dari kampus setelah dosen pembimbing menyarankan.
Awalnya aku hampir kabur dari sesi pertama.
Aku tidak tahu harus bilang apa.
Terapis bertanya, “Apa yang terjadi kalau kamu tidak berguna bagi orang lain?”
Aku menjawab terlalu cepat.
“Tidak ada.”
Dia menunggu.
Aku akhirnya berkata, “Aku nggak tahu.”
Pertanyaan itu tinggal berbulan-bulan.
Kirana berangkat trainee tiga bulan kemudian.
Aku tahu dari Keisha.
Bukan dari Kirana langsung.
Itu haknya.
Malam sebelum keberangkatan, aku membuka chat kami.
Tidak ada pesan beberapa minggu.
Aku mengetik.
Aku: Semoga lancar besok.
Aku hampir menghapus.
Lalu kirim.
Balasannya datang sepuluh menit kemudian.
Kira: Makasih, Mar.
Lalu:
Kira: Jaga diri.
Aku tersenyum pahit.
Aku: Kamu juga.
Itulah perpisahan kedua kami.
Lebih kecil.
Lebih tenang.
Tidak ada tangis.
Tidak ada pelukan.
Cuma dua orang yang masih saling sayang dari tempat berbeda dan akhirnya cukup dewasa untuk tidak menjadikan rasa itu alasan mengganggu jalan masing-masing.
Malam itu aku mengambil dua piring.
Aku dan Keisha makan.
Dua piring masih terasa sepi.
Tapi tidak lagi seperti hukuman.
Aku mulai memahami bahwa rumah bisa berubah bentuk tanpa berarti gagal.
Dan mungkin suatu hari, kalau hidup cukup baik kepada kami, angka tiga tidak akan terasa seperti luka selamanya.
Bulan pertama setelah Kirana pergi, hari Jumat paling sulit.
Jam tujuh malam tubuhku otomatis ingin pulang lebih cepat.
Dulu Jumat berarti tiga orang di meja.
Sekarang Keisha kadang masih kuliah malam.
Aku kadang kerja.
Tidak ada yang menunggu.
Jumat pertama aku pulang membawa ayam karena lupa tradisi sudah berubah.
Dua potong.
Aku berdiri di dapur.
Lalu tertawa sendiri karena ternyata aku membeli tiga.
Refleks.
Keisha pulang satu jam kemudian.
Dia melihat kotak.
“Kok tiga?”
Aku tidak jawab.
Dia langsung tahu.
Kami makan dua.
Satu kusimpan.
Besok pagi Keisha memasukkannya ke nasi goreng.
Tidak ada pemborosan.
Tapi sepanjang makan aku terus melihat potongan ayam yang seharusnya milik seseorang.
Keisha akhirnya berkata, “Kak.”
“Hm?”
“Kita nggak harus pura-pura nggak kangen.”
Aku menatap.
“Aku nggak pura-pura.”
“Bagus.”
Dia makan.
“Aku kangen Kak Kira.”
Aku mengangguk.
“Aku juga.”
Pertama kali aku mengaku keras-keras.
Tidak menghancurkan apa pun.
Kami tetap makan.
Setelah itu Jumat berubah.
Kadang kami memasak berdua.
Kadang Keisha video call Kirana sebentar dan aku sengaja masuk kamar.
Bukan karena tidak sanggup mendengar.
Karena percakapan itu milik mereka.
Suatu malam Keisha mengetuk.
“Kak Kira bilang hai.”
Aku berhenti mengetik.
“Balas hai.”
Keisha menatap.
“Sendiri.”
Aku menghela napas.
Mengambil ponselku.
Membuka chat.
Tidak mengirim.
“Belum.”
Keisha tidak memaksa.
“Oke.”
Dia pergi.
Itu salah satu bentuk kasih sayang baru kami.
Tidak memaksa orang siap lebih cepat.
Aku mulai memahami bahwa penyembuhan bukan menghapus kebiasaan lama.
Ia mengganti respons sedikit demi sedikit.
Saat takut, bicara.
Saat capek, berhenti.
Saat ingin mengambil alih, tanya dulu.
Aku gagal berkali-kali.
Pernah satu semester aku hampir membayar seluruh biaya lab Keisha diam-diam karena bonus kerja.
Aku sudah membuka mobile banking.
Lalu berhenti.
Aku menelepon.
“Kei.”
“Hm?”
“Biaya lab udah?”
“Belum.”
“Aku bisa bantu.”
Hening.
Lalu Keisha berkata, “Berapa?”
Aku hampir bilang semua.
“Setengah?”
Dia berpikir.
“Boleh.”
Selesai.
Lima menit.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada pengorbanan heroik.
Aneh sekali betapa sederhana hidup kalau aku berhenti menjadikan cinta sebagai ujian ketahanan.
Aku mulai menyimpan uang untuk diriku juga.
Pertama kali membeli laptop baru, aku merasa bersalah tiga hari.
Keisha marah.
“Laptop kerja Kakak udah mau mati.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
“Mahal.”
“Terus?”
Aku menatap.
Keisha tertawa.
“Kakak masih penyakit.”
Aku akhirnya membeli.
Laptop itu membantuku mendapat pekerjaan lebih baik setahun kemudian.
Investasi pada diriku ternyata tidak mengkhianati siapa pun.
Pelan-pelan hidup membuktikan apa yang Kirana coba katakan bertahun-tahun.
Aku boleh punya bagian.
Aku boleh maju tanpa harus memastikan semua orang di belakangku sudah aman sempurna.
Hari kelulusan Keisha, aku berdiri di antara keluarga mahasiswa lain.
Orang tua.
Saudara.
Pasangan.
Aku sendirian secara fisik.
Tapi tidak merasa sendiri.
Aku melihat adikku memakai toga.
Dalam hati aku berkata kepada dua orang yang tidak ada.
Ayah.
Ibu.
Dia berhasil.
Lalu nama lain muncul tanpa diminta.
Kira.
Kei berhasil.
Aku tidak mengirim.
Bukan hakku membawa kabar itu kepadanya.
Ternyata Keisha mengirim sendiri.
Bagus.
Itulah bentuk yang benar.
Mereka tidak membutuhkan aku sebagai jembatan.
Aku menatap Keisha di panggung dan mengerti sesuatu.
Tujuanku dulu bukan membuat dia sampai ke masa depan tanpa luka.
Itu mustahil.
Tujuanku seharusnya menemani sejauh aku bisa sambil membiarkannya berjalan dengan kaki sendiri.
Aku terlambat belajar.
Tapi aku belajar.
Dan saat Keisha akhirnya menjadi dokter, aku tidak merasa tugasku selesai.
Aku hanya merasa kami berdua berhasil tumbuh keluar dari satu rumah kecil tanpa harus terus hidup seolah dunia akan runtuh besok.
Kirana tidak ada untuk melihat proses itu dari dekat.
Tapi banyak bagian dari perubahan ini dimulai karena dia berani pergi ketika tinggal justru membuat kami berhenti tumbuh.
Aku baru bisa mengakui itu bertahun-tahun kemudian.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi reading
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga