Chapter Nineteen
Adiknya Damar
POV — Kirana Prameswari
Aku bertemu Keisha Alvaro secara resmi pada Sabtu sore.
Aku datang ke kafe membawa buku Damar. Dia sedang izin menjemput adiknya. Aku baru hendak pergi ketika pintu terbuka.
Damar masuk membawa dua kardus. Di belakangnya seorang gadis berkuncir tinggi membawa kantong besar.
Aku langsung mengenali Keisha.
Dia juga melihatku. Lalu Damar. Lalu aku lagi.
“Kirana?”
“Hai.”
Damar menghela napas. “Kei.”
“Apa? Aku cuma nyebut nama.”
Keisha mendekat.
“Aku Keisha.”
“Kirana.”
“Aku tahu.”
Damar menutup mata sebentar.
Aku menyerahkan buku.
“Makasih,” katanya.
Keisha mengamati kami seperti petugas imigrasi.
Aku menunjuk kardus. “Keripik?”
“Iya.”
“Level lima ada?”
Damar menjawab cepat. “Nggak.”
Keisha menoleh. “Ada.”
“Aku mau coba.”
“Jangan,” kata Damar.
“Kenapa?”
“Belum siap.”
Aku tersinggung secara prinsip.
Lima menit kemudian aku duduk dengan sebungkus level lima.
Gigitan pertama enak. Kedua panas. Ketiga membuatku memahami keberanian dan kebodohan sering berbagi alamat.
Keisha menahan tawa.
“Gimana?”
Aku minum air. “Enak.”
“Matanya berair.”
“Terharu.”
Keisha pecah tertawa.
Damar datang membawa susu.
“Aku bilang apa.”
“Diam.”
Keisha semakin tertawa.
Setelah pedas turun, aku membantu Keisha memasukkan keripik ke kardus. Damar kembali bekerja.
Tinggal kami berdua.
“Kak Damar cerita banyak?”
“Lumayan.”
“Lumayan itu apa?”
“Jualan kamu. Sekolah. Suka biologi. Galak.”
Dia langsung menoleh. “Galak?”
“Katanya.”
“Fitnah.”
Beberapa menit kemudian pertanyaannya berubah.
“Kamu tahu orang tua kami?”
“Sedikit.”
“Kasihan?”
Aku berhenti.
“Nggak.”
Alisnya naik.
“Aku sedih waktu dengar. Tapi bukan kasihan.”
“Bedanya?”
“Kalau kasihan, aku bakal lihat kalian kayak orang yang perlu diselamatkan.”
Aku menunjuk keripik.
“Padahal aku baru kalah sama makanan buatan kamu.”
Keisha menahan senyum.
“Aku nggak merasa kalian perlu diselamatkan. Kayaknya kalian udah jago nyelametin satu sama lain.”
Dia diam.
“Kak Damar kebanyakan.”
“Kebanyakan apa?”
“Nyelametin.”
Aku mengerti.
“Dia kalau udah sayang orang suka nggak punya rem.”
Aku tidak menjawab.
“Jadi kalau kamu cuma main-main...”
“Aku nggak main-main.”
“Belum pacaran, kan?”
“Belum.”
“Bagus.”
“Kenapa?”
“Aku belum setuju.”
Aku tertawa.
Keisha tersenyum tipis.
“Aku serius.”
“Aku tahu.”
“Marah?”
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Kalau aku punya kakak kayak Damar, mungkin aku juga protektif.”
“Dia kakakku.”
“Iya.”
“Cuma aku yang punya.”
Kalimat itu setengah bercanda, setengah tidak.
“Tenang. Aku nggak mau ngambil.”
Keisha melihatku.
“Orang suka bilang begitu.”
Ada luka lebih tua dari usianya di kalimat itu.
“Kalau suatu hari aku dekat sama Damar, kamu tetap adiknya.”
“Tentu.”
“Dan kalau dia nyebelin, aku mungkin malah butuh sekutu.”
Keisha tertawa pendek.
“Dia nyebelin.”
“Nah.”
Damar kembali.
“Kenapa kalian ketawa?”
“Nggak ada,” jawab kami bersamaan.
Sore itu aku membantu sampai kardus selesai. Aku tidak menawarkan uang atau membeli sepuluh bungkus untuk terlihat membantu. Aku membeli dua yang memang ingin kubawa.
Keisha menyodorkan satu bungkus tambahan.
“Tester rasa baru.”
“Aku bayar.”
“Nggak. Kalau enak baru beli lagi.”
Aku menerima.
Damar mengantarku ke pintu.
“Gimana?”
“Keisha?”
“Iya.”
“Galak.”
“Aku udah bilang.”
“Tapi lucu.”
“Jangan bilang.”
Aku tertawa.
Malamnya sebuah nomor baru mengirim pesan.
Ini Keisha.
Aku langsung duduk lebih tegak.
Hai.
Keripiknya jangan dimakan semua malam ini. Perut sakit bukan tanggung jawab penjual.
Aku tertawa.
Noted, Bu Dokter.
Belum dokter.
Nanti.
Tiga titik muncul cukup lama.
Amin.
Aku baru sadar Damar pernah cerita Keisha ingin bekerja dengan hewan.
Kalau nanti buka klinik, aku minta diskon.
Punya hewan apa?
Belum punya.
Terus?
Aku siap adopsi demi diskon.
Dia mengirim stiker tertawa.
Kecil sekali.
Tapi aku tahu sebuah pintu lain terbuka sedikit.
Besoknya Damar bertanya, “Keisha chat kamu?”
“Kok tahu?”
“Dia nanya keripiknya enak atau nggak. Biasanya dia nggak minta nomor pelanggan.”
Aku tersenyum. “Cemburu?”
“Kenapa aku cemburu sama adikku?”
“Takut aku rebut?”
“Silakan.”
Aku memukul lengannya dengan buku.
Dia tertawa.
Kontak itu hanya sebentar. Tanganku menyentuh lengannya lalu lepas.
Damar tidak mundur.
Aku juga tidak.
Beberapa hari kemudian Keisha mengirim foto kucing belang di belakang rumah.
Lukanya sudah mendingan.
Aku membalas:
Namanya siapa?
Belum ada.
Kasih nama.
Keisha:
Kak Damar manggilnya “Kucing”.
Aku:
Kreatif sekali kakakmu.
Keisha:
Makanya jangan berharap banyak.
Aku tertawa.
Hubunganku dengan Keisha belum bisa disebut dekat. Tapi dia mulai mengirim hal kecil tanpa Damar sebagai perantara.
Aku tidak pernah menanyakan apakah dia sudah setuju.
Persetujuan bukan stempel yang harus kudapatkan.
Keisha punya alasan untuk hati-hati.
Aku justru lebih suka dia jujur.
Suatu sore kami bertiga kebetulan berada di kafe setelah shift Damar selesai. Keisha mengeluarkan uang hasil titip jual.
Damar langsung berkata, “Simpan buat sekolah.”
“Aku udah pisah.”
“Berapa?”
“Kak.”
“Kei.”
Aku melihat mereka saling menatap.
Keisha akhirnya berkata, “Aku bisa ngatur.”
Damar hendak membalas, lalu melihatku.
Entah kenapa dia berhenti.
Keisha menangkapnya.
“Nah.”
“Apa?”
“Nggak ada.”
Aku menahan senyum.
Aku mulai melihat apa yang Keisha maksud dengan kebanyakan menyelamatkan.
Damar mencintai dengan cara mengambil beban sebelum orang lain sempat mengatakan sanggup.
Indah kalau dilihat dari jauh.
Melelahkan kalau menjadi orang yang terus dianggap harus diselamatkan.
Saat pulang, Keisha berjalan lebih dulu ke halte.
Aku dan Damar di belakang.
“Dia suka kamu,” kata Damar.
“Katanya belum setuju.”
“Itu Keisha.”
“Berarti?”
“Kalau benar-benar nggak suka, nomor kamu nggak akan disimpan.”
Aku tersenyum.
“Kalau kamu?”
Damar menoleh.
“Apa?”
“Nomorku disimpan?”
“Dari awal.”
“Namanya apa?”
Dia langsung melihat jalan.
Aku tertawa.
“Damar.”
“Jangan mulai.”
“Pakai emoji nggak?”
“Nggak.”
“Nama lengkap?”
Dia diam.
Aku semakin penasaran.
“Mar.”
Bus Keisha datang. Dia menoleh dari depan.
“Kak! Jangan bikin Kak Kirana ketinggalan bus!”
Kami berdua berhenti.
Kak Kirana.
Keisha sendiri tampaknya baru sadar apa yang keluar dari mulutnya.
Wajahnya berubah.
“Eh.”
Aku menahan senyum supaya tidak membuatnya malu.
Damar justru menatap adiknya dengan mata melebar.
Keisha cepat-cepat naik bus.
Aku melambaikan tangan.
Dia membalas dari balik kaca dengan ekspresi kesal pada dirinya sendiri.
Damar masih diam.
“Apa?” tanyaku.
“Nggak.”
Aku tersenyum.
Belum “Kak Kira”.
Belum keluarga.
Tapi mungkin untuk pertama kalinya Keisha tidak melihatku hanya sebagai perempuan yang mendekati kakaknya.
Dan entah kenapa, kemajuan kecil itu terasa sama pentingnya dengan semua langkah Damar kepadaku.
Malamnya Keisha mengirim pesan lagi.
Jangan bahas panggilan tadi.
Aku:
Panggilan apa?
Lama.
Keisha:
Bagus.
Aku tertawa.
Aku tidak ingin kemenangan kecil itu berubah menjadi sesuatu yang membuatnya merasa terdesak.
Aku tahu rasanya mendekati orang yang menjaga jarak. Keisha dan Damar ternyata mirip dalam hal tertentu. Keduanya membuka pintu sedikit, lalu langsung memeriksa apakah orang di luar akan memaksa masuk.
Aku tidak perlu memaksa.
Besok ketika bertemu Damar, aku tidak menyebut “Kak Kirana”.
Dia sendiri yang akhirnya berkata, “Keisha malu.”
“Kenapa?”
“Karena keceplosan.”
Aku mengangkat bahu. “Nggak masalah.”
Damar melihatku beberapa detik.
“Makasih.”
“Buat apa?”
“Nggak bikin dia nggak nyaman.”
Aku tersenyum. “Dia penting buat kamu.”
“Iya.”
“Berarti penting buat aku untuk nggak bikin dia merasa kehilangan tempat.”
Damar berhenti berjalan.
Aku ikut berhenti.
Ekspresinya sulit dibaca, tapi kali ini aku tahu aku mengatakan sesuatu yang tepat.
“Kira.”
“Hm?”
“Makasih.”
Aku ingin menggoda karena dia mengulang ucapan yang sama.
Aku tidak.
Ada momen yang lebih baik dibiarkan sederhana.
Kami melanjutkan jalan.
Tangannya berjalan dekat tanganku.
Tidak bersentuhan.
Tapi kali ini jarak itu tidak terasa seperti tembok.
Lebih seperti sesuatu yang sedang kami pilih untuk lewati pelan-pelan.
Aku pulang membawa tiga bungkus keripik dan satu kesadaran baru: menyukai Damar berarti mengenal dunia kecil yang selama ini hanya berisi dua orang. Aku tidak ingin menjadi orang yang memecahnya. Kalau suatu hari mereka memberi ruang, aku ingin menjadi tambahan yang membuat meja mereka lebih ramai, bukan seseorang yang meminta salah satu kursinya dikosongkan. Untuk pertama kalinya, aku mulai memahami bahwa mendekati seseorang juga berarti belajar menghormati orang-orang yang sudah lebih dulu tinggal di hatinya.
- 1 Hari Ketika Rumah Menjadi Terlalu Sunyi
- 2 Dua Shift dan Sebungkus Keripik
- 3 Telur Terakhir
- 4 Jangan Goblok
- 5 Semester Pertama
- 6 Orang yang Selalu Punya Pulpen
- 7 Dinosaurus di Atas Kopi
- 8 Tidak Kasihan
- 9 Kursi yang Disisakan
- 10 Yang Dicari Mata
- 11 Sedikit Lebih Sering
- 12 Hal-Hal yang Bukan Kebetulan
- 13 Satu Langkah Mundur
- 14 Pacaran Itu Mahal
- 15 Jarak yang Diminta
- 16 Sepi yang Dipilih
- 17 Orang yang Mulai Mencari
- 18 Bukan Seperti Dulu
- 19 Adiknya Damar reading
- 20 Dua Puluh Menit
- 21 Boleh Aku Serius?
- 22 Hari Pertama Punya Pacar
- 23 Pacar Kak Damar
- 24 Peluk
- 25 Ciuman Pertama
- 26 Kak Kira
- 27 Piring Ketiga
- 28 Pacaran Itu Mahal
- 29 Tempat untuk Capek
- 30 Hari yang Biasa
- 31 Sandal di Depan Pintu
- 32 Kakak Mereka Berdua
- 33 Masa Depan yang Mulai Datang
- 34 Ayam untuk Bertiga
- 35 Orang Rumah
- 36 Angka yang Membesar
- 37 Jangan Bawa Aku
- 38 Kesempatan Kirana
- 39 Kita Berdua Aja Cukup
- 40 Keputusan yang Sudah Dibuat
- 41 Membiarkan Pergi
- 42 Dua Piring Lagi
- 43 Enam Tahun
- 44 Nama yang Masih Sama
- 45 Kopi Tanpa Dinosaurus
- 46 Tiga Orang Lagi
- 47 Kalau Kali Ini
- 48 Pacaran Itu Mahal
- 49 Ciuman yang Kedua Kali
- 50 Rumah Baru
- 51 Bukan Pengorbanan
- 52 Piring Ketiga